
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
Setelah lebih dari dua jam lamanya berada di dalam pesawat, akhirnya Leon dan Lova pun tiba di London.
Setelah menghabiskan jatah libur dari kampus, kini mereka harus kembali ke perantauan untuk menuntut ilmu.
"Kamu tunggu saja di sana L, aku yang akan mengambil koper kita." ujar Leon seraya berjalan ketempat pengambilan koper.
Lova pun menganggukkan kepalanya dengan patuh dan diam di tempatnya untuk menunggu Leon kembali.
Kurang dari sepuluh menit, Leon sudah mendatangi nya dengan kedua tangan mendorong troli yang berisikan koper milik keduanya.
"Biar ku bantu." ujar Lova menghampiri Leon.
Leon pun menggeser tangan nya agar Lova bisa ikut mendorong troli tersebut.
Bukan karena ia tidak bisa melakukan nya sendiri, tapi karena Leon sangat mengenal bagaimana sifat gadis itu.
Setelah mendapatkan taxi dan memasukan semua barang ke dalam bagasi, Leon pun meminta supir untuk mengantarkan Lova terlebih dahulu.
"Ingin makan siang bersama L, aku lapar. " ajak Leon ditengah-tengah perjalanan.
"Ingin makan apa? Apa kau ingin mencoba menu makan siang di tempat Mateo?" tawar Lova pada Leon.
"Boleh, kalau begitu kita ke apartment mu terlebih dahulu, setelahnya kita akan makan siang disana." putus Leon.
Lova sangat beruntung karena Leon mengajaknya makan siang, dan menyetujui tempat yang Lova pilih, sehingga ia juga bisa langsung menemui Mateo untuk menanyakan pekerjaan paruh waktu pada Mateo.
Setibanya di Apartment, Leon kembali membantu Lova untuk mengantar semua barang-barang nya ke atas.
"Jadi kau tinggal disini L? tempat ini terlihat tidak aman untuk mu." gumam Leon sambil memperhatikan sekitar.
"Hem? maksudmu? disini sangat aman Le, tidak pernah terjadi apapun selama aku tinggal disini sebelumnya." sanggah Lova dengan yakin.
"Benarkah? tapi menurutku tidak. Kau harus lebih berhati-hati terutama disaat kau pulang bekerja di malam hari. Ini hanya insting ku saja L." tambah Leon.
Lova juga tidak ingin mendebat apa yang dikatakan sahabatnya itu. Leon sudah seperti seorang kakak laki-laki bagi Lova.
Leon sosok yang sangat peduli, perhatian, dan juga sangat melindungi Lova. Dengan Leon berada di sekitarnya, Lova merasa sangat terjaga.
"Baiklah Le, aku akan mendengarkan mu. Aku akan selalu berhati-hati." sahut Lova dengan patuh.
Setelah Lova memasukan kopernya, keduanya kembali turun dan masuk kedalam taxi. Kali ini, mereka akan menuju ke apartment yang di tempati oleh Leon dan juga Ken.
Jarak apartment mereka tidaklah jauh, hanya beberapa blok dari apartment Lova. Karena itulah biasanya Ken selalu menemani Lova saat gadis itu akan pergi ke tempatnya bekerja.
"Turunlah L, kita akan mencari taxi yang lain untuk pergi ke kedai Mateo." ujar Leon pada Lova, membuat gadis itu dengan cepat mengeluarkan dirinya dari dalam taxi.
Saat tiba ditempat parkir, Leon mendatangi ruang scurity untuk melaporkan kedatangan nya kembali.
Apartment yang di tinggali Leon dan juga Ken bukanlah apartment biasa. Itu adalah jenis apartment mewah.
Baru melihat halamannya saja, Lova sudah sangat menyadari jika bangunan apartment mereka sangatlah berbeda. Bagaikan langit dan bumi.
Lova hanya bisa mengagumi semua yang dilihatnya dalam hati.
"Welcome L.. sekarang kau sudah tau kan dimana kami tinggal, jadi jika kau ingin mencari ku tapi tidak menemukan aku dimanapun, itu artinya aku sedang tidur. Dan kau harus mencariku kemari.'' ucap Leon sambil menunjukan apartment mereka pada Lova.
