
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
Cinta itu ibarat fatamorgana, terlihat nyata tapi tidak ada. Bagi seseorang yang mempercayai cinta, maka hal itu adalah sesuatu yang menyenangkan.
Tapi tidak hanya itu, cinta juga sangat lah rumit.
Disaat seseorang siap untuk jatuh cinta, maka ia juga harus siap terluka. Cinta dan luka, sudah menjadi satu paket yang tidak bisa di pisahkan."
"Jadi, apa kau juga sedang merasakan cinta saat ini, L..? atau pilihan lainnya?"
Kata-kata itu selalu berputar-putar di dalam benak Lova. Kata-kata yang ditanyakan William pada Lova sebelumnya.
Lova memeluk tubuhnya yang diterpa oleh dingin nya hembusan angin malam. Lova sedang menikmati kesendirian nya di salah satu hotel mewah yang ada di California.
Ia berdiri di pinggiran balkon untuk melihat pemandangan semarak lampu malam yang bekerlap-kerlip menghiasi kota tersebut.
Terlihat seperti triliunan kunang-kunang yang sedang menyebar di udara. Sangat indah.
Sudah hampir dua pekan lamanya Lova berada California Karena pekerjaan barunya, Ia harus menyelesaikan pemotretan untuk brand Yang baru saja ia tanda tangani, di bawah naungan Agensi milik William.
Semakin Lama bekerja dalam bidang ini, secara perlahan terus merubah Lova sedikit Demi sedikit.
Ia merasa dirinya Yang dulu secara perlahan mulai tergantikan dengan dirinya Yang saat ini. Dirinya Yang terus berusaha untuk mendaki lebih tinggi, dan meraih apa saja Yang belum pernah dapatkan.
Ia berubah menjadi sosok ambisius yang kesepian. Secara perlahan, sesuatu Yang angkuh mulai menduduki tempat di dasar hatinya. Ia baru bisa merasa bahagia saat ia mendapatkan apa Yang menjadi targetnya.
Dan itu semua, membuat Lova berpikir untuk mendaki setinggi mungkin hingga membuat namanya dikenal oleh dunia.
Ia akan membuat nama nya dikenal karena satu pondasi Yang sangat kokoh, pondasi yang ia bangun dengan kerja kerasnya.
Untuk itu, Lova sudah menentukan targetnya, dan tentu saja ia harus bekerja lebih keras agar semua mimpinya berubah menjadi kenyataan.
Tapi kehidupan Lova tidak semata tentang pekerjaan, ada hal lainnya juga. Yaitu tentang kisah cintanya. Kisah cinta yang bagaikan fatamorgana. Sepertinya...
Musim demi musim terus berganti, dan Lova tidak tau bagaimana dengan kejelasan hubungan dan juga perasaan nya. Benar seperti Yang William katakan, Cinta nya terlihat begitu nyata, tapi ia merasa hampa.
Bukan tanpa alasan Lova merasakan hal demikian.
Ini memang terjadi pada hubungan nya, Ya. pada Ken dan Lova.
sudah hampir tiga tahun menjalin hubungan, namun ternyata percintaan mereka tak sehangat Yang di bayangkan.
Hubungan Yang awalnya baik-baik saja meskipun terpisah jarak dan waktu, secara perlahan mengalami pasang dan surut nya sendiri.
Mereka merasakan rindu Yang sama, namun entah bagaimana semua perasaan itu kini mulai terabaikan secara perlahan. Semenjak Lova semakin sibuk dengan pekerjaan nya, dalam kurun beberapa hari ia baru bisa menghubungi Ken.
Begitu pula dengan Ken, Lova tak tau kekasihnya itu sesibuk apa, namun Ken juga tak berusaha menghubungi Lova, atau mengatakan tentang kabarnya, hingga akhirnya mereka menjadi terbiasa untuk saling mengabaikan.
Mungkin inilah yang dimaksudkan orang-orang dengan -Hubungan yang berada pada titik Jenuh-.
