
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
"Kak ZEN, Kita mau ketemu siapa sih..? Aku penasaran tau.. " Rengek Zoya sejak tadi di dalam Mobil.
"Sebentar lagi kamu juga akan tau." Kata Zen sambil tersenyum. Ia memang suka menggoda gadis kecil nya itu. "Kak Zen,, ini sudah kesekian kalinya kak Zen mengatakan hal yang sama!"
"Dan kamu pun demikian sayang..." BLUSH.. wajah Zoya merona.
"Hem. Ya sudah kalau gak mau bilang.."
HA-HA-HA,
"Kamu terlihat sangat imut saat sedang merajuk.." tawa Zen. Sementara Zoya memalingkan wajah nya kesal.
Tak lama setelah nya, Mobil Zen memasuki gerbang yang tak kalah megah dengan kediaman keluarga Wijaya.
"Kita sudah sampai." Zen memarkirkan mobilnya, kemudian keluar lebih dulu untuk membuka kan pintu mobil untuk Zoya.
Seorang kepala pelayan sudah berdiri di depan pintu menantikan kedatangan tuan muda keluarga itu.
"Selamat datang tuan muda, Nona." Sapa nya sambil menundukkan kepala. "Apa Opa dirumah..?"
"Ya tuan muda, tuan besar ada di ruangan nya."
"Ayo,."
Zen menggandeng tangan Zoya untuk menaiki tangga.
"Kak, apa ini rumah opa Mahendra..?" tanya Zoya pelan seraya mengikuti Zen. "Iya, aku ingin memperkenalkan mu sebagai kekasih ku." jawab Zen.
Kedua nya kini sudah berdiri di depan pintu ruangan tempat opa Mahendra.
Tok..Tok..
"Opa..?"
Zen masuk keruangan itu melihat opa nya yang sedang duduk sambil memegang sebuh majalah bisnis seperti biasa.
"Oohh.. Cucu opa, come-come, masuklah Zen.." seru nya sambil tersenyum bahagia. Zen menarik tangan Zoya agar mengikutinya.
"Dan siapa wanita cantik ini..?" tanya opa mahendra melihat kehadiran Zoya di sana. "Selamat siang opa.." sapa nya sedikit canggung.
"Opa, mungkin opa lupa, opa pernah bertemu dengan nya saat dia masih kecil, ini Zoya." jelas Zen.
"Zoya..? Zoya Wijaya..?"
"Ya Opa, saya Zoya Wijaya." kata Zoya lagi. "Duduk lah disini nak.., mari sini duduk di dekat opa."
Zen dan Zoya mengambil tempat yang sama, duduk berhadapan dengan pria tua yang masih terlihat gagah tersebut.
"Bagaimana kabar orang tua mu nak..? Opa sudah cukup lama tidak bertemu dengan mereka." bincang opa Mahendra.
"Dady dan Mommy baik-baik saja opa."
"Opa, tujuan ku membawa Zoya kemari adalah untuk memperkenalkan nya pada opa. "Zoya adalah kekasihku, dan bulan depan kami akan bertunangan."
__ADS_1
"Oh.. itu kabar yang bagus nak. Opa senang mendengarnya. Bagaimana dengan ayah mu, kau sudah mengabarinya..?"
"Aku belum memberitahu Didiie opa, aku berencana akan memberitahunya setelah aku menemui opa."
"Baik lah nak, semoga kalian berbahagia."
"Terima kasih Opa.." jawab keduanya bersamaan.
...❄️❄️...
...~ZOYA'S GROUP...
"Pak, ini berkas-berkas yang bapak minta.
Dan ini." dokumen lain diserahkan bersamaan. "Ini dokumen kerja sama yang di ajukan A.S Group. Mereka sudah mengkonfirmasi, jika mereka akan segera menandatangani proyek kerja sama kita."
"Letakan saja di sana, aku akan melihatnya lagi nanti. O, ya jangan lupa tinjau kembali bagaimana perkembangan proyek itu." perintahnya.
"Baik pak, akan saya kerjakan." Setelah sekretarisnya keluar, Rehan langsung membaca kembali semua dokumen yang ia minta sebelumnya.
Semua ini berkaitan dengan proyek kerja sama bernilai triliunan rupiah, dan jika kerja sama ini berjalan baik, maka akan sangat menguntungkan bagi perusahaan cabang milik Rehan yang saat ini baru berkembang.
Rehan harus benar-benar mempelajari kerja sama kali ini, karena jika ia salah langkah maka dapat membuat perusahaan nya menanggung kerugian yang cukup besar.
"Beritahu setiap kepala cabang agar menghadiri rapat besok pagi." perintah Rehan pada sekretarisnya.
...❄️❄️...
AS-Z COMPANY
Setelah selesai menemui opa Mahendra dan juga makan siang bersama. Zen di beritahu ada rapat yang harus ia hadiri, oleh sebab itulah ia langsung membawa Zoya bersama nya.
Setelah sampai di kantor, Zen meminta Calista untuk menemani Zoya diruangannya ataupun berkeliling perusahaan jika kekasihnya itu merasa bosan.
"Nona, mau minum..?"
"Tapi..-
"Tidak apa-apa, kak Zen tidak akan memperdulikan hal itu, lagi pula akan tidak sopan bagiku jika kau memanggilku seperti itu." pinta Zoya.
"Baiklah, aku akan memanggilmu seperti yang kau mau, Zoya." Calista tersenyum ramah. "Duduklah disini.. " Zoya menyuruh Calista duduk di dekat nya. "Aku dengar pak Zen akan bertunangan.."
