
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
Zen dan Zoya sedang menghabiskan waktu bersama-sama diruang tamu setelah menyelesaikan semua pekerjaan mereka masing-masing; "Sayang, coba tebak apa yang sedang ku pikirkan saat ini?" ujar Zen disela-sela kegiatannya yang hanya memilin-milin jari-jari tangan Zoya.
"pekerjaan!" Jawab Zoya sekena nya saja. "Hmm. Bukan. Lagi..." ucap Zen.
Mengetahui jawabannya masih belum tepat, mau tak mau membuat Zoya lebih memikirkan lagi kira-kira apa yang sedang di pikirkan suaminya saat ini.
"Apa ini ada hubungan nya dengan kita kak?" Tanya Zoya, mencari clue dari pertanyaan Zen.
"Hmm. Segala sesuatu yang aku pikirkan tentu saja berhubungan dengan kita. Kau dan Aku." jawab Zen dengan sebenarnya. Meskipun sesungguhnya, Zen hanya ingin mengetahui apa yang Zoya inginkan, ia tak benar-benar memikirkan apa yang saat ini ia tanyakan. Hanya saja, Zen ingin tau apakah istrinya itu akan memikirkan tentang hubungan mereka, selain urusan pekerjaan.
"Kau dan aku; apa mungkin kakak sedang memikirkan bulan madu?"
"Benar sekali! Kau juga memikirkan itu sayang?" ucap Zen secara berlebihan.
"Hmm. Sebenarnya, aku sempat memikirkan itu, tapi karena kita sedang dalam situasi disibukan pekerjaan masing-masing, jadi aku sempat melupakan nya." terang Zoya.
"Saat itu Kau memikirkan kita bulan madu kemana?" tanya Zen lagi, mengabaikan fakta yang Zoya ucapkan sebelumnya.
"Aku memikirkan kita bulan madu ke sebuah pulau. Aku membayangkan kita akan menghabiskan waktu di sana berdua. Tidak lama, mungkin selama satu minggu. Aku ingin mengelilingi beberapa kota di sana, ada tempat-tempat yang sebenarnya sangat ingin ku kunjungi bersama mu."
"Luar biasa. Aku juga memikirkan sebuah pulau.- Zen mengangguk-anggukan kepalanya, seolah-olah takjub dengan jawaban istrinya. "Kau tau sayang, aku juga memikirkan tempat yang sama, seperti yang kau pikirkan. Ternyata kita memang sehati." ujar Zen dengan wajah berbinar.
"Benarkah?" ucap Zoya, tak percaya. "Apa kakak benar-benar memikirkan ini? karena itukah kakak bertanya, atau.. ?"
Zen sempat tertawa kecil mendengar nada meragukan dalam perkataan istrinya. Wanita itu memang tak akan percaya begitu saja, karena memang sebenarnya Zen hanya memberikan umpan melalui pertanyaan pada istrinya untuk membiarkan Zoya mengatakan apa yang sedang ia pikirkan.
Karena Istrinya itu telah mengatakan keinginannya, maka sekarang giliran Zen lah untuk mewujudkan keinginan tersebut.
"Sungguh. Aku juga memikirkan itu.,- ucap Zen, Sekali lagi meyakinkan Zoya. "Sekarang, coba kau tebak tempat pertama yang akan kita kunjungi? aku bahkan sudah memikirkan nya, dan aku yakin tempat yang kita pikirkan pasti sama." pancing Zen lagi.
"No way! Kakak pasti bercanda!" Lagi-lagi Zoya tak percaya, apakah ini hanya sebuah kebetulan, atau mereka memang memikirkan hal yang sama. Tapi feeling Zoya mengatakan bahwa kata-kata Zen lebih mirip seperti sebuah jebakan.
"Aku serius sayang. Apa kau ingin membuktikan nya?" kata Zen lagi, sambil memikirkan cara untuk meyakinkan istrinya itu. Zen sudah terlanjur memulai permainan nya, tidak mungkin ia membuat permainan nya berantakan begitu saja.
