
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
Shreya mengetuk-ngetuk jari di atas meja. Sejak tadi ia benar-benar tidak bisa fokus dalam bekerja.
Ia masih memikirkan tentang; apakah ia akan pergi ke London atau tetap menyembunyikan keberadaan nya dan melupakan semua teman-teman yang ia miliki saat ia tinggal di indo.
Sebenarnya ia juga masih bingung. Kenapa Ia harus memberikan waktu dan tenaga lebih hanya untuk memikirkan hal seperti ini. Pergi atau tidak?
Ia bisa saja tetap bersembunyi dan melupakan semuanya. Tapi lagi-lagi perkataan Damian selalu terngiang di dalam kepala Shreya.
''Tidak akan menyesal''
Apa Shreya benar-benar akan menyesal jika ia tidak pergi? Dan janji itu? semua sudah berlalu cukup lama. Shreya tidak harus selalu percaya pada apa yang pernah di katakan padanya.
Bukan kah hal konyol mempercayai perkataan seorang bocah berusia lima belas tahun? Dan Hei.. Jika itu memang perasaan suka, maka itu hanyalah perasaan sesaat. Bukan sesuatu yang harus untuk dipercayai begitu lama. Meskipun sejujurnya Shreya tidak yakin.
Setidaknya itulah yang Shreya lakukan selama ini.
Ia mencoba melupakan semua hal yang sudah terjadi di masa lalu nya. Masa-masa yang sangat menyakitkan untuk di ingat. Perasaan itu, Lova tidak ingin kembali merasakan nya.
Begitu juga dengan Ken, dan Leon.
Shreya sudah mencoba melupakan mereka dan mengabaikan semua yang ia rasakan agar ia tidak pernah kembali ke saat-saat itu lagi.
Semuanya sudah direnggut dari nya begitu saja.
Masa remaja yang harusnya ia lewati bersama teman-temannya. Saat-saat dimana ia mungkin merasakan cinta seorang remaja, kasmaran, dan mungkin hal konyol lain nya.
Lalu sekarang, apakah ia benar-benar akan menyesal? Kenapa perasaan nya kali ini sangat bimbang.
Kepala Shreya yang di isi oleh pemikiran-pemikiran cemerlang benar-benar tidak bisa membantunya saat ini. Saat logika nya berkata seperti ini, lalu kenapa hatinya mengatakan hal berbeda?
''Shreya, miss Zoya memanggilmu ke ruangan nya.'' Tegur Sashi yang baru keluar dari ruangan Zoya.
''Baiklah kak, terima kasih.''
Shreya pun langsung pergi menuju ruangan Zoya. Atasan nya itu pasti akan menanyakan apa keputusan nya.
''Huh. Tenanglah Shreya!''
...Tok..Tok....
Shreya membuka pintu setelah mendengar suara sahutan dari atasan nya.
''Memanggilku kak?''
''Ya, masuklah Shreya!'' jawab Zoya, sambil tersenyum ramah seperti biasanya.
Entah kenapa setiap melihat Zoya, Shreya selalu merasa bahwa wanita itu sangatlah mengagumkan.
Shreya pun masuk keruangan sesuai dengan permintaan Zoya, ia mengambil tempat duduk dengan perlahan, dan saat ini, Shreya sudah siap dengan jawaban yang akan di berikan.
__ADS_1
''Bagaimana, kau sudah memutuskan? kami akan berangkat besok. Jadi apa keputusan mu, Shreya?''
Shreya diam sesaat. Ia memantapkan hatinya untuk mengatakan apa yang saat ini berada dalam pikiran nya.
''Aku akan ikut kak. Itupun kalau tidak merepotkan kakak dan juga,-
''Oke, siapkan saja dirimu. Besok kita akan berangkat jam sepuluh pagi. Kita hanya akan tinggal selama empat hari disana. Kau sedang tidak ada kelas kan, apalagi kita mengambil waktu di akhir pekan.'' putus Zoya, segampang itu, membuat Shreya hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya.