"Dia memberitahumu...?" tanya Zoya sedikit antusias. "Ah, sebenarnya itu, Pak Zen baru saja mengatakan nya tadi pagi,." Calista tersenyum canggung.
"Benarkah..?"
''Apa kau bisa memberitahuku siapa calon tunangan pak Zen..?" tanya Calista lagi. "Ah, maafkan aku kalau, hanya saja. Aku tidak tau kalau pak Zen memiliki kekasih sebelumnya, dan ini berita yang cukup besar."
"Menurut mu begitu..?" balas Zoya sedikit berpikir.
"Tentu saja. Pak Zen adalah pengusaha muda yang sangat luar biasa, dalam 1 bulan pak Zen sudah membuat perkembangan di perusahaan, dan menurutku tidak semua orang bisa seperti itu."
"Kau tau Zoya, kakak mu itu sangat luar biasa, semua karyawan disini menyukai gaya kepemimpinan nya di tambah lagi, pak Zen direktur yang sangat tampan" Puji Calista bersemangat. Ia tidak tahu bahwa saat ini sedang bicara dengan calon tunangan dari orang yang sedang di bicarakan.
Zoya sudah tau, jika laki-laki seperti Zen pasti akan membuat orang banyak mengagumi dirinya, seperti saat ini, bahkan sekretarisnya sendiri sangat memuja nya.
"Bisa kau berbagi sedikit informasi sedikit pada ku Zoya, hem..? aku benar-benar ingin tau siapa wanita yang berhasil meluluhkan hati pak Direktur. Apakah wanita itu kekasih pak Direktur saat di U.K..?"
Ha-Ha-Ha..
"Kau sangat lucu Calista." sela Zoya merasa lucu.
"Hem, baiklah. Aku akan memberitahumu kalau kau mau membelikan aku secangkir Cofe, dan menemaniku berkeliling tempat ini, bagaimana..?"
__ADS_1
"Deal." Jawab Calista yang seketika langsung berdiri, mengiyakan permintaan Zoya. Calista benar-benar ingin tahu.
"Baiklah. Ayo.." Keduanya berjalan menuju kantin perusahaan. Seperti yang di minta, Calista membelikan segelas Cofee untuk wanita yang mempunyai informasi yang membuatnya sangat penasaran.
"Ini cofee mu, Zoya."
"Thanks Calista, ayo." Zoya tersenyum, ia sebenarnya tidak ingin menggoda Calista seperti ini, hanya saja menurutnya ini cukup menyenangkan.
Cukup lama keduanya berkeliling perusahaan Zen, sepanjang perjalanan yang Zoya dengarkan semua adalah tentang ZEN dan juga berbagai pujian dan juga kekaguman di setiap akhir kata. ZEN nya ternyata sepopuler ini.
"Jadi Zoya, katakan pada ku, siapa calon tunangan pak Direktur..?"
"Calon tunangannya kakak."
"Ayolah Zoya,katakan pada ku.. please.. " wanita itu setengah memohon. "Ya.. Ya Baiklah. Dengarkan baik-baik, calon tunangan kakak adalah."
"Zo'e,..?" Zen yang baru keluar dari lift menghampiri Zoya dan juga Sekretarisnya yang berdiri tidak jauh dari tempatnya saat ini.
"Pak,." Calista menundukkan sedikit kepalanya memberi hormat pada Zen. "Rapat nya sudah selesai kak..?"
"Sudah. Kalian dari mana,..?" tanya Zen. "Ini, Calista membelikan ini untuk ku.." Zoya mengangkat gelas Cofee nya sambil melirik pada wanita di sebelahnya.
"Baiklah, ayo kita kembali."
"Hem, baiklah."
"Calista, terima kasih sudah menemani ku. Dan untuk yang kau tanyakan barusan, kami akan memberikan undangan nya, benarkan kak..?"
Zen tidak tau apa yang sedang kedua wanita itu bicarakan, ia hanya tersenyum menyetujui perkataan Zoya. Calista hanya bisa terperangah. Seperti nya ia harus menunda rasa penasaran nya lagi.
"Apa kau punya kegiatan lain Zo'e..?" Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu temani aku disini, tidak apa-apa kan..?"
"Iya kak, tidak apa-apa."
"O, ya apa yang kalian bahas sebelumnya..?" tanya Zen lagi setelah mereka masuk ke ruangan. "Hanya membahas sedikit tentang kakak."
"Aku..?"
"Ya, kakak. Sekretaris kakak bilang kalau,,
Kekasih ku ini adalah seorang yang sangat-sangat-sangat."
"Apa..?" Zen melirik pada Zoya. "Tidak jadi."
"He..?" Ada-ada saja pikir Zen. Gadis kecilnya ini memang cukup sering membalas Zen seperti ini.
"Baiklah kalau itu rahasia. Bisa aku melanjutkan pekerjaan ku sebentar, setelah nya kita akan langsung pulang."
"Silahkan saja kak, dan aku akan duduk manis disini menunggu kekasih ku hingga selesai." Zoya duduk bersila sambil tersenyum pada Zen.
"Manis sekali.."
"Terima kasih, tapi aku bukan permen ataupun gula."
"Kemari lah gadis kecil..?" Zen melambaikan tangan nya pada Zoya sambil menunjukan smirk nya. "Tidak terima kasih kak, aku disini saja."
"Kemari lah.. seperti nya sejak tadi kau selalu menggoda ku..!"
"Aku..? Kapan..? dimana..?" Zoya bicara dengan wajah polos nya.
"Kau ingin ku cium disini...?"
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...