
"Jadi... kamu kapan... ngetest-nya, Sal?" tanya Adit sambil menggoyangkan testpack yang ia pegang.
Mereka masih berada di tempat tidur. Adit duduk bersandarkan headboard sambil mendekap Salma yang menyandarkan kepalanya didadanya. Mata mereka masih tetap terpaku, menatap testpack yang sedari tadi dipegang Adit. Senyum keduanya pun tak juga hilang, terus saja terukir setiap detiknya.
"Tadi pagi, aku baca kondisi terbaik kalo pake testpack kan pagi hari"
"Berarti... kamu udah dapet tanda-tanda kehamilan sejak kapan? Kok kamu diem aja dari aku?"
Salma tersenyum. "Aku ga ngerahasiain, mas. Aku beli testpacknya cuma iseng aja kemarin"
"Iseng?"
Salma mengangguk. "Jadi pas mau bayar obat mas Adit kemarin, aku lihat testpack ini disalah satu rak. Entah kenapa, aku langsung ambil aja"
"Jadi, kamu enggak tau kalo sebenernya kamu itu hamil"
Salma kembali mengangguk. "Emang mas Adit pernah liat aku muntah?"
"Hmmm... pernah, sebulanan yang lalu ketika kita ke Fiji"
"Tapi kan itu udah lama banget, mas"
Mereka berdua terdiam, berkutat dengan pemikirannya masing-masing. Lalu Salma mendudukkan dirinya dan menatap Adit dengan raut wajah yang bingung.
"Kenapa?" tanya Adit.
"Mungkinkah... aku udah dalam keadaan hamil pas kita pergi ke Fiji, mas?"
"Hmm... entahlah, tapi waktu itu kamu memang sering mual dan muntah. Memangnya... kamu ga inget kapan terakhir menstruasi?"
Salma menggelengkan kepalanya. "Tapi seingatku, aku terakhir mens yang pas nyeri itu mas"
Adit mengernyitkan dahinya. "Tapi itu udah lama banget kan, pas ulang tahun kamu"
Salma mengangguk. "Setelahnya, aku ga tau aku mens atau enggak. Habis itu kan aku fokus ke persiapan ujian akhir semester anak-anak, koreksian, nilai rapor, persiapan ke Fiji sama pindah rumah. Jadi..."
"Jadi kalo kamu hamil, pasti sekarang usianya udah lebih dari dua bulan, Sal" potong Adit dengan cepat.
Salma kembali dibuat speechless. Jika memang benar demikian, bagaimana ia sampai tidak merasakan perubahan pada dirinya. Matanya langsung berkaca-kaca, airmatanya langsung mengalir dengan derasnya.
"Kenapa bisa aku ga ngeh?" gumamnya pelan.
__ADS_1
"Hei, ini kehamilan kamu Sal. Kamu juga ga dapet tanda-tanda kehamilan pada umumnya, wajar kalo kamu ga tau"
"Kalo aku tau lebih awal, seenggaknya aku bisa dapet vitamin yang menunjang pertumbuhannya kan mas? Aku bisa lebih hati-hati dalam beraktifitas, dan bisa lebih ngejaga segala asupan yang masuk ke tubuhku"
"It's OK, sayang. Setidaknya kita belum terlambat kan? Atau... kamu mau pindah ke rumah sakit lain, kita cari dokter dengan jam praktik siang ini?"
Sebelumnya, Adit dan Salma telah mendaftar antrian untuk periksa melalui telepon. Salma memilih dokter tersebut karena dokter tersebut sering ia lihat diTV.
Salma menggelengkan kepalanya. "Enggak mau, aku maunya sama dokter Vania"
"Yaudah, jam tiga nanti kita berangkat ke rumah sakit. Sekarang, kamu harus sarapan dulu. Aku akan ke mini market sebentar untuk beliin kamu susu kehamilan, OK?"
Salma mengangguk. "Terus, orangtua kita gimana mas?"
"Hmmm... yang penting hari ini kita periksa dulu. Setelah itu kita akan persiapkan kejutan untuk orangtua kita. Mereka pasti juga menantikannya sama seperti kita kan?"
"Iya, karena kita satu-satunya harapan mereka untuk dapet cucu"
"Dan dia akan jadi cucu kesayangan" ucap Adit sambil mengelus perut Salma.
🎎
"Ya" jawab Salma.
Ia dan Adit segera beranjak dari kursi tunggunya. Salma menggenggam tangan Adit dengan erat.
"Tenanglah, sayang. Kita akan segera melihatnya saat pemeriksaan nanti" bisik Adit sambil berjalan menuju ruang pemeriksaan.
"Selamat sore, ada kabar bahagia hari ini?" tanya dokter Vania saat Adit dan Salma duduk dihadapannya.
