My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
HOME SWEET HOME 2


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


Hari pertama bangun di rumah baru. Perasaan Zoya sangatlah luar biasa. Ia masih begitu sangat bahagia. Bagaimana tidak? setiap hari ia selalu terbangun disisi pria yang ia cintai. Setiap hari melihat wajah suaminya, berada dalam pelukan dan kehangatan Zen, di tambah lagi dengan hal-hal yang begitu membuatnya bersemangat.


Zoya bahkan tak bisa memikirkan apa saja yang membuatnya begitu berdebar. Semua yang mereka lakukan selalu saja membuat dadanya bergemuruh dengan getaran yang begitu manis. 


''Selamat pagi sayang.'' Zen mencium dan menggigit pelan pundak Zoya dengan gemas. Kelembutan kulit Zoya selalu menyapu bersih dan menimbulkan sengatan statis di dada Zen. ''Selamat pagi kak, kau tidak pergi ke kantor?" tanya Zoya berbalik untuk mencium kening Zen seperti kebiasaan nya. 


Perlakuan Zoya selalu saja membuat Zen merasa begitu di cintai, dan membuatnya tak rela untuk melepaskan pelukan pada tubuh ramping istrinya itu. ''Hmm. aku akan mengganti kantor ku disini, jadi aku tidak harus meninggalkanmu sendiri dirumah.'' ucapnya manja, membuat Zoya mengulas sebuah senyum di wajahnya. 


"Kau tidak ingin meninggalkanku sendiri?" 


"Hmm. Tidak."


"Kalau begitu, bagaimana kalau aku memanjakan kakak sebagai gantinya?'' tawar Zoya. 


Seketika pikiran Zen menjadi tergoda. Ia memang selalu menantikan kejutan-kejutan dalam hubungan mereka, "caranya?" Zen membuka sebelah matanya, untuk melirik pada Zoya yang sudah menopang satu tangan di kepalanya. 


"Aku akan membuat kakak bersemangat pergi ke kantor, dan membuatmu lebih cepat merindukan ku lagi. ingin buktinya?" tantang Zoya, membuat Zen tersenyum malu dengan wajah bersemu.


Mendengarnya saja hampir membuat Zen gila. Baru rencana, apalagi saat Zoya sudah bereaksi seperti yang ia katakan. Bisa-bisa Zen benar-benar memindahkan ruang kantornya ke dalam kamar mereka. 


"Hmm.. ingin ku buktikan?" tanya Zoya lagi gemas melihat tingkah malu-malu pria besar yang ia cintai itu. 


''Rasanya aku akan gila sebentar lagi.'' ucap Zen bersemangat, menutupi senyumannya. ''Aku menantikan vitamin dari mu sayang.'' tambahnya lagi.


Kini Zoya lah yang merona. Sebelumnya ia hanya membuat gagasan sebagai candaan, namun sekarang sebuah tantangan diberikan, dan ia akan membuktikan nya. Zoya tak akan membuat suaminya kecewa. Karena itu sekarang ia merasa panas. 


dadanya kembali bergemuruh.


Darahnya kembali berdesir dengan cepat. Ia mengumpulkan semua imajinasi terliar nya demi membuat Zen terpuaskan. 


Karena mereka sudah dalam keadaan polos, Zoya tak bisa menggunakan trik menggoda dengan melepaskan helai per helai pakaian nya. Otaknya berpikir cepat. Ia tak punya banyak pengalaman tentang ini, jadi ia memikirkan setiap hal yang akan membuat prianya bertekuk lutut. 


Zoya manarik turun selimut yang menutupi tubuh keduanya, membuat mereka benar-benar terekspos. Meskipun sudah sering melakukan nya, tetap saja Zoya merona, dan melihat hal itu, semakin membuat sisi liar Zen meronta-ronta. 


Bagi Zoya melihat Zen yang seperti saat ini, bahkan lebih menggiurkan dari sebuah makanan termahal di dunia. Bagaimana tidak? tubuh pada berisi dengan perut *six pack *yang bahkan mampu membuat iri para dewa, menjadikan Zen sangat luar biasa. 