"Masuklah, kau bisa melihat-lihat jika kau mau. Buat dirimu senyaman mungkin disini." tambah Leon lagi.
"Ingin ku beritahu satu rahasia L?" ujar Leon sambil berkata pelan.
"Apa?" sahut Lova menirukan suara Leon. "Aku hanya menumpang disini. - semua ini milik Ken." terang Leon dengan menampilkan mimik sedihnya.
"hmm." Lova menganggukkan kepalanya, mengerti.
"Hanya itu? hanya hmm?" timpal Leon lagi, ini bukanlah respon yang diharapkan nya dari seorang Lova.
"Kenapa? kau ingin aku merespon mu seperti apa? bukankah hal seperti itu wajar saja untuk orang-orang seperti mereka?" sahut Lova yang tak bisa mengomentari tentang hal tersebut.
__ADS_1
"Ah.. aku kira kau akan berdecak kagum. Biasanya wanita akan melakukan itu, aku lupa kalau kau bukan wan.. 'upps. Lupakan! Aku akan menyimpan koper ku.. duduk saja dimanapun kau mau L." ujar Leon lagi sambil tertawa canggung.
Setelah Leon selesai dengan barang-barang nya, ia kembali menghampiri Lova. Gadis itu berdiri di depan sebuah nakas yang di atas nya tergeletak sebuah pigura kecil dengan potret gambar Ken yang sedang tersenyum sambil memeluk Mommy nya.
Potret itu adalah Salah satu gambar yang sangat Leon sukai dari sekian banyak photo, karena itulah mereka memajang nya di sana.
Ehhmm.
"L, kita pergi sekarang?" ajak Leon sedikit canggung karena mengganggu waktu Lova yang sedang melihat photo kekasihnya.
"Hmm. Ya, tentu." sahut Lova.
"Ingin mengenakan taxi atau kita cukup berjalan saja?" Tanya Leon saat keduanya sudah keluar dari halaman apartment.
"Bagaimana kalau kita jalan saja, lagi pula tempatnya tidak terlalu jauh dari apartment ini." sahut Lova tanpa ragu.
"Hmm. Baiklah. Ayo, sepertinya kaki kecilmu ini memang harus lebih sering di gunakan." ujar Leon lagi sambil menyentuh pelan betis Lova dengan sepatunya.
"Le, jangan lakukan itu. Celana ku bisa kotor!" peringat Lova sambil memberengutkan wajahnya.
"Tapi sepatu ku bersih L."sahut Leon dengan ekspresi mengejek.
"Dasar, jangan lakukan itu!" balas Lova lagi sambil membalas perbuatan Leon. Lova juga melakukan hal yang sama pada Leon lalu mempercepat langkah nya.
"Gadis ini!- L tunggu aku!" seru Leon, seraya menyusul Lova.
...❄️❄️...
...Setibanya di depan kedai.....
"Selamat datang." sapa seorang pelayan baru di kedai Mateo menyambut keduanya. Kedai itu terlihat sepi di jam makan siang seperti saat ini. Tidak seperti biasanya.
"Kau pilih meja dan menu nya, aku ingin bicara pada Mateo sebentar." ujar Lova, pada Leon.
"Waw..lihat siapa yang sudah kembali..?'' sambut Mateo sambil menyongsong kearah Lova saat melihat gadis itu menghampirinya.
"Kapan kau tiba disini, Mosley?" sapa Mateo Lagi. "Baru saja tiba beberapa jam yang lalu, bos." sahut Lova.
"Apa? berarti kalian belum sempat beristirahat, apa kalian sudah makan?"
"Itulah tujuan kami kesini, kami lapar dan merindukan makanan di kedai mu." Lova tersenyum.
"Kalau begitu duduk dan tunggulah, makan siang akan segera siap." perintah Mateo.
Lova pun duduk berhadapan dengan Leon dengan perasaan cemas namun penuh harap. "Bagaimana, kau mendapatkan pekerjaan mu kembali?" bisik Leon.
"Kami belum bicara tentang itu, aku hanya menyapa Mateo." jawab Lova sambil sesekali tersenyum kepada Mateo saat mata mereka bertemu.
"Ini makanan nya. Semoga kalian suka." Mateo sendiri yang mengantarkan langsung ke meja Leon dan Lova.
