
ENJOY
.......
.......
.......
.......
Pukul dua siang, Lova sedang dalam perjalanan kembali menuju ke rumah sakit. Ia sangat berharap, saat tiba di sana Ken sudah kembali sadarkan diri. Dengan begitu setidaknya Lova bisa sedikit menghilangkan rasa khawatir yang terus-terusan menggerogotinya.
Namun sebelum tiba di rumah sakit, Lova berbelok ke arah swalayan. Ia membeli beberapa camilan dan juga minuman untuk Leon, tidak lupa Lova juga membelikan makan siang.
Beruntung sebelumnya Lova mendapatkan gajih dan tips yang cukup banyak, jadi ia bisa menggunakan uang nya untuk keperluan tidak terduga seperti saat ini.
Meskipun Lova tidak memiliki kemampuan untuk membantu membayar biaya rumah sakit, setidaknya Lova bisa mengeluarkan uang nya untuk membelikan makanan untuk Leon yang sudah berjaga bersamanya.
Lova Sangat beruntung karena Ken memiliki seorang sahabat seperti Leon..
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Lova segera bergegas kembali kerumah sakit, ia sudah pergi terlalu lama.
Sesampai nya di depan ruangan, Sesaat sebelum pintu itu dibuka, di saat itu pula seorang dokter dan kedua orang perawat keluar secara bersamaan dari dalam sana.
''Dok, bagaimana dengan kondisi Ken? apa dia sudah sadar kan diri?" tanya Lova penuh harap.
''Seperti nya kita masih harus menunggu. Pasien dalam kondisi yang stabil, dan tidak ada masalah dengan hasil pemeriksaan nya, jadi bersabarlah.'' Jelas dokter pada Lova.
Lova hanya bisa menganggukkan kepalanya saat dokter berlalu meninggalkan dirinya yang masih mematung mencoba memahami arti dari; ''harus menunggu lagi''
Satu hal yang Lova tau, Ken nya tidak akan mengalami hal yang buruk. Ia hanya perlu menunggu lebih lama.
Saat Lova kembali membuka pintu, Leon sedang duduk di sofa. Leon sedikit terkejut saat melihat pada Lova.
''L.. kenapa kau disini? bukan kah aku menyuruhmu untuk istirahat.'' ujar Leon menghampiri Lova dan membantu gadis itu untuk membawakan plastik belanjaan nya.
''Aku tidak apa-apa. Aku sudah cukup istirahat di dalam taksi. Apa Kau sudah makan siang? aku membelikan makanan untuk mu.''
Lova mengeluarkan isi belanjaan nya, dan meletakan makan siang Leon di atas meja.
''Terima kasih L.- O'ya- kau keberatan jika aku meninggalkan mu sendiri? aku harus pulang untuk mengambil pakaian ganti. Dan keluarga Ken mungkin juga akan segera tiba. Jadi aku akan kembali secepatnya. Kau tidak apa-apa kan kalau aku tinggal sendiri di sini?"
''Hmm. Aku akan berada disini menggantikan mu.- Makan lah dulu sebelum kau pulang.'' jawab Lova setenang mungkin, ia sudah tidak seemosional sebelumnya.
''Kau sendiri, apa kau sudah makan?"
''Hmmm. Aku sudah makan sebelum kemari, Makanlah.'' perintah Lova lagi.
Leon pun segera membuka makanan yang di bawakan Lova untuk nya, Ia segera menghabiskan nya agar dapat segera kembali ke kerumah lalu kembali lagi secepat mungkin sebelum keluarga Ken tiba dirumah sakit.
Leon tidak mungkin membiarkan Lova seorang diri dan membiarkan gadis itu menghadapi keluarga Ken sendirian. Pasti akan sulit bagi Lova untuk menjelaskan semuanya ketika bertemu dengan mereka nanti.
Semua yang terjadi pada Ken, semua nya terjadi begitu cepat. Bahkan tidak ada yang akan menduga nya sama sekali. Semua terjadi begitu saja, seperti mimpi. Mimpi buruk yang datang terlalu cepat.
''L, Apakah kau benar-benar tidak apa-apa jika aku meninggalkan mu sebentar..?''
