
...ENJOY...
.......
.......
.......
Tanpa terasa waktu berlalu dengan begitu cepat.
Beberapa tahun sudah Lova pergi merantau meninggalkan negara nya dan datang ke London untuk menyelesaikan studi dengan bantuan beasiswa yang di berikan atas dasar kepedulian, dan kini? Lova telah kembali.
Bukan hanya kembali sebagai Lova yang telah mendapat gelar dari studinya, tapi Lova yang telah di kenal oleh banyak orang karena pekerjaan nya.
Tentu saja tidak hanya di London, atau pun negara lainnya, Lova juga terkenal sampai ke negara asalnya. Kini semua orang mengenal dirinya sebagai seorang model terkenal yang telah mengiklankan beberapa brand terkenal, bukan lagi Lova yang berasal dari apartment kecil dan juga berjualan perhiasan keliling.
Kini Lova bisa membelikan hunian yang layak untuk keluarga nya, keluarga yang membesarkan dirinya hingga bisa seperti saat ini. Satu-satunya keluarga yang di miliki nya; Megan dan Cassian, serta keponakan kecilnya, tentu saja.
Tidak hanya itu, Lova juga masih memiliki cukup banyak tabungan Yang akan ia gunakan untuk membangun bisnis nya sendiri. Bisnis yang sudah ia rencanakan, hanya saja ia masih belum tau bagaimana harus memulainya.
Sudah sepekan Lama nya sejak ia kembali, dan semua nya masih sama. Lova memutuskan untuk berhenti dari profesi nya, dan menyetujui permintaan William untuk menangani satu brand lagi sebelum ia benar-benar berhenti menjadi seorang model, tapi pekerjaan itu tidak dilakukan dalam waktu dekat.
Karena itulah, Lova memutuskan kembali lebih awal dan menjual semua aset Yang di milikinya di London kepada William.
Sebagai gantinya, L membelikan rumah dan juga mobil di negara nya sendiri.
Perputaran kehidupan sungguh lah mengejutkan.
Siapa yang tau bagaimana masa depan seseorang?
Tapi kita tak bisa hanya berpegang pada saat ini, siapa yang akan tau juga, jika hari esok atau sehari setelahnya, semua tidak seperti yang kita harapkan.
Kadang takdir bisa begitu baik, namun bisa juga sangat kejam. Who knows ..
...❄️❄️...
Lova duduk di atas pondok sambil menjuntai kan kaki nya. Ia mengarahkan pandangan nya jauh ke depan untuk memperhatikan hamparan biru dan kemilaunya laut lepas.
Angin berhembus sepoi-sepoi menerpa wajahnya dan juga rambutnya yang terurai, sungguh ketengan yang sangat ia sukai sejak masih belia.
Tak ada yang menganggu diri nya dan tak ada juga kebisingan yang akan membuatnya kehilangan minat. Semua begitu sempurna dengan apa ada nya.
Disini, ditempat ini. Lova terbiasa menghabiskan waktunya. Ia memikirkan banyak hal, dan menangisi banyak hal di tempat ini.
Dan disini juga, tempat dimana ia selalu merindukan kekasihnya, Ken.
Sementara Lova larut dalam lamunan nya,
"L...? Kau diatas..?"
Lova tersadar dan berbalik dengan cepat saat mendengar seruan dari satu-satunya sahabat wanita Yang ia miliki, Shreya.
"Sea, kau datang? kemarilah, ulurkan tangan mu." Lova membantu Shreya untuk naik ke atas pondoknya seperti biasa.
Gadis itu memang selalu payah dalam hal memanjat. "Thanks L."
Setelah mereka sama-sama berada di atas, Shreya bergabung untuk duduk di sebelah Lova. "Kau sangat menyukai laut? Kau terlihat begitu menikmatinya. Begitu cantik dan juga luar biasa." Shreya juga mengarahkan pandangan nya mengikuti Lova.
Lova tersenyum sesaat, lalu menoleh menatap Shreya.
"Kau tau Sea. Laut begitu cantik jika kita hanya memandang nya seperti ini. Tapi di balik itu, ia menyimpan begitu banyak misteri di dalamnya. Laut bisa menjadi begitu indah, namun juga bisa begitu menakutkan. Sama seperti manusia bukan? Menurut ku, jika kita bisa mengenal laut dengan baik. maka kita juga bisa mengenal manusia dengan lebih baik. Perbandingan kedua nya terlihat sama."
