
...ENJOY...
.......
.......
.......
Pukul 10 pagi, Zen dan Zoya sudah berada di bandara, hari ini keduanya akan pergi ke Singapore sesuai dengan jadwal yang telah diatur dan keduanya akan tinggal di sana selama 1 minggu ke depan. Setelahnya, kemungkinan Zoya akan kembali ke Swedia.
"Kak,apa sebenarnya tujuan kita pergi ke singapore, aku benar-benar ingin tau..!" rengek Zoya pada suaminya. Sejak mengatakan rencananya untuk membawa Zoya pergi, Zen tidak mengatakan apa tujuan mereka, hanya mengatakan bahwa mereka -harus- pergi. Karena itulah Zoya sangat ingin tau tenang perjalanan mereka kali ini.
"Kau ingin tau?- Kalau ingin tau, berjanjilah untuk tidak mengeluhkan apapun dan menolak apapun yang akan kita lakukan di sana, bagaimana?"
"Tidak mengeluh,- Tidak menolak? Memang nya kita mau melakukan apa di sana? bisa berikan aku bocoran sedikit? hem.. hem.'' bujuk Zoya lagi, namun Zen tetap menggelengkan kepala, menolak untuk bernegosiasi..
Mendapati penolakan suaminya, Zoya memberengut; ''Baiklah, aku berjanji tidak akan mengeluh dan tidak akan menolak apapun yang akan,- memang nya kita mau apa sih kak di sana?" Tanya Zoya lagi.
"Kita hanya akan bersenang-senang!'' tutup Zen, lalu menggandeng tangan Zoya. ''Pesawat kita akan berangkat sebentar lagi, kau akan tau saat kita tiba di sana, jadi jangan banyak bertanya, nikmati saja liburan kita kali ini.'' ujar Zen tersenyum manis, bersikap misterius.
''Hiiisss.. masa sama istri sendiri masih harus rahasia-rahasiaan sih!'' gerutu Zoya namun masih bisa di dengar Zen. ''Aku benar-benar akan mengatakannya saat kia tiba disana sayang.''
Kali ini Zoya benar-benar harus mengikuti perkataan Zen. Apapun itu, Zoya bisa merasakan bahwa tujuan Zen membawanya pastilah berkaitan dengan sesuatu yang menurut suaminya itu sangatlah penting. Tapi apa..? Ahhh... Zoya benar-benar penasaran.
Setelah menempuh kurang lebih dua jam perjalanan Jakarta Singapore, keduanya kini telah tiba di changi airport. ''Apa Daddy pernah membawa mu kesini sayang?'' tanya Zen saat keduanya tengah menunggu jemputan yang sudah disiapkan hotel.
''Kakak kan tau sendiri kalau Dad sangat sibuk, apa kakak pikir Dad akan suka berkeliling dunia sementara ia harus mengembangkan Zoya's Group dan mengawasi berbagai cabang perusahaan?"
''Dady sesibuk itu?''
''Tentu saja, Daddy adalah suami yang super sibuk, tapi meskipun begitu, kami tau jika apa yang dilakukan Dad adalah untuk keluarga, demi masa depan anak-anaknya, jadi kami sudah terbiasa dengan hal itu. Meskipun keluarga kita adalah keluarga yang berkecukupan, tapi sepertinya benar-benar tak ada waktu untuk liburan seperti keluarga pada umumnya."
"Seingat ku, selama ini Dady hanya pernah membawa aku dan mom ke London, itupun untuk urusan pekerjaan, selebihnya tidak pernah.'' cerita Zoya.
''Lalu bagaimana waktu itu kau bisa pergi ke Swedia? Aku kira karena kau sudah sering kesana..'' tanya Zen yang tiba-tiba penasaran dengan kepergian Zoya waktu itu.
''Oh, waktu itu aku memilih swedia, karena aku memang ingin pergi kesana kak, itu adalah cita-cita ku saat remaja, aku sangat ingin mengunjungi negara itu saat aku memiliki uang sendiri, tapi ternyata..- Yah, pokoknya seperti itu.
Dan satu lagi, Jangan lupa kalau istrimu ini adalah wanita genius dengan IQ yang tinggi, jika hanya untuk bertahan hidup di negeri orang, jangan pernah meragukan kemapuan ku kak.'' Zoya sedikit menyombong.
''Aku baru menyadarinya sekarang." Zen mengangguk-anggukan kepala. Dan hal itu membuatnya sedikit ngeri.
__ADS_1
''Menyadari apa?
''Memiliki seorang istri yang genius ternyata membuat ku khawatir.''
''What..?
Ha-ha-
"Di sana jemputan kita, ayo,- '' Ajak Zen.