"Bagaimana caranya?" tanya Zoya, wanita itu kini sedang serius menanggapi sebuah kebetulan tersebut.
"Hmm. Bagaimana kalau kita mengatakan secara bersamaan tempat yang sedang kita pikirkan, dengan begitu kau akan tau, bahwa aku bersungguh-sungguh dengan ucapan ku." kata Zen lagi.
Setelah memikirkan apa yang di katakan suaminya, Zoya menyetujui hal tersebut. "Baiklah." katanya.
"Kalau begitu dalam hitungan ketiga, kita akan sama-sama mengatakan 'tempat' nya, bagaimana?"
"Hmm. Terserah kakak saja."
__ADS_1
Sekarang, sekali lagi Zen memerlukan sedikit keberuntungan. Sebenarnya ia sangat membutuhkan sebuah magic, mungkin.
" 1,
" 2,
" 3,
"Maldives,-
"Maldives,- kata Zen, mengikuti Zoya.
Antara senang sekaligus tak percaya, atas hal tersebut, Zoya hanya bisa memekik dan memeluk suaminya.
Apa yang ia rencanakan, ternyata sama dengan apa yang dipikirkan Zen. Zen membalas pelukan Zoya sama antusias dan bahagianya. Kali ini ia benar-benar mendapatkan sebuah keberuntungan.
"Terima kasih kak, benarkah kita akan pergi, sungguh?" sekali lagi Zoya bertanya sambil melonjak bahagia.
"Hmm. Kita akan pergi lusa, aku sudah mempersiapkan semuanya, jadi yang perlu kau lakukan hanyalah membereskan sisa pekerjaanmu yang belum selesai." kata Zen, mengecup bibir Zoya sekilas.
"Tunggu dulu! Bukan kah kakak sibuk? bagaimana dengan pekerjaan? bagaimana dengan perusahaan?" Raut wajah Zoya berubah seketika.
"Tak perlu memikirkan itu. Aku sudah mengatasinya. Pikirkan saja, betapa menyenangkan nya perjalanan kita nanti." kata Zen, membuat Zoya semakin yakin.
"Hmm. Baiklah.. Kalau begitu aku akan membereskan pekerjaan ku. Tolong jangan ganggu aku!" ucap Zoya sambil mengacungkan jarinya memperingati, ia sedang bersungguh-sungguh ingin segera menyelesaikan semua pekerjaan nya.
"Ya.. ya.. baiklah. Aku tidak akan mengganggumu sayang. Tapi, berikan dulu ciuman untuk ku.." pinta Zen, menunjukan wajah manjanya.
"Hmm. Aku akan tetap disini, tidak akan mengganggumu." kata Zen menyepakati hal tersebut.
Melihat wajah bahagia istrinya, membuat Zen merasa senang sekaligus bangga pada dirinya. Ia akan berusaha sebaik mungkin untuk terus membuat wajah itu tetap tersenyum bahagia seperti saat ini.
...Sementara itu,.....
"Ken, apa kau sudah siap sayang? cepatlah turun untuk sarapan." teriak Julie dari lantai dasar rumahnya.
Seperti hari-hari nya biasa. Setiap pagi, Julie selalu berada di wilayah kekuasaannya. Dapur.
Hari ini, adalah hari pertama Ken, sebagai seorang murid senior high school, dan Julie lah orang yang sangat antusias dengan hal tersebut.
"Hai, Mom.. morning." sapa Ken saat sudah turun dari tangga.
"Stop di sana!" perintah Julie pada putranya, yang langsung di turuti oleh Ken.
Julie memandangi penampilan baru putranya dengan wajah berbinar, ia memperhatikan dari atas sampai bawah, begitupun sebaliknya. "Hmm. Anak mommy, sudah besar dan tampan." ucap Julie merasa gemas dan kagum pada putra nya sendiri.
"Mom...!"
"Apa? apa mommy tidak boleh merasa kagum pada putra mom sendiri?" ucap Julie sambil mendelik.
