My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
DECISION OF KEN, PLAN OF LEON


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


''Permisi pak, saya ingin bapak menanda tangani berkas ini.'' ujar seorang staf kepada Ken.


''Berikan padaku.'' sahutnya dengan sopan.


Sebelum memberikan tanda tangan, Ken selalu memiliki kebiasaan untuk membaca semua laporan yang diberikan pada nya terlebih dahulu. Ken termasuk seorang yang sangat teliti dalam bekerja.


Meskipun ia masih seorang magang, Ken tidak ingin bekerja seadanya, ia akan bekerja seperti hidupnya dipertaruhkan pada hal tersebut.


Dengan begitu, ia akan benar-benar bisa bersikap profesional. Begitu pula dengan semua staf yang menjadi bawahan nya saat ini, meskipun Ken masih terbilang sangat muda untuk menduduki posisinya saat ini; semua orang tidak pernah menganggapnya remeh,semua itu karena performa kerja yang sudah di tunjukan Ken.


Ken bekerja layaknya seorang yang sudah ahli dan berpengalaman di bidang nya, ia tak pernah melewatkan kesalahan sekecil apapun. Ken seorang yang teliti dan juga kritis, karena itulah semua orag menghormati dirinya.


''Pada lembaran kedua bagian poin ketiga, kau harus memperbaikinya. Jika kita memberikan semua penawaran seperti yang tertulis di sana, perusahaan tidak akan mendapatkan keuntungan yang seharusnya.-


''Point berikutnya juga akan mempengaruhi. Setelah kau memperbaikinya, berikan kembali pada ku.'' koreksi Ken pada berkas yang baru saja ia terima.


''Baik pak, saya akan memperbaikinya secepat mungkin.'' jawab staf tersebut sambil menundukkan kepalanya.


''Tidak perlu terburu-buru, kerjakan saja dengan teliti.'' tambah Ken.


''Baik pak, saya permisi.'' sahutnya, sementara seseorang telah menunggu gilirannya di depan pintu.


Setelah staf itu pergi, pintu diruangan Ken kembali di ketuk. Bukan karena pintu itu tertutup, karena Ken tidak pernah menutup pintu ruangan nya; ia tidak suka mendengar suara hentakan dari pintu tersebut.


''Kau sibuk pak manager?'' tanya Dava dari depan pintu sambil tersenyum. ''Mas,- masuklah.'' sahut Ken membalas Dava. ''Ada apa mas, apa ada yang harus ku tanda tangani juga?" tanya Ken,


''Yups. Benar sekali. Ini. Berkas ini harus melalui persetujuan mu.'' Dava menyerahkan berkas yang di bawanya.


Seperti sebelumnya, Ken akan membaca semua berkas yang diterimanya terlebih dahulu sebelum memberikan tanda tangan sebagai sebuah persetujuan.


''Kau menyukai pekerjaan mu pak manager?" tanya Dava berbasa-basi berniat menggoda Ken.


''Seperti yang kau lihat mas, aku masih harus belajar lebih banyak lagi.'' sahut Ken dengan sebenarnya.


''Aku sangat penasaran,- tambah Dava lagi. ''Setelah magang di posisi ini, kau akan pergi ke bagian mana lagi?'' tambahnya, Dava benar-benar merasa penasaran pada hal tersebut.


Ken hanya tersenyum,- ''Entahlah mas, ku rasa aku akan pergi ke bagian dimana seharusnya aku belajar.'' jawab Ken sederhana.


''Ya, ya..- lalu bagaimana dengan studi mu? kapan magang mu akan berakhir?" tambah Dava.


Setahu Dava, Ken memanglah seorang anak magang yang datang dari universitas terkenal dari luar negeri. Tapi Dava juga tidak tau apa alasan nya seorang mahasiswa tahun kedua sudah bisa melakukan magang, terlebih lagi kegiatan itu di lakukan di luar pengawasan kampus.


Dan yang lebih aneh, jika biasa nya anak magang hanya menetap di satu keahlian, berbeda dengan Ken.


Seharusnya, jika memang Ken adalah seorang magang yang di kirim dari universitas, maka setidaknya Ken adalah anak tahun ke empat di universitas, tapi ini? Ken melakukan pekerjaan magang dengan posisi bertahap, seolah-olah dirinya memang dipersiapkan untuk hal tertentu, dan itu bukanlah pekerjaan magang biasa.


Hanya ada beberapa kemungkinan yang sebenarnya bisa Dava simpulkan;


Pertama, Ken bukanlah peserta magang yang umum.