Lova tak menampik jika dirinya terkadang melupakan Ken karena kesibukan nya. tapi disaat ia selesai, ia akan mencari kekasihnya itu untuk membagikan semua keluh kesahnya.
Tapi Ken..?
Sudah beberapa waktu berlalu, Ken seperti menghilang dari dunia Lova. Tak ada kabar, dan juga tak mencarinya.
Ken tidak lagi bertanya tentang keseharian nya, tak juga menanyakan kabarnya, bahkan Lova mulai ragu apakah Ken masih mengingat dirinya.
Lova memanglah harus realistis. Ken ada diluar jangkauan nya, bahkan sejak awal mereka bertemu.
Lova tak akan menuntut Ken untuk bertanggung jawab pada perasaan nya,
Bagi Lova tak apa jika pada akhirnya nanti Ken akan pergi meninggalkan nya, tapi setidaknya ia harus mendengar sebuah alasan, bukan dengan cara menghilang begitu saja.
Jika seperti ini, Lova seperti menjaga cinta sendiri. Memeluk rindu sendiri, dan menahan luka sendiri.
Ternyata Cintanya memang seperti Racun. Terkadang membuat berdebar, dan terkadang harus menangis karena menahan sakit. "L, kau di dalam?" Itu William. Suaranya terdengar lebih keras saat memanggil Lova.
"Ya, disini Will." Sahut Lova kemudian mengikatkan tali piyama nya. "Aku mengganggumu?" William menghampiri Lova dengan membawa sebotol Wine di tangan nya.
"Tidak. Ada apa? Kau ingin minum?" Lova melirik pada botol Yang baru saja William letakan di atas meja.
"Tidak juga. Sedang apa kau, hem..? lihat dirimu!" William memegang kedua pipi Lova dengan tangan nya yang terasa dingin.
"Apa Yang kau lakukan L, kau bisa sakit. Ayo, Masuklah!" William menggiring Lova agar meninggalkan balkon.
Lova duduk di atas ranjang, sementara William di sofa.
"Kau masih memikirkan Ken? masih tak bisa di hubungi? Kau sudah bertanya pada sahabatnya, Leon? mungkin saja ia tau sesuatu tentang kekasihmu." ucap William cepat. Indera laki-laki itu terkadang sedikit menakutkan.
"Entahlah.." sahut Lova lemah. "Kenapa? kau ingin menyerah sekarang? Kau merasa kesepian setelah sekian Lama dijadikan seperti orang asing?"
Dibandingkan dengan seorang bos, dan Manager, William lebih seperti seorang kakak bagi Lova.
William selalu bersikap baik dan juga mengerti dirinya. William juga tidak bersikap berlebihan, ia menghargai privasi Lova.
Lova mendesah berat, saat William menebak pikiran nya dengan benar. "Aku tak bisa menghubunginya Will, aku tidak tau apa Yang terjadi pada Ken, kami seperti orang asing sekarang." Lova mendesah berat.
"Bukan kah sudah ku katakan, L. Disaat kau memilih membuka hatimu untuk cinta, maka kau harus siap menjalani semua konsekuensinya."
William membuka botol Wine dan menuangkan nya ke dalam gelas. "Kau pernah mengalami nya Will..? kau terlihat seperti seorang Yang menghindari cinta saat ini." tebak Lova dengan hati-hati.
"Cinta..? sulit dikatakan bahwa itu pernah.- dulu, saat aku jauh lebih muda, aku pernah menyukai seorang gadis. Saat itu, aku merasa sangat bahagia dengan apa yang aku rasakan." William tersenyum.
__ADS_1
"Mungkin bisa dikatakan, aku menyukai nya saat pertama kali bertemu, tapi ternyata, aku menyukai gadis yang Salah." tutupnya, mengenang masa lalu.
"Lalu, bagaimana sekarang? kau masih memikirkan nya, gadis itu?"
