
Happy reading 😊
***
Bukan hanya merasa kecewa akibat terlalu kepedean dengan ucapan Rayyan yang terjeda itu, Zahra juga merasa bersalah pada Rayyan. Karena dialah, Rayyan harus sakit sekarang.
Berusaha ingin meminta maaf dan menebus kesalahannya, Zahra memutuskan mampir ke sebuah toko kue untuk membeli kue kesukaan Rayyan. Meskipun disalah satu tangannya telah menggenggam paper bag berisi kue yang disebut Nadine sebagai brownies, namun Zahra yakin Rayyan pastilah tak akan mau memakannya lagi.
Setelah membeli kue dan pudding, Zahra kembali menyetop taksi dan menuju rumah yang dulu sering ia kunjungi sebelum mengenal dan mulai bekerja dengan Rayyan.
"Pagi, Tante." sapa Zahra saat mendatangi Salma yang berada di ruang keluarga.
"Eehh, Zahra. Rayyan nyuruh kamu kesini ya untuk bawain kerjaan?" tanya Salma yang dibalas anggukan oleh Zahra.
"Maaf ya Zah, jadi ngerepotin kamu bawa banyak begini. Enggak tau tuh kemarin dia salah makan apa, pulang-pulang wajahnya udah pucat banget. Tante sampai takut. Belum lagi dia sampai guling-guling di kasur pas dokternya belum sampai."
Penjelasan Salma membuat Zahra semakin merasa bersalah. Rayyan dengan sekuat tenaga menahan rasa sakit itu di depannya. Setelah mendengar penjelasan Salma barusan, Zahra juga jadi penasaran bagaimana saat Rayyan guling-guling kemarin.
"Langsung naik aja ke atas, Zah. Eowyn udah pernah nunjukin kamar abangnya kan?" Zahra kembali mengangguki pertanyaan Salma.
"Itu... kue buat Rayyan ya?" imbuh Salma.
"I-iya Tante, saya bawa brownies sama ada puding juga."
"Naahhh... pas banget tuh semua itu kesukaan Rayyan semua. Langsung bawa naik aja ya, Zah. Nanti biar saya suruh bi Yati untuk bawain minum sama alat makan pudingnya. Ini tante mau ada arisan, tante tinggal dulu ya." ucap Salma sambil mendekati Zahra dan mengusap lengannya, lalu kemudian berjalan menuju dapur untuk mencari asisten rumah tangganya.
Dengan langkah perlahan, Zahra naik ke lantai dua. Melangkah dengan ragu menuju pintu kamar Rayyan yang berada diseberang kamar Rafa.
Tok... tok...
Setelah mengumpulkan keberaniannya selama beberapa saat, Zahra akhirnya mengetuk pintu berwarna cokelat itu. Terdengar suara dari dalam yang menyuruh untuk masuk, lalu Zahra memberanikan diri untuk membuka pintu kamar tersebut.
"Masuk, Zah." ucap Rayyan sambil meliriknya sekilas.
Zahra sedikit terkejut, selama perjalanan bahkan sampai mendengar penjelasan dari Salma tadi, ia berpikir jika Rayyan pasti sedang tergolek lemah dikasurnya. Namun nyatanya kini pria itu sedang asik bermain play station.
"Duduk, Zah. Berkasnya taruh dimeja sana aja."
Zahra melangkah menuju tempat yang dimaksud oleh Rayyan, lalu duduk di sofa yang letaknya berada disebelah meja kerja. Sambil menunggu instruksi lanjutan dari Rayyan, Zahra memperhatikan kamar Rayyan yang didominasi oleh warna putih dan abu-abu itu.
__ADS_1
Tak berapa lama, Rayyan menghentikan game-nya lalu duduk di meja kerja.
"Kamu bawain aku kue?" tanya Rayyan sambil mengambil sebuah map dokumen itu. Lelaki itu menatap Zahra dan tersenyum manis padanya.
"I-iya, Pak. Saya juga bawain kue dari kak Nadine kemarin."
Suara ketukan pintu membuat suasana kembali hening. Bi Yati masuk dengan membawakan minuman dan alat makan.
"Bi, yang ini tolong bibi hancurin terus ditaburin ke pot taneman mama ya. Kemarin saya udah makan tapi keras banget, rasanya enggak jelas. Ini dikasih klien." ucap Rayyan sambil menyodorkan paper bag berisi kue dari Nadine.
"Kok dikasih ke taneman sih, mas?" bi Yati kebingungan dengan perintah Rayyan barusan.
"Iya biar jadi pupuk tanemannya mama. Kalo makan kue yang ini aja nih yang bawain Zahra, tapi nanti setelah saya udahan makannya ya."
"Habisin aja enggak apa-apa, mas. Mas Rayyan kan suka banget sama brownies. Bibi cuma bingung aja tadi, kok browniesnya disuruh taruh ditaneman."