Shreya tersenyum, sambil mengulurkan tangan nya untuk merasakan semilir angin yang berhembus, ia sangat setuju dengan apa yang di katakan oleh sahabatnya itu;
"Kau benar L.. Laut begitu penuh misteri, tak ada yang bisa menebaknya."
__ADS_1
Cukup lama keduanya hanya duduk terdiam menikmati keindahan laut seraya larut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Baiklah, sekarang Katakan pada ku, ada apa kau mencari ku sampai ke sini?" Lova buka suara, sambil menoleh kepada Shreya.
Mata gadis itu memancarkan sesuatu yang berbeda. Dan Wajah nya itu seolah sedang berusaha menampilkan sesuatu yang lain untuk menutupi sebuah kebenaran.
"Katakan pada ku Sea, apa ada sesuatu yang menganggu mu?" ulang Lova, dengan suara lembut. "Dengar, kau boleh cerita jika kau sudah siap. Aku tidak akan memaksa mu, maafkan aku." ralat Lova lagi.
Sebagai seorang sahabat, Lova akan berusaha untuk melakukan semua yang terbaik yang bisa ia lakukan untuk orang-orang yang di anggapnya begitu berharga. Termasuk Shreya.
Shreya menundukkan kepala dan membuang wajahnya menghindari tatapan Lova. Sesekali Sea bahkan menghembuskan nafasnya gusar.
Lova tak akan memaksa jika memang Sea tidak siap untuk mengatakan apapun kepadanya, Ia hanya akan duduk di sana, menemani sahabatnya hingga merasa lebih baik. Itu saja.
"L..- Sea membalas tatapan Lova dengan ragu, bahkan mulutnya berulang kali terbuka dan tertutup kembali. "Tidak apa-apa jika kau memang belum siap Sea, aku hanya akan berada disini dan menemani mu. Santai saja." Lova menunjukan senyum penuh pemakluman.
"Ini tentang papa ku L." Shreya membuka suaranya lagi. Ini adalah hal yang tak pernah ia bicarakan pada siapapun, tapi kali ini, ia hanya ingin memberanikan diri untuk berbagi masalah kepada satu-satu nya sahabat yang bisa ia percaya.
"Papa?" ulang Lova, dengan nada ragu.
Selama ini yang Lova ketahui tentang Shreya; bahwa Sea hanya tinggal bersama Damian dan Lea. Tidak ada satupun yang menceritakan papa dari Shreya. Tidak juga keluarga Shreya secara pribadi, bahkan Lova sangat yakin bahwa mereka tak pernah menyinggung tentang hal ini sedikit pun saat dalam pertemuan ramah tamah.
Begitu pula dengan Ken dan Leon. Karena itulah, Lova mengira bahwa Sea juga seorang yatim piatu seperti dirinya. Tapi ternyata Ia salah.
"Ya, L.. ini tentang papa ku. sudah 7 tahun kama nya sejak kami pergi meninggalkan Indonesia. Dan sejak itu juga, baik aku atau pun kak Damian tak pernah bicara atau mencari tahu kabar tentang papa." cerita Sea, sementara Lova mendengarkan dengan tenang.
"Beberapa waktu yang lalu, tanpa sengaja aku mendengar kak Damian bicara melalui telpon, dan kak Damian membicarakan papa, tapi saat itu, aku kira aku salah mengartikan pembicaraan kakak, jadi aku mengacuhkan nya.-
"Tapi kemarin, sekali lagi tanpa sengaja aku mendengarkan pembicaraan kak Damian dan Lea. Dari yang di bicarakan, aku menyimpulkan bahwa papa sedang tidak baik-baik saja saat ini, papa sakit. Dan papa ingin kak Damian kembali ke Indonesia bersama keluarga kecilnya, tapi tidak hanya itu,-
"Papa juga ingin menemui ku."-
"Bukan kah itu bagus Sea, lalu ada apa dengan wajahmu? seharusnya kau bahagia bukan?" Sela Lova.
