
...ENJOY...
.......
.......
.......
"Tunggu dulu, tolong jangan salah paham pada nya,-
Jordan menghentikan Zen yang membawa Zoya pergi begitu saja. Jordan hanya tidak ingin Zen berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya dan Zoya.
"Kau tidak perlu menjelaskan apapun untuk kekasihku." Zen menekan kata kekasih di sana.
Jika Zo'e ingin menjelaskannya, aku yakin mulutnya masih bisa berfungsi dengan baik, dan kau, jangan berpikir terlalu tinggi tentang dirimu, kau tidak sepenting itu sehingga dapat menjadi sesuatu di antara kami,Heh!" Zen bersikap dingin, ia dengan terbuka tidak ingin bersikap ramah pada Jordan.
"Kak, ayo kita pulang, jangan begini. Jord maafkan aku, terima kasih untuk hari ini." Zoya memaksakan senyuman nya, ia merasa tidak nyaman dengan situasi saat ini.
Zen langsung menggenggam tangan Zoya, dan membawa gadis itu pergi bersamanya.
"Bagaimana kakak bisa tau aku ada disini?"
Keduanya kini sudah berada di dalam mobil.
"Wajar jika aku tau dimana kamu berada Zo'e, sangat mudah untuk ku menemukan dirimu'' Zen berucap dingin. Laki-laki itu hanya menyimpan kekesalan untuk dirinya sendiri.
"Maafkan aku kak, aku bukan nya sengaja ingin merepotkan mu seperti ini.'' Zoya merasa bersalah.
"Sudahlah, aku tidak apa-apa, yang penting kamu bersama ku saat ini, itu saja.'' Zen kembali memfokuskan perhatian nya pada jalanan ibu kota yang saat ini memang cukup padat.
Suasana di mobil itu kembali hening.
Zoya sendiri tidak tau ingin mengatakan atau membicarakan apa pada Zen, kekasihnya itu sejak tadi hanya berwajah datar, membuat Zoya merasa serba salah.
"Zo'e,
"Hem?
"Jangan terlalu dekat dengan lelaki itu, orang-orang akan salah faham melihat kebersamaan kalian!"
Setelah cukup lama, akhirnya Zen kembali bersuara.
Apa Zen cemburu padanya dan juga Jordan? Zoya tidak tau pasti, apakah ini yang dinamakan cemburu, atau hanya sikap melindungi seperti biasanya.
"Jordan hanya teman ku kak, lagi pula dia adalah teman pertama yang aku miliki, tidak lebih dari itu."
"Tidak pernah ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan Zo'e. Hal itu mustahil. Aku tau kamu tidak akan mengerti, tapi ku harap kedepannya kamu bisa menjaga jarak dengannya." Sebuah peringatan.
"Apa saat ini kakak sedang cemburu? pada Jordan?"
"Apa aku tidak boleh cemburu? aku tunangan mu, dan aku melihat kekasihku bersama laki-laki lain, apa aku harus bersikap seakan aku tidak keberatan dengan semua itu? begitu kah?"
Zoya merasa sedikit senang mendengar kata-kata Zen, ternyata memang benar. Kekasihnya itu sejak tadi berwajah datar karena sedang cemburu. Sangat menggemaskan.
"Baiklah kak, aku janji akan mengurangi waktu bersama Jordan, aku akan mengatakan padamu juga jika lain kami aku ingin pergi bersama nya."
"Tidak boleh!
"Apa nya?"
"Tidak boleh pergi bersama laki-laki lain. Kau hanya milik ku, dan tidak bisa bersama yang lain nya, aku tidak mengijinkan itu!" Zen mulai bersikap posesif.
Bukan 'mulai', tapi memang sejak dulu Zen sudah sangat posesif pada Zoya, hanya saja jika dulu statusnya sebagai seorang kakak yang melindungi adiknya, maka berbeda dengan saat ini, Zoya adalah tunangan nya. Zen tidak akan mengijinkan siapapun menaruh hati pada wanitanya, tidak Jordan atau yang lain nya. Tidak akan pernah.
Zen membelokan mobilnya kearah kondominium. Ia harus menenangkan kekesalan nya. Tak lama kemudian mobil Zen sudah memasuki kawasan parkir, dan berhenti di tempat biasanya.
"Turunlah!" Zen membuka pintu mobil untuk Zoya.
__ADS_1
Sehingga wanita itu hanya bisa menuruti kata-kata Zen.
Tak lama kemudian, keduanya sudah sampai di depan pintu Kondominium Zen. Zen menekan pin lock untuk membuka pintu.
"Masuklah!"
Zoya mengikuti Zen. Keduanya sudah berada di dalam.
"Kakak mau minum sesuatu, akan ku buatkan.''
Zoya meletakan tas nya di atas meja, sementara Zen hanya menatap diam padanya.
"Kemarilah!''
Zen menarik pelan tangan Zoya, agar mengikuti Zen.
"Kenapa kita kesini kak?''
Zen membawa Zoya kedalam kamar, lalu menguncinya.
"Kak,?
Zen masih diam. Ia hanya melepaskan jas dan juga dasinya. lalu membuka kancing kemeja atasnya.
Salahkah Zoya jika saat ini ia mulai berpikir yang tidak-tidak tentang semua ini? Meskipun Zen adalah tunangan nya, tapi tidak secepat ini. Oh ayolah Zoya, jangan pikirkan itu!