Di Singapore, Zen sudah memilih hotel berbintang lima dengan fasilitas mewah sebagai tempat keduanya tinggal selama 1 minggu ke depan. Hotel yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan tempat tujuan mereka sebenarnya. Bagi Zen perjalanan kali ini tidak hanya tentang menghabiskan waktu lebih banyak bersama istrinya, tapi ia ingin memastikan tentang keadaan Zoya.
"Welcome to Pan Pasific Suite Orchard Mr and Mrs.. '' Sapa seorang resepsionis menyambut kedatangan keduanya. ''Selamat siang Mr dan Mrs. ada yang bisa saya bantu?" tanya nya lagi, ramah. ''Bisa tolong Cek kamar atas nama Zen Mahendra..?" pinta Zen pada resepsionis tersebut. "Baik Mr.. silahkan tunggu sebentar.''
''Suite room dengan pool side, atas nama Zen Mahendra sudah siap sir, silahkan tunggu sebentar lagi akan segera saya proses.'' pintanya. Setelah menunggu beberapa saat, seorang bell boy menghampiri keduanya, ''Mr. and Mrs Mahendra please come with me..'' ujarnya menuntun keduanya menuju kamar yang telah disiapkan.
Sesampainya di kamar, bell boy meletakan semua koper ke dalam; ''Jika ada yang hal lain yang anda inginkan, silahkan panggil kami pada contak layanan.''
"Baiklah, terima kasih.''
Sementara itu, Zoya sudah menjelajahi seisi kamar dan terlihat puas dengan pilihan suaminya. Kamar dengan Doble bed yang terlihat nyaman, ditambah pemandangan kolam renang yang mewah, membuat kamar tersebut terlihat sempurna.
''Jadi kita akan tinggal disini untuk 1 minggu kedepan?''Tanya Zoya, sambil merapikan barang bawaan mereka. ''Hmm.. benar sekali, kau suka sayang? Aku memilih kamar yang menurutku mungkin akan kau sukai. Jadi bagaimana, kau suka tempat ini?" tanya Zen merasa puas dengan apa yang sudah ia pilih.
''Tempat ini terlihat nyaman, tapi yang lebih penting dari itu, sepertinya kau harus memberitahuku apa tujuan kita kesini kak?" tuntut Zoya lagi, tak ingin dihindari.
Zen terdiam sejenak, mempersiapkan diri untuk mengatakan tujuan mereka datang ke Singapore.
''Sebenarnya, tujuan kita kesini ini adalah untuk melakukan medical cek up sayang, aku ingin kau melakukan nya, maaf jika tidak mengatakannya kepadamu sejak awal.'' Jujur Zen.
Ia bukannya ingin merahasiakan hal ini dari Zoya, toh akhirnya istrinya itu juga akan tau, hanya saja ia ingin Zoya membuat istrinya itu memiliki pikiran yang tak seharusnya. Sama seperti yang Zen rasakan saat ini. Ia cemas, ia juga takut. Takut jika apa yang tidak ia harapkan terjadi pada hidupnya.
''Medical cek up, untuk apa kak? Dan maksud kakak, aku yang harus melakukan pemeriksaan, tapi untuk apa?" tanya Zoya heran. Selama ini Zoya tak pernah merasakan jika ada hal yang salah pada dirinya.
Ia juga tak pernah mengalami sakit apapun yang perlu di khawatirkan. Jadi kenapa ia harus melakukan pemeriksaan sampai sejauh ini..?
''Kak jika ini berkaitan tentang kehamilan, aku bukannya tidak ingin..-
"Tidak sayang." Sela Zen. "Aku tidak akan memaksamu untuk hami jika kau memang belum siap sayang.
Sejujurnya, aku juga tidak terburu-buru dengan hal itu. Aku masih ingin menghabiskan waktu berdua lebih lama dengan mu. Aku melakukan hanya karena aku terlalu khawatir. Aku," Zen terdiam sejenak. "Aku sangat takut jika ada sesuatu yang salah padamu. Mungkin kau tidak tau, tapi ini ada kaitan nya dengan masalalu." Cerita Zen.
__ADS_1
"Masalalu..? Apakah pernah terjadi sesuatu padaku yang tidak aku ketahui kak?''
"Tidak sayang, ini bukan dirimu, tapi Mollie." Zen kembali pada kenangan buruk yang selalu ia takutkan.
''Dulu sekali, Mollie pernah mengalaminya saat akan melahirkan mu, dan itu benar-benar melekat di ingatan ku. Ketakutan seperti itu, aku sungguh tak ingin itu terulang kembali."