"Terima kasih Mateo."
"Senang melihatmu kembali Mosley.- nikmatilah makan siang kalian."
Leon mulai mencicipi makanan nya setelah Mateo berlalu. "Hmm. Ini enak L. Kau harus makan lebih banyak." Leon menaruh lauk pauk yang sudah dicicipinya ke dalam mangkok Lova.
"Ini terlalu banyak Le, kau saja yang makan." protes Lova saat melihat mangkok nya yang hampir penuh terisi oleh Leon.
"Aku juga akan menghabiskan milik ku. Selamat makan."
...❄️❄️...
"Kau ingin langsung pulang?" Keduanya kini sudah meninggalkan kedai setelah Lova bicara dengan Mateo.
"Hmm. Aku lelah. Aku ingin segera pulang dan tidur." sahut Lova malas. "Hei jangan cemberut seperti itu. Aku akan membantu mu mencari pekerjaan baru." hibur Leon saat melihat Lova yang sedang patah semangat.
Untuk saat ini, Lova tidak bisa lagi bekerja bersama Mateo karena dua alasan; pertama, Mateo baru saja menerima seorang pekerja paruh waktu, dan kedua: Kedainya tidak seramai sebelumnya.
Karena itulah Lova menjadi tidak bersemangat, ia sangat berharap bisa kembali bekerja di kedai Mateo.
Selain karena gajinya yang cukup banyak, Lova juga sangat menyukai para pekerja yang ada di sana. Hanya saja, sepertinya keberuntungan sedang tidak berpihak padanya.
"Sangat sulit mencari pekerjaan paruh waktu yang sesuai dengan jadwal kuliah ku Le, dan di kedai itu, aku bisa menyesuaikan dengan waktu ku." lirihnya lagi.
"Hei, sudah lah. Tidak apa-apa. Kita akan menemukan pekerjaan yang lebih baik, dan akan sangat cocok untuk mu. Hem? Tersenyumlah.. hem?.. hem?.. hem..? kau sungguh tidak cocok dengan wajah di tekuk seperti ini." goda Leon sambil mengacak pelan rambut Lova.
"Kau senang merusak rambut ku Le..? kau mau melakukan nya lagi?" Lova menatap sengit pada Leon..
__ADS_1
Baru saja Lova hendak membalas Leon, tapi Leon sudah lebih dulu berlari. Alhasil Lova harus mengejar Leon sekuat tenaga.
"Le, tunggu aku!" seru Lova, sambil terus berusaha mengejar Leon.
"Aku tidak ingin tertangkap oleh mu L, kau menakutkan saat marah!" balas Leon sambil tertawa mengejek.
Ini kali pertama keduanya melakukan hal seperti ini. Baik Lova maupun Leon, mereka memang terlihat seperti seorang bocah yang sedang saling berbalas.
"Le, awas kau kalau tertangkap!" seru Lova masih terus berusaha mempercepat larinya. "Coba saja tangkap aku, kalau kau bisa." ejek Leon semakin menjadi-jadi.
Setelah berlari cukup jauh, Lova pun akhirnya menyerah, ia tidak ingin lagi mengejar Leon. Langkah kakinya tidak cukup lebar untuk bisa menyusul Leon dengan mudah. Seberapa kerasnya ia berusaha, ia tidak akan bisa menangkap Leon.
"Kau menyerah L..?" seru Leon yang menjaga jarak sekitar 10 meter dari Lova. "Hmm aku menyerah.." sahut Lova dengan nafas tersengal. "Baiklah aku akan menghampirimu, tapi kau harus berjanji tidak akan memukulku!" pinta Leon.
OMG!
"Le, kita bukan anak kecil!" balas Lova. "Tapi kau terlihat seperti bocah yang sedang marah L." sahut Leon, sambil tertawa.
"Baiklah.. aku tidak akan memukulmu dengan tangan ku.!" balas Lova. "Dengan kakimu...?"
Sial! Sepertinya Lova memang harus membiarkan Leon menang kali ini. "Ya dengan kaki ku juga..!"
"Baiklah, kau sudah berjanji, jangan ingkari kata-katamu." peringat Leon.
