MENIKAH

MENIKAH
S2 - Berbeda


__ADS_3

Happy reading 😊


...****************...


Tak lama setelah Vera meninggalkan kafe, Rafa datang. Seperti biasanya, lelaki itu terlihat bersemangat dan tersenyum dengan lebarnya saat berlari kecil untuk menghampiri Alitanya.


Sebelum Rafa datang, Alita telah meminta pelayan kafe untuk membersihkan bekas makan Vera. Ia tidak mau Rafa mengetahui jika dirinya baru saja bertemu dengan seseorang.


"Maaf lama, tadi agak macet." ucap Rafa sambil mengecup puncak kepala Alita.


Rafa lalu menarik kursi dihadapan Alita dan duduk disana. Tangannya melambai kepada pelayan untuk memesan minumannya.


"Kamu baru saja bertemu seseorang?" tanya Rafa setelah selesai memesan minuman.


Alita yang sedang menyedot minumannya langsung terkejut mendengarnya. Mengerjapkan matanya beberapa kali, Alita mencoba bersikap biasa aja agar tidak dicurigai oleh Rafa. Apa mungkin Rafa bertemu dengan Vera di depan tadi?


"K-kok kamu tau?" Alita balik bertanya dengan sedikit ragu. Namun Rafa justru menggelengkan kepalanya dan membuat Alita kebingungan.


"Kursi ini terasa hangat, seperti habis didudukin orang dalam waktu yang lama."


"Aahh... iya." Alita tersenyum canggung sambil menganggukkan kepalanya. Mau tidak mau ia harus mengaku kepada Rafa, Namun bukan mengaku jika ia bertemu dengan Vera untuk membicarakan dirinya.


"Tadi ada temen aku yang nyamperin kesini, kita keasikan ngobrol. Kamu tau sendiri kan kalo cewek udah ngobrol pasti lama hehehehe...."

__ADS_1


"Taulah. Kak Eowyn sama kak Zahra sering banget begitu. Bahkan karena mungkin saking serunya dan kekurangan waktu, kak Eowyn bahkan sampai maksa kak Zahra buat nginep."


"Hari ini... kita jadi pergi?"


Rafa mengangguk dengan cepat. Kali ini ia kembali akan mengajak Alita pergi ke pantai. Gadisnya ini menyukai suara deburan ombak dan bermain pasir, dan sudah lama pula mereka tidak pergi ke pantai. Oleh sebab itu, Rafa mengajak Alita untuk pergi ke pantai.


"Aku habisin dl minumku ya, habis itu kita baru berangkat. Kita makan siang dulu disana sambil nunggu matahari enggak begitu panas, baru deh kita main air dan pasir." jelas Rafa dengan penuh semangat.


Alita hanya mengangguk dan tersenyum. Entah kenapa berada didekat Rafa sekarang ini begitu berat baginya. Rasanya berbeda, Alita bahkan meragukan dirinya bisa bertahan atau tidak.


...****************...


Suara lenguhan itu memenuhi kamar tempat Rayyan dan Zahra menginap. Hari ini adalah haro terakhir honeymoon mereka, dan sore nanti mereka berdua akan kembali ke rumah. Bukan hanya kembali ke rumah, tetapi Rayyan juga harus kembali pada rutinitasnya. Oleh sebab itulah ia ingin memanfaatkan waktu honeymoon ini dengan baik.


Setelah keduanya menyelesaikan sarapannya, Rayyan masih berusaha mengungkung istrinya untuk tidak meninggalkan kasur. Zahra terlihat menggoda, apalagi ia hanya mengenakan kaosnya yang sebatas paha dan tentu saja itu membuat hasratnya semakin bergolak.


Berawal dari cumbuan yang ia selingi dengan candaan sembari menonton TV, Rayyan tau bahwa istrinya selalu tak bisa menolak sentuhannya. Tapi Rayyan juga harus pintar mengatur waktu, terlebih selama hampir semingguan ini menjadi pasangan suami istri membuatnya tahu Zahra akan mengomel jika ia sentuh tepat setelah mereka baru saja selesai makan.


