
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
3 Minggu kemudian...
Hari-hari berlalu seperti biasa. Begitupun dengan hubungan Zen dan Zoya. Jika ada kesempatan keduanya akan menyempatkan diri untuk bertemu. Makan siang bersama, Bahkan kadang Zoya pergi ke Kondominium Zen untuk mengambil hadiah yang memang di persiapkan Zen baginya.
Kado terakhir yang Zoya miliki adalah kado untuk ulang tahun ke 18 nya. Itu adalah pertemuan terakhir mereka 8 hari yang lalu. Ahh.. ini sangat lama.
Sebelum Zen melakukan perjalanan Bisnis ke Singapore bersama sekretarisnya Calista, yang juga pernah Zoya jumpai sebelumnya saat makan siang bersama Zen.
Selama 8 hari ini terakhir, Zen hanya 4 kali menghubungi Zoya, itupun hanya sekedar menanyakan apa kegiatan Zoya, apakah Zoya pergi ke Kondominium nya untuk mengambil hadiah-hadiah nya, dan juga memastikan jika Zoya baik-baik saja.
Setelahnya, Zen menghilang.
Tidak ada kabar sama sekali. Beberapa kali Zoya mengirimkan pesan, tapi tidak ada balasan. Bahkan saat Zoya mencoba menghubungi Zen, panggilan Zoya malah di tolak. Oleh sebab itu, Zoya tidak pernah lagi mencoba menghubungi Zen.
Lagipula, Zoya bukanlah siapa-siapa bagi Zen, hanya adik perempuan nya yang selalu ingin mendapatkan perhatian dari laki-laki itu. Kenyataan yang sedikit miris, bagi seorang seperti Zoya.
"Heii,, Kau sendiri, mau ke cafe siang ini..?" Seperti biasa, siapa lagi kalau bukan Jordan yang selalu bersama Zoya.
Entahlah, mungkin laki-laki itu seperti dirinya. Tidak memiliki teman lainnya. Oleh sebab itulah setiap ada kesempatan Jordan selalu menghampiri Zoya.
"Apa kelas mu sudah berakhir..?" Zoya merapikan semua berkas-berkas di atas mejanya.
Candaan untuk keduanya kini sudah mulai berkurang dari kalangan rekan kerja mereka, setelah mereka mengkonfirmasi hubungan keduanya yang hanyalah sebatas teman.
"Tentu saja. O, ya, aku ingin bermain badminton, mau bermain bersama..? Tanya Jordan Lagi.
"Aku kurang begitu suka olah raga itu. Tapi aku bisa menemanimu."
"Benarkah..? Yes.
"Ya. Aku juga sedang tidak ada kegiatan lain. Hanya menjemput Ken pukul 4 nanti. "Ok. Deal. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan teman kecil ku itu."
Setelah Zoya selesai dengan berkas-berkasnya, dan juga merapikan atas meja nya keduanya meninggalkan kampus bersama.
"Vidette. Gunakan mobil ku saja. Mobilmu biar supirku yang antar kan kerumah mu." tawar Jordan.
*V**iedette*. Entah kenapa Jordan lebih menyukai panggilan itu bagi Zoya. Mungkin karena artinya yang begitu cocok untuk wanita yang ada di hadapan nya itu.
"Terserah kau saja. Ini kuncinya."
Zoya dan Jordan sudah semakin dekat selama 2 minggu terakhir. Jika orang luar melihat, maka keduanya akan terlihat seperti pasangan.
Keduanya terlihat begitu serasi saat bersama.
...❄️❄️...
__ADS_1
15 menit perjalanan, mobil Jordan sudah terparkir di depan Cafe X, langganan mereka. "Ayo.. " Jordan membukakan pintu mobil bagi Zoya.
Jordan berjalan lebih dulu diikuti Zoya di belakang nya. "Calista...?"
Jordan mengenali wanita yang duduk tak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini. "Vidette, bukan kah itu kakak mu..? Tanya Jordan membuat Zoya menghentikan langkahnya untuk memperhatikan orang yang di maksud.
DEG..
DEG..
"Apa mereka kenalan..?"
"Kamu kenal dengan Calista..?" Zoya bertanya balik.
"Ya. aku pernah bertemu dengan nya beberapa kali di Cafe ini."
"Ayo kesini." Zoya menarik tangan Jordan agar tidak terlihat oleh Zen.
"Heii, kenapa sembunyi..? apa kakak mu akan marah jika kita keluar besama..?" Jordan sedikit heran dengan tingkah Zoya.
Kapan kakak kembali..? apa kakak sengaja tidak ingin menghubungi ku..? Apa aku membuat mu merasa tidak nyaman Kak..?
"Vidette..? Heiii.. !!" Jordan menghalau wajah Zoya dengan tangan nya. Gadis itu sempat tidak fokus beberapa saat.
"Ahh, entahlah. Kenapa aku harus sembunyi." Zoya merapikan pakaiannya untuk mengalihkan perhatian nya dari perasaan tidak nyaman yang ia rasakan.