Tanya Leon lagi. Ia sedikit merasa khawatir pada Lova.
Lova tersenyum singkat, lalu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
''Aku tidak apa-apa Leon, pulang lah. Aku akan tetap disini menjaga Ken.''
Mendengar itu, Leon pun segera meninggalkan rumah sakit, dan hanya menyisakan Lova yang masih setia menemani Ken sampai laki-laki itu kembali tersadar. Entah kapan.
Sementara menjaga Ken, Lova juga mengisi waktu nya dengan terus berbicara. Ia berbicara tentang apa saja pada Ken, seolah-olah Ken mendengarkan semua perkataan nya.
Lova juga berinisiatif untuk memijat kedua tangan Ken secara bergantian perlahan-lahan.
Dalam artikel yang ia baca sebelumnya mengatakan; jika memberikan pijatan pada pasien yang sedang tidak sadarkan diri, sangat baik karena dapat membantu melancarkan peredaran darah dan juga membuat tubuh tetap hangat, karena itu lah Lova berusaha melakukannya sebaik mungkin sesuai dengan tutorial yang sudah ia lihat.
''Ken kapan kau akan bangun? aku disini, apa kau tidak mendengar ku? hem..?-
''Sampai kapan kau akan terus tidur? Apakah masih lama? apa kau ingin terus mengabaikan ku? aku merindukan mu. Aku merindukan kebersamaan kita. Aku merindukan tawa dan juga canda mu.''
"Aku rindu saat kau melarangku tentang banyak hal, aku rindu melihat tingkah manja mu. Aku rindu saat dimana kau menatapku dan bicara padaku."
''Apa kau masih tetap ingin tidur?- Tidak apa-apa jika memang itu mau mu, aku akan terus di sini bersama mu. Aku akan terus bicara pada mu sampai kau tidak ingin tidur lagi.- Aku akan selalu bersamamu sampai kapan pun. Aku tidak akan meninggalkan mu."
...❄️❄️...
...Sementara itu di tempat lainnya......
Setelah pesawat tiba di London, Rehan baru berencana akan memberitahukan tentang apa yang terjadi kepada Ken untuk Zoya dan juga Zen.
Namun mengingat saat ini putri nya itu sedang mengandung, maka Rehan membatalkan niat nya. Ia ingin Zoya mengutamakan kesehatan nya juga.
''Sweetheart, sebaiknya kalian pergilah istirahat. Dad dan mom akan menemui Ken terlebih dahulu, bawalah Shreya bersama dengan kalian, dia juga perlu istirahat.'' perintah Rehan pada putrinya.
''Tidak Dad, kami baik-baik saja. Aku ingin segera bertemu dengan Ken. Lagi pula itulah tujuan ku membawa Shreya, kami ingin memberikan kejutan untuk nya.'' kata Zoya dengan antusias.
''Sepertinya tidak bisa saat ini sweetheart,- pergilah, lakukan apa yang Dady katakan.'' ulang Rehan.
''Tapi kenapa Dad..? kenapa kami tidak bisa ikut bersama Dady? kami juga ingin menemui Ken.'' balas Zoya.
''Sweetheart, ada yang ingin Dad sampaikan, tapi sebaik nya kita bicara di dalam mobil.''
Kata-kata Dady nya membuat Zoya merasa cemas, apalagi melihat sikap diam mommy nya. Namun ia masih berusaha untuk tetap tenang.
''Apa kau tau apa yang terjadi kak?" bisik Zoya pada Zen yang saat ini sedang berjalan di samping nya.
''Aku tidak tau sayang. Aku memang merasa ada yang aneh pada Mollie. Semoga semuanya baik-baik saja.-
''Apa kau lelah? kau ingin makan atau minum sesuatu?''
''Tidak kak. Aku hanya ingin segera tau apa yang sedang terjadi, dan kita secepatnya bisa kembali ke apartemen.'' ucap Zoya perlahan.
"Aku pun begitu sayang, tenanglah. Oke?" Zen mencium pucuk kepala Zoya sekilas.
Setelah memasukan semua barang ke dalam bagasi, mobil langsung diarahkan menuju ke rumah sakit tempat dimana Ken sedang dirawat.