"Iya, enggak layak dikonsumsi manusia soalnya. Makasih ya, Bi."
"Iya mas, bibi permisi dulu. Mari, mbak." pamit bi Yati pada Rayyan dan Zahra.
Saat Rayyan telah asik menikmati brownies yang ia bawa, Zahra justru masih melongo tak percaya dengan perkataan Rayyan tadi.
"Bapak jahat banget sih, Pak. Itu namanya enggak menghargai hasil usaha orang. Udah dibikinin capek-capek masa iya dijadiin pupuk, aneh-aneh aja!"
"Tapi kan tetep aja rasanya enggak akan seburuk itu, Pak. Apalagi itu cokelat, pasti tetep enak."
"Kalo kamu mau nyobain, kamu bisa turun nyamperin bi Yati sekarang." Rayyan masih saja asik menyuap dan mengunyah brownies yang dibawa Zahra. "Kamu rasain deh gimana itu rasanya. Itu udah kayak kamu papan yang dari serat kayu itu terus dicocol cokelat."
Zahra hanya menggelengkan kepalanya, ternyata Rayyan bisa sekejam chef Juna juga saat mengomentari makanan. Oh, mungkin karena itu adalah kue favoritnya.
"Bapak kok main game lagi?" celetuk Zahra saat Rayyan kembali menuju ranjangnya dan meneruskan game yang tadi dihentikan.
"Emangnya kenapa?"
"S-saya kira Bapak mau ngecekin berkas karena tadi minta saya bawain kesini."
"Aku kan cuma minta kamu bawain berkasnya kesini. Aku enggak bilang ke kamu kalo aku mau ngecek kan?" jawab Rayyan dengan santai dan fokus terhadap permainannya.
"Terus... saya kesini karena dikerjain bapak dong?"
__ADS_1
"Enggak. Kamu kerja kan sekarang."
"Kerja?"
Rayyan menganggukkan kepalanya. "Cukup duduk disitu, temenin aku main game. Itu kerjaan kamu hari ini karena aku libur enggak ke kantor."
Zahra berdecak kesal, bisa-bisanya Rayyan dengan seenaknya menyuruhnya melakukan pekerjaan yang tidak masuk akal itu. Memang mudah, hanya duduk dan menemani Rayyan bermain game. Tapi itu pasti sangat membosankan!
"Tolong ambilin minum dong, Zah."
Zahra membelalakkan matanya. Tugas apalagi sekarang? Kenapa sekarang ia berubah seperti baby sitter-nya Rayyan?
"Di kantor aja ditawarin mau minum apa padahal aku enggak lagi haus. Sekarang aku habis makan brownies malah enggak ditawarin mau minum atau enggak."
Rayyan tidak sedikit pun memandang Zahra, matanya tetap terfokus pada layar televisi. Baru juga Zahra beranjak untuk mengambilkan minuman untuk Rayyan, perintah selanjutnya sudah kembali datang.
"Sama kalo kesini bawain puding, Zah. Aku pengen makan puding."
Zahra tidak menjawab, tapi ia melakukan semua perintah Rayyan. Bahkan untuk minum saja lelaki itu tidak mau memegangi gelasnya sendiri. Tangan Rayyan seolah enggan berpisah dengan stick gamenya.
"Suapin pudingnya dong, Zah." pinta Rayyan saat Zahra baru saja meletakkan gelas minum Rayyan di nakas.
"Yang bener aja sih, Pak?" Zahra berucap dengan nada kesal.
"Itu beneran, Zah. Suapin gih, enggak bisa dipause dulu ini game-nya."
"Cuma makan puding doang enggak akan lama, Pak."
"Udah buruan cepetan suapin. Itung-itung untuk permintaan maafmu gara-gara jeruk nipis buatanmu kemarin, jadi seharian ini kamu harus nurut sama aku."
"Ya kan sebelumnya saya juga nurut sama Bapak."
"Udah, enggak usah ngebantah lagi. Aaaaakkkk...." Rayyan telah membuka mulutnya dan mau tidak mau Zahra menyuapinya.
"Pudingnya jadi lebih enak gara-gara kamu yang suapin"
Jika kemarin Rayyan harus bersusah payah menahan rasa saikitnya, hari ini giliran Zahra yang harus menahan emosinya.
***
__ADS_1
Malam ini udah 2 episode nih? Seneng kan? Kalo kurang mah pasti, karena kita memang tidak akan pernah merasa puas hehehehe.... Nati deh kalo rankingnya masuk 100 besar baru crazy up. Tuh baik kan aku, mintanya bukan 10 besar tapi malah 100 besar ahahahaha...
Terima kasih yang mau vote poin, like dan comment-nya. Semoga kalian sehat selalu ya 😘