My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
THE HEIRS


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


Lama Zen memarkirkan mobil nya di depan kampus tempat Zoya mengajar. Ia sudah berada di sana kurang lebih satu jam. Namun mobil Zoya masih belum juga terlihat keluar dari kampus.


Zen hanya memantau Zoya dari dalam mobilnya.


"Kemana gadis kecil itu, sejak tadi ia tidak terlihat, bahkan mobilnya belum meninggalkan kampus..? Apa aku keliru tentang jadwal Zo'e..?" Zen bergumam pada diri sendiri.


Zen memeriksa email dari ponselnya. Ia ingin memastikan sekali lagi, apakah kali ini dirinya memang keliru tentang jadwal Zoya, tapi kenapa mobilnya disini?


"Selasa siang. Rabu pagi, jam pertama dan ketiga.


Dan jum'at pagi.." Zen bergumam sambil membaca jadwal Zoya. "Tunggu, hari ini adalah, Ahhh.. pantas saja." Zen tertawa sambil menggelengkan kepala.


Hari ini adalah hari kamis. Bukan hari Rabu ataupun jum'at, pantas saja Zo'e nya tidak berada di sana.


"Zen-Zen.. Bagaimana kamu bisa langsung berlari begitu saja, hanya karena ingin menemui gadis kecil mu itu." Zen merasa bodoh dan malu. Ternyata sebegitu rindunya ia saat ini.


Zen kembali melajukan mobil nya. Ia tidak tau dimana Zo'e nya saat ini. Bisa di rumah atau.."Ahh.. kenapa aku bisa lupa..?" Zen menyingkirkan mobilnya ke tepian jalan kemudian menekan angka pada ponselnya.


"Apa saat ini kau sedang melakukan pekerjaan mu..?" tanya nya pada seseorang di sambungan seberang sana.


"Baiklah, kalau begitu katakan padaku dimana Zoya saat ini..?" ia diam sejenak mendengarkan. "Hem. Benarkah..? bersama Mollie..? Baiklah kalau begitu."


Setelah menerima laporan dari orang kepercayaannya Zen kembali melajukan mobil membelah kepadatan jalanan ibu kota disiang hari.


...❄️❄️...


"Dad,, apa pekerjaan Dady memang sesibuk itu..?" Saat ini ketiga nya sedang makan siang bersama di ruangan Rehan.


"Tentu saja sweet heart. Dady sangat sibuk dan juga lelah. Tidak ada yang bisa menggantikan Dady ditempat ini." Rehan memasang wajah lelahnya.


"Dad....?'' Zoya mengerti isyarat Dady nya. Hanya saja saat ini ia benar-benar tidak tertarik dengan urusan kantor. Satu-satu nya yang dapat menarik minat nya hanyalah musik. Tidak ada yang lain.


"Bagaimana kalau mommy menemani Dady lagi..? Bukan kah mommy mahir dalam bidang ini..?" Saran Zoya pada keduanya.


"Apa kamu mau mommy yang sudah tua ini menjadi sekretaris Dady lagi..?" tanya Julie tidak percaya. "Kenapa Sekretaris..? Aku tidak mengatakan hal demikian." Zoya memasang wajah polosnya.


''Lalu..?''

__ADS_1


"Mommy menjadi konsultan pribadi Dady, sekaligus menjadi nyonya direktur yang membantu Dady dalam pekerjaan nya. Bukan kah itu bisa di lakukan. Dad...?" Zoya memainkan alisnya, niatnya bergurau.


"Hem.......?" Rehan mempertimbangkan saran itu. "Sayang. Mommy rasa itu berlebihan." Julie buru-buru memperbaiki pernyataan Zoya.


"Dady tidak masalah dengan hal itu jika mommy mu tidak keberatan. Lagi pula, Dady dan mommy sudah lama tidak bekerja bersama." sela Rehan sambil tersenyum hangat.


"Tapi Boo, aku sudah tua.." Sanggah Julie merasa tidak percaya diri dengan dirinya. "Hem. Coba aku lihat." Zoya meneliti wajah Julie. "Dad, kalau begini bukan kah kami seperti Kakak dan adik...?" Zoya menyandingkan dirinya disebelah Julie.


"Awww.. ini terlalu silau.." Rehan memalingkan wajahnya, menggoda istri dan juga putri nya. "Dady setuju. Kalian terlihat sangat cantik saat bersama-sama."


"Itu sih bisa-bisa nya Dady saja. Jangan percaya..!" Julie mengacuhkan keduanya.


"Hem. Dad sepertinya mommy menolak." Zoya melipat tangan nya di dada. "Kalau begitu, mommy akan terus merindukan Dady..!" sindir Zoya pada mommy nya. Membuat wajah Julie merona.