"Iya, tadi pagi... saya ngecek pake testpack dan mendapatkan dua garis" jawab Salma.
"Terakhir mens kapan, bu?"
"Eeee... saya, kurang begitu yakin dok. Seingat saya itu sekitar tiga atau empat bulan yang lalu. Kayaknya dibulan September awal. Karena setelah itu saya banyak kerjaan, jadi saya ga begitu meperhatikannya"
Dokter Vania tertawa. "Gapapa, mari saya periksa dulu untuk lebih jelasnya"
Salma berjalan menuju sebuah ranjang, lalu membaringkan tubuhnya disana. Seorang perawat membantu Salma menyingkapkan bajunya dan mulai mengoles kan gel diperut bawahnya.
Adit berada disamping ranjang, menggenggam tangan Salma yang begitu erat dan dingin. Wajahnya tak bisa menyembunyikan raut ketegangan saat dokter Vania mulai memeriksa istrinya.
__ADS_1
"Wow... sudah besar ternyata" seru dokter Vania ketika sebuah gambar terpampang pada layar pemeriksaan.
"Coba bapak ibu lihat, janinnya sudah tumbuh dengan sempurna"
"It's our baby" bisik Adit sambil mengecup kening Salma. Keduanya tampak menahan air matanya, namun tentu saja tidak mudah.
"Ini sudah masuk ke minggu 13, janinnya sehat, ukurannya kurang lebih tujuh centimeter, dan... beratnya sekitar 20 gram" kata dokter Vania sambil menggerakkan alat pemeriksaan diperut Salma.
"Dia bergerak!" seru Salma yang melihat pergerakan dilayar hasil pemeriksaan.
"Iya, diusia ini janin sudah mulai ada pergerakannya. Tapi ibu belum bisa merasakannya. Alat kelaminnya juga sudah mulai terbentuk, tapi masih belum jelas. Nanti pas udah enam belas minggu biasanya udah bisa lihat jenis kelaminnya" ucap dokter Vania sambil mengambil cetakan hasil USG.
"Tolong dibersihin gel-nya" pinta dokter Vania pada perawat sambil berjalan duduk ke mejanya. Disusul oleh Adit dan Salma.
"Tapi, kenapa perut saya masih rata begini ya dok?"
"Hahahaha... itu wajar, karena ini kehamilan pertama. Memang ada orang yang baru hamil empat bulan tapi udah kelihatan gede banget meskipun enggak hamil anak kembar. Tapi ada juga yang seperti itu, perutnya masih belum terlihat membesar. Bagi saya itu ga masalah, yang penting kan kondisi janinnya sehat" jawab dokter Vania dengan menyodorkan hasil USG.
"Jadi selama ini enggak ngalamin morning sickness ya?"
"Enggak dok. Tapi memang dulu pernah mual muntah gitu, hanya beberapa hari. Setelahnya biasa lagi"
"Itu bagus, jadi masih banyak makanan yang bisa masuk ke dalam tubuh. Eee... ini masa trimester pertamanya udah lewat, jadi resiko untuk keguguran pasti juga berkurang karena janin udah mulai kuat. Tapi harus diperhatikan juga aktifitasnya, jangan sampai kecapekan apalagi jatuh ya"
"Iya, dok. Lalu, selama ini kan saya ga minum vitamin untuk kehamilan dok, apakah itu berpengaruh terhadap pertumbuhan janin?"
"Tidak, itu ga masalah. Selama ini janin dapat asupan vitamin dan mineral dari makanan yang ibu konsumsi, buktinya janin ibu berkembang dengan sangat baik kan?"
Salma mengangguk.
"Ini vitamin yang saya resepkan. Ada asam folat, kalsium, sama untuk jaga-jaga saya juga kasih beberapa tablet obat mual. Diminumnya kalo udah ga tertahankan aja mualnya"
"Baik dok, trus soal makanan gimana dok?"
"Kalo saya pribadi, saya ga pernah larang pasien saya makan apa aja. Asal jangan berlebihan. Mau makan pedes silahkan, tapi jangan terlalu pedes dan terlalu banyak. Segala sesuatu yang berlebihan kan ga baik, apapun itu. Makan apa aja yang ibu pengen, yang penting harus diperhatikan juga kebersihan dan masaknya. Jangan makan bahan makanan yang mentah atau setengah matang, pokoknya harus mateng. Seafood yang mengandung merkuri juga jangan, mengandung alkohol dan yang lainya. Pokoknya pilih makanan yang bergizi dan harus dimasak dengan benar"
"Baik dok"
"Bapak ada yang mau ditanyakan?" tanya dokter Vania sambil tersenyum.
"Dokter pasti tau, apa pertanyaan utama seorang suami yang mengantar istrinya periksa kandungan hahahaha"
__ADS_1