Kedua, mungkin saja orang tuanya punya posisi yang penting di perusahaan saat ini;


Dan yang ketiga,.. ?


Entahlah, Dava enggan untuk memikirkan nya lagi. Semua itu hanyalah praduga nya saja. Terlebih lagi, Dava juga merasa segan untuk bertanya langsung kepada Ken. Keduanya hanya rekan, Dava tidak akan melanggar privasi seseorang hanya karena rasa penasaran nya.


''Ini mas.'' suara Ken memecah keheningan yang tiba-tiba terjadi diantara keduanya.


''Sudah selesai?" tanya Dava yang sedikit terkejut karena pikiran nya sempat tidak berada di tempatnya.


''Hmm. aku sudah membacanya, dan sudah ku tanda tangani juga.'' sahut Ken. Sementara Dava sempat terdiam karena memperhatikan Ken.


''Mas, ada apa?'' tanya Ken saat tak ada respon dari Dava. Semakin Dava perhatikan, sosok Ken mengingatkan Dava pada seseorang. Tidak hanya itu, bahkan wajah mereka pun memiliki kemiripan. Apakah mungkin?


''Ah- tidak. Maaf, aku hanya sedang memikirkan sesuatu, pikiran ku terkadang memang selalu berpindah-pindah sesukanya.'' sahut Dava sambil tertawa canggung.


''Baiklah. Jika ada hal lainnya, aku akan selalu berada diruangan ku.'' tambah Ken.


''Baik pak Manager,- kalau begitu aku akan kembali keruangan ku.'' balas Dava, sementara Ken hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah menyelesaikan semua pekerjaan nya yang cukup menguras pikiran, Ken melihat pada jam yang menempel dengan begitu elegan ditangan nya. Tanpa ia sadari ternyata waktu sudah menunjukan jam untuk istirahat,


''Selamat siang sayang, aku rasa kau masih berada di pondok saat ini, Kembalilah tepa waktu, aku akan bicara pada mu nanti malam, tunggu aku, jangan tertidur begitu cepat.- Aku mencintaimu.''


Setelah mengirimkan Voice note kepada Lova, Ken mengambil ganggang telpon di atas meja nya; lalu menyambungkan nya langsung ke ruangan direktur utama;


Setelah dering kedua, barulah panggilan tersebut di jawab;


''Hallo..?" suara khas Dady nya terdengar begitu berwibawa di pendengaran Ken, ''Dad, ini aku- mau makan siang bersama?" tanya Ken langsung pada inti nya.


''Son, baiklah. Mari makan siang bersama.'' sahut Rehan juga.


...❄️❄️...


Lima belas menit Kemudian;


Ken sudah berada di ruangan Dady nya. Keduanya sama-sama memutuskan untuk makan siang di kantor saja. Baik Rehan maupun Ken, keduanya sama-sama merasa enggan untuk pergi keluar, terlalu melelahkan dan juga membuang waktu.


''Apa yang ingin kau pesan, Son? tanya Rehan.


Tepat sebelum Ken menjawab, kembali terdengar suara ketukan di pintu ruangan Rehan.


''Masuklah!'' sahut Rehan dari tempatnya. ''Dad..?'' sahut suara yang berasal dari luar ruangan nya, suara yang begitu Rehan kenali.


''Angel, apa yang..?'' Zoya datang membawa dua tas yang saat ini tengah memenuhi tangan nya,-

__ADS_1


''Zozo?''


Ken berdiri dari tempatnya untuk menghampiri Zoya, lalu membantu kakaknya untuk meletakan tas yang dibawanya, begitu pula dengan Rehan, ia pun langsung menyongsong putrinya itu.


''Kebetulan sekali bocah ini ada disini, jadi aku tidak perlu memanggilmu lagi.'' sahut Zoya sambil tersenyum pada adiknya.


Apa-apaan senyuman itu, Ken merasa ada maksud lain dibalik senyuman saudarinya; Ken merasa seperti Zoya memang khusus datang untuk dirinya, ah.. membuat tidak nyaman saja, pikir Ken.


''Apa yang kau lakukan angel? duduklah.'' ujar Rehan yang merasa cemas saat melihat kepada putrinya.


''Disini, duduklah disini sweet heart, apa kau lelah? istirahatkan kaki mu disini.'' tambah Rehan dengan sigap mengambil kursi yang lebih rendah agar Zoya dapat meletakan kakinya disana.


Dady nya memang lah yang terbaik;


''Aku membawakan makan siang untuk Dad dan juga untuk mu bocah.'' sela Zoya saat keduanya sibuk mengkhawatirkan dirinya.


