
Happy reading 😊
****
"Papa belum pulang, ma?" tanya Adit saat masuk ke dalam rumah dan menyalami ibunya.
"Belum, katanya lembur" mama Mei berjalan mendekati Salma dan memeluknya. "Yaa Allah Sal, kamu keliatan kurusan deh. Disana kurang makan ya?" seru mama Mei saat menyambut Adit dan Salma yang baru saja tiba di rumah.
Setelah bersalaman dengan mamanya, Adit segera naik menuju kamarnya dengan membawa dua koper dan sebuah paper bag berukuran besar.
"Iya ma, Salma sempet sakit disana. Trus juga ga berani makan banyak karena takut perutnya sakit lagi"
"Sekarang masih sakit ga? Mama panggilin dokter ya?"
Salma menggelengkan kepalanya. "Ga usah ma, sekarang udah ga kenapa-napa lagi kok"
"Yaudah, sekarang mandi terus istirahat gih. Butuh sesuatu ga? Biar dibikinin mbak Tini"
"Eeee... mau teh chamomile aja kali ya ma, biar ngilangin jetlag"
"Oke, mama bilangin ke mbak Tini. Kamu buruan naik gih, istirahat ya"
"Iya ma, terimakasih banyak"
🍀
Keesokan paginya, Salma masih tidur dengan lelapnya. Ia melewatkan waktu sarapan, padahal Adit sudah membangunkannya secara berulang.
"Sal..." Adit mengelus pipi Salma untuk kembali membangunkannya.
Salma menggeliat, lalu sedikit membuka matanya menatap Adit.
"Masih ngantuk?" tanya Adit dengan tangan yang masih membelai pipi istrinya itu.
"Rasa ngantuknya ga ilang-ilang mas, badan capek semua sama kepala agak pusing. Efek kelamaan tidur ini kayaknya"
"Aku panggilin dokter ya biar diperiksa"
Salma menggelengkan kepalanya. "Ini cuma jetlag, mas. Tapi emang parah sih ini, dulu ga pernah jetlag sampai kayak sekarang"
"Makanya diperiksa dokter aja ya biar cepet enakan badannya. Kan kita juga mau pindahan rumah"
"Ga usah mas, aku gapapa kok" jawab Salma sembari mendudukkan dirinya lalu memeluk Adit yang ada dihadapannya. "Mas Adit udah wangi, akunya masih kucel gini" sambungnya.
"Hahahaha... emang kenapa? Aku aja ga masalah"
"Malu aja, mas"
Kemudian terdengar suara pintu kamar yang terbuka, Adit dan Salma segera melonggarkan pelukan mereka dan menatap ke arah pintu.
__ADS_1
"Udah bangun, Sal? Ini mama bawain sarapan kamu, tadi Adit browsing makanan buat bantu ngilangin jetlag. Ini ada ayam goreng, pisang sama mama bikinin jahe anget" ucap mama Tari sambil menyerahkan nampan makanan pada Adit.
"Whoaaa... makasih banget ma, pake repot-repot dianterin ke kamar"
"Mama khawatir jetlag-nya makin parah, semalem kan kalian juga cuma makan roti doang. Mama ga mau kamu keliatan kurus, nanti dikira kamu ga bahagia nikah sama Adit"
"Iihhh... mama mah mikirnya gitu. Salma bahagia banget kok ma, ini kurusan kan karena emang lagi ga enak aja badannya"
"Udah buruan dimakan sarapannya, mama mau belanja dulu sama mbak Tini" ucap mama Mei lalu berjalan keluar kamar Adit.
"Makasih banyak, ma"
"Aaaaaa... buka mulutmu" perintah Adit.
"Aku bisa makan sendiri, mas. Ga harus disuapin" ucap Salma dengan tangan yang terulur untuk mengambil sendok yang dipegang Adit.
"Enggak, pokoknya aku suapin"
Kalo Adit sudah dalam mode tegas begini, Salma hanya bisa mengangguk mematuhi semua perintahnya.
🍀
"Enggak panggil dokter aja, Dit? Kasian Salma dari pagi gitu terus" ucap mama Mei saat melihat Adit yang sedang menuruni anak tangga.
"Salma enggak mau, ma. Dari pas berangkat dia udah sakit, kayaknya emang daya tahan tubuhnya lagi turun"
"Jetlagnya parah ya?" tanya papa Hari.
"Efek kecapekan itu, sebelum liburan kan dia banyak kerjaan di sekolah" sahut papa Hari.
