
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
"Aku baru saja ingin pergi menemui kakak, kenapa kakak malah pergi sih..?" Zoya keluar dari Lift sambil memegang ponselnya yang masih terhubung dengan panggilan Zen.
"Aku ada urusan penting sayang. Apa kamu sudah naik mobil..?"
"Belum. Aku masih di Lobi."
"Kalau begitu hati-hati di perjalanan sayang. Aku pergi dulu, dah."
"Tapi kak, Hallo..? Panggilan itu sudah di putuskan sepihak. "Apa-apaan sih kak Zen, segitu sibuknya apa sampai harus di matiin segala!" Zoya menggerutu pada diri nya sendiri.
Ia kembali masuk ke dalam lift khusus Direktur, menuju ke parkiran bawah tanah, karena ia memarkirkan mobilnya di sana. Diparkiran khusus tamu VIP. Salah satu pelayan khusus jika kalian adalah keluarga inti pemilik perusahaan sebesar Zoya's Group.
...Ting....
Pintu Lift terbuka. "Apa ini..?" Zoya heran melihat begitu banyak kelopak bunga mawar bertaburan di lantai searah dengan jalan keluar nya dari Lift.
"Dady akan marah jika tau OB tidak segera membersihkan semua ini..!" gumam Zoya pelan. Ia tidak ingin ambil pusing dengan hal itu.
Ia berjalan sambil menghindari taburan kelopak bunga itu. Tidak ingin menambah kekacauan di sana, jika ia menginjak nya maka akan semakin berhamburan. Pikir Zoya.
Begitu keluar dari pintu kaca yang terbuka secara otomatis, Zoya kembali terheran-heran melihat lilin-lilin kecil nan cantik menyala di bentuk dengan indah. Sama seperti kelopak bunga tadi, lilin-lilin itu juga disusun searah dengan arah nya berjalan.
"Ya Tuhan, siapa orang yang melakukan ini..? sangat ceroboh!" Zoya mencari-cari tim keamanan yang biasa nya berjaga di sana. Namun tidak ada seorang pun berada di parkiran bawah tanah itu.
"Apa mereka pikir ini mainan..? apa mereka tidak tau kalau lilin-lilin ini bisa saja meledakan semua mobil disini. Apa aku harus memberitahukan ini pada Dady..?"
Sempat terpikirkan hal itu di kepala Zoya, tapi ia kembali mengurungkan niatnya mengingat Dady nya sudah begitu banyak di hadapkan dengan urusan yang lebih penting dari pada mengotori tempat parkir yang berpotensi meledakan seluruh perusahaan.
"Ya Tuhan.. ada-ada saja..!!" Zoya berniat kembali ke dalam untuk mengambil alat pemadam emergency atau mengambil air dari Toilet. Ia harus memadamkan semua lilin-lilin yang dapat menjadi petaka itu.
Sebentar..
"Bukan kah ini parkiran VIP..? Selain Dady dan rekan bisnis nya tidak ada lagi yang bisa mengakses jalur ini." Zoya berpikir sejenak. "Apa mommy akan datang, dan Dady yang menyiapkan semua ini..? Tidak..Tidak.
Dady tadi sangat sibuk bersama ku, jadi pasti bukan Dady. Jadi siapa?
"Zo'e...?" Zen berdiri tepat di ujung lilin yang di pasang sepanjang jalan keluar menuju mobil Zoya.
"Kak Zen? Bukan nya tadi?" Zoya sedikit kaget melihat keberadaan kekasihnya, padahal beberapa menit yang lalu pria itu mengatakan ada urusan penting. Apakah ini..?
Zen berjalan perlahan mendekati Zoya. Sebuket bunga yang di sembunyikan di balik punggung nya kini sudah ia keluarkan.
"Kamu suka..?" tanya Zen dengan cara yang sangat manis. "Suka apa..?"
"Kejutan ku. Apa lagi."