Zoya bukan lah anak kecil, tapi entah kenapa sikap semua orang terasa begitu berlebihan padanya sejak kandungan nya semakin membesar.


Padahal ia merasa sangat baik-baik saja, tapi entah kenapa semua orang selalu bersikap berlebihan seperti ini padanya.


''Angel, dengarkan Dad- kau tidak harus melakukan ini, kau harus menjaga dirimu. Apa kau tau kalau kau tidak boleh terlalu lelah saat ini? bagaimana jika terjadi sesuatu padamu sementara kau dalam perjalanan kesini? jangan lakukan ini lagi sweet heart, Dad tidak ingin terjadi sesuatu padamu.'' tegur Rehan dengan wajah yang benar-benar khawatir.


Seketika Zoya merasa bersalah telah membuat Dady nya menjadi cemas seperti saat ini; lagi-lagi Zoya menambahkan beban kepada Dady nya.


''Dad benar Zozo, kau harus menjaga dirimu.'' tambah Ken.


''Maafkan aku Dad, aku hanya merasa bosan dirumah. Karena itulah aku membuatkan makan siang dan mengantarnya kemari. Apa kalian sudah makan, mau makan siang bersama?" tanya Zoya lagi.


Rehan tersenyum sambil menundukkan kepalanya, sebelum kembali melihat pada putrinya. Rehan hampir saja menitihkan air mata karena begitu cemas.


Setelah kepergian Julie, Rehan memang selalu merasa takut jika anak-anak nya melakukan hal-hal yang tidak ia ketahui, seperti yang dilakukan putri nya saat ini.


Kepergian Julie seperti sebuah trauma dalam dirinya.


''Kami baru saja ingin memesan makan siang sayang, dan kau datang tepat waktu.'' sahut Rehan.


''Baguslah kalau begitu.- sahut Zoya dengan riang. ''Mari makan bersama Dad, aku juga belum makan siang, aku ingin makan bersama Dad, dan juga bocah ini..?'' Ajak Zoya sambil melirik kepada Ken.


-Ah, tatapan itu lagi!


Setelah selesai dengan makan siang; ketiganya kini sedang terlibat dalam obrolan ringan yang membahas seputaran kehamilan Zoya.


Waktu kelahiran nya hanya tinggal dua minggu lagi, dan itulah yang membuat semua orang merasa cemas jika Zoya melakukan hal-hal yang dapat membahayakan dirinya dan juga bayi yang ada di dalam kandungan nya.


''Dad akan menelpon Zen untuk menjemputmu Angel, kau tidak boleh kembali seorang diri.'' tegur Rehan pada putrinya.


''Kak Zen sedang sibuk Dad.- sela Zoya. ''Kak Zen harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum aku melahirkan, dengan begitu kak Zen bisa fokus mengurusku.'' tambah Zoya.


''Begitukah- baiklah, kalau begitu Dad yang akan mengantarmu pulang, lagi pula tidak ada hal penting lainnya yang harus Dad kerjakan lagi.'' sahut Rehan.


Zoya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ia tidak akan menentang perkataan Dady nya, atau Dad nya akan semakin cemas.


''Nah bocah, sekarang katakan padaku, kenapa kau tidak pergi ke stockholm bersama Leon?" tanya Zoya pada adiknya itu. Setahu Zoya, Leon sudah pergi dua hari yang lalu, dan ia pikir jika keduanya akan pergi bersama sebelum kembali ke kampus, tapi ternyata Leon hanya pergi seorang diri.


Itu jugalah yang menjadi salah satu alasan Zoya pergi ke kantor Dady nya.


''Aku memang tidak pergi Zo, akan akan tetap disini.'' ujar Ken menjawab Zoya. Ken beralih kepada Dady nya yang juga sedang memperhatikan mereka;


''Dad, aku sudah membuat keputusan, dan aku sudah memikirkan semuanya dengan baik.'' tambah Ken lagi.


Rehan diam mendengarkan apa yang putra nya itu bicarakan;


''Apa maksudmu Ken, apa kau tidak akan melanjutkan kuliah mu di london?" sela Zoya.


''Apakah ini keputusan akhir mu, Son? kau tidak akan menyesalinya? kau bisa membatalkan nya sekarang, Dad masih akan memberimu kesempatan.'' ujar Rehan lagi.


''Dad...?''


''Tidak Angel, biarkan Ken membuat keputusan nya sendiri.'' sela Rehan.


