My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
DECISION


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


Cekreekk.. Cekreekk..


"Nice Lova, angkat dagu mu sayang.. " Cekreekk!


"Oke sekali lagi, tahan, and pose.. !"


"Great. It's a marvelous shoot. Good Job Honey."


Puji Tony Yang merasa puas atas hasil kerjanya, setelah ia mengambil begitu banyak foto Lova. Karya Yang akan ia keluarkan kali ini pasti akan membuatnya sangat sukses kembali.


"Kita sudah selesaikan? boleh aku ganti baju sekarang, Tony?" Lova bersuara, karena ia memang telah lelah menahan berat busana Yang sedang ia gunakan saat ini.


"Kau sudah boleh mengganti busana mu sayang, jangan lupakan pesta nanti malam, pastikan kau datang bersama pria tampan di sana." Tony tersenyum sambil melirik menggoda kepada William.


"Aku akan datang. See you there Tony."


Lova sedikit kesusahan saat berjalan dengan busana nya, ditambah lagi ia juga tak memiliki seorang asisten. Poor!


"Kau lelah?" William menghampiri Lova, dan dengan sigap membantu gadis itu untuk berjalan.


"Tidak juga. Hanya saja baju ini terlalu luar biasa." keluh Lova.


Sesampainya di ruang ganti, ia dibantu oleh beberapa asisten wardrobe, setidaknya itu membuat pekerjaan Lova menjadi lebih mudah.


"Kau sudah selesai? Kita kembali ke hotel saja. Kau harus istirahat untuk pesta nanti malam." ajak William.


Lova bersyukur dalam hati. William begitu mengerti dirinya. ia memang membutuhkan istirahat setelah pekerjaannya Yang melelahkan.


"Oh, Thanks Will. Itulah yang saat ini ku butuhkan." sahut Lova penuh syukur.


"Tunggulah aku di mobil, aku akan bicara pada Manager sebentar" pinta William lalu menyerahkan kunci mobilnya kepada Lova.


"Baiklah Will"


Sesampainya di mobil, Lova masuk dan mengunci dirinya di dalam. Ia memejamkan mata nya untuk sesaat, hingga secara perlahan nafasnya berubah teratur, Ia pun tertidur.


Jika kalian berpikir menjadi seorang model itu pekerjaan yang mudah? maka kalian Salah. Seorang model tak akan di bayar mahal jika apa Yang dilakukan nya adalah hal Yang biasa saja.


Dan itulah Yang di lakukan Lova. Sejak pertama ia terjun ke dalam dunia modeling, ia belajar banyak hal tentang pekerjaan nya. Ia tak pernah menganggap jika pekerjaan berpose nya itu adalah sesuatu Yang mudah.


Untuk menjadi seorang model Yang professional, Setiap saat Lova selalu mengasah kemampuan dirinya agar menjadi lebih baik.


Seperti saat ini, karena terlalu lelah Lova bahkan tak menyadari sudah berapa Lama ia tertidur, satu hal Yang ia tau, saat ia membuka mata, Lova sudah melihat William berdiri memunggunginya.


William menunggu Lova bangun dengan tenang.


Oh God!


"Apa Yang aku lakukan..?"


Lova membuka pintu dengan cepat, keluar dengan wajah Yang, yah you know lah.. ia baru saja bangun.


"Will..?" Sapa Lova dengan perasaan bersalah. Namun William malah tersenyum dengan lembut pada nya.


"Kau sudah bangun?" sahutnya, seakan hal itu adalah biasa.


"Kenapa tidak membangunkan aku? Kau pasti lelah. Maaf." ujar Lova merasa tak enak hati atas perbuatan nya.


"Aku tak ingin membangunkan mu, Ayo. Kita harus segera kembali, pesta akan dimulai dalam beberapa jam.." ajak William.


Oh No. Lova bahkan tertidur selama itu, dan dengan tidak tau dirinya bahkan membuat bos nya menunggu diluar begitu Lama.


Kau memang luar biasa Lova!


Setiba nya di hotel, William dan Lova kembali ke kamar mereka masing-masing.


Mereka harus menghadiri pesta Yang di selenggarakan oleh pemilik brand, sebelum kembali ke London ke esokan hari nya.


Saat masuk ke kamarnya, Lova mendapati sederet gaun mahal Yang sudah terpajang dengan rapi di gantungan nya.


lengkap dengan sepatu, tas dan juga aksesoris lainnya. Tanpa menebak-nebak pun, Lova tau siapa yang sudah menyiapkan semua itu untuk nya.


