
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
"Bisa tinggalkan kami berdua?" William tersenyum sopan pada Jhon dan juga Dina yang saat itu berada di dalam ruangan yang sama dengan mereka.
"Kenapa mereka harus pergi, bukan kah kita akan rapat?" Zoya merasa sedikit heran dengan permintaan William.
"Ada yang ingin ku bahas secara pribadi dengan mu Zoya. Tapi jangan berpikir negatif, aku tidak akan melakukan hal yang melanggar hukum." William berusaha meyakinkan Zoya. Lagipula semua yang ingin kita bahas akan ku katakan secara terperinci pada mu." katanya yakin.
"Baiklah."
Setelah mendengar persetujuan Zoya, Dina dan Jhon segera keluar dari ruangan meninggalkan keduanya dalam ruangan tersebut.
"Baiklah katakan apa yang sebenarnya ingin kita diskusikan sekarang." Zoya bersikap tenang dan berusaha profesional di depan William, meskipun sebenarnya ia merasa kurang nyaman dengan hal ini.
"Duduklah sebentar. Percayalah padaku, aku tidak ingin berbuat jahat padamu jika itu yang kamu takutkan Zoya." William bangun dari kursinya, membuka sebuah lemari penyimpanan yang juga berada di ruangan itu.
Wiliam meletakan sebuah bingkisan di depan Zoya.
"Ini untukmu, aku membuatnya sendiri." William menyodorkan hadiahnya.
"Untuk apa ini? aku tidak merasa berhak untuk mendapatkan hadiah dari mu." Zoya mengerutkan kening nya. Apa laki-laki ini sedang berusaha mendekatinya, atau ada maksud lain? Zoya hanya tidak ingin orang lain salah faham terhadap dirinya.
"Jangan menolaknya Zoya. Ini hanya hadiah biasa dan sebenarnya tidak mahal sama sekali, karena itu hanya buatan tangan. Aku memberikannya sebagai ucapan terima kasih untukmu.- untuk pertemuan pertama kita saat itu, entahlah bagaimana aku menjelaskan padamu, tapi aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya ingin memberikan ini sebagai hadiah pertemanan, aku harap kamu tidak keberatan menerima hadiah murah seperti ini.'' William menggeser-geserkan hadiahnya, tanda ia sedang gusar.
"Sebagai hadiah pertemanan? Tapi maaf tuan William, aku tidak membuat pertemanan dengan siapapun." tolak Zoya lagi.
William hanya bisa menghembuskan nafasnya kecewa.
"Benarkah? padahal aku berharap kamu bisa jadi teman pertama ku disini." laki-laki itu sekali lagi mendesah kecewa.
"Kamu tidak punya teman?"
Wiliam menggelengkan kepalanya. Entahlah, melihat laki-laki ini sebelumnya yang terlihat sangat angkuh dan arogan. Namun sekarang seakan berbanding terbalik, melihat Wiliam yang saat ini, sama persis seperti Zoya melihat Ken. Apakah karena ini William tidak ingin ada orang lain bersama mereka? Apa ia malu?
...Ahh, yang mana dirimu yang sebenarnya?...
"Baiklah. Aku akan menerima nya.- Zoya
menarik sedikit hadiah itu hingga tepat berada di depan nya.
Seketika Zoya melihat wajah Wiliam yang berbinar bahagia.
"Aku menerima hadiah mu, tapi aku tidak ingin membuat pertemanan." tekan Zoya lagi. "O, ya satu lagi, bisakah perjanjian dalam kontrak itu dirubah?'' Zoya memajukan sedikit tubuhnya bersikap provokatif sehingga Wiliam dengan reflek memundurkan tubuhnya kebelakang.
"Yang mana?"
Melihat reaksi Wiliam, Zoya kembali menegakan tubuhnya. Bisa-bisa nya ia seagresif ini.
"Ini," tunjuknya pada kontrak yang ada di depan mereka, ''Poin yang menyatakan bahwa aku yang harus memimpin proyek itu. Aku ingin mundur dan membiarkan orang lain yang memimpin nya." jelas Zoya.
"Kenapa? bukankah sebelumnya kamu yang menyetujuinya?" Wiliam sedikit protes pada pengaturan itu. Wajahnya saat ini benar-benar terlihat seperti Ken, membuat Zoya sedikit tersenyum.
"Aku rasa kamu belum tau. Aku tidak bekerja di perusahaan itu, aku hanya membantu Dady, ahh.. maksudku pak Rehan. Dan lagi, aku ini seorang dosen, bagaimana aku bisa memimpin proyek ini dan melalaikan tugas lainya?''