"Besok mama coba bikinin lemon anget deh ya, atau telpon Tari juga biar kesini?"
"Jangan ma, nanti malah mereka bingung. Salma tadi cuma bilang dia mau istirahat dulu, dia enggak bilang ke mamanya kalo meriang. Takut bikin bingung katanya"
"Semoga aja besok udah mendingan. Terus, kalian jadi pindah rumah hari Kamis?"
"Jadi, ma. Semuanya udah siap kok"
"Asisten sama sopir juga?"
"Iya, sodaranya mbak Tini. Rumahnya ga jauh dari sana, ibu sama anaknya"
"Trus tinggal disana juga kan?" tanya papa Hari.
"Iya pa, di kamar belakang"
"Alhamdulillah kalo semua udah siap, trus nasib apartemenmu gimana?"
"Ya biarin kosong aja pa, nanti bisa buat nginep kalo pas kangen. Itu kan uang hasil jerih payahku awal kerja sama papa, ga mungkin aku lepas gitu aja"
__ADS_1
Papa Hari mengangguk. "Nanti bisa kamu kasih ke anakmu kalo mereka udah kuliah"
"Hahahaha Adit juga mikir gitu, pa"
"Sana temenin Salma, kasian kamu tinggal sendirian. Nanti kalo butuh apa-apa ga ada yang nolongin"
Adit mengangguk. "Adit ke atas dulu"
Sesampainya di kamar, Adit melihat ranjang yang ditinggalkan oleh Salma. Adit segera melangkahkan kakinya ke depan pintu kamar mandi.
"Sayaaaang..." ucap Adit sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Tak ada jawaban dari kamar mandi, hanya terdengar suara air yang keluar dari kran.
"Sayaaang..." Adir kembali memanggil Salma dengan memutar handle pintu yang terkunci.
Tak berapa lama, handle bergerak dan pintu terbuka. Menampilkan Salma dengan senyuman yang terkembang.
"Khawatir ya, mas?" ledek Salma.
"Iyalah, seharian ngeringkuk mulu giliran aku tinggal ke bawah bentar tau-tau ga ada" jawab Adit sembari meraih tangan Salma, menggenggamnya dan menuntunnya ke ranjang.
"Aku udah gapapa, mas. Aku ga lagi sakit keras juga, ga harus sampai diikutin ke kamar mandi dan dimandiin kayak tadi"
"Ya kan sekarang, dari pagi tubuhmu kayak ga ada tulangnya tau. Tiduran mulu" dengus Adit dengan kesal, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Hahahahaha... iya, ngantuknya ga nahan mas. Tapi beneran sekarang aku udah sehat, pusingnya udah mulai ngilang"
Adit mengelus pinggang Salma. "Besok mau ke rumah mama?"
Salma mengangguk. "Iya, tapi kata mama sorean aja. Jadi mending kita belanja printilan rumah yang masih kurang, mas. Habis itu baru ke rumah mama, gapapa kan?"
Adit mengacungkan jempolnya.
"Sama mampir beli bakso, terserah mau yang dimana yang penting makan bakso. Gara-gara makan kokoda waktu abis snorkeling itu mas, aku pengen makan bakso"
"Hahahaha... kasian nahan pengen makan bakso dari Fiji. Tapi emang enak banget itu kokodanya, disini dimana ya ada menu itu?"
Salma ikut merebahkan tubuhnya disebelah Adit, menjadikan lengan Adit sebagai bantalan kepalanya. "Kalo waktu itu aku lagi sehat, pasti bisa menikmati gimana enaknya rasa kokoda. Tapi beneran pas masuk sesuap itu rasanya eneg banget mas, makanya aku ga berani lanjut makan daripada kenapa-napa"
"Ga masalah, yang penting kita ga melewatkan inti dari honeymoon itu"Adit memiringkan tubuhnya, menarik dagu Salma lalu mulai mencium bibirnya dengan mendalam.
***
Jangan lupa like dan comment-nya. Yang mau vote juga boleh, monggo 😆
Bagi yang belum baca Cupcake's Love, boleh dibaca dulu sekalian nunggu update-an disini. Ada satu lagi yang saya tulis sejak bulan lalu, sekarang udah sampai chapter 17. Yang penasaran boleh disearch, judulnya Lean On Me. Masih pemanasan sih alur ceritanya ehehehehe....
__ADS_1
Terimakasih 😘