"Sesekali aku mungkin akan memikirkan nya, tapi aku yakin, dia telah bahagia sekarang. Dia gadis Yang baik dan juga luar biasa, hanya menjadi teman nya saja membuat ku merasa bahagia. Aku selalu berdoa agar dia juga akan mengingatku barang sebentar."
Saat mendengarkan William, Lova terlarut dalam pikiran nya sendiri.
Ia memikirkan bagaimana awal pertama ia bertemu dengan Ken, hingga akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih. Apakah saat ini, Ken juga memikirkan dirinya?
"Minumlah, kau akan merasa lebih baik. Kau juga harus tidur lebih awal, pemotretan besok akan memakan waktu Yang cukup Lama. Kau juga akan bertemu fotografer baru di sana. Jadi kau tidak boleh tidur larut malam." perintah William.
"Bagaimana dengan kontrak kerja sama untuk fashion week, apa aku memiliki peluang untuk bisa mengikutinya?" Tanya Lova, seraya menyesap minuman dari gelas nya.
"Aku sudah membicarakannya, dan ku rasa mereka menyukaimu."
Lova tidak bersikap munafik. Ia seorang model yang bisa di bilang terkenal sekarang. Untuk dunia yang saat ini ia tekuni, Lova akan mengikuti bagaimana cara orang-orang bermain di dalamnya, Ia sudah berusia 20 tahun, ia sudah bisa menentukan apa yang baik dan tidak untuk dirinya.
Hanya saja, meskipun ia sangat ingin terkenal, Lova tidak akan memilih jalan Yang instan. Ia tidak akan bermain dengan para sponsor-sponsor nakal ataupun menggoda para pemilik agensi seperti yang dilakukan kebanyakan model lain nya untuk mendongkrak popularitas.
Ia memang terjun ke dalam dunia Yang menganggap bahwa hal sepeti itu sangat lumrah untuk dilakukan. Tapi Lova, ia tak akan pernah mau melakukannya. Ia tak akan menyentuh Narkoba atau pun masuk ke dalam dunia *** bebas.
Sejauh ini, toleransinya hanya berlaku pada minuman, itupun hanya sebagai formalitas saja. Seperti saat ini.
"Ingin tambah?" Tanya William setelah mengisi gelas kedua miliknya.
"Kau ingin melihat ku tidak bisa bangun besok pagi?" sahut Lova sambil tersenyum masam. Ia sudah meletakan gelas nya, dan tidak ada alasan lain lagi selain pergi tidur seperti yang William perintahkan sebelumnya.
"Gadis pintar." William bangkit dari kursinya untuk menghampiri Lova. Ia menarik selimut dan menutupi tubuh Lova Yang sudah berbaring di atas ranjang. Sungguh gadis Yang manis.
"Tidur lah L, aku akan kembali setelah minum beberapa gelas lagi." ucap William dengan suara Yang lembut.
"Terima kasih Will, berkat dirimu aku merasa seperti seorang bayi.- kau sangat baik, wanita Yang bersama mu kelak akan sangat beruntung." balas lova sambil tersenyum.
William tak menjawab, ia mematikan lampu di bagian tempat tidur Lova sebelum kembali ke kursi.
Ia menghabiskan beberapa gelas, hingga akhirnya ia pun jatuh tertidur di sana.
...❄️❄️...
Pukul 3 dini hari, Lova terbangun seperti biasa. Di jam seperti ini, ia memiliki kebiasaan untuk mengecek ponselnya, berharap Ken mengirimkan pesan atau Yang lainnya.
Namun ternyata, lagi-lagi harapan nya pupus. Seperti sebelumnya, tidak ada satupun pesan di sana. Ken tidak menghubunginya.
lagi-lagi kenyataan Yang Lova dapatkan membuat rasa ngilu Yang teramat sangat di dadanya. Apakah hanya ia Yang merasakan ini?
Lova memukul pelan dadanya, tangan nya meraba-raba ke atas nakas untuk mencari gelas minuman nya, namun ternyata gelasnya sudah kosong.
