
Happy reading 😊
***
Rayyan membelokkan mobilnya ke sebuah hotel tempat mereka menginap selama di Bandung. Hotel ini merupakan salah satu aset milik keluarganya. Kedatangan Rayyan dan Zahra langsung disambut oleh manager hotel yang kemudian membantu mereka mengurus segala keperluannya.
"Maaf, Pak." ucap Zahra pada Pak Putra, manager hotel. "Boleh saya minta kartu cadangan? Untuk jaga-jaga kalo nanti saya lupa naruh kartu kamar saya."
"Iya, bu Zahra. Nanti saya akan bantu."
"Zahra aja Pak, enggak usah pake 'bu'. Saya jadi berasa tua."
"Hahahaha... baiklah, Zahra. Sepertinya kamu seumuran dengan anak saya."
Canda tawa Zahra dan Pak Putra harus terhenti ketika Zahra menangkap wajah bete Rayyan yang telah berdiri di depan lift. Zahra buru-buru berpamitan dengan Pak Putra dan menyusul Rayyan.
"Maaf, Pak. Tadi saya sedang minta kartu cadangan pada Pak Putra." ucap Zahra ketika mengikuti Rayyan yang masuk ke dalam lift.
"Untuk apa?"
"Saya suka lupa, Pak. Sebelum-sebelumnya saya suka teledor dan ngilangin kunci hotel." jawab Zahra sambil menggaruk kepalanya.
Rayyan hanya menggelengkan kepalanya dan nampak menahan senyumnya. Sungguh Rayyan tidak bisa membayangkan jika Zahra yang begitu teliti pada pekerjaan, ternyata bersikap teledor untuk hal kecil seperti itu.
"Istirahat dulu, nanti jam 7 kita harus ke restoran di bawah untuk bertemu dengan Pak Martin. Kita akan makan malam bersama dengan Beliau." ucap Rayyan sambil berjalan keluar lift dan menyusuri lorong menuju kamar mereka yang bersebelahan.
Setelah menempelkan kartu pada detector pintu, Rayyan masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan Zahra tanpa berucap sepatah kata pun.
"Tuh kan, Zah. Fix-lah artikel yang lo baca beda sama punya pak Rayyan. Jadi enggak usah kepedean." guman Zahra dalam hati, lalu menghentakkan kakinya dengan kesal saat masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
***
Waktu menunjukkan pukul 18.45 dan Rayyan telah bersiap untuk turun ke restoran. Setwlah keluar dari kamarnya, Rayyan menghampiri kamar Zahra dan menekan bel berkali-kali namun tidak ada jawaban.
"Dia enggak mungkin ketiduran kan?" gumam Rayyan sambil terus menekan bel. Hingga akhirnya, Rayyan memutuskan untuk menelpon Zahra karena takut jika personal assistant-nya ketiduran atau bahkan lupa.
"Kamu dimana, Zah?" tanya Rayyan begitu sambungan telponnya tersambung.
"Saya udah di bawah, Pak. Ini lagi duduk di lobi."
"Ohh, oke. Aku turun sekarang."
Merasa tenang karena Zahra tidak ketiduran atau bahkan lupa, Rayyan menyusul Zahra yang mengatakan jika sedang berada di lobi.
"Ngapain kamu nunggu disini? Aku kan udah bilang kalo tempatnya di restoran yang lantai 3." tanya Rayyan kebingungan.
"Saya habis dari mini market depan, Pak. Beli obat."
"Enggak Pak, cuma masuk angin doang kayaknya." Zahra menyingkirkan tangan Rayyan dengan perlahan.
"Bisa ikut acara makan malamnya enggak?"
"Bisa, Pak. Kalo gitu ayo naik ke restorannya sekarang Pak, takut kalo pak Martin udah nungguin."
Pertemuan makan malam yang ternyata berlangsung lebih lama, membuat Zahra menjadi makin tidak nyaman. Matanya sudah terasa berat, yang ia inginkan sekarang hanyalah tidur mengumpulkan tenaga untuk esok hari yang pasti akan lebih padat acaranya. Namun Zahra harus menahan kantuknya, Pak Martin ternyata senang mengobrol dengan Rayyan. Ditambah keduanya sama-sama alumni UCLA membuat Pak Martin semakin senang membicarakan masa-masa kuliahnya dulu.
Kegelisahan Zahra nampaknya ditangkap jelas oleh Rayyan yang duduk bersebelahan. Zahra yang sedari berangkat mengatakan jika dirinya sedang tidak enak badan, pasti sekarang merasakan tubuhnya yang tidak karuan. Namun Rayyan tidak dapat berbuat apa-apa. Jika ia menyudahi acara makan malam ini secara sepihak sementara pak Martin masih begitu bersemangat mengobrol dengannya, tentu itu tidak sopan. Dan lagi, pak Martin adalah klien yang sedang ia rayu agar mau bekerja sama dengannya.