"Ayolah mom, aku memang tampan dari lahir. Ini adalah fakta yang mutlak." kata Ken dengan percaya diri.
"Kau benar Son, kau memang mendapatkan Gen yang sempurna." Rehan melakukan tos dengan Ken, ia setuju akan hal tersebut.
__ADS_1
"Hiss.. ayah dan anak sama saja." ucap Julie, mengabaikan keduanya. "Jangan membuat gadis-gadis patah hati dihari pertama mu Son!" nasihat Rehan pada putranya.
"Aku tidak tertarik pada hal seperti itu Dad. Jika mereka terpesona, maka jangan salahkan aku karena secara tak langsung aku akan mematahkan hati mereka." ucapnya tak peduli.
"Jangan terlalu kejam sayang. Itu tidak baik, setidaknya kau harus tersenyum, dan mengatakan maaf." tambah Julie, selaku seorang wanita yang memiliki begitu banyak sikap kebaikan hati.
"Baiklah mom, Tapi aku tak bisa janji akan bersikap manis."
"Ya.. ya.. sebaiknya cepat selesaikan sarapan mu saja." tambah Julie lagi.
"Boo, apa kau sudah mendapatkan kabar dari Zen dan Zoya? apa mereka mengatakan kapan mereka akan kembali?" Julie mengalihkan topik.
"Mereka belum menghubungi secara langsung sayang, nanya saja Angel mengirimkan email, jika mereka akan melakukan perjalanan bulan madu." jawab Rehan.
"Bulan madu? apa putri kita mengatakan mereka akan pergi kemana?" tanya Julie antusias.
"Angel bilang, itu... rahasia. " hal menyebalkan yang Rehan dengar. Jika ingin pergi, setidaknya mereka mengatakan tujuan nya.
"Benarkah? hmm. Itu terdengar mendebarkan. Aku harap mereka menikmati perjalanan mereka." doa Julie, memikirkan putra dan putrinya.
"Ya. Aku harap juga begitu, Moo!"
"Apa kalian tak ingin pergi berbulan madu lagi, Mom, Dad..?" kata Ken, mengusulkan.
"Huh! Apa kau ingin membuat mom dan Dad pergi jauh, dan membiarkan mu melewati masa-masa awal mu sebagai murid senior?" Julie memicingkan matanya.
"Ha.. Ha.. Aku? Tidak. Lupakan saja." kata Ken lagi.
Julie dan Rehan hanya bisa saling memandang dengan diam.
...❄️❄️❄️...
Sesampainya disekolah Ken yang baru, ia memasuki Aula untuk mengikuti masa perkenalan lingkungan sekolah dan juga berbagai hal yang dianggap perlu sebagai seorang murid tahun pertama.
"Psssttt... Hei, kau yang di sana. Aku Leon. Salam kenal." bisik seorang remaja yang seumuran dengan Ken. Ken hanya menoleh sesaat untuk menganggukkan kepalanya, lalu kembali memperhatikan apa yang sedang di bicarakan oleh kepala sekolah di atas podium.
"Psssttt..,- Leon kembali memulai percakapan dengan Ken. Lagi-lagi Ken hanya menoleh, malas menanggapi.
Sama sekali tak berniat untuk berbincang-bincang, Ken hanya memberikan isyarat.
"Kau lihat gadis yang disana!-- Leon memberikan isyarat. "Yang rambutnya di kuncir dengan pita pink. Nama nya Viona, gadis populer, yang saat ini sebagai target incaran ku. Hanya ingin kau tau!" bisik nya lagi, sambil tersenyum percaya diri.
Ken, hanya mendelik tak peduli. Lagi pula bukan urusan nya tentang apa yang ingin Leon ataupun gadis itu lakukan. Ken hanya ingin segera menyelesaikan kegiatan di aula tersebut, dan memulai semua jadwal pelajarannya. Ia sudah tak sabar.
Pelajaran lah yang ia pedulikan.
Bukan tentang mengejar seorang gadis yang selalu suka menjadi pusat perhatian dan bersikap polos, atau kecentilan. No!
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1