"Ini...? Jangan bilang semua ini kakak yang menyiapkan..?" Zoya membulatkan matanya tidak percaya pada pikiran tersebut.
"Ya, ini semua untuk mu." Zen tersenyum. "Apa kamu tidak suka..?" Apa aku harus tersenyum,..?
__ADS_1
Kaget..? Atau terharu, Yang mana..?
Zoya hanya tersenyum canggung. Ia bingung bagaimana harus merespon kejutan Zen. Karena yang sebenarnya Zoya malah ingin memarahi orang yang melakukan semua itu, seandainya saja..
"Kak, terima kasih untuk kejutan nya. Tapi bisa kah kita segera memadamkan lilin-lilin ini..?"
"Kenapa..? Apa kamu merasa malu dengan semua ini..? begitu kah..?"
"Bukan seperti itu, hanya saja.. aku takut semua lilin ini akan meledakan parkiran!" kata Zoya cemas.
"Hah..? Meledak? Lilin dan Mobil..?"
HA-HA-HA..
Zoya hanya bisa terperangah melihat kekasih nya yang saat ini malah tertawa seperti itu. Ia bingung bagian mana yang membuat Zen merasa lucu.
"Kamu memang sangat lucu Zo'e, Ha-Ha.."
"Kenapa sih kak..? Nyebelin banget..!" Zoya menunduk, meniup lilin-lilin yang berjejer dimana-mana. "Zo'e, kemari lah." Zen menarik tangan tangan Zoya, sampai tubuh gadis itu bertubrukan dan menutup jarak keduanya.
"Kak..
"Kamu belum menerima bunga ku, bunga ini khusus ku pilihkan untuk mu." Zen menyodorkan bunga yang sejak tadi ia pegang.
"Apa kau sudah puas tertawa tuan Zen Mahendra..?'' kata Zoya Sarkas. Alih-alih menerima bunga dari Zen, Zoya malah memicingkan matanya. Gemas.
"Tentu saja Nona Zoya Vidette Wijaya, dan terima kasih untuk mu sudah membuat ku tertawa lepas." Zen kembali menahan tawa nya.
"Hiiisss, dasar nyebelin..!" Zoya mendorong tubuh Zen, namun tidak menghasilkan pergerakan yang berarti.
"Bukan nya aku ingin menertawai mu kekasih ku yang cantik, hanya saja kamu memang sangat lucu. Coba lihat di sekitar kita,.."
Zen menunjukan sekeliling pada Zoya. "Apa yang kamu lihat...?"
Aaaahhh.... pantas saja.
"Aku rasa kamu sudah tau." Zen menghadapkan kembali wajah Zoya pada nya. "Bisakah kita lupakan ini, dan kembali pada kejutan ku..?" tanya Zen.
Betapa malu dan konyolnya Zoya tadi. Bagaimana ia dapat menjadi paranoid seperti itu. Meledakan mobil..? Bagaimana bisa meledak jika hanya ada 3 mobil di sana, bahkan dengan jarak yang cukup jauh.
Setelah ini sudah pasti ia akan menjadi lelucon dalam keluarganya.
"Kejutan apa..?" Zen melepaskan pelukan nya dan memberikan jarak bagi mereka berdua. Zen menarik tangan Zoya agar mengikuti nya menuju lingkaran lilin yang sudah di taburi kelopak bunga.
"Berdirilah disini."
Seketika Zen menekukan kaki kanan nya membuat posisi setengah berlutut di depan Zoya. "Kak Zen apa yang?"
"Aku ingin memberikan ini pada mu Zo'e." Zen membuka kotak mungil berwarna putih di tangan nya.
Sebuah cincin yang sangat indah memancarkan kilauan karena terpapar cahaya lampu dan itu membuatnya terlihat semakin indah.
"Zo'e, Aku mencintaimu dengan sepenuh hati ku, dan akan menjaga cinta ini seumur hidup ku, jantung ku hanya berdetak untuk satu alasan, yaitu dirimu.