Mencoba untuk menguatkan Zahra, Rayyan meraih tangan kanan Zahra dan menggenggamnya. Mata Zahra membelalak, dan refleks menatap Rayyan yang masih asik mengobrol dengan pak Martin. Genggaman tangan itu tidak lama, hanya beberapa detik tapi menimbulkan efek yang luar biasa bagi Zahra. Matanya yang tadi terasa begitu mengantuk, kini justru rasa kantuk itu hilang entah kemana. Yang ada hanya degup jantungnya yang tak beraturan, dan rasa panas dan dingin yang menjalar diseluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Ahh elah... ini abangnya Eowyn gini amat sih! Enggak tau apa dari kemarin gue udah baper aja gara-gara dikasih bunga, sekarang pake acara pegang-pegang tangan." Zahra menggerutu dalam hati.
Hingga beberapa menit sebelum acara makan malam itu berakhir, Zahra telah kehilangan konsentrasinya untuk menyimak obrolan bosnya dengan sang klien penting. Dia hanya tersenyum menanggapi obrolan pak Martin yang sepertinya begitu lucu itu, tapi Zahra tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Karena entah kenapa kata-kata mereka seperti tidak ada yang tertangkap oleh telinganya.
"Udah enggak ngantuk?" tanya Rayyan saat keduanya berjalan menuju lift.
"Masihlah, Pak. Tadi kepaksa aja dikuat-kuatin." kilah Zahra dan mencoba untuk tidak grogi menjawab pertanyaan Rayyan.
"Emang tadi kamu minum obat apa sampai bikin ngantuk gitu?"
"Cuma minum t*lak angin, Pak. Tapi kan emang sayanya aja yang lagi enggak enak badan, jadi lemes dan bawaannya pengen tidur."
Rayyan hanya mengangguk. "Setelah ini tidurlah. Besok acara kita akan padat, bisa sampai sore atau mungkin malam hari. Kamu denger sendiri kan kalo tadi pak Martin mengajak kita untuk datang ke perusahaannya. Dan juga... Beliau kan seneng ngobrol, pasti akan lebih lama Zah."
Zahra menghela nafasnya. Benarkah Pak Martin meminta mereka datang ke perusahaannya? Dan ia juga harus menjadi pendengar setia Rayyan dan pak Martin mengobrol sepanjang waktu seperti tadi?
"Kenapa?" tanya Rayyan penasaran melihat ekspresi Zahra. Terlebih suara helaan nafas terdengar jelas di lift yang hanya berisi mereka berdua.
"Saya enggak masalah kalo disuruh seharian berdiri, mondar-mandir kesana kesini, saya kuat Pak. Tapi kalo disuruh dengerin Bapak sama Pak Martin ngobrol kayak tadi...." Zahra menjeda perkataannya sambil memijat pangkal hidungnya.
"Duuhhhh... beneran susah, Pak. Ngantuk banget rasanya, kayak didongengin."
Penuturan jujur yang diucapkan Zahra baru saja membuat Rayyan tertawa sambil melangkahkan kakinya keluar lift. Bukan hanya untuk urusan pekerjaan, Zahra akan selalu berkata jujur. Tapi juga segala hal yang menyangkut dirinya.
"Tidurlah. Besok kamu harus ekstra bekerja keras. Latihan untuk dengerin aku ngobrol sama klien, karena nantinya kamu bakal sering berurusan dengan hal itu." ucap Rayyan sambil mengacak rambut Zahra, dan setelahnya meninggalkan Zahra yang masih mematung di depan pintu kamar.
"Selalu begini! Gue yang dag dig dug, dianya cengengesan." Zahra kembali menggerutu, sebelum akhirnya menempelkan kartunya pada detector pintu dan masuk ke kamar untuk beristirahat.
***
__ADS_1
Eaaaa... anak sulungnya Papa Adit kayaknya udah bikin baper anak orang tuh! Hahahaha.... Ini sebenernya nulisnya dadakan banget, jadi maaf ya kalo banyak typo. Karena dari kemarin kayaknya lagi eror, jd saya agak males. Takut udah nulis tapi kalian enggak bisa nemu cerita karena diajakin petak umpet 😩
Tapi enggak apa-apa deh, semoga aja erornya berkesudahan jadi kita semua nyaman ya. Jangan lupa vote, likes dan comments-nya. Sehat terus ya readers 😘