"Ap.. " Lova membatalkan sanggahan nya, lalu terdiam sejenak, ia berusaha memahami cerita sahabatnya itu.
"Papa tak pernah mau mengakui ku sebagai putrinya L. Aku adalah orang asing baginya. Karena penolakan itulah kak Damian membawa ku pergi dan kami hanya hidup seorang diri."
Kata-kata Lova tertahan saat mendengar pengakuan Sea tentang kebenaran dirinya. Sahabatnya itu, sama tak beruntung nya dengan L. Meskipun situasinya berbeda, tapi mereka sama.
Keduanya sama-sama tak mendapatkan cinta dan kasih sayang yang seharusnya dari orang yang di harapkan.
"Saat itu, hati ku benar-benar hancur. Aku juga merasa bersalah pada kak Damian. Jika. bukan karena aku, kak Damian akan memiliki apa saja yang ia mau. Tapi kak Damian justru memilih untuk hidup bersama ku.-
"Selama tujuh tahun ini juga, kami bertahan hidup dengan kemampuan yang kami miliki, kami saling mendukung, dan berusaha sebaik mungkin untuk saling menyembuhkan Luka yang kami miliki. Terutama Kak Damian. Kakak berusaha begitu keras agar bisa membuatku mengembalikan harapan ku atas kehidupan, -
"Kami berusaha sebaik mungkin untuk melupakan masa lalu, dan terus melanjutkan hidup kami ke depan. Sebisa mungkin kami tak akan berpegang pada siapa kami di masa lalu. Tapi dengan bangga menyebut siapa kami saat ini.-
"Tapi sekarang? Saat mendengar apa yang terjadi pada papa, dan tentang apa permintaan papa pada kak Damian, jujur saja hati kecil ku merasa senang. Papa tak pernah membicarakan ku sama sekali, tapi kemarin dia menyebut nama ku, papa mengingatku L." Shreya berkata terbata-bata sambil menghapuskan air mata nya yang sudah mengalir.
Sebagai seorang pendengar, Lova hanya bisa memberikan pelukan menenangkan kepada Sea.
"Aku harus apa L..? Aku tidak mungkin melawan kak Damian, dan menentang keputusan nya. Tapi di sisi lain, aku sangat ini menemui papa. Aku ingin melihat wajahnya saat ini L, aku merindukan papa. Tapi aku harus bagaimana?" isak Shreya lagi.
Lova tak bisa menyangkal jika dirinya pun merasakan kesedihan yang Sea rasakan saat ini. Ia tak bisa memberikan solusi karena tak tau bagaimana semua itu bisa terjadi, dan menurut Lova itu juga adalah urusan keluarga dari sahabatnya.
Jika ia mendengar nya saat ini, itu hanya karena Shreya ingin berbagi perasaan nya saja. Tidak lebih.
"Menurutku kalian benar-benar harus bicara Sea. Kau dan Damian." usul Lova,
"Tapi sejauh ini, aku selalu berpura-pura tak mengetahui apapun L. Aku menunggu agar kak Damian mengajak ku bicara tentang papa. Tapi yang terjadi sebaliknya. Kak Damian tak menyinggung tentang papa sedikit pun,-
"Jika aku yang memulainya, maka kak Damian akan merasa dikhianati. Kak Damian begitu serius saat mengatakan bahwa kami tak boleh menyebut sedikit pun tentang papa dirumah itu." sahut Sea.
Shreya tidak lagi menangis. Hanya saja raut wajahnya masih begitu gelisah;
__ADS_1
"Sea, dengarkan aku!"
Lova memutar posisi duduk nya agar bisa melihat Shreya dengan benar. "Semua orang berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua, Sea. Termasuk Papa mu. karena itulah ku katakan, kalian harus bicara.-
"Jika di pikir-pikir lagi, kesempatan ini juga bukan hanya untuk papa mu Sea, tapi juga untuk mu.- Bukan kah kau mengatakan jika selama ini Uncle tak pernah menyebut nama mu, bukan kah itu suatu yang baik saat uncle membicarakan tentang mu, meskipun kau tidak mendengarnya secara lnagsung.-
"Itu artinya, bahwa Uncle tak pernah melupakan anak-anaknya termasuk dirimu Sea. Menurutku Uncle hanya ingin meminta kesempatan kedua, dan menurutku kau harus berani mengambil tanggung jawab ini. Jangan sampai membuat mu menyesal setelah nya. Kesempatan tak datang berulang kali Sea, dan ku pikir inilah kesempatan mu."
