
...ENJOY...
.......
.......
.......
Zen dan Zoya hanya menikmati makan malam berdua.
Bi Retno menolak untuk bergabung bersama mereka dengan alasan biar nona dan tuan mudanya itu dapat menghabiskan waktu berdua, sungguh sangat pengertian.
"Setelah ini mau jalan-jalan?" ajak Zoya. Malam ini udaranya cukup sejuk, dan langit malam terlihat indah. Zoya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama kekasihnya setelah hampir dua minggu penuh mereka tak bertemu, tak saling bersentuhan, dan tak dapat mencurahkan kasih sayang dengan semestinya.
Zoya juga tidak tau kapan Zen akan kembali ke Jakarta. Seperti kedatangan nya yang tiba-tiba, bisa saja Zen juga akan pergi seperti itu, bahkan sebelum mereka menghabiskan waktu berdua bersama, dan Zoya tak akan melewatkan kesempatan ini.
Zen menatap Zoya sambil mengerutkan keningnya, "Kita akan pergi kemana?"
"Mau pergi? aku akan jadi pemandu mu!" Zoya tersenyum yakin.
"Baiklah, aku akan menyerahkan perjalanan malam kita pada mu sayang." Zen mengerlingkan matanya. "Ini akan jadi kencan yang menyenangkan." tambah Zen lagi.
Senyum cerah terbit di wajah Zoya. Jantungnya memompa dengan cepat, ia tidak sabar untuk perjalanan malam pertama mereka di Bali.
Setelah menyelesaikan makan malam, Zoya dan Zen kembali naik ke kamar. Zen menempati kamar kosong yang berhadapan dengan kamar Zoya.
Pantas saja bi retno membiarkan kamar itu kosong, ternyata kekasihnya inilah penghuninya. Zoya dan Zen sama-sama tersenyum sebelum mereka menutup kamar masing-masing.
"Mandilah dulu, aku akan menunggumu." kata Zoya pelan, seakan tak ingin Zen menghilang dari pandangannya. "Hmm. Aku memang berniat melakukan itu." jawab Zen dengan senyuman yang masih bertahan.
__ADS_1
Perasaan keduanya berbunga-bunga, layaknya kaum muda-mudi yang sedang di mabuk cinta. Apakah seperti ini rasanya saat orang-orang menjalin cinta? Entahlah. Yang Zoya rasakan hanyalah jantungnya terus berdetak memanggil nama kekasihnya. Wajahnya tak bisa berhenti untuk tersenyum.
Ia sedikit malu melihat pantulan wajahnya yang terlihat merona, konyol memang, tapi begitulah adanya.
Zoya mengganti piyama nya dengan celana kain halus berwarna cream lembut yang membalut pas dengan kaki rampingnya, serta baju kaos polos by channel sebagai atasannya. Gaya kasual selalu menjadi style favorit Zoya disaat-saat seperti ini.
Sementara Zen hanya menggunakan celana denim selutut yang senada dengan milik Zoya, serta kaos polo berwarna hitam. Untuk alasnya, mereka kompak mengenakan sneaker.
Zoya sengaja memakai make up tipis dengan warna lipstick pink Cherry, tidak lupa ia juga menguncir satu rambut nya dengan letak pas di atas tengkuk, perfek . Itulah kata yang Zoya ucapkan melihat pantulan bayangan nya di cermin, ah, sedikit parfum akan membuatnya lebih sempurna.
...Tok.. Tok......
Suara ketukan terdengar di pintu Zoya. Apakah Zen sudah selesai..? Baru beberapa menit yang lalu rasanya Zoya masuk ke kamar, namun sekarang pintunya sudah kembali di ketuk, ataukah memang Zoya yang tidak menyadari berapa lama ia bersiap-siap untuk kencan pertama mereka di bali.
"Sudah siap..?" kata-kata yang menyambut Zoya saat pintu di buka. Zen sudah berdiri di depan pintu dengan rambut basah dan wangi parfum maskulin yang memenuhi indra penciuman Zoya.
Sangat tampan dan memabukkan. Sejenak Zoya sempat hilang kesadaran saat mengagumi sosok Zen yang seperti sekarang, sampai sedetik kemudian ia kembali sadar ada sesosok malaikat tampan dengan sejuta godaan yang siap untuk ditawarkan menunggu jawabannya. Zoya teringat ciuman sebelumnya, membuat wajahnya kembali menghangat.