Tak ingin menghabiskan waktu terlalu lama untuk memilih gaun, Lova hanya mengambil apa yang di anggapnya cocok untuk ia kenakan.


Sebuah long dress berwarna merah terang, Yang akan berpadu sempurna dengan warna kulit putih pucat nya. Gaun itu tak memiliki lengan serta memiliki potongan leher yang tinggi, dan yang menjadi poin plus nya adalah belahan di samping gaun tersebut. Belahan ang akan memperlihatkan kaki putih mulus yang Lova miliki.


Gaun Yang ia pilih ternyata benar-benar cocok untuknya, gaun itu terpasang dengan begitu sempurna di tubuh Lova.


Sebagai nilai tambah untuk fashion nya malam ini, Lova menggulung tinggi rambutnya dengan rapi dan menyematkan sebuah jepitan berhiaskan mutiara. Tak terlalu mencolok memang, namun terlihat begitu Elegan.


Untuk make up, Lova memilih sesuatu yang simpel, ia hanya mengenakan make up tipis dengan sentuhan lipstick berwarna senada dengan gaun nya.

__ADS_1


Dan ya, Kini Lova sudah siap.


Tak Lama setelah nya, pintu kamar Lova kembali di ketuk. Dengan langkah berhati-hati Lova mengambil clutch nya dan bergegas menghampiri pintu.


William sudah berdiri dengan begitu gagah dengan setelan jas berwarna hitam metalik. Rambut nya di sisir dengan rapi, serta..Apa William bercukur? lihatlah, Rahang tegasnya begitu memukau.


Wow. Seperti nya mereka sama-sama tersihir dengan penampilan masing-masing.


"Kau sudah siap, Young lady?" William tersenyum seraya mengulurkan tangannya. Lova membalas senyuman William sama ramahnya, lalu menyambut tangan William, "Tentu."


Pesta Yang berlangsung di sebuah hotel berbintang itu terbilang sangat mewah bagi Lova. Dan tak ada Yang bisa dilakukan nya di sana, selain hanya mengatakan -Hai- kepada beberapa orang yang menyapa dirinya.


Saat merasa bosan, Lova mengambil makanan dan juga minum beberapa gelas alkohol.nSelebihnya, Lova hanya duduk di kursi seraya menunggu dengan tenang.


Sementara William, ia terus bercengkerama dengan para tamu namun tetap menjaga Lova di dekatnya.


Ah.. manisnya.


Keesokan harinya, Lova tak ingat bagaimana dan jam berapa mereka kembali ke hotel. Namun saat bangun, ia merasakan sakit yang luar biasa berdengung di kepalanya. Sepertinya ia terlalu banyak minum.


Dan sekarang ia membutuhkan sesuatu untuk meredakan pangarnya.


"Kau sudah bangun?"


Suara dalam dan mainly milik William mengejutkan Lova untuk sesaat. Apa ia masih mabuk? Pagi-pagi seperti ini, William bahkan sudah terlihat sangat rapi dengan kemeja abu-abunya.


"Selamat pagi Will." sapa lova sambil meringis.


Namun William hanya berdecak, seraya membawa gelas ditangan nya. "Teh madu untuk menghilangkan pangarmu." ujarnya lagi.


Betapa cerobohnya Lova. Dalam satu hari saja ia sudah sangat menyusahkan bos nya itu untuk mengurus dirinya.


"Maafkan aku." ujar Lova sebelum mengambil gelas dan menyeruput isinya. Ah, thank God! Minuman itu membuatnya merasa lebih baik.


"Segera mandi dan sarapan, atau kita akan ketinggalan pesawat." peringat William sebelum meninggalkan kamar Lova.


Lova hanya meringis. Apa William marah? tentu saja! Bodohnya dirimu L!


...❄️❄️...


Setelah melalui penerbangan yang cukup Lama, akhirnya Will dan L tiba kembali di London.


"Hhhmmm.. Huh! Akhirnya kita pulang."


Lova menghirup udara khas yang di hembuskan kota metropolitan tersebut.


"L...?" Seru Leon, sambil melambaikan tangan nya.


Ia tersenyum lebar, sambil berlari menghampiri Lova.


Inikah rasanya memiliki seseorang yang memperdulikan mu?


"Terima kasih Le, kau baik sekali." sahut Lova seraya memeluk Leon.


"Bagaimana kabarmu? kau terlihat semakin kurus, apa Will tidak memberimu makan?" Leon mencubit kedua pipi Lova dengan gemas. Membuat Lova meringis.