''Sepertinya ini bukan jalan menuju ke apartemen.'' Sela Zoya, membuat Rehan mau tak mau harus melanjutkan kembali cerita sebelumnya.
''Kita memang tidak pergi menuju apartemen sweetheart,- Kita akan ke rumah sakit.'' sela Rehan.
''What, rumah sakit? kenapa Dad, apa Ken sedang sakit?"
''Kau tau, Sebelum penerbangan mom sudah menghubungi adikmu. Dan ternyata Leon lah yang menjawabnya.'' Rehan memulai ceritanya.
Sementara Zen dan Zoya mendengarkan dengan seksama apa yang akan di sampaikan Dady nya, tidak terkecuali Shreya. Ia juga mendengarkan dalam diam.
__ADS_1
''Saat ini adik mu sedang dirawat dirumah sakit,- Ken mengalami kecelakaan semalam. Dan menurut penjelasan Leon, Ken masih belum sadarkan diri.'' Jelas Rehan secara singkat.
''Ya Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi..?"
''Tenang lah sayang, Ken pasti akan baik-baik saja. Jangan cemas,- Zen mengusap punggung Zoya agar istrinya itu bisa lebih rileks.
"Dad tau kau akan cemas, karena itulah Dad memintamu untuk beristirahat, kau harus memikirkan kandungan mu."
"Tapi Dad, Ken adik ku, bagaimana bisa,-
"Sstt, tenang lah sayang, Ken akan baik-baik saja." Sela Zen.
Zoya menyenderkan kepala nya di bahu Zen, bagaimana pun perkataan Dady nya benar, Zoya tidak bisa membuat dirinya terlalu stres. Ia sedang mengandung, dan Zoya harus tetap dalam kondisi yang sehat, baik jasmani maupun Rohani.
''Aku harap begitu kak. Semoga saja hal-hal buruk tidak terjadi.'' lirihnya.
''Ssssstttt... jangan katakan hal seperti itu sayang, atau mollie akan sedih mendengar nya.''
Sesampainya dirumah sakit, Keluarga itu datang berbarengan dengan Leon yang juga baru kembali dari apartemen.
''Bunda, uncle.. kalian disini?" sapa Leon yang tidak bisa menutupi rasa keterkejutannya, terlebih lagi, ia melihat sosok yang sangat tidak asing baginya, meskipun sudah cukup lama.
''Leon, kenapa kau disini? bagaimana dengan Ken?" tanya Julie yang sejak tadi masih memendam semua emosinya.
''Ken bersama dengan salah satu sahabat kami Bund, aku baru kembali dari apartment untuk mengambil pakaian ganti.'' Jelas Leon.
''Mari aku akan mengantarkan kalian ke kamar Ken.'' ujar Leon menuntun keluarga tersebut.
Shreya yang sengaja berdiri di belakang Zen, semakin menyamarkan keberadaan nya, ia masih enggan untuk menyapa Leon secara langsung. Entahlah, mungkin ia merasa malu karena perbuatan nya selama ini. Ia mengabaikan mereka.
Setelah sampai di depan ruangan Ken, Leon mempersilahkan mereka masuk, namun Leon menahan Shreya bersamanya.
''Ini benar-benar kau ternyata.'' ucap Leon masih dengan tatapan tak percaya.
''Leon,-
''Dari mana aja lo Shre, lo tau gimana sulitnya gue nyari lo selama ini? gila lo- bener-bener tega lo!'' ucap Leon tak percaya.
''Maafin gue Le, gue,-
Tanpa aba-aba Leon merengkuh Shreya dalam pelukannya.
''Gue kangen lo Shre, gue kira kita gak bakal ketemu lagi. Gue seneng banget liat lo disini.'' Leon semakin mengeratkan pelukannya pada Shreya.
''Maafin gue,- Gue yang udah ingkar janji. Gue yang jahat. Maafin gue.''
''Gue bakal dengerin cerita lo nanti, yang penting sekarang gue happy ketemu lo, sekarang." balas Leon.
''Hmm. gue juga. Nice to see you again, Leon.'' Shreya balas memeluk Leon sama senang nya.
Shreya bersyukur Leon tidak membencinya. Tapi bagaimana dengan Ken?
'You too, Shre.. i miss you so much.''
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1