__ADS_1


''Aww.. aku menantimu sayang.'' ucap Zen melipat tangannya di belakang kepala, menantikan apa yang ingin istrinya itu lakukan. Meskipun sejujurnya saat ini ia sudah bersemangat, terbukti dengan Miliknya yang sudah terasa luar biasa berdenyut. 


"Kau menantikan ku? kau ingin aku bagaimana? menyentuhmu? membelai mu? atau kau ingin aku.." ucap Zoya bertingkah menggoda dan liar. Sosok yang baru yang membuat Zen serasa menggila luar biasa. 


Zoya nya selalu saja memberikan kejutan yang tak pernah ia pikirnya. Gadis polos dengan begitu banyak sisi mengejutkan. 


''Ehhhmm.. apa saja yang ingin kau lakukan.'' Zen melenguh dengan getaran yang luar biasa. 


''Kalau begitu, biarkan aku bermain dengan caraku.'' kata Zoya sekali lagi. Ia sudah siap dengan sisi terliar nya. Zoya membiarkan imajinasinya menuntun setiap apa yang akan ia lakukan, dan itu membuat dirinya tak kalah bergairah, bahkan semakin lebih dan lebih. 


...❄️❄️❄️...


Sebelum berangkat ke kantor. Zen mengantarkan istrinya kerumah orang tua mereka. Ini adalah kunjungan pertama keduanya setelah kurang lebih dua minggu tak bertemu.  Dan Zen sudah bisa membayangkan bagaimana hebohnya keluarga itu menyambut kedatangan mereka.


Tin Tin..


Setelah melewati pagar mewah rumah keluarga wijaya, Zen langsung memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu. ''Kita akan membuat Dady marah kali ini.'' ucap Zen mengedipkan matanya. 


''Atau menangis.'' tambah Zoya tersenyum manis. 


Zen menggandeng tangan Zoya saat istrinya itu turun dari mobil.  ''Tuan muda, Nona, selamat datang kembali..'' sapa kepala pelayan dirumah tersebut, yang juga tak percaya melihat keberadaan keduanya. 


"Mom dan Dad ada masih ada di dalam?" tanya nya mengingat kedatangan mereka bertepatan dengan jam keberangkatan Dady nya ke kantor. 


'Semuanya masih berada di dalam nona.'' jawab pelayan tersebut. 


"Terima kasih non..'' 


Satu hal yang selalu membuat Zen kagum pada sosok istrinya adalah kebaikan hatinya. 


Saat melewati ruang tamu, keduanya dapat mendengar suara percakapan mommy dan Dady nya di dari ruang makan, ''mereka selalu heboh seperti biasa.'' bisik Zoya pada suaminya. ''Begitulah keluarga kita.'' tawa mengembang di bibir Zen. 


"Mom.. Dad..?" 


Sapaan Zoya membuat Julie dan Rehan sama-sama terdiam sesaat. Mereka memandang dengan tatapan tak percaya sekaligus merindu. 


''Angel..?"


"Dad.. kami kembali.'' Zoya setengah berlari mendapati tangan terbuka Rehan yang sudah sangat merindukan putrinya tersebut. 


''Ahh.. angel! Dady merindukan mu sayang.'' Rehan memeluk Zoya erat-erat, seolah tak ingin lagi melepaskan pelukannya. Sementara Zen pergi ke sisinya Julie untuk memeluk Mollie nya terlebih dahulu. ''Kami merindukan kalian Mom, Dad.'' kata keduanya kompak. 


"Dady kira kalian akan melupakan kami yang sudah tua ini.'' Rehan mendengus kesal mengingat keduanya kompak tak memberikan kabar apapun. ''Tidak akan Dad. Kau adalah cinta pertama ku, aku tak akan melupakan mu.'' ucap Zoya yang juga memeluk erat Dady nya, melepaskan semua kerinduan yang juga ia rasakan. 


''Gadis nakal.'' 