"Ssttt. Will mengurusku dengan sangat baik selama di California. Bahkan sangat baik." sahut Lova cepat.


Ia tau Leon memang seorang yang terlalu spontan saat bicara, hanya saja tidak akan Lova biarkan kata-kata sahabatnya itu malah menyinggung bos nya.


Yah, meskipun Lova juga tau jika William tidak akan menanggapi kata-kata Leon, namun setidaknya Lova harus memastikan hal itu tidak terjadi.


"Will.. -


Lova berbalik, hendak berpamitan pada William, namun lagi-lagi pria itu sudah lebih dulu mengangguk maklum.


"Tidak perlu memesan taxi, aku akan mengantar kalian kembali ke apartemen.-" Sela William, yang terdengar seperti sebuah perintah.


"Baiklah.." sahut Lova cepat.


"Akan ku antar kan barang-barang mu ke mobil. Mari." ujar William, mengajak Lova dan Leon menuju ketempat dimana mobil pribadinya sudah menunggu.


Untuk satu minggu ke depan, Lova tidak memiliki schedule apapun. William memberinya waktu untuk beristirahat setelah menyelesaikan pekerjaan kejar tayang sebelumnya.


Di tambah lagi, minggu depan Lova akan menghadiri wisuda kelulusan dirinya.bSatu lagi hal yang bisa Lova banggakan dari dirinya.


Karena mereka sama-sama lelah, baik Lova maupun William memutuskan untuk langsung kembali ke apartment masing-masing.


Pertama, William mengantarkan Lova untuk kembali ke apartment nya terlebih dahulu, setelahnya ia akan mengantarkan Leon, sahabat lova.


"Baiklah kita sudah sampai. Istirahat lah L, gunakan waktu libur mu sebaik mungkin." pesan William, saat mobilnya sudah berhenti di parkiran apartment lova.


Gadis itu merasa sangat beruntung karena memiliki William sebagai bos nya. Jika orang lain, mungkin ia tak akan sesantai ini dan tak akan memperhatikan dirinya sampai seperti ini.


"Akan ku lakukan, Terima kasih Will, hati-hatilah saat kembali." pamit Lova.


"Aku juga sampai disini saja, aku akan menemani L sebentar. Thanks Will." Sela Leon, melambaikan tangan nya singkat.


"Baiklah. Sampai bertemu lagi." tutup William.


...❄️❄️...

__ADS_1


Setelah mobil william meninggalkan parkiran, Leon membantu Lova untuk membawakan semua kopernya.


"Bagaimana kabarmu L? pekerjaan mu menyenangkan?" Leon membuka percakapan, sebelum mereka masuk ke dalam lift.


"Yah, seperti yang kau lihat Le, aku baik, begitu juga dengan pekerjaan ku. Bagaimana dirimu?" sahut Lova balik bertanya.


Ting.


Lift terbuka, dan mereka masuk ke dalamnya, lalu tertutup kembali. "Aku baru kembali dari Indo, beberapa hari yang lalu L-


Deg..


Jantung Lova berdebar lebih cepat. Kini ia meremang, pipinya bahkan terasa kebas.


Leon tak pernah mengatakan rencana nya untuk kembali ke Indonesia pada Lova, tapi sekarang. Lova malah mendengar jika Le bahkan baru saja kembali dari sana.


"Kau bertemu dengan nya?" sela Lova, lemah.


Ya. katakan Ya Le, ku mohon.


Lova meringis. Ia tau saat ini ia terlihat begitu tak sabaran ingin mendengarkan tentang Ken Yang sudah cukup Lama menghilang tanpa kabar dan berita.


Jujur saja, sebagai seorang kekasih, Lova sangat ingin mendengar cerita tentang Ken, hanya saja,


"Ya. Aku menemuinya L. Aku menemui Ken di Bali. Ia berada di sana sekarang untuk mengurus kantor cabang, dan..


"Kalau begitu, Ken pastilah sangat sibuk hingga tak punya waktu untuk mengabariku." sela Lova berusaha menampik kenyataan bahwa Ken mengabaikan dirinya.


"L..-


"Aku tidak apa-apa Le. Jangan cemaskan aku. Aku sudah mulai terbiasa sekarang, kau tidak perlu mengatakan apapun tentang Ken kepada ku." cegah Lova lagi.


Sudah cukup ia mengetahui bahwa Ken baik-baik saja, setidaknya kekasihnya tidak menghilang karena hal lain, jadi jika Ken memang tak menghubunginya, artinya karena Ken tak ingin. Cukup sampai disitu, Lova tidak ingin mendengar hal lainnya.


