
...ENJOY...
.......
.......
.......
Zoya meletakan tas nya di atas nakas. Ia juga melepaskan sepatu yang terpasang begitu indah di kakinya secara sembarangan.
Secara perlahan ia membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk, dan menghela nafas lelahnya dengan perlahan. Jika saat ini Zoya tidak sedang mengandung, maka Zoya akan dengan senang hati melemparkan dirinya dirinya ke ats kasur empuk hingga membuat tubuhnya terpental pelan. Kebiasaan yang Zoya senangi. Namun mengingat situasinya, Zoya hanya bisa membaringkan tubuhnya secara perlahan.
Hari ini benar-benar melelahkan. Biasanya Zoya akan sangat bersemangat jika melihat teman-teman yang dulu pernah begitu akrab dengannya. Apalagi sudah sangat lama mereka tidak berkumpul dan juga saling bercengkerama satu sama lain.
Tapi kali ini, Zoya harus menyerah pada perasaannya itu. Berada di tengah keramaian malah membuatnya merasa begitu tidak nyaman.
Bahkan berulang kali Zoya harus berusaha menenangkan dirinya agar tidak mengeluarkan cairan dari dalam perutnya di tengah-tengah pesta.
Melihat begitu banyak orang membuat kepala Zoya seakan ikut berputar tujuh kali lebih cepat.
Bahkan sesekali, Zoya harus meremas tangannya dengan begitu kuat agar akal sehat mampu terus berjalan.
Itu adalah hari bahagia sahabatnya. Teman dekatnya, Jordan dan Calista. Zoya tidak mungkin membuat kekacauan dengan tingkah lakunya. Meskipun orang-orang akan memaklumi pembawaan janin dalam perutnya, namun Zoya tetap bersikeras untuk tidak membuat malu suami dan juga sahabatnya.
''Kau sudah merasa lebih baik sayang? apa mom membuatmu susah?" Zoya bicara pelan sambil mengelus perutnya. Meskipun saat ini perut itu masihlah rata, namun Zoya tau, bayi mungilnya akan merasakan perasaanya.
''Jika mom tau kau tidak menyukai pesta, maka mom tidak akan pergi dan membuatmu merasa tidak nyaman.'' bisik nya lagi, kemudian mencoba untuk memejamkan matanya.
Lagi-lagi kepalanya terasa begitu berdenyut. Zoya bahkan hampir tidak bisa menggerakan tubuhnya.
Perasaan seperti ini, sebelumnya tidak pernah terjadi pada Zoya, ia baru tau jika pengaruh seorang bayi bisa begitu besar.
''Sayang. Mom hanya akan tidur. Apa kau ingin tidur bersama mom? mom merasa begitu lelah.''
__ADS_1
Tak lama waktu berselang, Zen pun menyusul ke dalam kamar dengan membawa beberapa tas barang di tangannya.
Zen buru-buru menghampiri Zoya saat melihat istrinya itu berbaring di atas ranjang tanpa mengganti gaun pestanya nya.
''Sayang.. Hei..- Kau baik-baik saja?" Zen membelai pelan pipi Zoya. Mata wanita itu tengah tertutup saat ini, tapi ia tidak tidur.
''Aku sudah merasa lebih baik kak.- Kau sudah menyampaikan permintaan maaf ku pada Jordan dan Calista?" gumam Zoya masih dengan mata terpejam.
Sebelumnya; Karena Zoya sudah tidak bisa lagi menahan rasa mual dan juga denyutan hebat di kepalanya; Zoya meninggalkan aula resepsi begitu saja saat kedua mempelai melakukan cheers pertamanya.
''Sudah sayang. Dan katanya Jordan akan melihat mu besok.- Setelah kau istirahat dan juga merasa lebih baik. Jangan mengkhawatirkan tentang itu lagi. Calista juga menyampaikan salam nya untuk mu.'' jawab Zen pelan, tidak ingin mengganggu kenyamanan istrinya.
''Hmm. Benarkah? Kau tau kak, hampir saja aku mengacaukan pesta itu tadi. Jika sampai terjadi, maka akan benar-benar kacau.- Zoya menghela nafasnya.
''Tapi kau tidak melakukannya sayang. Kau sangat luar biasa.'' balas Zen tersenyum menenangkan.
''Baiklah kak, aku akan istirahat sebentar,- sebentar saja'' gumam Zoya semakin perlahan.
