My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
PROMISE


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


Zen tak bisa menahan diri dari mengetuk-ngetuk jari di atas meja menanti dengan perasaan yang campur aduk. Sebelumnya, Zen menerima telpon dari orang-orang kepercayaan nya bahwa mereka menemukan sesuatu dari pencarian selama beberapa hari terakhir, dan sekarang ia sedang menanti berita apa yang akan disampaikan padanya.


Sekarang Zen hanya bisa menunggu dengan perasaan resah, gelisah namun penuh harap, sebagian dari dirinya kini terasa rapuh. Ia hanya bisa berdoa semoga kali ini, ia bisa mendapatkan angin segar setelah penantian yang sudah cukup membuatnya merasa lebih dari kata frustasi.


Jika saja Zoya hanyalah sebatas adik kecilnya yang dulu, mungkin Zen tak akan menjadi seperti ini. Mungkin ia hanya akan bersikap mengkhawatirkan Zoya dengan batas yang jelas, sebagai seorang kakak.


Namun sekarang berbeda, Zoya bukan hanya adik kecil, tapi juga cinta pertamanya, kekasihnya, belahan jiwanya, dan saat ini Zoya sudah lebih dari cukup membuat Zen berada di ambang kehancuran. Zen tidak akan pernah bisa jika Zoya pergi dari nya lebih lama, hilang dari lingkaran nya, dan meninggalkan semuanya tampa kata seperti saat ini, membiarkan Zen menanggung semua seorang diri dalam kehampaan tampa batas.


Sudah cukup Zen merasa seperti mati rasa akibat kepergian Zoya, ia tak ingin membuat semuanya lebih hancur dari pada apa yang sanggup ia terima. Zen akan memperbaiki semuanya, Zen akan membuat Zoya kembali kesisinya dan tak akan pernah melepaskan nya bahkan walau hanya sedetik.


Sementara larut dalam rasa yang tak pernah mencapai titik temunya, Zen tersadar akibat dari ketukan di pintu ruangan nya.


"Permisi pak, ada tamu untuk anda." suara sekretarisnya mengintrupsi. "Biarkan mereka masuk." kata Zen dengan perasaan yang menggebu-gebu.


Setelah sekretarisnya menghilang di balik pintu, dua orang berpakaian serba hitam, masuk dengan sebuah amplop ditangannya.


Tampa basa-basi Zen langsung menanyakan apa yang ingin mereka sampaikan, "Apa kalian menemukan sesuatu?" tanya Zen lebih antusias dari apa yang ia bayangkan.


"Sejauh ini, Kami menemukan dua transaksi yang sedikit janggal dan mungkin bisa membantu tuan." kata salah seorang menyerahkan amplop besar berwarna coklat tersebut.


"Jelaskan padaku!" pinta Zen lagi seraya membuka amplop di tangannya. "Dua hari terakhir kami mendapatkan bukti transaksi yang di lakukan oleh tuan Rehan. Awalnya kami mengira itu adalah transaksi bisnis biasa, mengingat jumlahnya yang cukup besar.


Namun setelah kami selidiki, rekening tersebut adalah rekening bisnis yang di pegang oleh nona Zoya sebagai salah satu executive di perusahaan saat sedang bertugas di Bali."-- Zen mengangguk kecil mulai mencerna apa yang di sampaikan oleh detektif tersebut.


"Lalu, setelah beberapa saat tidak terdapat transaksi dari rekening tersebut, kemudian kami mendapati pada tanggal yang sama, tepat pada saat nona Zoya menghilang, terdapat transaksi dengan nominal yang cukup besar melalui rekening ini, dan kami mendapatkan lebih banyak transaksi setelah itu,-"


"Biaya tiket pesawat, hotel di negara A, penginapan di negara B, dan juga transaksi lainnya di negara B." Zen menyela ditektifnya.


"Benar tuan. Beberapa hari yang lalu, transaksi dengan nominal yang cukup besar kembali di kirimkan dari rekening pribadi tuan Rehan. Jadi kami berpikir..


"Cukup. Aku tau maksudmu,-- Zen mengangkat tangan nya, memberi kode. "Selama ini Dady lah yang menyembunyikan keberadaan Zoya dariku!" ucapnya lagi memperjelas semuanya.


Zen seperti mengunyah sebutir pil yang teramat pahit yang hampir-hampir membuat lidahnya kelu.

__ADS_1


Ia sudah mendapatkan alasan mengapa selama ini ia tidak bisa menemukan Zoya, semua karena campur tangan Dady di dalamnya.