"Kak, kenapa diam saja. Kenapa kakak mengunci pintunya?'' Zoya mulai sedikit panik sekarang. Bagaimanapun Zen adalah seorang pria, berada di satu kamar seperti ini sungguh membuat hati Zoya berdebar.
"Kemari lah," Zen kembali menarik tangan Zoya, menuntunnya ke menuju tempat tidur berukuran king size miliknya.
"Kak, apa yang?
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak Zo'e, aku hanya lelah.''
Entah bagaimana, kini Zoya malah sudah berbaring di atas tempat tidur itu, sementara Zen juga berbaring di samping nya.
"Jantungmu berdetak lebih cepat Zo'e, aku suka mendengar nya.'' Zen tersenyum.
Bagaimana tidak berdebar, jika Zen tiba-tiba saja memeluk Zoya seperti saat ini. Zen menjadikan Zoya seperti sebuah guling. Zoya hanya menghembuskan nafas, lalu mengusap pelan rambut Zen yang terasa sangat lembut di tangan nya.
"Tidurlah kalau kakak memang lelah, aku akan menjagamu disini.'' Zoya mencium pucuk kepala Zen yang saat ini berada dalam pelukan nya.
Oh ayolah, yang benar saja? Zoya kini berperan seolah-olah ia adalah seorang peri penjaga.
Zoya memukul pelan pundak Zen seperti yang sering dilakukan mommy nya dulu saat ia masih kecil. Setau Zoya itu sangat manjur membuat dirinya tertidur pulas, maka ia melakukan hal yang sama pada Zen.
Tak perlu waktu lama, Zen sudah tertidur pulas dalam pelukan Zoya. Kekasihnya itu bersungguh-sungguh pada ucapannya.
Lelaki miliknya saat ini, dan juga nanti.
...Satu jam kemudian....
Zen terbangun dari tidurnya. Tangan nya masih memeluk tubuh Zoya. Sementara gadis kecilnya itu juga tertidur pulas di samping nya.
"Aku mencintaimu Zo'e, jangan pernah meninggalkan aku." Zen kembali merapatkan tubuhnya memeluk Zoya, seakan-akan tak ingin melepaskannya barang sebentar.
Perlahan Zen melepaskan pelukannya dan membaringkan tubuh Zoya, ia membelai pelan wajah wanitanya itu, mengusapnya lembut dan menciumnya dalam. Gadisnya masih tertidur dengan begitu pulas.
Setelah menyelimuti Zoya, Zen langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Zoya merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku. Entah kapan dirinya juga ikut terlelap, yang pasti tidurnya terasa nyaman. Tidur siang pertamanya bersama Zen. Zoya bersemu. Sempat-sempatnya ia berpikir yang tidak-tidak tentang Zen.
"Kamu sudah bangun?" Suara Zen mengagetkan Zoya.
Saat ini Zen keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang terpasang di pinggangnya.
"Kak!! kenapa seperti itu, mana bajumu!" Zoya sedikit menaikan suaranya dari balik selimut. Melihat Zen yang bertelanjang dada dapat merusak kepolosan dan kesucian otak Zoya.
__ADS_1
Ia tidak ingin menjadi wanita mesum setelah ia melihat pemandangan indah itu.
"Aku tidak ingin memasang pakaian ku, aku ingin seperti ini dan kembali memelukmu!"
Deg.
"Kak, pakai pakaian mu sekarang!!" teriak Zoya lagi masih bersembunyi di balik selimut.
"Kalau aku tidak mau?"
Zoya sudah merasa ada pergerakan di sampingnya, Zen ada di sana.
Ya tuhan, bagaimana ini..?
"Jangan tutupi dirimu Zo'e, apa sekarang kamu sedang malu-malu? hem? lihat aku!" Zen menarik selimut Zoya, namun gadis itu menahannya erat.
Namun sekuat apapun Zoya, tetap saja tidak bisa mengalahkan Zen.
Aaaaaaaa!
Zoya buru-buru menutup wajahnya dengan kedua tangan nya saat selimut itu sudah ditarik oleh Zen.
Zen terkekeh di samping Zoya.
"Kak, cepat pasang bajumu! aku tidak ingin melihat tubuh mu itu! hus.. sana !"
"Kenapa? apa badanku kurang bagus untuk dilihat?" Zen lagi-lagi menggoda Zoya.
"Hentikan kak, atau aku akan marah padamu! cepat pasang bajumu sekarang!"
Zen tidak menghiraukan Zoya. Ia menarik kedua tangan Zoya yang menutup rapat wajahnya.
Aaaaaaaa, No No No!!
Lagi-lagi gadis itu menolak membuka matanya, meskipun kini tangannya sudah di pegang erat.
Wajah Zoya benar-benar lucu saat ini, sampai-sampai membuat Zen merasa tidak kuat menahan tawa.
"Lihat aku Zo'e!
"Gak!
"Ayolah, tidak ada ruginya juga melihat kekasihmu sendiri."
"NO NO NO NO!"
"Buka matamu atau aku akan mencium mu sekarang!"
Mau tak mau Zoya membuka matanya perlahan.
Hah! ancaman yang manjur.
Jeng.. jeng..
"Kakak!!
Ha-Ha-Ha
Bug..Bug..Bug
Zoya mengambil bantal lalu memukulkan nya pada Zen. Kekasihnya itu ternyata mengerjai nya. Benar-benar Jahil!
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1