''Hmmm. Lakukan saja kak. Aku hanya ingin istirahat sebentar, kepala ku masih berdenyut.''
''Baiklah. Istirahat lah sayang, aku akan melakukan seperti biasanya.''
Sebelum membersihkan wajah dan juga mengganti pakaian istrinya, Zen terlebih dahulu membersihkan dirinya. Setelah ia selesai mandi dan berganti pakaian, maka Zen akan menyiapkan semua yang dibutuhkan istrinya.
Dengan perlahan Zen memperbaiki posisi Zoya, agar bisa lebih nyaman saat Zen melakukan tugasnya.
Pertama-tama yang Zen lakukan adalah membersihkan riasan tipis di wajah Zoya.
Setelah benar-benar bersih, Zen juga memberikan serum dan juga pelembab yang biasa istrinya gunakan.
Zen tidak akan lupa dengan hal-hal seperti itu, pekerjaan yang hampir menjadi rutinitasnya setiap hari, memperhatikan Zoya. Baik saat mengurus rumah, atau mengurus dirinya sendiri.
''Apa masih sakit sayang, kepala mu?" bisik Zen, sambil memijat pelan kepala Zoya.
__ADS_1
Kemudian Zen pun beralih untuk pekerjaan selanjutnya. Pekerjaan yang paling menantang dan juga paling menggoda bagi Zen. Mengganti pakaian.
Ah, setiap kain-kain itu ditanggalkan, Zen pasti akan memberikan perhatian lebih. Itu akan membuatnya semakin bersemangat.
''Sabarlah kawan, kau akan dapat giliran mu nanti. Sekarang tuan mu sedang lelah.'' Zen bicara pada dirinya sendiri. Ia memperingatkan dirinya agar mampu mengendalikan diri.
Jujur saja, sebelumnya Zen selalu lepas kontrol saat melakukan tugas ini, namun sekarang, sekali lagi Zen harus bergelut hebat dengan dirinya dan berusaha menahan hasrat yang terkadang selalu membuatnya kepayahan.
Apalagi saat ini Zo'e nya sedang tidak sehat, Zen tidak ingin membuat Zoya semakin tidak berdaya.
Untung saja gaun yang Zoya kenakan memiliki kancing sepanjang tulang belikat, sehingga semakin memudahkan Zen untuk mengganti pakaian istrinya.
Dalam hitungan menit, Zoya sudah dalam keadaan polos. Hanya menyisakan seperangkat pretelan kecil pakaian dalam yang melekat indah di tubuhnya.
Buru-buru Zen mengambil selimut untuk menutupi tubuh Zoya, benar saja. Hanya dengan memandangi Zoya, Zen hampir saja kehilangan kendalinya.
''Tenanglah Zen, tenang! Tubuh di depan mu hanya patung. Itu bukan Zo'e mu. Tidak apa-apa, tidak apa-apa..!'' gumamnya, sesekali memejamkan mata.
Dengan pengendalian diri yang sangat luar biasa, akhirnya Zen bisa mengganti gaun Zoya dengan piyama lucu bergambar Mickey mouse. Zen pun mengambil sesaat untuk menenangkan diri dan juga sahabat kecilnya.
Setelah jauh lebih terkendali, Zen tersenyum sendiri. Ia mentertawakan kelakuannya. Inilah yang membuatnya tidak bisa jauh dari Zoya. Zen selalu menginginkan Zoya di setiap waktu. Zen tidak akan bisa jauh dari istri tercinta nya itu.
Melihat Zoya yang tertidur dengan pulas dalam hitungan menit, Zen begitu terpesona dengan wajah polos dan juga menggoda di depannya. Zen selalu menyukai saat-saat seperti ini. Dalam diam memandangi Zoya dengan sayang.
''Little Cherry, ini Dady.. - Dad tau kau tidak sengaja melakukan itu pada mommy. Kau anak yang dicintai dan juga pintar, Ayo kita buat mom mu selalu tersenyum, alih-alih merasakan perasaan tidak mengenakan lainnya. Kau mau bekerja sama dengan Dady?'' Zen mengelus pelan perut rata di depannya, hingga membuat pergerakan samar dari istrinya.
''Ssssttt... Ssstttt.. Tidurlah sayang, aku tidak akan mengganggu mu lagi. Tidurlah dengan nyenyak, kita akan bertemu di dunia mimpi. Aku mencintaimu.''
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1