"Saat itu, semua nya terlihat sangat sempurna. Kami sangat bahagia, saling mencintai, dan menyayangi mu, terlebih lagi saat Mollie memilikimu dalam dirinya, itu adalah hal yang sangat sempurna juga bagiku.
Tapi setelahnya, saat itu pun datang."
"Saat yang sangat tidak kami inginkan, saat mollie melahirkan mu, semuanya berubah.. Mollie memiliki Sleeping sindrom yang membuatnya koma selama dua bulan, dan sungguh, saat itu meskipun aku tidak mengerti apa-apa, aku merasa takut. Takut jika mollie tidak pernah terbangun untuk selamanya."
''Kau tau sayang, meskipun Dady tak pernah mengatakan bagaimana perasaannya, tapi aku sangat yakin jika saat itu Daddy sangat ketakutan dan itu sangat menyiksa Daddy. Kami takut. Takut kehilangan orang yang kami cintai hanya karena kami tidak mengetahui apapun saat itu. Dan aku tidak ingin hal serupa terjadi padamu sayang.. Aku hanya ingin memastikan jika kau dalam keadaan baik-baik saja. Bukankah mengetahui lebih awal lebih baik dari pada terlambat..?''
Zoya hanya terdiam saat mendengarkan apa yang suaminya itu pikirkan. Ternyata suaminya itu menyimpan satu ketakutan yang tak pernah Zoya pikirkan sebelumnya.
''Apa kau sangat takut kak? Kau takut jika aku memiliki sesuatu yang salah pada diriku seperti mom?' tanya Zoya, ia membelai lembut wajah Zen. Wajah yang menunjukan kecemasan yang sesungguhnya.
''Hmm.Aku sangat takut sayang. Benar-benar takut. Aku tak akan bisa bertahan jika terjadi sesuatu padamu, aku sungguh tak mau apapun memisahkan kita dalam kehidupan ini. Karena itulah kau harus berjanji untuk melakukan seluruh pemeriksaan sesuai dengan jadwal yang sudah di berikan.''
'Apa jadwal nya sudah diberikan? kenapa tidak mengatakannya lebih awal? Aku tidak akan menolak jika memang ini akan membuatmu lega kak, aku juga tidak mau membuatmu khawatir. Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan, jika itu membuatmu merasa lebih baik.'' turut Zoya, memeluk Zen.
''Terima kasih sayang, Aku mencintaimu, dan aku tidak ingin melewatkan kesalahan sekecil apapun padamu. Kau tau Zo'e, Aku menikahi mu bukan hanya karena aku mencintaimu, tapi karena aku juga ingin memastikan kalau kau baik-baik saja. Aku ingin memberikan seluruh dunia padamu jika aku bisa, dunia yang benar-benar kau inginkan, dunia yang akan membuatmu bahagia, dan di dalam dunia tersebut, aku ingin menjadi saksi atas kebahagiaan mu itu. Karena itulah, aku ingin kau selalu baik-baik saja sampai kita menua, sampai maut menutup mata kita, selamanya, bersama.''
"Terima kasih kak, terimakasih sudah mencintaiku sampai seperti ini, terima kasih karena telah memikirkan diriku, bahkan memikirkan apa yang tak pernah ku pikirkan. Aku janji akan melakukan apa yang kau ingin kan, aku akan melakukan semua tahap pemeriksaan sesuai dengan jadwal yang dokter berikan.''
Bukankah sangat menakjubkan, jika ternyata orang yang kau pilih untuk berdiri di sisimu sampai akhir hayat mu adalah orang yang benar-benar memikirkan dirimu. Tidak hanya mencintaimu, tapi juga peduli padamu..Peduli tentang apa yang kau pikirkan..
Peduli tentang apa yang kau inginkan ataupun tidak..
Peduli tentang perasaan mu, juga peduli tentang hari tuamu.
Meskipun hidup tak sempurna, dan kadang keadaan sering kali membuat kita merasa kecewa, tapi jika ada satu saja seseorang yang benar-benar peduli pada kita; maka semuanya akan terasa lebih mudah.
Karena orang itu akan senantiasa berdiri di sisimu, mendukung mu, memberimu kekuatan dan cinta.
Memegang tangan mu, menghapus air matamu, dan juga memelukmu dan mengatakan; ''semuanya akan baik-baik saja- menangis lah selama yang kau mau, dan aku akan menjadi sandaranmu.''
Untuk orang-orang yang memiliki orang tersebut, ataupun menjadi orang tersebut; tetaplah menjadi dirimu, dan miliki hati yang tulus untuk melakukannya. Cinta itu hanyalah sebuah umpama, tindakan kitalah yang membuat semuanya menjadi lebih baik.
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...