Jika Dady tau dimana Zoya namun merahasiakannya, berarti Mollie juga melakukan hal yang sama pada Zen.


Kenyataan itu bahkan menampar Zen dua kali lebih dahsyat. Orang tua yang selama ini sangat menyayanginya, malah melakukan ini pada nya. Huh!


Mustahil memang jika mereka tidak melakukan hal tersebut. Harusnya Zen tau itu, selama ini ia terlalu naif.


Bagaimana bisa ia berharap Mollie, ataupun Dady berpihak padanya sementara ialah yang menjadi alasan atas kepergian Zoya. Benar-benar bodoh, Zen. Inilah alasan sebenarnya.


"Hanya ini yang kalian dapatkan? tidak ada yang lainnya?" tanya Zen lebih dingin bahkan mendekati kata sinis.


"Kami juga mendapatkan bukti email yang di kirimkan melalui akun nona Zoya yang menegaskan tempat keberadaan nya saat ini tuan. Kami sudah membuat salinan nya secara terperinci sesuai permintaan anda." Jelasnya lagi, dengan bibir menyungging nyaris tersenyum bangga dengan pencapaian yang mereka dapatkan.


"Baiklah. Kalian boleh pergi. Aku akan mengirimkan bayarannya ke rekening kalian setelah ini." kata Zen lagi menutup pertemuan tersebut. Mendapati dua kenyataan yang bertolak belakang membuat Zen diam membisu dalam kebimbangan.


Harusnya, Zen merasa senang telah menemukan keberadaan Zoya. Harusnya, yang Zen lakukan sekarang adalah segera pergi dan mendapatkan Zoya kembali.


Tapi mengapa disaat seharusnya ia bisa yakin, namun sekali lagi ia kembali ragu dengan keputusan nya. Ia ragu apakah ia harus membawa Zoya atau membiarkan Zoya. Benarkah ini yang ia inginkan? benarkah ini yang juga Zoya inginkan? untuk mereka? untuk hubungan mereka?


Apa yang harusnya Zen lakukan?


Setelah berpikir cukup lama, logika menyentak Zen dengan begitu dahsyat. Zen menutup laptop, mengambil kunci mobilnya lalu pergi meninggalkan kantor.


Sebelum pergi mendapatkan Zoya kembali, Zen harus menemukan jawabannya, ia harus memastikan semua kembali pada tempatnya. Tampa jawaban yang benar, maka Zen tak bisa melakukan apa yang menurutnya tepat.


Ia tidak akan melakukan kesalahan lagi kali ini, Zen akan memastikan nya, dan semuanya tentulah harus dengan seijin Dady dan Mollie nya. Tampa restu mereka, maka apa yang akan Zen lakukan tentu akan sia-sia.


Jika ingin mendapatkan buah yang manis, bukan kah kita harus memastikan jika pohonnya memang akan memberikan buah yang kita inginkan?


Untuk itulah Zen disini sekarang,-


Dengan cara mengemudi profesional, Zen memarkirkan mobil jaguar berseri khusus tersebut nyaris sempurna pada tempatnya. Ia menatap gedung pencakar langit di depannya, memantapkan tekat lalu melangkah masuk menembus pintu penjagaan yang ketat setelah statusnya terkonfirmasi.


"Aku ingin bertemu dengan Rehan Wijaya." kata Zen pada resepsionis di lantai satu yang bertugas menyampaikan segala informasi sampai ke lantai tertinggi. "Apa anda sudah membuat janji sebelumnya pak?" tanya nya dengan ramah pada Zen. "Tidak. Katakan saja Zen Mahendra ingin bertemu."


Wanita tersebut melakukan seperti yang Zen perintahkan, sesaat kemudian menutup ganggang telpon nya.


"Pak Rehan sedang menghadiri meeting saat ini, namun beliau meminta anda menunggu diruangannya. Silahkan menuju lift yang ada di sudut, staf di sana akan mengantarkan anda." jelasnya lagi pada Zen.


Zen berlalu mengikuti instruksi yang sudah di berikan.


Kurang dari lima menit, Zen sudah berada di lantai tiga puluh, tempat dimana ruangan Dady nya berada. Ini bukan pertama kali bagi Zen, jadi ia tau kemana harus berjalan jika ingin menemukan ruangan Direktur utama perusahaan tersebut.