Ia juga tak suka jika Leon terus-terusan mengambil tanggung jawab untuk memberikan penjelasan menggantikan Ken di setiap mereka bicara.


Leon bersikap seperti seorang ayah yang selalu menutupi kesalahan putranya. Selalu seperti itu.


Lova akan merasa sangat tidak nyaman jika Leon juga melakukan itu kali ini.


Le sudah begitu baik padanya, ia tidak ingin melampiaskan ketidakpuasan nya selama ini kepada orang yang Salah.


Sekali lagi, Lova kembali merasakan sesak di dadanya. Ia selalu mengalami ini, setiap memikirkan Ken secara berlebihan.


Ting!


Beruntunglah pintu lift itu sudah terbuka. Lova bisa buru-buru keluar dan menghirup udara segar sebanyak mungkin.


Namun belum lagi ia melangkah jauh, Leon sudah menahan tangan Lova agar tetap berada di dekatnya.


"L, dengarkan aku, ku mohon. Aku tidak mengatakan jika aku ingin memberikan penjelasan untuk Ken, sama sekali tidak. Dan aku rasa itu memang tidak perlu.-


Lova mendengarkan Leon dalam diam.


"L.. kalian harus bicara. Aku hanya ingin mengatakan itu. Kalian perlu waktu untuk membereskan semua yang terjadi di antara kalian, itu pun jika kau masih memiliki perasaan kepada Ken, aku tidak akan memaksamu L. Tidak akan."


"Aku sangat tau apa yang kau alami selama ini, bagaimana perasaan mu, aku tau.. hanya saja, -


"Lalu kenapa harus kau lagi Le. Kemana Ken? Apakah begitu sulit untuk mengangkat ponselnya dan menjelaskan semuanya langsung kepada ku..?-


"Aku tidak akan seperti ini jika Ken memikirkan perasaan ku sedikit saja.- Lova mulai berteriak untuk meluapkan isi hatinya.


Kenapa Leon harus seperti ini padanya? kenapa Leon harus memaksanya? tidak bisakah Leon melihat sakit yang ia tanggung?


"L, jangan menangis. Kenapa kau menangis? maafkan aku.. hem..?" Leon memeluk Lova untuk menenangkan sahabatnya itu.


Bukan ini yang Leon harapkan. Apakah ia sudah terlalu menyinggung Lova?


"Kau tau, aku bahkan ragu jika Ken masih memikirkan ku." Lova masih terisak dengan bawah terbenam di dada Leon.


"L, ini tidak seperti itu. Ken tidak melupakan mu.-


"Lalu apa yang di lakukan nya selama ini Le? Apa..?- Lova mulai kehilangan kendalinya lagi. "Jika Ken memang memikirkan ku, seharusnya ia memikirkan apa yang ku rasakan. Hubungan kami tidak sebentar Le, kau tau aku sudah menahan semua nya begitu Lama. Tapi apa yang Ken lakukan?"


"Bukan hanya dia yang berjuang untuk hubungan ini Le, aku pun begitu. Aku melakukan yang terbaik yang bisa aku lakukan. Kau tau itu dengan baik, tapi apa yang dilakukan nya setelah semua itu?"


"Ken menghilang!"


"Ken seperti tak pernah ada dalam hidup ku Le. Aku merasa seperti hidup dalam fantasi ku sendiri. Aku seperti mencintai seseorang yang tidak nyata. Dimana salah ku dalam hubungan ini Le? Kenapa Ken melakukan ini padaku?"


"Dan sekarang lihatlah. Lihatlah Le, lagi-lagi Sekarang kau datang, dan ingin menjelaskan semua padaku menggantikan Ken? Tidak Le. Aku tidak akan mendengarkan nya.-


Lova mengangkat kedua tangan nya, meminta dengan sangat agar Leon menutup mulutnya.


"Jika Ken memang menganggap aku penting dalam hidupnya, setidaknya ia akan menemui ku Le. Dia akan melakukan nya, seperti dirinya yang dulu. Dimana dia masih mencintaiku.-


"Jika Ken memang tidak bisa melakukan itu, lalu untuk apa hubungan ini terus kami pertahan kan? Lebih baik ini berakhir. Itu akan lebih baik untuk kami berdua Le." tutup Lova mengakhiri pembicaraan itu.


"Itukah yang kau pikirkan tentang aku L, Kau ingin mengakhiri hubungan kita? Apa aku terlalu menyakitimu?"


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2