Ia menyalakan lampu, kemudian bangkit dari atas ranjang.. "Will..?" gumam Lova, saat melihat William tertidur di atas sofa. Lova pun mengambil selimut lalu menutupi tubuh William.
Tapi setelahnya, Lova tidak bisa kembali tidur, Karena itu ia memilih untuk menghirup udara pagi, ia kembali berada di luar balkon untuk menjernihkan pikiran nya.
...❄️❄️...
Prank!
Sebuah pot di banting hingga remuk tak berbentuk tak jauh dari tempat Ken berdiri saat ini.
"Apa Yang kau lakukan disini?" tanya Ken geram.
"Aku mencarimu, aku menunggu begitu Lama. Kau membiarkan aku diluar terlalu Lama!" teriak Gill marah.
"Pergilah Gill, aku tidak ingin bertengkar denganmu!" suara Ken terdengar lelah. Ia sedang tidak dalam mood untuk marah, meskipun ia sangat ingin melakukan nya.
Jelas-jelas saat ini masih sangat pagi, tapi gadis di depan nya ini sudah kembali berulah.
"Aku tidak mau pergi sampai kau mengatakan Ya! Aku sudah mengatakan kepada teman-teman ku, dan aku ingin kau pergi bersama ku sebagai kekasihku Ken!" tuntut nya lagi dengan suara Yang lebih nyaring.
"Berapa kali ku katakan, aku tidak bisa. Dan aku tidak akan menjadi kekasihmu!" sahut Ken lagi.
Seperti nya besok ia harus kembali berpindah Villa, jika tidak gadis labil ini akan terus membuntutinya dan juga menghantuinya setiap saat.
"Tapi kenapa? Apa masalahnya? Hah? Aku cantik dan aku bisa memberikan semua Yang di butuhkan perusahaan mu Ken? aku bisa mengatakan pada papa agar investasinya bisa dilalukan secepat mungkin, aku bisa membuat semua pekerjaan mu jauh lebih mudah, asal kau mau pergi bersama ku, hem..?" desak nya lagi.
Gadis Yang sedang berorasi di depan Ken saat ini adalah Gill, anak dari Investor utama di kantor cabang yang ia tangani.
Mereka bertemu beberapa bulan Yang lalu di acara Yang diselenggarakan oleh perusahaan, dan entah bagaimana, gadis dengan kepribadian labil itu selalu mengikuti Ken kemana pun ia pergi. Seperti lintah.
Awalnya Ken tidak merespon apapun, hingga beberapa hari kemudian Rendra Kusuma pemilik Nusantara group, Ayah dari Gill menemui Ken di kantor, dan meminta kepada Ken untuk menjadi teman dari putrinya.
Gadis itu mengidap bipolar disorder, dan itulah alasan Yang terkadang membuat Gill diluar kendali, serta mudah bersikap kasar tanpa disadarinya.
Alasan Yang sama, Yang juga digunakan Rendra Kusuma untuk menemui Ken secara pribadi.
Sebenarnya itu bukanlah urusan Ken, tapi entah mengapa Rendra Kusuma sampai meminta bantuan Ken untuk mengawasi Gill dan berteman dengan putrinya selama Gill menjalani pengobatan.
Tentu saja itu tidak gratis, Ken mendapatkan imbalan Yang setimpal untuk perusahaan nya hanya dengan menjadi teman dari putri pemilik Nusantara group tersebut.
"Kau tidak mengerti? urusan pekerjaan tidak ada hubungan nya dengan kita, ini tidak akan sama seperti keinginan mu. Pergilah!" ulang Ken, lalu beranjak dari tempatnya.
"Kau tidak boleh pergi sebelum mengatakan Ya Ken! Tidak boleh!" teriak Gill lebih nyaring, hingga Ken menutup telinga nya.
"Terserah kau saja, jawaban ku tetap tidak! Pulanglah, aku akan bersiap untuk pergi ke kantor, jangan mengganggu ku atau aku tidak akan pernah ingin menemui mu lagi!" kecam Ken seraya menghilang di balik kamar mandi.