"Ayo." Zen membungkus tangan Zoya dengan tangan nya yang cukup besar dan hangat. Keduanya berjalan menuruni tangga, berjalan yakin dengan senyuman dan terkadang saling melemparkan lirikan menggoda.
Sebelum pergi Zoya mencari-cari keberadaan bi retno, pengurus Villa, ia hanya ingin melaporkan kepergian nya bersama Zen.
"Bi? Bi Retno?" seru Zoya, mencari bi retno di dapur, dan benar saja, wanita paruh baya itu baru selesai membersihkan perabotan di sana, dengan tangan yang baru di keringkan menghampiri Zoya dan juga Zen.
"Iya non.." jawabnya, sungkan dengan keberadaan Zen, namun tetap ramah.
''Bii aku mau keluar sama kak Zen, mau jalan- jalan di deket sini.'' pamit Zoya. "Iya non, tuan Zen, hati-hati.'' katanya lagi. ''Iya Bi, jalan dulu ya.''
Zoya kembali menggandeng tangan Zen, berjalan keluar dari Villa. Zen senang melihat Zo'e nya dapat berdaptasi dengan baik dengan orang-orang baru di sekitarnya. Keyakinan Zen pada Zoya memang tak pernah salah.
__ADS_1
''Sepertinya kamu cukup dekat dengan bii retno?'' Zen melirik sekilas pada Zoya. ''Hmm. Bii Retno baik kak, selama aku tinggal disini, dia menyediakan semua kebutuhan ku, bahkan menjadi teman ku. Aku senang karena bii retno tidak membuat batas di antara kami, jadi aku merasa seperti dirumah.'' jelasnya dengan senyuman yang mengambang.
''Tentu saja orang akan baik padamu sayang, karena kamu memang gadis yang baik dan mudah untuk di cintai. Kau punya pesona untuk itu.'' ucap Zen dengan kesungguhan, tanpa keraguan sedikitpun.
Sama seperti perjalanan malam nya bersama William, Zoya juga membawa Zen untuk menikmati keindahan pantai di malam hari.
pantai yang sama, suasana yang sama, tubuh-tubuh mempesona yang lalu-lalang, pasangan muda-mudi yang sedang kasmaran. sama seperti pantai pada umumnya, namun yang berbeda, kali ini masing-masing mereka menggenggam erat tangan seorang mereka cintai, belahan jiwanya.
''Kau tau kak, saat pertama kami, Zoya buru buru meralat kata katanya, ''saat pertama kali aku datang kesini, ralatnya lagi.
"untuk pertama kali dalam hidupku, aku melihat bahwa kembang api itu sangat cantik jika di mainkan ditempat ini.'' ujar Zoya meresapi kenangan yang William tinggalkan untuknya.
''Benarkah?'' Suara Zen terdengar datar, Zen mengubah tangannya menjadi melingkari pinggul Zoya, membawa kekasihnya lebih dekat padanya. Secara naluriah ia merasakan keposesifan dalam dirinya, seakan mengingatkan kekasihnya jika ia adalah milik Zen, orang lain tak berhak atas Zoya, meskipun hanya dalam ingatan, tidak kecuali Zen.
Zen membawa Zoya, berjalan di bibir pantai, dengan ombak yang seakan menggoda keduanya dengan begitu lihai. Namun keduanya hanya membiarkan saja. Zen tak ingin mengambil resiko membuat Zoya jatuh sakit setelah kebasahan karena ombak di bibir pantai pada malam hari, tidak, terima kasih.
Setelah berjalan cukup jauh, di depan keduanya terdapat sebuh pondok yang di hiasi dengan lampu kerlap-kerlip dan ada cukup banyak pasangan yang berdiri mengitari pondok tersebut. ''Mau pergi melihatnya?'' ajak Zen, yang langsung di -iya- kan secara berlebihan oleh Zoya. Gadis itu memang selalu bersemangat saat berada di dekat Zen, membuat jantung Zen mencelus, karena kegemasannya pada Zoya.
Dari kejauhan Zen sudah bisa menebak apa yang di pertontonkan di sana. Ada semacam band akustik yang sedang performa di tempat itu.
Setelah cukup dekat, Zen melewati cukup banyak orang agar bisa lebih dekat lagi, dan membawa Zoya, tepat berada di barisan terdepan.
Setelah, penampilan dari band itu selesai, terdengar riuh tepuk tangan yang group band itu terima.
''Tunggu disini.'' Zen melepaskan tangan Zoya melangkah naik ke atas pondok tersebut, berbicara sebentar pada mereka, lalu mengisi salah satu kursi yang kosong.
''Kak, apa yang...?
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...