
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
Hari Yang ditunggu pun akhirnya tiba. Hari ini adalah hari kelulusan Lova. Ia akan menghadiri wisuda nya tepat pukul sebelas siang.
Sejak pagi, Lova sudah mempersiapkan dirinya. Tak ada keluarga dekat Yang bisa menemani nya untuk menyambut kelulusan Lova.
Saudarinya Megan disibukan dengan bekerja serta mengurus putri kecil mereka yang saat ini baru berusia 7 tahun.
Sedangkan Cassian? Ahh..kakak iparnya itu semakin sibuk karena harus menggantikan Zoya mengurus yayasan pasca melahirkan.
Meskipun begitu, Lova tetap merasa begitu bahagia. Meskipun bukan keluarga dekatnya, namun satu-satunya pria yang ia cintai ada disini bersama nya, Ken.
"L, kau sudah siap sayang?" Ken mengetuk kamar Lova. Pasalnya, saat ini Lova masih menghias wajahnya di depan cermin.
"Sebentar lagi Ken, kau sudah siap?" Lova masih merapikan rambut dan juga make up nya dengan cepat.
"Aku sudah siap, Leon juga sudah berada disini."
Ah, satu lagi. Lova sangat beruntung ditemani dua pemuda tampan Yang akan menemani dirinya hari ini.
"Ya, aku akan keluar sebentar lagi." Setelah selesai menguncir rapi rambutnya, Lova pun mengenakan toga di atas kepalanya.
"Oh God, terima kasih untuk semua hal terindah yang terjadi dalam hidup ku. Kau sungguh memberiku begitu banyak kebahagiaan."
Lova menatap pantulan dirinya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tak menyangka, semua perjuangan nya selama ini akan membuahkan hasil yang begitu manis.
Setiap lelah dan juga air matanya tergantikan dengan hal yang begitu luar biasa pula. Bahkan melebihi apa yang bisa ia bayangkan.
Diusianya yang masih terbilang muda, ia bahkan bisa membeli sebuah apartment di tengah-tengah kota Metropolitan. Ia seorang yang berpendidikan, dan juga seorang model terkenal. Bahkan ia juga bisa membangun bisnis sendiri dari uang tabungan nya.
Meskipun berasal dari keluarga pas-pasan, sekolah karena beasiswa, dan juga seorang yatim piatu. Tapi Lova bisa membuktikan bahwa dirinya mampu. Dengan latar belakang nya yang menyedihkan, Lova bisa membuat dunia melihat dirinya. Sungguh suatu kebanggaan yang tak terhingga.
Dengan penuh percaya diri, lova mengambil clutch dari dalam lemarinya, dan berjalan keluar dari kamar.
Ken dan Leon hanya bisa memandang Lova penuh kekaguman. Kecantikan gadis itu memang tidak diragukan.
"Tutup mulutmu, dan berhenti menatap wanita ku seperti itu." Ken menyikut perut Leon, membuat sahabatnya itu meringis pelan.
Sial!
"Look at you L, so Georges." Ken mencium pipi Lova.
L juga memandang Ken penuh kekaguman. Kekasihnya itu sudah berpenampilan rapi dan terlihat sangat tampan. Ah, Lova bahkan tak rela memperlihatkan kekasihnya kepada wanita lain. Ya sudahlah, pengecualian untuk hari ini.
Dan Leon, Ah, sahabatnya itu memang selalu terlihat menawan seperti biasa.
"Kita berangkat sekarang?" Ken mengulurkan tangan nya, memberikan ruang pada Lova agar memberikan sebuah kehormatan kepada Ken untuk dapat menggandeng tangan seorang model terkenal, kekasihnya.
"Baiklah, mari kita berangkat." Seru Leon, setelah mengambil beberapa photo Lova dan juga Ken. Keduanya memang terlihat begitu serasi saat bersama.
"Ah, aku dan Sea juga sangat serasi." Leon tersenyum memandangi hasil jepretan tangan nya.
Setibanya di kampus, Ken dan Leon mengambil tempat di tempat duduk para tamu undangan, sementara Lova duduk bersama para mahasiswa dan mahasiswi lain Yang juga akan di wisuda.
Kegiatan itu berlangsung sekitar dua jam lamanya. Setelah Selesai, Ken dan Leon menunggu Lova di luar ruangan.
"Kau melihat L..?" Ken mengarahkan pandangannya kesekitar untuk mencari kekasihnya Karena begitu banyaknya tamu undangan di tambah dengan para mahasiswa, ruangan itu pun menjadi begitu ramai.
"Aku belum melihatnya, mungkin masih berada di dalam. Kau bisa lihat sendiri disini sangat ramai. Bagaimana kalau kita menunggu di sana, terlihat lebih sedikit tamu." ajak Leon, seraya terus memainkan kamera di tangan nya.