Namun Gill tidak mengindahkan perkataan Ken. Ia malah setia duduk di atas sofa layaknya seekor puppy Yang sedang menunggu majikannya.
Tak Lama kemudian, Ken sudah keluar dengan mengenakan pakaian kerja nya.
"Kau masih disini?" Ken melangkah kesana dan kemari tanpa memperdulikan keberadaan Gill Yang terus mengikuti Ken dengan pandangan nya.
"Aku menunggu mu." sahut nya dengan suara lebih tenang. "Baiklah. Kemari kan tas mu, kau membawa obat mu bukan?" pinta ken sambil mengulurkan tangannya. Ia sedang berada di pantry untuk membuat segelas kopi.
__ADS_1
Gill menenteng tas nya dengan patuh, dan mengeluarkan plastik obatnya. "Minum obat mu, setelah itu kita akan pergi. Aku akan mengantarmu pulang, pak Rendra pasti mencarimu saat ini." ucap Ken lembut, agar gadis itu mau menurutinya.
Gill kembali merogoh tas nya dan mengeluarkan isi lainnya. "Ini..." katanya mendorong kotak itu lebih dekat kepada Ken.
Ken hanya meliriknya malas.
"Untuk apa kau menggantinya jika besok kau akan merusaknya lagi. Aku tidak punya waktu untuk terus mengurusi benda itu." Ken berujar malas.
Kotak itu berisikan sebuah ponsel keluaran terbaru. Entah ponsel ke berapa Yang sudah gadis itu berikan.
Singkat cerita, Setelah ponsel milik Ken di hancurkan oleh Gill, Ken enggan mengeluarkan ponsel pribadinya kembali. Ia hanya menggunakan ponselnya di waktu mendesak, itupun ponsel Yang berbeda.
Jika tidak, maka ponsel nya akan bernasib sama dengan ponsel-ponsel sebelumnya Yang dihancurkan Gill, ketika moodnya sedang tidak stabil.
"Minumlah obat mu sekarang, kita akan segera pergi." ulang Ken lalu melangkah kembali ke kamarnya.
Ken mengambil tas dan juga menyelipkan ponselnya di antara tumpukan berkas Yang ia bawa. Ia akan menggunakan ponselnya nanti, saat Gill tidak berada di sekitarnya.
...❄️❄️...
...Setibanya di kantor.....
Ken meletakan tas dan juga melepaskan jas nya saat tiba di ruangan. Sejak pagi mood nya sudah dirusak, dan setibanya di kantor, ia harus kembali menyeimbangkan mood nya agar tidak mempengaruhi pekerjaan.
Ken harus bersikap professional.
Ring...Ring..
Ken mengalihkan pandangan nya, saat telpon di ruangan nya kembali berbunyi.
"Ya..?" sahut Ken singkat. Sekretarisnya lah yang saat ini sedang menghubungi dirinya.
"Tamu anda sudah tiba tuan, tuan Leon berada disini sekarang." kata sekertaris Ken. "Baiklah. Bawa dia masuk." perintah Ken, seraya merapikan barang-barang dari atas meja nya.
"Silahkan Tuan, Tuan Ken sudah menunggu." ujar sekertaris Ken seraya tersenyum sopan untuk mengantarkan Leon keruangan atasan nya.
Tok.. Tok...
"Tuan Leon disini, tuan." ulang nya lagi. "Baiklah, kau bisa pergi. Dan tolong buatkan minuman." perintah Ken.
"Baik tuan."
"Wow.. apa kabarmu sobat? kau tampak berbeda." Leon meringis saat melihat sahabatnya, Ken. "Seperti nya kau menjadi seorang pekerja keras sekarang." sindir Leon.
"Yah, seperti Yang kau lihat.- Kita duduk di sana." ajak Ken membawa Leon berpindah ke sofa.
"Bagaimana kabarmu? Tumben sekali kau berkunjung ke Bali, apa Shreya datang bersama mu?"