Zoya tak habis pikir tentang apa yang akan dilakukan adiknya itu. Ken masih sembilan belas tahun, Ken seharusnya menjalani masa muda nya dengan bergaul bersama teman-teman seusianya, bukan nya malah menghabiskan waktu untuk bekerja di perusahaan.


Zoya sangat tahu jika nanti Ken lah yang akan menggantikan Dady nya, hanya saja; ini masih terlalu awal bagi nya.


''Aku sudah memikirkan nya Dad, aku sudah memutuskan nya, dan aku akan tinggal di indonesia.'' jawab Ken.


'Oh God!'


''Kau benar-benar akan melakukan ini Ken?" tanya Zoya masih tak percaya. ''Masih banyak hal yang ingin ku pelajari Zo, dan aku akan tetap pada kepuusan ku.'' sahut Ken, yakin dengan keputusan nya.


''Kau,- Hah! yang benar saja!''


''Angel, tenangkan dirimu, Dad tau apa yang kau pikirkan, tapi biarkan Ken memutuskan apa yang ingin di lakukan nya.'' sela Rehan dengan bijak.


''Baiklah Son, jika itu keputusan mu. Dad akan mengikutinya. Kau bisa melanjutkan pendidikan mu seperti yang kau inginkan, dan kau juga bisa tetap bekerja seperti keputusan mu.'' putus Rehan juga.


''Terima kasih Dad.- Tapi sebelumnya, aku harus kembali ke London minggu depan, aku harus membereskan urusan ku disana.''


''Lakukan seperti yang kau inginkan Son.''


''Thanks Dad..''


Zoya tak bisa bicara lagi, ia memang tidak bisa memahami jalan pikiran adik laki-laki nya, tapi seperti yang Dad nya minta, Zoya akan menghormati keputusan Ken. Meskipun hal ini sungguh gila bagi Zoya.


''Nah angel, kau ingin pulang sekarang atau..-


''Aku ingin kembali saja Dad..'' sahut Zoya cepat.


''Baiklah, Dad akan bersiap sebentar.- kau bisa kembali keruangan mu Son.'' ujar Rehan kepada Ken.


''Hmm. Aku memang harus kembali sekarang Dad,- sahut Ken. ''Zozo, berhati-hatilah.'' tambah Ken pada Zoya.


Zoya tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya. Setelah Zen keluar dari ruangan itu, barulah Zoya kembali melakukan protes pada Dady nya.


Rehan mendengar semua yang di katakan putrinya, hanya saja ia tidak bisa mengubah keputusannya. Semua itu adalah apa yang telah putra nya pilih, dan seperti janjinya, Rehan akan menyetujui apa saja yang menjadi keputusan Ken.

__ADS_1


''Bagaimana cara membuat ini?" tanya Leon pada Lova.


Saat ini, Leon sedang bersama Lova di pondok.


Sejak pagi, Leon sudah menemani Lova untuk mencari kerang-kerang di pinggir pantai.


Leon juga menemani Lova untuk membawakan semua kerang yang di kumpulkan gadis itu dari anak-anak yang tinggal pinggiran pantai.


''Sebuah perhiasan, akan terlihat indah jika kau membuatnya dengan imajinasi mu, Pikirkan seseorang yang akan mengenakan nya, maka kau akan menemukan ciri khas mu sendiri.'' sahut Lova, sambil tersenyum.


''Apa kau juga selalu melakukan nya seperti itu L..? apa kau memikirkan Ken saat membuat semua ini?" goda Leon, membalas Lova.


Ha-Haha..


''Tentu saja tidak. Jika semua ini tentang Ken, maka semuanya akan terlihat sama,- Aku memikirkan perasaan pelanggan ku. Semua orang yang mengenakan nya. Senyum mereka saat melihat apa yang ku buat, perasaan mereka yang ingin memilikinya,- aku memikirkan semua itu.'' jelas Zoya.


''Waw.. sepertinya kau memang berbakat dalam hal ini.'' sahut Leon penuh kekaguman.


''Ah, jam berapa sekarang? Sea akan menjemput kita saat jam kantornya selesai.'' tambah Leon.


''Kalian kembali lah lebih dulu, aku akan menyelesaikan semua ini.''


''Hmm. Tidak boleh! Kau harus kembali bersama kami L, aku juga ingin mengajak gadis berbakat ini makan malam.'' tambah Leon, sambil tertawa kecil.


''Lain kali saja, aku benar-benar harus mengerjakan semua ini.'' tolak Lova lagi.


''Tidak! Kalau kau harus menyelesaikan nya, maka aku akan menemanimu dan membantumu membuatnya.- bagaimana apa buatan ku bisa dijual?" Leon menunjukan gelang hasil dari imajinasi nya.