"Kamu dosen? berapa usiamu?'' tanya Wiliam.
Sepertinya William malah lebih tertarik dengan fakta kedua tentang Zoya di bandingkan fakta pertama yang Zoya sebutkan.
__ADS_1
"Ya, dan usia ku 20. kenapa? kau keberatan jika aku menjadi seorang dosen? ada masalah dengan itu?''
Pertanyaan beruntun yang Zoya sebutkan malah membuat William terlihat takjub dengan dirinya.
"Hei. Kamu tidak mendengarkan aku..?'' Zoya menghalau-halaukan tangan nya di depan William.
"Kamu mengajar apa?''
"Kelas musik klasik." jawabnya singkat.
"Aku juga kuliah jurusan itu." kata Wiliam lebih antusias. "Karena itulah penampilan mu saat itu sangat menakjubkan? ternyata kamu dosen. Itu keren sekali.'' terdengar ada kesedihan dalam suara tersebut tidak seperti kalimat sebelumnya.
"Penampilan mu juga sangat bagus waktu itu.'' puji Zoya tulus.
"Apa kamu sudah menyelidiki ku sebelumnya? sebelum pertemuan kita? makanya kamu yakin saat memberikan Biolamu?'' tanya william sedikit penasaran.
Karena mau dipikir bagaimana pun sangat aneh jika di bilang kebetulan. Sedangkan itu adalah pertemuan pertama mereka. Bagaimana jika dirinya tidak bisa memainkan Biola, bukan kah itu akan membuat Zoya dan dirinya malu di depan banyak orang?
"Ya, sedikit. Aku melihat tentang mu di artikel yang di tuliskan media. Ya kamu tau sendiri bagaimana hebatnya para wartawan, bahkan kadang tidak ada privasi bagi orang-orang seperti kita.''
"Hem. Kamu benar Zoya.'' William mengangguk setuju.
"Jadi bagaimana, bisa kamu mengubahnya?" tanya Zoya lagi.- ''isi kontrak nya?"
"Bisakah kamu mengubah keinginan mu? Aku lebih merasa nyaman bekerja bersama mu, setidaknya kita bisa berteman.'' lagi. Wiliam membujuk.
"Will, aku tidak suka mengurus pekerjaan ini, dan aku tidak tertarik dengan perusahaan.'' tegas Zoya sambil bersedekap.
"Kamu pikir aku suka? aku juga tidak suka.''
"Benarkah? kenapa? bukan kah biasanya anak laki-laki sangat suka jika di berikan kekuasaan seperti ini? kamu bisa terkenal sebagai pengusaha muda, banyak uang, dan bisa melakukan apapun dengan posisi mu sekarang, tidakkah itu yang kamu inginkan sebagai seorang pewaris tunggal?" Zoya terlihat penasaran dengan opini William.
"Lalu bagaimana dengan dirimu? kenapa tidak mau?''
Hah. Lagi-lagi. Pertanyaan di balas pertanyaan.
"Hem. Begitu. Enaknya jadi dirimu.''
itu adalah kata-kata yang sedikit ganjil di pendengaran Zoya. Ada apa dengan William sebenarnya? dan yang aneh nya lagi, ada apa dengan rapat kali ini? Ini seperti sesi konseling bagi Zoya.
"Bisakah kita kembali ke masalah kontrak kita Will..?- Ahh, maaf jika aku memanggil mu seperti itu, aku-
"Tidak masalah. Itu terdengar lebih baik di banding kamu memanggilku dengan formal. Dan tentang kontrak nya, maaf Zoya. Aku tidak ingin merubahnya. Aku mau bekerja sama dengan kamu saja.''
Oh My.. laki-laki ini.
"Dan transaksi akan dilakukan saat ini, aku sudah mempersiapkan semuanya, dan jika kamu menolak, maka aku terpaksa membatalkan kerjasama ini.'' kata William dengan enteng nya. Laki-laki itu seperti melupakan semua penjelasan Zoya sebelumnya, atau lebih tepatnya tidak mau peduli dengan penolakan Zoya.
"Kamu mengancam ku sekarang? padahal aku baru saja berpikir bahwa kamu laki-laki yang baik.'' cibir Zoya setengah kesal.
"Ah, maafkan aku. Tapi sepertinya aku tidak bisa sebaik itu. Kita harus berteman. Aku tidak terima penolakan!'' William terdengar kekeh dengan permintaan nya.
"Hei, itu melanggar hak privasi ku bung!"