"Ayo." Ken melangkah lebih dulu, sambil menjaga agar bunga di tangan nya tidak rusak karena bersenggolan dengan banyak orang.
...❄️❄️...
...Sementara itu.......
William memecah kerumunan saat melihat Lova berada dalam jarak pandang nya. William sengaja meluangkan waktunya siang ini untuk mengucapkan selamat kepada Lova.
Ia juga membawa sebuket bunga yang begitu cantik serta sebuah hadiah untuk kelulusan gadis yang selama ini selalu ia jaga.
"L...?" William mendesak dirinya hingga bisa berhadapan langsung dengan Lova. "Will, kau disini?" sapa Lova tersenyum senang, saat melihat William.
"Kemarilah, ikut aku, disini sangat sesak." William menarik tangan Lova menuntunnya keluar dari kerumunan.
"Wow, lihat dirimu gadis kecil. Kau sudah mulai dewasa sekarang." William mengumandangkan kekaguman nya.
"Aku memang bukan gadis kecil lagi Will. Kau tidak lihat? aku sudah mendapatkan gelar ku." Lova menunjuk pada toga nya.
__ADS_1
"Dan selamat juga untuk itu." William menyerahkan bunga dari tangan nya, dengan senang hati Lova menerima bunga pemberian William.
"Terima kasih Will. Ini sangat cantik." ucapnya dengan tulus. Tapi tidak sampai disitu, William juga mengeluarkan hadiah lainnya.
"Dan ini hadiah kelulusan mu nona." William menyerahkan sebuah kotak berwarna gold kepada Lova.
"Kau tidak harus melakukan ini Will." Lova menerima hadiah tersebut. "Apa ini?" Lova menggoncang kotak nya pelan, sebelum membuka untuk melihat isinya.
"Omg, no way! Will, ini...?" Lova dibuat terkejut dengan hadiah William. "Aku tidak bisa menerima ini Will, ini terlalu berlebihan." Lova berniat mengembalikan kotak tersebut, namun William menolaknya.
"Itu memang milik mu L, dan kau pantas menerima nya. Aku tidak menerima penolakan." William memberi isyarat dengan tangan nya.
"Omg! Tapi ini sungguh.." Lova dibuat takjub. Bagaimana tidak, jika hadiah Yang di berikan William adalah sebuah kunci mobil. Lova benar-benar merasa begitu terbebani menerima hadiah seperti ini.
"Apa Yang kau pikirkan? hmm? itu memang untuk mu Nona, dan sekarang sudah ku berikan. Pergunakanlah dengan baik. Kau bisa melihatnya saat kembali ke apartment." William tersenyum dengan begitu berwibawa seperti biasanya.
"Thanks Will." Untuk sesaat Lova pun memeluk William. Ia merasa begitu terberkati di hari istimewa nya ini.
Namun semua adegan itu tentu saja tidak luput dari pandangan tajam seorang Ken.
Bahkan kini rahang nya sudah mengeras karena menahan cemburu melihat kekasihnya memeluk pria lain.
"Apa L dan pria itu memang selalu sedekat ini?" Ken bernada tajam, membuat Leon mengikuti arah pandangan sahabatnya.
"Itu William? dia disini juga?" seru Leon senang, reaksi Yang Leon tunjukan membuat Ken semakin merasa tidak nyaman.
"Kau juga tau mereka dekat?" lagi-lagi Ken bernada sinis. Leon melirik sesaat dan memulai siasatnya.
"Ahh, William? tentu saja. Mereka sangat dekat. William adalah bos Lova. William sangat baik dan juga sangat menjaga L. Setiap L memiliki masalah William akan ada untuk membantunya. Karena itulah mereka dekat." sahut Leon, berwajah kagum. Namun hal itu ia lakukan dengan sengaja. Ia ingin melihat bagaimana reaksi sahabatnya, Ken.
"Kau lihat kan, William dan L.. - belum lagi Leon selesai dengan ceritanya, Ken sudah menghilang dengan langkah cepat melewati kerumunan.
"Cih! Dasar, apa kau baru tau sekarang jika ada orang Yang akan selalu menjaga dan melindungi L jika kau tidak ada? Apa kau baru tau artinya takut kehilangan karena di rebut seseorang, kawan?" Leon sudah memulai provokasinya dengan sempurna.
"L, kau disini? aku mencarimu sejak tadi." Ken meraih tubuh Lova dan menatapnya dengan binar Yang sulit Lova artikan.
"Ya, aku disini.. -
"Kau tau, aku sangat mencemaskan tunangan ku." Sela Ken sengaja menyebutkan kepemilikan nya terhadap lova.