__ADS_1


Setelah selesai dengan Daddy nya, Zoya beralih pada wanita yang juga tak kalah ia rindukan, mommy nya. 


''Mom..?"


''Sayang, kau baik-baik saja? senang melihat kalian kembali.'' Julie memeluk dan mencium putrinya dengan haru. ''Selamat datang kembali sayang." tambah nya. 


Selesai saling melepaskan rindu. Mereka pun duduk bersama di meja makan sambil berbincang-bincang. Zen dan Zoya juga menceritakan tentang kepulangan mereka, dan juga rumah baru yang baru saja mereka tempati, dan semua itu disambut bahagia oleh kedua orang tuanya, ya meskipun sejujurnya Rehan sedikit kecewa karena tak lagi serumah dengan putri kesayangan nya itu, namun ia tetap mendukung keduanya. 


''Mom, dimana Ken? apa dia sudah berangkat ke sekolah?" tanya Zoya yang memang tak melihat sosok bocah kecilnya. ''Adikmu masih di kamarnya. Sebentar lagi kau juga akan melihatnya.'' ucap Julie, yang memang tak lama setelah nya, mereka pun mendengar suara Ken yang berteriak memanggil mommy nya..


"Momm.. aku akan langsung berangkat. Aku akan sarapan di sekolah.'' katanya dengan tergesa-gesa, tampa berbalik sedikit pun. 


"Heii! tak merindukan ku?" seru Zoya, membuat Ken hampir saja terjungkal.


Dengan kecepatan kilat, Ken langsung berbalik ke arah suara, dan melihat Zozo nya merentangkan tangan.


''Zozo? itu kau?" serunya, kegirangan melihat Zoya menganggukkan kepalanya. 


"Hmm. Ini aku. Tak ingin memeluk ku bocah?"


tampa di minta dua kali, Ken langsung berlari pada Zoya. Keduanya berpelukan, rindu. ''Kau lihat? aku hampir lebih tinggi darimu sekarang! aku bukan bocah lagi!'' Masih. Ken selalu saja protes saat Zoya memanggilnya bocah. 


"Baiklah. Baiklah.. pemuda rupawan.'' ucap Zoya memainkan alisnya.


''Look at this.. ! Sepertinya sebentar lagi akan banyak gadis yang menangis dan mengadu pada mu mom!'' kata Zoya membuat wajah Ken menekuk. 


''Aku tak akan memiliki kekasih sampai beberapa tahun ke depan. Kau bisa memegang kata-kataku!'' balas Ken, menepis candaan Zozo nya.


"Baiklah. Kita lihat saja nanti.'' Zoya menyeringai, membuat Ken kembali tersenyum bahagia melihat kakak satu-satunya yang sangat ia cintai. 


"Apa kau membawa kabar baik lainnya Zozo?" tanya Ken, membuat Rehan dan Julie turut penasaran mendengar kata-kata tersebut. Berita lain yang juga sedang mereka nantikan. 


"Kabar baik?" ulang Zoya dengan polos, membuat Zen manahan tawa. 


"Apa keponakan ku sudah berada didalam?" jelas Ken, membuat wajah Zoya benar-benar merona malu. Bagaimana bisa adik kecilnya itu menanyakan hal pribadi seperti ini dihadapan kedua orang tua mereka. Benar-benar membuat Zoya tak habis pikir. 


"Dasar bocah!" seru nya memukul Ken gemas, sedangkan yang lainnya tertawa melihat tingkah adik dan kaka tersebut. 


"Ampun., ampun.. hentikan disini Zozo, kau bisa merusak penampilan ku.'' protes Ken, sambil merapikan seragamnya. ''Aku harus pergi sekarang, aku akan benar-benar terlambat. Mom, Dad.. kak Zen, aku duluan.'' pamitnya, sekali lagi memeluk saudarinya, ''senang melihatmu disini Zozo. Kita akan bertemu lagi nanti.'' 


"Hmmm. Semoga harimu menyenangkan bocah kecil..'' seru Zoya melambaikan tangan. 


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2