"Tolak saja jika kamu berani menanggung resikonya!" tegas Wiliam.
"What?''
William hanya tersenyum melihat wajah kesal Zoya. Ini sangat menyenangkan bagi William. Zoya memang teman pertama nya setelah kembali ke Indonesia. Terlebih lagi mereka punya hobi yang sama, William semakin menyukai fakta itu.
"Baiklah. Kamu menang. Lakukan sesukamu.'' Zoya memutar matanya jengah. Ia benar-benar di buat kesal sekarang. Laki-laki di depannya ini tidak bisa di bujuk.
''Terima kasih.'' William terlihat sangat senang dengan hal tersebut. Kemudian ia membuka kontrak yang sudah disiapkan sebelumnya sebagai syarat untuk pencairan investasi. "Ini, silahkan dibaca dan tanda tangani.'' William menyerahkan map tersebut pada Zoya.
Setelah membaca isi nya dengan cermat, Zoya langsung membubuhkan tanda tangan nya, dan setelahnya Wiliam pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Sepertinya semua proses sudah selesai. Kalau begitu aku permisi, dan terima kasih untuk hadiahmu.'' Zoya merapikan semua berkas di depan nya.
"E, Zoya, bisakah kamu pertimbangkan untuk berteman dengan ku?''
"Apa saat ini kamu sedang memohon?"
Wiliam menganggukkan samar kepalanya.
"Hanya untuk sebuah pertemanan?"
"Apa kamu pikir pertemanan adalah hal yang biasa? tidak semua orang bisa menjadi seorang teman Zoya.'' ada kegelisahan dan kegetiran dalam nada tersebut. Setidaknya itulah yang dapat Zoya tangkap. Melihat William, Zoya seperti melihat dirinya sendiri.
"Baiklah, kita teman.'' Zoya mengulurkan tangan nya sambil tersenyum pada Wiliam, lagi-lagi Zoya melihat binar yang lain di wajah William saat laki-laki itu menerima uluran tangan nya dengan lebih antusias.
"Terima kasih sudah mau menjadi teman ku, Zoya.''
"Dan satu lagi. Ingatkan dirimu untuk Jangan jatuh cinta padaku Will, ingat itu. Aku sudah bertunangan.- Zoya menunjukan cincin nya. Biarlah ia memberikan peringatan terlebih dahulu.
"Tunangan? semuda ini?'' lagi-lagi pernyataan Zoya membangkitkan antusiasme yang lain bagi William.
"Hem. begitulah.- Zoya mengedikkan bahunya.
"Perjodohan?"
"NO. Ini karna Cinta.'' gadis itu tersenyum.
"Cih. Jangan terlalu yakin.'' William terlihat meragukan itu.
"Ya sudahlah, sampai bertemu di pertemuan selanjutnya. Senang bekerja sama dengan mu Tuan WILLIAM ANGGARA." sekali lagi Zoya bersikap profesional meninggalkan percakapan antar teman sebelumnya.
"Senang bekerjasama dengan mu juga Nona ZOYA VIDETTE WIJAYA"
"Kamu tau nama lengkap ku?"
"Ah, itu pekerjaan yang mudah nona.'' William menghardik pertanyaan Zoya.
"Ya ya, setidaknya bukan hanya aku yang menjadi detektif." kata Zoya acuh.
"O, ya jangan tinggalkan hadiah mu, atau aku harus mengantarkan nya sendiri, dan aku yakin itu akan membuat skandal lain untukmu.'' wiliam mengedipkan matanya.
"Aku yakin tidak akan sampai menjadi trending 1.'' balas Zoya, keduanya pun dibuat tertawa dengan pernyataan itu.
Zoya pun meninggalkan ruangan rapat terebut ditemani William. Terlihat Dina dan Jhon sedang menunggu di ruang sebelahnya.
"Dina, mari kita kembali.'' ajak Zoya.
"Baik Nona. Terima kasih untuk minumannya.- Dina menundukkan sedikit kepalanya pada Jhon.
"Tidak masalah, terima kasih kembali.''
"Baiklah Will, sampai bertemu lagi.'' Zoya tersenyum sopan.
"Sampai bertemu lagi Zoya.'' balas laki-laki itu.
Ehem.
"Ada yang bisa saya lakukan lagi tuan muda?" Jhon menghentikan senyuman di wajah William yang sejak tadi terus mengamati Zoya sampai menghilang di balik lift.
"Tidak ada. Kamu bisa kembali bekerja!'' kata William kemudian pergi menuju ruangannya.
"Kelihatan nya Ini pertanda baik bagi tuan muda.''
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...