
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
"Segelas lagi." pinta Rehan pada bartender yang sedang bertugas di depannya. Setelah menerima gelas untuk kesekian kalinya malam ini, Rehan lagi-lagi meneguk habis isinya tak bersisa.
Ini adalah hari ke empat setelah keberangkatan Zoya, dan juga malam keempat bagi Rehan untuk menghabiskan sebagian besar waktu setelah ia pulang bekerja. Rehan masih belum menceritakan apapun pada orang lain tentang pertemuan terakhirnya dengan Zoya, tak terkecuali Julie istrinya, meskipun setiap waktu Julie selalu mencecarnya dengan semua pertanyaan yang bersangkutan dengan Zoya, putri mereka. Rehan masih menyimpan semuanya sendiri, sampai Rehan mendapatkan kabar dari Zoya, dan memastikan bahwa putrinya baik-baik saja ditempatnya berada saat ini.
Rehan tau bahwa Julie sama khawatirnya seperti Rehan, bagaimanapun Julie adalah ibu dari anak-anaknya, meskipun begitu, Julie tidak pernah memaksa Rehan lebih jika memang Rehan masih enggan bicara dan menceritakan semuanya, pengertian yang luar biasa, sesuatu yang tak bisa Rehan sangkal dari Julie, wanita hebatnya.
Mendapati hal itu, membuat ingatan Rehan menerawang kembali ke masalalu, kembali pada dua puluh dua tahun silam.
Sudah lama Rehan tidak mengunjungi bar tempatnya berada saat ini. Seingatnya, terakhir kali ia berakhir di tempat ini adalah saat...entahlah, Rehan pun tak yakin kapan terakhir kali ia mengunjungi Club ini lagi.
Club yang mempertemukannya dengan cinta sejati, wanita terindah dalam hidupnya. Tempat yang menghadirkan begitu banyak kenangan bagi Rehan, bahkan setengah dari manis pahitnya kehidupan ia lewatkan di tempat ini, tempat yang memberinya banyak kejutan dari perjalanan panjang miliknya.
Mengingat masalalu membuat sebongkah perasaan lega meledak menghangatkan hati Rehan.
Betapa baiknya takdir yang berpihak padanya hingga mempertemukan nya dengan Julie, wanita luar biasa sebagai pendampingnya, sebagai pelita dalam kekelaman masalalu, dan sumber cahaya baru baginya.
Semua tentang Julie adalah bagian terbaik yang tak pernah ingin Rehan tukar dengan apapun dalam dunia ini, terlebih lagi saat seorang bayi yang luar biasa cantik hadir bagi Rehan, buah cinta mereka. Buah cinta yang hadir dengan perjuangan yang teramat luar biasa bagi nya. Perjuangan yang mempertaruhkan hidup dan mati, Karena itulah Rehan begitu mencintai Zoya putrinya, malaikat kecilnya.
Putri yang ia jaga dengan luar biasa.
Bahkan setengah dari kebahagiaan Rehan bersumber pada Zoya. Sekarang... Sumber kebahagiaannya sedang berada jauh dari jangkauannya, jauh dari pelukannya. Hati Rehan merasa tersakiti saat malaikat kecilnya pergi, akan tetapi lebih sakit lagi jika Rehan tetap memaksa Zoya di dekatnya sedangkan malaikat kecilnya itu membutuhkan ruang baru agar mampu pengepakan sayapnya hingga mampu terbang kembali.
__ADS_1
Terakhir kali melihat Zoya, hati Rehan seperti tertusuk menyaksikan air mata dan juga rasa sakit di wajah putrinya, yang entah kenapa saat itu membuat Rehan tak berani bertanya, yang bisa ia lakukan hanyalah memeluk putri nya memberinya sedikit cinta dan juga merasakan sebagian kecil kesakitan yang putri kecilnya rasakan. Namun sekarang tidak lagi.
Rehan akan menjadi tameng dan pedang sekaligus bagi Zoya. Rehan tak akan membiarkan siapapun menyakiti Zoya lagi, baik itu Zen ataupun orang lain.
Rehan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Lakukan dengan cepat dan tampa jejak!" perintahnya, kemudian menegak kembali isi gelasnya yang baru saja terisi.
...❄️❄️...
Julie terbangun saat mendapati lampu kamar mandi menyala dan suara air mengalir dari dalam. Itu Rehan. Suaminya baru saja kembali tepat pukul dua pagi.
Julie membiarkan Rehan membersihkan diri, lalu turun untuk membuatkan teh madu bagi Rehan, minuman yang bisa meredakan mabuk agar besok pagi suaminya bisa bangun tampa rasa sakit kepala.
Saat Julie kembali membuka pintu dan membawa secangkir gelas di tangannya, saat itu juga Rehan keluar dari kamar mandi dengan piyama membalut tubuhnya.
"Boo, minumlah ini." kata Julie pelan menghampiri Rehan. "Apa aku membangunkan mu, Moo? maafkan aku." lirihnya. Julie tersenyum menuntun Rehan untuk duduk di tepian ranjang mereka, "Tidak apa-apa Boo, aku memang menunggu mu." katanya.
Apa yang bisa Julie lakukan, meskipun Julie tidak tega melihat Zen, Zoya adalah putrinya, pihak yang mungkin menanggung perasaan yang sama seperti yang Zen rasakan saat ini, yang bisa Julie lakukan hanyalah menunggu.