"Tunangan? Ken menyebut ku tunangan nya?" wajah Lova bersemu. "Aku baik-baik saja. Aku bersama William." Lova tersenyum canggung sambil melirik kepada William.
"Ah, kau disini, maaf karena aku tidak melihatmu, aku cemas mencari tunangan ku sejak tadi. Jadi ketika aku melihatnya, aku tidak memperhatikan sekitar." Ken mengulurkan tangan nya, sambil tersenyum sinis kepada William.
Menyadari sindiran yang William berikan padanya, Ken hanya bisa mengeraskan rahang nya karena kesal. Ia harus bisa menahan diri.
Sedekat itukah kekasihnya dengan pria ini?
"Kalau begitu aku permisi, sampai bertemu lagi L. Dan sekali lagi, selamat untukmu." pamit William, sementara Lova tak tau harus menjawab apa karena momen yang terasa ganjil tersebut.
"Hati-hati Will, dan terima kasih untuk hadiah mu." seru Lova, dan William merespon nya dengan tersenyum singkat sambil melambaikan tangan.
Lova beralih kepada Ken Yang saat ini tengah memandang nya dengan tatapan Yang aneh. Apa Ken marah? Tapi karena apa? Karena Tidak bisa menemukan aku lebih cepat?
"Kau mencari ku? Maaf membuatmu menunggu Lama." Lova tersenyum dengan mata yang berbinar.
Ah! Keterlaluan. Bahkan Ken tidak bisa marah kepada gadis di hadapan nya ini.
"Hmm. Aku menunggumu bersama Leon, dan ini untuk mu, selamat untuk kelulusan mu L. Seperti nya aku juga harus cepat menyelesaikan studi ku agar bisa setara dengan tunangan ku Yang sudah memiliki gelar ini." Ken mencubit gemas pipi Lova.
"Terima kasih Ken. Tapi tangan ku sudah penuh sekarang, bisa kau bawakan satu untukku." pinta Lova.
"Pegang saja milik ku, dan Yang ini buang saja." Ken mengambil bunga pemberian dari William. "No! Jangan lakukan itu Ken. Itu hadiah ku, kau tidak boleh membuang nya!" kata Lova memperingati.
"Ah, baiklah. Aku akan bawakan bunga ini." jawab Ken enggan. Namun ia juga sedikit senang karena Lova memilih untuk memeluk bunga pemberian nya.
Sebelum kembali ke apartment, Ken mengajak Lova dan Leon untuk makan siang bersama di Salah satu restoran mewah Yang sudah ia pesan sebelum nya.
"Silahkan tuan, Nona.. menunya." seorang pelayan memberikan buku menu kepada ketiganya.
Setelah selesai memesan makanan mereka masing-masing, ketiganya pun mulai terlibat obrolan-obrolan kecil.
"O, ya L,aku hampir lupa." Sela Leon, sambil merogoh kantong jas nya. "Hadiah dari Sea, ia mengirimnya pada ku semalam. Untuk mu." Leon menyerahkan kotak dari sakunya kepada Lova.
"Sea? benarkah? boleh aku membukanya sekarang?" Lova meraih kotak itu hingga tepat berada di depan nya.
"Buka saja, itu milikmu." Leon tersenyum ramah seperti biasanya. Senyuman tulus dari seorang sahabat.
Lova membuka kotak tersebut dan menemukan sebuah gelang di dalamnya. Gelang yang sedikit familiar namun dengan sentuhan yang berbeda.
"Ini..?" Lova memandang takjub pada gelang tersebut.
"Hmm. Seperti Yang kau pikirkan L. Gelang itu sama dengan sketsa Yang kau buat. Sea membuatnya berdasarkan karya mu, dan jadilah seperti ini. Bagaimana kau suka?"
Lova menganggukkan kepalanya senang. Ia tak menyangka jika sketsa yang dibuatnya akan direpresentasikan secantik ini.
__ADS_1
"Kau membuat sketsa perhiasan L?" Ken ikut bergabung dalam pembicaraan Yang baru ia dengar.
"Kau belum tau betapa berbakatnya gadis muda ini? wah, sebagai kekasihnya, kau sungguh keterlaluan." Leon berwajah masam. Ia hanya sengaja menggoda Ken.
"Aku.. -
"Le, jangan menggoda Ken seperti itu. Siapa yang akan membayar makanan kita kalau nanti dia merajuk." tambah Lova lagi, semakin membuat Ken merasa terpojok. Namun setelahnya mereka pun tertawa terbahak.
"Bolehkah aku melihatnya lain kali L, sketsa mu? Aku juga ingin tau bagaimana kehebatan tunangan ku dalam merancang perhiasan." Ken meminta dengan begitu lembut, dan lagi-lagi kata-kata itu.