"Kabarku baik, aku tidak Lama disini, hanya mengurus beberapa urusan. Dan aku datang sendiri. Aku hanya ingin melihat teman Yang Lama menghilang." sarkas Leon.
"L mengatakan padamu?" tebak Ken. "Apa..?" sahut Leon lagi.
"Tentang ku. Tentang kami.. dan..
"Tentang kau Yang tiba-tiba menghilang dan tidak bisa di hubungi, maksudmu?- Biarkan aku bertanya, apa kau tidak memiliki perasaan lagi terhadap L, Ken? katakan padaku dengan jujur." Leon berkata santai namun ia serius.
Mengetahui hal ini adalah salah satu alasan Leon jauh-jauh untuk datang ke Bali. Ia hanya ingin tau, apakah Ken memang sudah tidak menganggap L penting lagi.
Bagaimana Leon bisa bersikap seolah-olah ia tak tau, sementara L selalu menceritakan semuanya pada Leon. Bahkan tak tak jarang Leon harus menenangkan Lova Yang menangis karena merasa di abaikan.
Beruntung L bisa di alihkan dengan kesibukan nya, setidaknya itu akan membuatnya merasa lebih baik. Ken memijit pangkal hidung nya yang tiba-tiba terasa ngilu, seraya menghela nafas gusar.
"Bukan begitu Le. Kau tau L sangat berarti untuk ku. Hanya saja.. " Bagaimana Ken bisa mengatakan pada Leon.
Ia dan L memang memiliki jarak Yang terlalu jauh sekarang. Ada hal yang membuat mereka menjadi seperti ini. Ken juga tidak mengerti dengan apa yang dirasakan nya.
"Aku akan menemui L dalam waktu dekat, aku sudah punya rencana ku sendiri." sambung Ken.
"Apapun itu, aku harap kalian bisa menyelesaikan nya. Kau tau bagaimana L saat ini, aku hanya takut jarak diantara kalian membuat kalian semakin menjadi orang asing."
"L bukan lagi seorang gadis seperti yang kau kenal sebelumnya." peringat Leon. "Ya, aku tau, gadis ku sudah menjelma menjadi merak yang luar biasa." sela Ken.
"Dia berbeda sekarang Ken, kau harus tau itu. Setelah sekian lama, dan setelah apa yang terjadi pada hubungan kalian, aku rasa kalian benar-benar harus bicara." Leon bernada Resah.
"L tidak akan berubah Le. Aku mencintainya, dan L pun begitu. Meskipun sekarang hubungan kami renggang, tapi kami tetaplah kami. Perasaan kami akan tetap sama. Aku yakin itu." Ken mendesis, lelah.
"Kau terlihat sedikit kacau sobat, ingin keluar malam ini? ku rasa kau harus merilekskan dirimu. Kau terlihat, suram." ujar Leon bernada prihatin.
Ken mengacak pelan rambutnya yang memang telah berantakan, ia membuka kancing kemeja yang terasa sedikit sesak.
"Aku memang butuh udara baru saat ini."
Tepat pukul sembilan malam. Leon menjemput Ken ke Villa nya. Malam ini, mereka akan melakukan reuni kecil, diantara pria.
Tin.. Tin..
Tak lama setelah membunyikan klakson, Ken sudah keluar dari dalam Villa. "Oke, mau kemana kita?" tanya Ken antusias.
"Klub mana yang terkenal disini?" Tanya Leon. "Entahlah. Aku tak pernah mengunjungi klub mana pun." sahut Ken dengan sebenarnya.
"What..? Ok. Kalau begitu, kita harus mengunjungi salah satu yang terbaik disini." ajak Leon lebih antusias.
Beban sebuah pekerjaan tanpa disadari secara perlahan memang akan mengubah seseorang. Namun tak lantas membuat kita tak bisa menikmati hidup.
Hidup harus di jalani sebaik mungkin, lewati semua prosesnya, namun tetap menjadi bahagia. Bukan malah sebaliknya.
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1