Menunggu hingga suaminya mau membuka mulutnya dan menceritakan semuanya pada Julie. Menunggu hingga ia sendiri mengetahui kemana dan kenapa putrinya pergi. Menunggu hingga semuanya menjadi lebih baik. Ya hanya itu yang bisa Julie lakukan saat ini.
"Aku baik-baik saja, Moo. Aku hanya merindukan putri kita." lirih Rehan sekali lagi. "Aku juga, Boo. Aku juga." balas Julie, memeluk suaminya yang saat ini juga melakukan hal yang sama. Mereka merindukan Zoya.
...❄️❄️...
Pukul empat pagi, Zen mengemudikan mobilnya menuju ke Airport. Kali ini ia akan pergi ke Bali dengan menaiki penerbangan pertama. Bali adalah tempat yang bisa Zen pikirkan setelah begitu banyak pertimbangan saat memikirkan kemana Zoya menghilang. Zoya cukup lama tinggal di sana, mungkin saja saat ini Zo'e nya kembali kesana agar bisa menjauh dari Zen.
Zen tidak bisa hanya diam dan menunggu, menunggu dan membiarkan segala kesalahpahaman terus berlanjut.
Zen sudah mencoba mencari tahu keberadaan Zoya dari Mollie, namun ternyata Mollie juga tidak tahu, dan Zen tidak meragukan hal itu, meskipun bisa, Mollie nya tak akan berbohong pada Zen. Dan, pada Ded..
__ADS_1
Zen tak bisa bertanya mengingat bagaimana sikap tak bersahabat yang Daddy-nya itu tunjukan akhir-akhir ini.
Zen menyadari hal itu, ia memang pantas mendapatkan perlakuan tersebut, bahkan lebih dari sebuah sikap tak bersahabat pun akan Zen terima asal ia bisa menemukan Zoya dan memperbaiki semuanya.
Setelah melewati pengecekan boarding pass, Zen masuk ke dalam pesawat tak sabar menunggu pesawat tersebut lepas landas agar ia bisa segera mendapati keberadaan Zoya. Menjelaskan segalanya pada Zoya, dan meminta maaf pada nya secara langsung.
Zen tak tau seberapa dalam ia menyakiti hati Zoya, yang ia tau pasti Zoya sangat terluka hingga memutuskan untuk pergi menjauh dan bersembunyi dari Zen.
Setelah pesawat tiba di bandara internasional Ngurah Rai, Bali. Zen langsung menaiki taksi menuju ke Villa, Zen tidak bisa lagi menunggu lebih lama. Ia harus segera menyelesaikan kesalahpahaman ini. Zoya tidak bisa meninggalkan nya seperti ini. Zen merasa tercekik saat Zoya diluar jangkauannya, Zen tidak akan mengijinkan Zoya melakukan ini. Zen membutuhkan Zoya. Membutuhkan udaranya, membutuhkan Zoya secepat yang bisa ia lakukan.
Setibanya di Villa, Zen menggedor pintu yang terkunci. Tirainya terbuka namun tak ada orang di sana, sampai bi Retno muncul di belakang Zen.
"Tuan muda..?" sapanya sedikit kaget dengan kunjungan tiba-tiba tersebut. "Bii, syukurlah bibi disini, dimana Zoya bi, apa dia ada di dalam?" tanya Zen menuntut. "Non Zoya? non Zoya tidak ada disini tuan. Bukan kah terakhir kali nona kembali bersama tuan?"
Zen menyugar rambutnya frustasi. "Apa Zoya yang menyuruh bibi agar mengatakan ini? katakan yang sebenarnya bii, dimana Zoya!" kata Zen penuh dengan tekanan. "Sekarang buka pintu nya, aku akan melihatnya sendiri." perintah Zen yang langsung di angguki bi Retno. Setelah pintu terbuka, Zen langsung menerobos masuk menaiki tangga menuju kamar yang Zoya tempati sebelumnya.
Saat pintu terbuka, hanya kekosongan dan kehampaan yang menyapa Zen. Kamar yang tertata rapi dan tak tersentuh. Tak ada tanda-tanda keberadaan Zoya di sana. Hanya dirinya yang lagi-lagi sendiri.
Bodohnya Zen yang tidak mempekerjakan kembali ditektif-ditektif nya. Seandainya saja Zen tidak memutuskan kontrak hanya karena berpikiran hari seperti saat ini tak akan pernah lagi datang padanya, sudah pasti Zen sudah datang pada Zoya di hari-hari sebelumnya.
"Brengsek!!" Zen mengumpat. Ia hanya bisa memaki kebodohan nya sendiri. Seharusnya ia tau bahwa Zoya bukanlah sesuatu yang mudah, fakta yang sangat Zen ketahui. Hanya saja kecerobohan Zen adalah menyingkirkan berbagai kemungkin yang akan terjadi dalam hubungannya, hingga mendatangkan hari seperti saat ini lagi dalam hidupnya.
"Dimana kau Zo'e..? tempat seperti apa yang akan kau datangi disaat seperti ini?" Zen mendesah gusar. Zen menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, Ia kembali memutar otaknya. Sekali lagi memikirkan berbagai kemungkinan yang akan datang padanya. Zen tidak siap. Jelas ia tidak akan pernah siap saat Zoya menjauh seperti ini dari hidupnya, demi apapun Zen tak akan pernah siap.
"Maafkan aku Zo'e. Ini kesalahanku, maafkan aku, dimana aku harus menemukanmu? Siapapun, ku mohon bantu aku menemukannya."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1