Hanya dengan beberapa langkah saja, Leon sudah berdiri di hadapan Lova. "Mau minum L..?" Leon menyerahkan botol air mineral ditangan nya kepada Lova. "Kapan kau membelinya?" Tanya gadis itu heran.
"Saat aku melihatmu berbalik." sahut Leon. "Ayo, aku akan mengantar mu pulang." ajak Leon. sambil mengulurkan tangan nya.
Lova menyambut uluran tangan Leon yang ingin membantunya untuk berdiri. "Larimu cepat sekali!" protes Lova saat keduanya sudah berjalan beriringan.
"Kaki mu saja yang terlalu pendek." sahut Leon sambil tersenyum.
Baik Lova maupun Leon, keduanya sama-sama tengah berkeringat. "Aku rasa kita jangan melakukan nya lagi, disini sangat panas." ucap Lova sambil mengipasi wajahnya yang dipenuhi oleh bulir-bulir keringat.
...❄️...
...Ke esokan harinya.....
Ken bangun tepat pukul delapan pagi, sebelum alarm nya berbunyi. Semalam ia sudah berjanji untuk menjemput Lova. Mereka akan berangkat bersama ke kampus.
Leon bersiap secepat mungkin, sebelum pergi ia juga ingin menyempatkan diri untuk membersihkan apartment. "Mau kopi?"
"Astaga!" Leon mengelus dadanya yang berdetak cepat karena kaget. "Ken? kau disini, kapan kau..? hampir saja jantung ku berpindah dari tempatnya!" protes Leon.
"Hmm. Seperti Yang mau lihat, aku disini. Aku baru sampai pukul 3 tadi pagi. Mau kopi?" tawar Ken sekali lagi, masih duduk dengan tenang di posisinya.
"Sejak kapan kau suka kopi? Pekerjaan mengubah selera mu dengan begitu cepat ku rasa." sanggah Leon, yang saat ini sudah duduk berhadapan dengan Ken.
"Minuman ini tidak buruk!" sahut Ken sesekali menyeruput kopinya. "Jadi, kau sudah membuat keputusan? Kau akan tinggal atau..?"
"Aku disini hanya beberapa hari. Aku akan bicara pada L." Jelas Ken.
Cepat atau lambat Ken memang harus mengatakan semuanya pada L, dan Ken harap kekasihnya bisa mengerti. Ken memang egois, tapi ia juga ingin agar Lova tetap bersama nya.
"Ah, jadi kau sudah memutuskan semuanya. Apapun itu, aku hanya ingin agar kau tidak menyakiti L. Dia gadis yang baik, kau beruntung memilikinya sebagai kekasihmu" balas Leon.
"Kau gila? Aku tidak akan menyakiti wanita yang ku cintai." protes Ken tidak terima dengan perkataan Leon.
Leon hanya berdecak lalu menyunggingkan senyum. "Baguslah jika memang begitu, tapi tau apa kau tentang Ya dan Tidak dari keputusan mu." balas Leon malas. "Kau akan bertemu L sekarang, atau kau punya rencana lain?" tambah Leon lagi.
Ken tidak menjawab. "Jika tidak, aku sudah berjanji akan menjemput L pagi ini, kau bisa ikut jika mau." ujar Leon lagi, hendak beranjak dari tempatnya.
"Tidak perlu. Aku yang akan menjemput kekasihku!" cegah Ken, lalu bangun dari tempat duduknya.
Saat mendengarkan kata-kata Leon, entah kenapa ada perasaan aneh yang tiba-tiba rasa ia rasakan. Ken tidak suka saat Leon memberikan perhatian kepada Lova. Perhatian Yang seharusnya di berikan olehnya sebagai seorang kekasih.
"Cih! memang nya kenapa jika kita pergi bersama?" gumam Leon. Sebagai seorang sahabat, Leon memahami maksud Ken. Keduanya memang harus saling bicara.
Leon hanya tidak ingin kedua sahabatnya menjadi orang asing hanya karena jarak. Sebagai teman, Leon tetap akan mendukung keduanya. Baik Ken ataupun Lova, semua adalah orang-orang yang berarti bagi Leon.
"Bicaralah baik-baik. L pasti akan mendengarkan mu." seru Leon saat Ken meninggalkan apartment.
"Semoga beruntung sobat! Atau aku yang akan menghajar mu!"
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...