''Baiklah kak, setelah pulang bekerja, aku akan berkemas. O, ya aku akan membeli tiket pesawat ku sendiri, aku tidak ingin merepotkan kakak dan juga keluarga lainnya.''
''Baiklah jika itu yang kau inginkan. Sampai bertemu besok Shreya. O'ya.. aku belum mengatakan pada Ken jika kau akan ikut bersama kami. Ini pasti akan jadi kejutan besar untuk Ken.''
''Atau justru sebaliknya kak.''
''Terima kasih kak,- Aku akan kembali bekerja sekarang.''
...Sementara itu di tempat lain nya.....
Cukup lama Ken memilihkan gaun untuk Lova, Ken tidak pernah membelikan hadiah atau apapun, terkhusus untuk seorang gadis. ini adalah pengalaman pertama untuknya. Kecuali hadiah sebelumnya, itu ia pesan khusus melalui market online.
Ken bahkan merasa sangat senang setelah mendapatkan sesuatu yang menurutnya sangat pas jika untuk di kenakan oleh Lova.
Sebuah gaun berwarna putih dengan kerah berbentuk V dan juga renda yang hiasan taburan kristal di sekitar tangan nya. Gaun itu tidak terlalu panjang dan juga tidak terlalu pendek, sungguh gaun yang cantik.
Ken hampir saja tidak fokus saat membayangkan semua gaun-gaun yang dilihatnya melekat pada tubuh Lova.
Lova nya terlalu cantik. Dan gaun yang di pilihnya pasti akan membuat Lova terlihat seperti seorang malaikat. Ken sungguh tidak sabar ingin melihat bagaimana penampilan Lova saat mengenakan gaun yang sudah ia pilih.
Dengan perasaan senang, Ken berjalan sambil menenteng paper bag di tangan nya. Ken bahkan tidak bisa menghentikan lengkungan yang menghiasi bibirnya setiap kali memikirkan tentang Lova.
Ken bahkan masih merasa senang meskipun hanya memandangi Lova dari seberang jalan seperti saat ini. Ia tidak ingin menganggu kekasihnya yang sedang bekerja, Ken akan menunggu Lova sampai jam kerja nya berakhir, kemudian menemaninya untuk pergi ketempat kerja berikutnya.
Ken melambaikan tangan nya saat ia melihat Lova mengantarkan makanan bagi pelanggan yang berada di area luar. Ken bahkan meneriakkan nama Lova..
Chhhiiiiiiittttttt... BRUKK!
Semua orang yang berlalu lalang ditempat itu langsung berkerumunan saat menyadari sebuah kecelakaan baru saja terjadi.
''Hei, coba lihat, ada apa di seberang sana? kenapa ramai sekali?" salah seorang rekan Lova turut memperhatikan kerumunan yang berdiri tidak jauh dari kedai.
''Entah lah, seperti nya kecelakaan. Bagaimana bisa di tempat seperti ini?" jawab Lova acuh.
''Tunggu disini aku akan memeriksa nya.'' ujar Mateo melewati Lova dan juga rekan lain nya. Bahkan para pengunjung kedai pun turut penasaran dengan kecelakaan tersebut.
Tak lama kemudian, Mateo sudah bergegas kembali ke dalam kedai. Ia juga memanggil-manggil nama Lova.
''Mosley..- serunya.
''Ada apa bos?"
''Sebaiknya kau cepat kesana.- Itu kekasihmu.''
''Ken? dia sudah menunggu ku?''
''Bukan itu. Maksud ku, kekasih mu yang sedang mengalami kecelakaan.'' jelas Mateo, membuat Lova seketika memucat karena sangat terkejut.
Lova pun bergegas berlari keluar dari dalam kedai. Ia menghampiri kerumunan yang nampak semakin ramai.
''Ken...?"
__ADS_1
Lova berlari memecah kerumunan dengan perasaan takut. Kaki nya bahkan terasa gemetar dan hampir tak berdaya.