"Bicaralah pada Damian. Aku rasa Damian akan mengerti jika mau mengatakan yang sebenar nya tentang perasaan mu."
Lova tak tahu apakah yang ia katakan ini sudah benar atau kah justru sebaliknya akan membuat Sea bertambah sedih nanti nya. Hanya saja, hati kecilnya mengatakan hal yang lain, karena itulah Lova mengatakan jika Sea harus berani untuk membuat keputusan.
"Kau bisa memikirkan dahulu bagaimana tentang saran ku Sea. Apapun yang nanti nya kau putuskan, aku akan tetap mendukung mu, dan akan selalu ada disisi mu sebagai seorang sahabat." tambah Lova, meyakinkan Shreya.
Shreya terlihat memikirkan apa yang L katakan sebelum nya. Raut wajah gadis itu berubah-ubah dengan begitu polosnya. Terkadang ia merengut, tapi sesaat kemudian seperti mendapatkan sebuah Inspirasi.
"Baiklah L. Aku akan memikirkan apa yang kau katakan. Aku akan coba bicara pada kak Damian." putus Shreya.
"Hmmm. Aku akan ada disini untuk mendukung mu Sea."
...❄️❄️...
...Sementara itu.....
Keluarga Wijaya Yang baru saja tiba di Airport, masih begitu sibuk mengurus begitu banyak barang bawaan mereka.
"Sayang, pergilah lebih dulu ke mobil bersama Dad. Seperti nya Z'ev sangat mengantuk. Aku dan Ken akan mengurus semua ini." perintah Zen.
Karena usul dari anak-anak nya, Rehan batal membawa beberapa asisten nya, teruma Ken, putra nya itu sangat menolak dengan tegas untuk membawa begitu banyak orang.
"Ayolah Dad, ini sebuah lamaran, bukan pernikahan!" Begitulah protes putranya seingat Rehan.
"Kalian benar-benar bisa mengurusnya kan? pastikan tidak ada yang rusak dan tidak ada yang tertinggal Son!" Rehan tersenyum mengejek, sambil mendorong kereta cucu nya.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berkumpul di dalam mobil dan segera berangkat menuju ke rumah Yang sudah Lama tak mereka kunjungi.
Tak perlu waktu Lama, hanya dalam hitungan jam saja, berita kedatangan keluarga Wijaya sudah tersebar dengan cepat.
Semua tetangga dan juga teman dekat sangat bersemangat menyambut mereka, khususnya Zen dan Zoya, serta bayi kecil yang sudah mereka tunggu-tunggu selama ini, Zevier Earl Aiden. Mereka sungguh tak sabar.
Begitu mobil terparkir di depan rumah, satu per satu tetangga menghampiri hanya untuk mengucapkan "selamat datang" kepada mereka.
"Hei Zen,- Sapa Cassian yang juga meninggalkan kantor untuk melihat langsung berita tentang kedatangan keluarga Wijaya. "Senang melihat mu kembali bung.." Sapa Cassian mengulurkan tangan nya.
"Terima kasih Cass. Kami juga datang untuk mu." Zen nyambut uluran tangan Cassian dengan hangat, sambil tersenyum penuh arti.
"Untuk ku..?" ulang Cassian tak mengerti. "Ya, tentu. untuk mu." sahut Zen.
"Mau masuk? Zoya sedang bersama putra kami." ajak Zen, sambil menurun kan koper-koper dari bagasi.
"Nanti saja, aku akan membantu menurunkan ini saja. Kami akan berkunjung nanti." sahut Cassian lagi.
...Beberapa saat.....
"Baiklah, kalau begitu aku permisi kembali ke kantor, sampaikan salam ku untuk Zoya dan bayi kecil kalian," pamit Cassian.
"Baiklah. Terima kasih atas bantuan mu Cass, kami akan berkunjung kerumah mu besok bersama keluarga kami, jadi tolong bersiaplah Cass." balas Zen cepat.
"Ya. sampai bertemu lagi."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1