Rengekan Zahra yang ingin segera mandi karena waktu telah menunjukkan pukul sepuluh ppagi dimanfaatkan dengan baik oleh Rayyan. Lelaki itu memikat Zahra dengan sejuta pesonanya untuk kemudian takluk dibawah kungkungannya lagi. Permainan yang cukup lama dan cukup membuat keduanya memiliki alasan untuk segera mandi nantinya karena peluh yang membanjiri tubuh keduanya.


Rayyan mengecup bibir Zahra sesaat setelah hasratnya tertuntaskan. Dengan nafas yang masih tersengal, keduanya saling bertatapan dan melempar senyuman, seolah memuji kehebatan mereka dalam permainan tadi.


"Aku mau mandi duluan." Zahra memilih untuk membuka suara lebih dulu. "Aku enggak mau mandi bareng lagi. Waktunya udah mepet dan kuta harus segera check out pukul satu nanti."

__ADS_1


Rentetan kalimat yang diucapkan Zahra justru membuat Rayyan terkekeh. Kini Zahra seperti sudah hafal soal permintaan Rayyan setelah bercinta. Biasanya lelaki itu akan meminta untuk mandi bersama, yang tentu saja akan membuat waktu mandi mereka jauh lebih lama karenanya.


"Aku bisa bayar untuk tambahan satu hari lagi meskipun kita hanya memakainya selama beberapa menit."


"Enggak mau." Zahra mendorong tubuh suaminya dan beranjak dari ranjang. Wanita itu memungut kaos Rayyan yang ia pakai untuk dikenakan kembali.


"Kamu kan bisa nahan dulu. Lagian selama ini udah enggak kehitung lagi kan udah berapa kali kita berhubungan." gerutu Zahra sembari mengucir rambutnya.


"Ya gimana aku bisa nahan kalo kamu mancing gitu? Sengaja banget kuncir rambut di depanku biar aku liat bagian tubuhmu itu karena kaosnya terangkat ke atas, itu kan maksud kamu?" ucap Rayyan dengan nada menggoda.


Mendengar penuturan Rayyan, entah kenapa pipi Zahra langsung terasa panas. Dia sama sekali tidak berniat menggoda Rayyan, tapi dia merutuki kesalahannya kenapa harus menguncir rambutnya di dekat Rayyan padahal tubuhnya hanya terbalut kaos yang kedodoran tanpa pakaian dalam itu.


"Dasar mesum!" Zahra melempar bantal kecil ke arah Rayyan lalu buru-buru berjalan menuju kamar mandi.


"Aku cuma bisa nahan sampai rumah doang, sayang. Setelah itu aku pastiin kalo aku udah enggak bisa nahan lagi." seru Rayyan sambil terkekeh saat melihat Zahra terbirit-birit masuk ke kamar mandi.


Saat Rayyan sedang memakai celana pendeknya, pintu kamar mandi terbuka dan hanya menampilkan kepala Zahra yang menyembul disana.


"Kalo di rumah sendiri, terserah. Tapi aku enggak mau kalo di rumah orangtua kita. Aku takut malu karena aku enggak bisa nahan desahanku gara-gara kamu." ucapnya dengan nada memohon


Rayyan tergelak, istrinya ini benar-benar menggemaskan. Rayyan segera berjalan menuju kamar mandi dan ikut masuk ke dalam sana.


"Makanya kita harus sering berhubungan biar kamu bisa belajar bagaimana cara nge-mute suara biar enggak berisik."

__ADS_1


"Emangnya aku hape." dengus Zahra dengan kesal sambil berjalan menuju shower dan memulai acara mandinya. Tentu saja bersama Rayyan, karena lelaki itu telah memasuki kamar mandi tanpa bisa dicegah lagi.


__ADS_2