''Permisi, biarkan aku lewat aku ingin melihatnya.'' Lova menerobos orang-orang yang berdesakan.
Dan benar saja, Ken terbaring di sana tidak sadarkan diri. ''Siapapun tolong panggilkan ambulan..'' pinta Lova dengan suara yang bahkan hampir tidak terdengar di telinga nya sendiri. Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi saat ini.
Lova memeluk Ken, ia terus-terusan menangis dalam diam.
''Ken, bangunlah.. ku mohon.'' isak nya.
Meskipun Lova bicara, Ken tidak menjawabnya. Ken bahkan tidak merespon Lova sama sekali. Lova di buat sangat ketakutan.
Tak lama kemudian, ambulan pun tiba di tempat kejadian. Lova menjauhkan dirinya agar para petugas bisa bekerja. Dengan sigap para medis memberikan pertolongan pertama pada Ken yang sejak tadi tidak sadarkan diri.
''Apa ada keluarga korban disini?'' tanya salah seorang petugas.
''Saya mengenal korban.'' Jawab Lova masih dengan tersedu-sedu.
''Anda bisa ikut kami kerumah sakit.''
Di perjalanan Lova terus berdoa agar Ken baik-baik saja.
''Hallo, Leon, kau dimana?'' tanya Lova dengan suara terbata-bata. ''Ken, kecelakaan. Kami sedang menuju kerumah sakit terdekat, temui aku di sana, ku mohon.'' jelasnya secara singkat.
Kepalanya terasa kosong sekarang.
Lova terlalu takut memikirkan berbagai kemungkinan tentang Ken seorang diri. Ia tidak tau harus melakukan apa. Lova bahkan tidak bisa mengabari keluarga Ken di indonesia, karena ia belum mengenal mereka sama sekali. Satu-satunya yang bisa Lova hubungi hanyalah Leon.
''Tuhan, ku mohon.. selamatkan Ken, aku mencintai nya. Berikan aku kesempatan untuk mengatakan apa yang kurasakan pada nya, ku mohon.''
Setiba nya dirumah sakit, Ken langsung di bawa ke UGD untuk mendapatkan perawatan tindak lanjut. Sementara Lova masih menunggu dengan cemas.
Tak lama kemudian, Lova melihat Leon yang berlari ke arahnya.
''L... bagaimana dengan Ken? apa yang terjadi?'' Tanya Leon sama cemasnya dengan Lova.
''Ntah lah Leon. Aku juga tidak tau apa yang terjadi, semuanya terjadi begitu saja. Dokter sedang menanganinya saat ini. Aku harap semuanya akan baik-baik saja.''
Lova kembali tersedu. Leon hanya bisa memberikan pelukan seorang teman. Pelukan yang mungkin bisa membuat Lova merasa lebih baik.
Tiga puluh menit kemudian, dokter sudah keluar dari dalam ruangan menemui keduanya.
''Bagaimana dengan teman saya dok?" tanya Leon yang segera menghampiri dokter dengan sigap.
''Pasien baik-baik saja. Tidak ada luka yang serius. Hanya benturan di kepala dan sedikit retak pada tulang rusuknya, tapi tidak sampai membahayakan nyawa pasien. Pasien akan baik-baik saja setelah siuman. Sebaiknya biarkan pasien istirahat.'' jelas dokter, yang di angguki oleh Leon dan Lova secara bersamaan.
Keduanya sangat bersyukur mendengar kabar tersebut.
''Apa kita harus menghubungi keluarga Ken?'' tanya Lova merasa bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
''Sebaiknya tidak usah L. Bunda mungkin akan sangat cemas. Lagi pula besok keluarga Ken akan tiba disini, jadi biarkan saja dulu. Ken juga baik-baik saja.''
Lova pun mengikuti perkataan Leon.
Keduanya pun kompak untuk bersama-sama menginap dirumah sakit menunggu sampai Ken kembali siuman.
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...