"Ayo kita duduk di tempat biasa!" Zoya kembali menarik tangan Jordan.
Tangan gadis itu terasa sedikit basah dan juga bergetar di tangan Jordan.
Jordan berjalan mendahului Zoya, mengubah posisi keduanya, seakan ialah yang menggandeng tangan Zoya. "Calista..? Kak Zen..?" Sapa Jordan mendekati meja kedua orang itu.
"Kak,—Hai Calista..?" Sapa Zoya sedikit canggung.
"Oh, Hai Jordan, Zoya, kalian ingin makan siang..?"
Calista membalas sapaan keduanya.
"Sebenarnya kami hanya ingin bersantai-santai, gadis manja ini sedang tidak ingin pulang." Jordan menyentuh pelan kepala Zoya.
Tidak ingin pulang....?
Zen mengerutkan kening nya, melihat adegan itu. Sejak kapan adik kecilnya tidak ingin pulang kerumah?
"Ka.. kapan aku bilang seperti itu..?" Zoya semakin salah tingkah karena kata-kata Jordan.
"Ingin duduk bersama kami..?" tawar Calista, mengingat Zoya adalah adik bos nya mungkin tidak apa-apa jika mereka di meja yang sama..
"Ti..
"Tidak perlu. Kami akan duduk di tempat kami."
belum lagi Zen menyelesaikan kalimatnya, Jordan sudah lebih dulu memotong kalimat Zen.
Heh. Tempat kami...?
__ADS_1
Wajah Zen tampak mengeras. Tidak ada yang melihat tangan nya yang saat ini tengah terkepal kuat memunculkan buku-buku nya di bawah meja.
Jordan menarik tangan Zoya menuju tempat duduk private yang biasa Zoya tempati.
Sebenarnya Zoya berharap Zen menghentikan nya, dan memaksa mereka untuk duduk di sana. Zoya akan senang dengan hal itu, Tapi.. Ahh, apa yang Zoya harapkan.
Sepertinya aku terlalu membuat mu santai gadis kecil.
"Pak..?"
"Kita kembali sekarang. Kau sudah selesai bukan..?" ajak Zen pada Sekretarisnya.
Tujuan Zen berada di tempat itu adalah untuk melihat gadis kecil yang ia rindukan. Ia membawa Calista agar ia dapat melihat bagaimana respon Zoya setelah beberapa hari Zen berusaha mengabaikan Zoya.
Tapi ternyata, malah Zen yang di kejutkan dengan kedatangan orang tak terduga di samping Zoya.
Bukan nya Zen tidak tau kalau keduanya memang sudah lebih dekat akhir-akhir ini, karena memang Zen selalu memantau Zoya, hanya saja.. Sejak kapan mereka sampai bergandengan tangan seperti itu.
"Baik pak, saya sudah selesai." Zen membayar tagihan makan siang mereka, sambil melirik ke arah dimana gadis kecilnya duduk bersama dengan laki-laki Sialan Itu.
"Mau pesan yang seperti biasa.. ?" tanya Jordan sambil melihat buku menu. "Hem, itu juga tidak apa-apa." Jawab Zoya yang kini masih memikirkan Zen.
Berteman dengan Jordan membuat Zoya menyukai hal-hal baru, contoh kecilnya seperti makanan dan juga minuman.
Jika saat bersama Zen, Zoya lebih suka minum coklat hangat favoritnya, maka saat bersama Jordan Zoya lebih suka memesan ocean deep blue, minuman yang sangat cantik secara tampilan dan juga memiliki rasa yang unik.
"Vidette, apa kau baik-baik saja..? sejak tadi kau terlihat lebih diam..?" Jordan memperhatikan perubahan kecil atas sikap Zoya.
Entah apa yang dipikirkan wanita itu, Jordan tidak tau. Hanya saja, ada sesuatu antara Vidette dan juga kakaknya. Naluri Jordan mengatakan hal demikian.
"Maaf. Hanya ada sesuatu yaang ku pikirkan. Maaf membuatmu tidak nyaman."jawab Zoya.
"Apa Sih.. Tidak apa-apa. Bukan kah kita teman. Kau bisa cerita kalau mau. Aku akan mendengarkan mu. Tapi jangan di pendam sendiri seperti itu. Kau tau, kamu terlihat seperti boneka hidup yang larut pada dirimu sendiri. Dan aku, seperti seorang laki-laki yang sedang berkencan dengan boneka itu,- Ahh, nasib ku yang malang." celetuk Jordan.
Haaaa...
"Kamu terdengar konyol." Zoya tertawa kecil mendengar kata-kata Jordan.
"Kau lebih cocok saat tersenyum seperti sekarang, Lihat, senyum mu itu sangat cantik."
'Apa kau sedang berusaha...?" Zoya mengejek Jordan.
"Aku mengatakan yang sebenarnya,
,-Dengan sedikit usaha,- Jordan membuat simbol dengan tangan nya.
Seperti ini juga tidak apa-apa, setidaknya..
One step Closer Vidette.
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1