__ADS_1


"Tuan, silahkan." Dina menyambut kedatangan Zen, baik Dina maupun Zen, mereka sudah pernah bertemu sebelumnya. "Mau saya buatkan minuman tuan?" tawar Dina setelah mengantar Zen masuk keruangan atasannya. "Tidak, terima kasih." tolak Zen ramah. Setelahnya Dina pergi meninggalkan Zen menunggu seorang diri.


Cukup lama Zen menunggu sampai Dady nya menyelesaikan rapat, jika Zen tidak salah, maka sekarang tepat satu jam sudah Zen berdiam seorang diri di ruangan tersebut.


Sampai tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka dengan cara yang cukup dramatis.


"Kau mencariku Son?" tanya Rehan berjalan masuk sambil melepaskan Jas dan melonggarkan dasi di lehernya.


"Benar Dad. Aku ingin menemui mu." jawab Zen. Rehan duduk bersila di depan Zen memberikan ruang dan waktu yang di perlukan. "Katakan!"


"Aku tidak akan bertanya mengapa Dad ataupun Mollie menyembunyikan keberadaan Zo'e dariku, aku tidak ingin alasan itu. Aku kesini hanya ingin mengatakan bahwa aku akan menemui Zo'e dan memintanya sekali lagi untuk berada disisi ku." ucap Zen dengan keyakinan yang melebihi batasnya.


"Kau tau apa mimpi angel, Son?" Rehan menanggapi dengan santainya. "Apa kau pernah menanyakan bahkan pada dirimu sendiri, mengapa Angel masih berada disini padahal jelas ia bisa pergi kemanapun yang ia mau dengan bakat yang ia miliki? padahal jelas mimpinya adalah menunjukan betapa berharga nya dirinya untuk di miliki pada seseorang yang telah lama mematahkan hati nya. Apa kau pernah memikirkan itu Son?"


Zen diam mendengarkan perkataan Rehan. Selama ini ia begitu egois memikirkan dirinya dan kebahagiaannya, ia hanya memikirkan jika Zoya disisinya maka semuanya akan baik-baik saja. Ia lupa bertanya, apakah selama ini Zoya juga bahagia bersamanya, menjadi kekasihnya.


"Dad, aku,-


"Tidak Son. Itu bukan salah dirimu jika itu yang kau pikirkan. Ini salah ku, Dady nya. Dad, terlalu takut melepaskan Angel pergi jauh, sehingga Dad mematahkan sayapnya lebih dulu."


"Dad pikir selama ini Angel sudah bahagia bersama kami, dengan apa yang Dad berikan padanya, kebebasannya melakukan pekerjaan yang ia suka, Dad pikir semuanya sudah bisa membuatnya bahagia, sampai suatu hari kau kembali kesini, membuat Angel kembali menemukan senyumnya yang hilang. Dad pikir semua akan baik-baik saja, Angel akan kembali bahagia. Tapi ternyata Dad salah. Dad lupa bertanya, apakah ini semua yang benar-benar Angel inginkan." Rehan menghela nafasnya berat, sekali lagi menatap Zen dengan mata sayu penuh pertimbangan.


"Angel berada di Swedia. Sebentar lagi ia akan menggelar konser tunggalnya, salah satu dari mimpi kecilnya. Dad tidak akan menghalangi untuk menemui Angel jika memang itu yang kau inginkan, tapi Dad minta tidak sebelum Angel menyelesaikan apa yang sudah ia mulai. Setidaknya kita bisa melihatnya bahagia melakukan apa yang benar-benar Angel sukai."


"Dad, hanya berharap Kau dan Angel bahagia Son, apapun yang Zoya putuskan Dad harap kau bisa menerimanya." pinta Rehan pada Zen.


"Aku akan melakukan seperti yang Dad minta. Maafkan aku Dad." ucap Zen lagi dengan sungguh-sungguh.


"Tidak Son. Ini bukan salahmu. Mari sama-sama belajar untuk menghargai perasaan dan keinginan orang lain, terutama orang yang kita cintai." Rehan tersenyum penuh wibawa pada Zen. Ia lega bisa mengatakan apa yang seharusnya ia katakan pada putranya.


"Terima kasih Dad, kali ini aku tidak akan mengecewakan Zo'e lagi." janji Zen.


"Itu katamu, Son! Dad harap kau melakukannya, dan sebagai permulaan, sebaiknya kau tidak lagi menemui wanita itu untuk alasan apapun, jika kau benar-benar ingin membuat Angel bahagia." peringat Rehan.


"Wanita, maksud Dad..?"


"Wanita yang tinggal disebelah kondominium mu, Dad sudah mengembalikannya ke tempat yang seharusnya."


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2