"Sekarang, maukah kamu menua bersama ku sampai maut memisahkan kita..?" suara Zen dalam dan lembut, menggetarkan hati Zoya.
"Apa ini lamaran resmi yang kakak bicara kan..?"
Mata Zoya berkaca-kaca.
__ADS_1
"Aku ingin membuat yang mewah dan indah seperti dalam kisah-kisah roman picisan, dan cerita-cerita cinta di film-film saat ingin melamar gadis yang aku cintai, hanya saja aku rasa..
"Ini sudah cukup." Zoya menahan diri. "Ini bahkan lebih dari cukup kak." Zoya merasa sangat bahagia sekarang, ia bahkan ingin menari mengalahkan cahaya lilin yang sejak tadi bergoyang-goyang.
"Benarkah..?"
Zoya mengangguk sama. "Jadi, apa kau menerima lamaran resmi ini gadis kecil ku tercinta..?" tanya Zen sekali lagi.
Zoya hanya menyodorkan tangan kanan nya, menyerahkan jari nya agar dapat di pasangkan cincin oleh pria yang berlutut di hadapan nya ini. Tentu saja ia akan menyetujui lamaran Zen.
"Aku mencintaimu Zo'e.." ucap Zen dalam. "Aku juga mencintaimu Kak.." akhirnya Zoya bisa menyatakan perasaannya. "Bisakah aku mencium mu..?"
"Disini..?"
"Tentu saja.."
Zoya menutup matanya tanda menyetujui permintaan Zen. Satu lagi momen bahagia yang datang pada Zoya dan Zen. Hari ini, sepertinya akan menjadi satu sejarah yang bisa mereka ceritakan pada anak cucu mereka kelak.
"Kak, Apa kita hanya akan berdiri sampai lilin-lilin ini padam..?"
"Kamu ingin melakukan itu..?'' Zoya menggelengkan kepala nya. "Kalau begitu ayo kita kembali." ajak Zen. "Lalu semua ini,..?"
"Jangan khawatir. Aku sudah membayar staf kebersihan untuk membereskan semua nya. Ini tidak akan meledakan perusahaan Dady, kalau itu yang kamu takutkan sayang." Goda Zen lagi.
"Apaan sih kak. Aku kan cuma khawatir." Zoya membela diri. "Ya.Ya.. aku mengerti. Apa yang kamu pikirkan tadi..? Aku memperhatikan wajah lucu mu dari kejauhan." Zen mencolek dagu Zoya.
"Tidak ada. Aku hanya berpikir untuk memadamkan semua lilin-lilin ini." kata Zoya jujur.
"Dan jika aku terlambat menghampiri mu, aku rasa semua kejutan ku akan gagal."
"Aku rasa juga begitu."
"Dan sebagai gantinya, kamu harus memenuhi permintaan ku!"
Keduanya tengah dalam perjalanan mengendarai mobil Zen.
"Permintaan..?
"Ya. Permintaan ku."
"Dan,, permintaan nya adalah..?"
"RA-HA-SI-A!!" goda Zen masih belum ingin mengatakan permintaan nya pada Zoya. "Apa kakak pikir ini lucu..?" kesal Zoya dengan wajah memerah.
"Menurutmu tidak..?" Zoya menggelengkan kepalanya.
Membuat Zen berhenti tertawa. "Tapi bagiku ini lucu."
"Terserah kakak saja!"😏 Zoya memang tidak akan menang saat berdebat dengan Zen. "O, ya bagaimana Dady..?''
"Dady baaik-baik aja Kak. Kakak tau, hari ini aku benar-benar di buat kagum." Gadis itu tersenyum.
"Kenapa? Apa sesuatu terjadi?"
"RA-HA-SI-A..!"😋
"Zoe. Apa kamu sengaja membalas ku...?"
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...