"Apa mommy mu benar merindukan Dady,..? Apa Karena itu kah kalian kesini Sweet heart ?" tanya Rehan antusias sekaligus menggoda.


''Tentu saja Dad apalagi..."


"Sayang. Apa kau masih lapar..?" Julie menyuapi mulut Zoya dengan makanan. "Momm.....!!"


Ha-Ha-Ha...


''Aku juga merindukan mu sayang. Sangat merindukan mu." Rehan memeluk Julie dan mencium kedua pipi istrinya dengan mesra.


"Awww.. momm Dad! Jangan bermesraan di depan ku..!" protes Zoya.


''Makanya cari pacar dong biar bisa mesra-mesraan juga.'' sindir Rehan pada putri nya. "Boleh kah..?"


"Apa kau ingin putri kita singel terus..?" tanya Julie pada Rehan. "Belum saat nya sayang. Putri kita masih terlalu muda." tolak Rehan tetap dengan pendapatnya.


"Dady benar Mom.. aku masih terlalu muda untuk memikirkan hal itu. Masih banyak hal luar biasa yang ingin aku lakukan."


Clap..


Rehan dan Zoya melakukan Tos. "Itu baru putri Dady..!" Rehan bangga dengan keputusan putri nya itu.


"Ya Ya.. terserah kalian saja. Anak dan Ayah sama saja.." Julie menyerah jika harus berdebat dengan pasangan ayah dan anak itu. Kedua nya sama-sama keras kepala.


"Dad.. apa kami mengganggu Dady...?"


"Oh. Tidak Sweet heart. Tentu tidak. Kedatangan kalian malah membuat Dady semakin bersemangat.." Rehan memeluk Zoya.


''Sweetheart, bukan kah tadi kamu mau melihat-lihat perusahaan, mau Dady temani..?" ajak Rehan pada putri nya.


"Boleh. Tapi bagaimana dengan Mommy..?"


''Mommy akan disini. Kalian berdua pergi lah sayang.." kata Julie.

__ADS_1


Cup..


Rehan mencium kening Julie singkat. "Aku akan mengajak calon pewaris kita melihat-lihat perusahaan nya.." bisik Rehan pada Julie. Julie hanya tersenyum mengiya kan kata-kata suaminya.


"Mom.. kami pergi sebentar.." pamit Zoya.


Rehan membawa Zoya untuk memulai tour perusahaan dari lantai dasar. Tempat para karyawan nya bekerja. Lantai yang menjadi pilar bagi perusahaan, sebab di sana lah para karyawan bekerja lebih ekstra.


Setelah tiba di lantai dasar Rehan mengajak Zoya untuk melihat-lihat dan menerangkan pada putrinya fungsi dari setiap bidang di perusahaan tersebut.


Semua karyawan yang berpapasan dengan mereka selalu saja memberikan hormat dengan sopan.


Bahkan tak jarang dari para karyawan berdecak kagum melihat Rehan dan juga Zoya.


"Dad..?


"Hem..?


"Apa Dady mengenal semua orang di perusahaan Dady..?"


"Kau ingin tau yang sebenarnya..?"


"Tidak perlu. Aku sudah tau jawabannya Dad.."


Sela Zoya lagi.


"Benarkah..? kalau begitu apa jawabanmu..? Daddy ingin dengar..!" suara Rehan menginginkan pendapat Zoya.


"Dady tidak mengenal semuanya. Karena Daddy memang tidak harus melakukan itu. Tapi Dady pasti mengenal baik setiap orang-orang yang berada di atas mereka, yang mengatur setiap bidang masing-masing. Benar..?"


"Kurang lebih seperti itu sayang. Tapi ada juga dari sebagian mereka yang Dady ingat, karena hal-hal khusus." tambah Rehan lagi. Zoya menganggukkan kepalanya.


"Apa perusahaan baik-baik saja selama ini Dad..?"


"Tentu saja sayang. Perusahaan kita sangat baik-baik saja. Kamu tau, selama 27 tahun Dady mengelola perusahaan ini seorang diri. Bahkan sekarang kita telah memiliki tiga anak cabang di luar kota dan satu diluar negeri. Semuanya berkembang dengan baik.


Dady akan memastikan saat perusahaan Dady serahkan di tangan mu dan adik mu nanti, semuanya akan baik-baik saja." kata Rehan lembut.


"Dad...?"


"Sweet heart, kalau bukan untuk kalian, untuk siapa lagi Dady melakukan dan mempersiapkan semua ini..?"


"Baiklah Dad.. aku akan berusaha mempelajari semuanya secepat mungkin. Tapi aku tidak akan pernah meninggalkan passion ku." tawar Zoya.


"Tentu saja Sweet heart , Dady percaya padamu.."


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2