''Tidak buruk, itu terlihat unik untuk ukuran karya buatan seorang pemula.'' Nilai Lova.


''Apa itu sebuah pujian? aku merasa itu seperti sebuah ejekan..'' sahut Leon sambil memperhatikan gelang buatan nya.


''Tidak, aku mengatakan yang sebenarnya, itu bagus. Hanya saja- biarkan aku membuatnya sendiri, bagaimana? kau bisa menghabiskan semua kerang ku.'' sela Lova dengan sungguh-sungguh.


Ha-ha-ha..


''Gadis ini!''


''Hai.. kalian berdua yang ada diatas, bisa tolong aku?''


Terdengar suara dari bawah pondok. Leon menggeser tubuhnya, untuk melihat ke bawah melalui pintu yang terbuat.


''Itu suara Sea..'' ujar Lova.


''Sayang, kau kah itu?" seru Leon.


''Hmmm. Cepatlah, ambil ini, aku lelah membawanya!'' balas Shreya.


Ia membelikan makan malam untuk ketiganya, dan Shreya meninggalkan mobilnya cukup jauh dari pondok, karena jalan yang tidak memadai untuk mengendarainya. Jadi Shreya harus berjalan cukup jauh untuk tiba di pondok.


''Ah, baiklah sayang, aku turun sekarang..'' sahut Leon dengan cepat.


Hup!


Leon melompat dari atas pondok lalu mendarat di tanah dengan sempurna;


''Kau lelah sayang? maafkan aku.'' ujar Leon. ''Tidak apa-apa Le, aku memang ingin membawakan ini, L pasti sangat sibuk kan?"


''Hmm. Kau benar sayang, sangat-sangat sibuk.'' bisik Leon.- ''Naiklah, aku akan membawa semua ini.'' ujar Leon pada kekasihnya lagi.


Tapi Shreya tidak bergerak sedikitpun; ''Ah, kau mengenakan rok sayang? baiklah, aku akan naik lebih dulu, setelah itu aku akan membantu mu setelahnya.'' tambah Leon lagi.


''Hei, gadis pekerja keras, bisa tolong ambilkan ini?" seru Leon dari depan pintu pondok.


"Ya, tunggu sebentar..!" sahut Lova.


Kehadiran Leon dan Shreya membuat Lova merasa lebih baik. Meskipun ia lelah, tapi dengan adanya kedua orang ini yang selalu bersama nya; Lova selalu merasa bersemangat.


''Dengar, aku memikirkan sesuatu. Tapi ini hanya pikiran ku saja, aku tidak tau apakah ini akan bisa di lakukan atau tidak.'' Leon bersuara ditengah-tengah kesibukan Lova. Sementara Shreya memperhatikan keduanya;


''Apa?'' tanya L dan Sea secara bersamaan.


Leon terdiam sejenak, ''Apa kau bisa mendesain perhiasan lain selain dari gelang yang terbuat dari kerang L?" tanya Leon tiba-tiba.


''Tunggu, maksud mu seperti ini?'' Lova mengeluarkan buku sketsa dari dalam tas, lalu menyerahkan nya kepada Leon.


Shreya pun ikut melihat pada buku tersebut. Ada begitu banyak sketsa perhiasan yang di gambar oleh Lova; lengkap dengan berbagai motif dan juga warna.


Bahkan sketsa yang dibuatnya begitu detail dan juga....


''Waw kau memang berbakat L.'' sahut keduanya dengan kagum.


''Benarkah? apa menurut kalian itu bagus? aku hanya membuatnya berdasarkan imajinasiku.'' jujurnya.


''Aku benar-benar yakin dengan apa yang ku pikirkan sekarang.'' ujar Leon lagi.


''Apa..?''


''Aku akan mengatakan nya setelah aku membuat rancangan nya.'' sahut Leon lagi.


''Menyebalkan! Membuat orang penasaran saja.'' balas Shreya sambil memukul pelan bahu Leon.


''Ini adalah tentang masa depan sayang, aku pasti akan memberitahu mu. Karena aku ingin meraih masa depan ku bersama mu, dan juga bersama gadis pekerja keras ini.'' Leon melirik kepada Lova, yang juga tersenyum pada keduanya.


''Waw.. apa kami orang-orang yang kau masukan dalam rencana masa depan mu?" sanggah Lova.


''Kenapa? kalian tidak mau?"


Ha-ha-ha..


''Hanya jika itu akan mengahasilkan!'' balas Lova.


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2