Tunangan ku! Sungguh panggilan yang membuat Lova merasa melambung tinggi.
"Tentu saja. Kekasihku harus melihatnya." Lova membalas tatapan Ken.
Ehhhmmm..
"Maaf menyela, tapi ku rasa aku ikut bukan sebagai obat nyamuk, jadi berhenti bersikap mesra di hadapanku." protes Leon.
Sementara Ken dan Lova hanya tertawa, saat memperhatikan Leon.
Setelah makanan di sajikan, ketiga nya pun makan dengan begitu tenang. Tidak ada lagi saling menggoda dan juga sindiran. Semua berfokus kepada makanan masing-masing.
Selesai dengan makan siang. Keduanya mengantar Leon kembali ke apartment.
Ken menurun kan Leon, tepat di parkiran.
"Kau tidak kembali bersama ku Ken? Apa kau tidak merepotkan L..?" Leon hanya merasa sepi karena Ken memilih untuk tinggal bersama Lova di bandingkan bersama dirinya di apartment mereka.
"Kau pikir dirimu penting? Aku lebih memilih menghabiskan waktu yang ku miliki bersama L." Sahut Leon bernada sinis.
"Yah.. Yah.. kau memang tidak akan membutuhkan ku disaat kau senang. Teman yang menyebalkan!"
"Maafkan aku karena harus menyimpan Ken untuk diriku kali ini Le, aku akan membiarkan nya bersama mu nanti." sela Lova, seraya melambaikan tangan nya.
"Aku mengerti L, santai saja. Berhati-hatilah saat kembali." Leon melambaikan tangan nya kepada mobil yang sudah semakin menjauh dirinya.
"Semoga kalian akan selalu dekat seperti ini sahabat." Leon memandang jauh pada kekosongan.
Setiba nya di parkiran apartment Lova. Ia segera turun dari dalam mobil dan membuka kotak yang sebelumnya William berikan.
"L, kau mencari apa?" Ken mengikuti Lova sambil membawa barang kekasihnya.
Tin Tin..
Terlihat sebuah sent lampu mobil menyala.
"Disana." seru Lova dengan antusias.
Miliknya adalah, Sebuah mobil Mercedes keluaran terbaru berwarna putih susu.
"Kau membeli mobil?" Ken mengikuti Lova dengan cepat. "Tidak. Tapi ini hadiah." sahut Lova cepat.
Lova sangat senang saat melihat mobil baru nya. Mobil Yang tak pernah ia impikan karena ia tak akan mampu membelinya.
Ken mengerutkan kening nya, "William Yang memberikan ini? Ini sungguh hadiah yang mahal."
Raut wajah lova seketika langsung berubah. "Benarkan? Ini sangat mahal. Sudah ku katakan sebelumnya bahwa aku tak bisa menerima hadiah ini, tapi William memaksa. Katanya mobil ini memang untuku." Lova tersenyum melihat pada mobil yang saat ini telah menjadi miliknya itu.
"Kalau memang itu yang di katakan nya, berarti kau memang pantas untuk menerima hadiah ini L. Jangan khawatirkan apapun lagi. Terima saja dengan senang hati." Ken tersenyum maklum.
"William memang sangat baik hati." Sekali lagi Lova tersenyum penuh kekaguman.
Ken merangkul pinggang Love hingga menghapus jarak di antara mereka. "Jangan lagi memuji pria lain di depan ku L, kau tau aku akan seorang kekasihnya yang sangat pencemburu." Ken mendekatkan wajahnya, hingga ia bisa merasakan nafas Lova yang memburu menerpa wajahnya.
Kekasihnya sedang merona. Sungguh menggemaskan. Ken ******* lembut bibir Lova Yang terbuka, dan menjelajah untuk sesaat.
"Kau sungguh menggemaskan L. Aku mencintaimu." tutup Ken, setelah mengakhiri ciuman nya.
"Ah,.. tentang mobil ini." Ken kembali bersuara, sambil menyentuh luaran mobil yang masih begitu mengkilat. "Apa kau bisa mengemudi L..?"
Ah, Lova melupakan fakta itu. Bagaimana ia bisa begitu senang padahal ia tidak tau bagaimana caranya mengemudi. Sial.
"Kau bisa mengajariku, tu-na-ngan ku?" pinta Lova dengan sedikit rayuan.
"Sudah ku tebak!" Ken menyentil pelan kepala Lova, tapi buru-buru mengusapnya. "Aku akan mengajari mu Tu-na-ngan ku." Ken menirukan Lova sebelumnya.
"Ayo! Ken menarik tangan Lova agar masuk ke dalam mobil. "Sekarang?" Lova mengikuti Ken dengan cepat.
"Jangan pernah menunda untuk belajar sayang, atau kau akan melewatkan kesempatan mu."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1