My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
PENYELESAIAN (2)


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


"Ini bukan tentang mimpiku! semua orang punya mimpi, tapi bukan itu masalahnya kak." tegas Zoya.


"Kalau begitu apa Zo'e? kau tidak pernah mengatakan apa yang kau inginkan dan apa yang tidak kau inginkan. Apa yang kau suka, apa yang tidak kau suka, kau tidak pernah mengatakannya, jadi apa kalau begitu?"


Zen nyaris saja membentak Zoya, jika saja ia tidak melihat air mata yang menggenang di pelupuk mata gadis itu.


"Katakan pada ku Zo'e, katakan apa yang kau inginkan? hem? karena aku tidak akan pernah bisa melepaskan mu." Ucap Zen memohon.


"Kalau begitu, Jangan!" Zoya menatap pada Zen. Mata cemerlang milik Zoya sekali lagi memerangkap jauh ke dalam hati Zen, mengikat dengan kuat, bahkan jauh lebih kuat dari sebelumnya, nyaris membuat Zen di dera kebingungan dan juga rasa tak percaya. Sekuat itukah Zoya mempengaruhi dirinya? hati Zen langsung tunduk pada kata-kata itu.


"Jangan lepaskan aku untuk alasan apapun, hanya itu yang perlu kakak lakukan." Tambah Zoya masih menatap dengan pandangan yang selalu Zen artikan sebagai cinta.


Apakah itu cinta? benarkah?."Lantas kenapa kau pergi? kenapa kau pergi jika kau sendiri menginginkan hal yang sama, kau menginginkan ku Zo'e, benarkan?,- lirih Zen.


"Apa kau ingin menyiksa ku, Kau tau aku tak bisa hidup tampa mu, karena itu kau menghukum ku seperti ini? Apa setelah kau melakukan ini membuatmu merasa lebih baik, begitukah?" tanya Zen lebih menuntut lagi.


Dari perkataan Zoya, setidaknya Zen tau semua ini belum berakhir, sekali lagi masih ada harapan untuknya.


"Apa kau mencintaiku Zo'e?" tanya Zen, lebih lembut dari sebelumnya. Zen harus memastikan apa yang benar-benar Zoya inginkan untuk dirinya, untuk hubungan mereka. Apakah Zoya tetap ingin bersama Zen, ataukah Zen yang harus berbesar hati untuk membebaskan Zoya dari benang merah yang mengikat mereka?


Zen tak ingin memaksakan cintanya pada Zoya. Zen tidak ingin Zoya merasa terpaksa untuk bersama dirinya, Zen tidak menginginkan cinta yang seperti itu, untuk itu Zoya harus mengatakan semuanya pada Zen, meskipun dengan sedikit paksaan.


"Aku mencintaimu kak." jawab Zoya.


Tak ada keraguan sedikitpun dalam pernyataan nya, dan Zen dapat merasakan semua kebenaran itu. Perasaan Zoya, ketulusan Zoya, kesungguhan gadis itu menyentuh tepat pada garis kelembutan hati Zen.


"Aku menginginkanmu sebesar kau menginginkan ku,- ungkapnya.


"Dan kenapa aku pergi? Aku pergi agar kau tau apa yang sebenarnya kau inginkan. Aku pun sama,- ucap Zoya, mengalihkan pandangan nya. Zen dapat melihat kegetiran di wajah kekasihnya.


"Aku akan melepaskan mu jika itu yang kau inginkan." tambah Zoya dengan susah payah mengungkapkan apa yang ia pikirkan selama ini. Zoya sama seperti Zen.


Jika Zen memang tak bisa bersamanya, Ia harus apa? Zoya hanyalah wanita biasa. Wanita yang perasaan nya ingin di hargai dan hanya menginginkan kejujuran.


Zoya hanya ingin perasaan tulus dari Zen, perasaan yang benar-benar Zen berikan untuk dirinya seorang.


"Tidak sayang, Jangan katakan itu! Aku tidak pernah ingin melepaskan mu, tidak, walaupun hanya untuk sedetik." Zen memeluk Zoya erat. Zen tidak bisa menahan nya lagi.


Ia terlalu merindukan Zoya. Ia mencintai wanita yang ada di hadapannya ini. Wanita yang bisa dengan mudah memerangkap dan memenjarakan jiwanya dalam keistimewaan yang tidak bisa Zen jelaskan.


"Kalau begitu, kau harus menjagaku lebih baik." Zoya membalas pelukan Zen, dan Zen mengangguk menyetujui perkataan Zoya. Tampa dimintapun Zen memang akan melakukan itu..


Zoya adalah miliknya. Selamanya.


"Jangan marah padaku." Zen mengernyit, "Kau memikirkan itu?"


"Hem. Kau sangat menakutkan saat marah." aku nya pada Zen. Zen meringis dalam hati mendengar pernyataan tersebut. Taukah Zoya bahwa kaum wanitalah yang sangat menakutkan saat sedang marah, pikir Zen.

__ADS_1


"Baiklah. Aku tidak akan marah padamu sayang." Zen mencium pucuk kepala Zoya. "Meskipun aku marah pada kakak?"


"Hem. Meskipun kau marah padaku."


"Jangan membentak ku. Aku tidak suka." katanya lagi, dengan suara merajuk nan manja. "Tidak akan. Aku janji." jawab Zen cepat.


"Kurangi sikap romantisme mu yang terlalu berlebihan!" alias cemburuan, tambah Zoya.


"Tapi itu memang sifat ku gadis kecil!"


"Jangan menduakan ku lagi,-


"Aku berjan,- heh..? aku..? Kapan?" tanya Zen keberatan dengan pernyataan tersebut.


"Pokoknya berjanjilah!" Zoya memberengut pada Zen.


"Baiklah. Tidak akan." janjinya,- "Aku tidak pernah menduakan mu sayang!" tambah Zen bersikeras.


"Aku tau. Tapi apa saja bisa terjadi jika kakak terlambat menyadarinya." jawab Zoya memicingkan mata pada Zen, oh, tanda peringatan- Zen baru menyadarinya, Sorot mata Zoya mengingatkan Zen pada Rehan, sorot mata yang sama menakutkan nya dengan milik Dady.


"Baiklah." kata Zen kembali memeluk Zoya.


"Ada lagi, katakan saja semuanya, aku akan melakukan apa saja yang kau minta."


"Benarkah?"


"Hem. Aku janji, dan aku akan menepatinya." ucap Zen mengacungkan kelingkingnya.


"Promise?"


"Promise."


"Berikan tanganmu!" kata Zen dengan suara panik, lalu cepat-cepat mengangkat tangan Zoya, terlihat darah masih mengalir dari tangan Zoya, menodai pakaian nya dan juga pakaian Zen. Buru-buru Zen mengambil tisu dan menutup bekas jarum infus tersebut . "Apakah sakit?" tanya Zen yang memegang tangan Zoya.


"Maaf, aku tidak sengaja melepasnya." Zoya meringis, Zen segera menekan tombol untuk memanggil perawat.


Setelah tangan Zoya di bersihkan, Zen langsung mengurus administrasi kepulangan Zoya. Kekasihnya itu bersikeras untuk kembali kerumah. Sementara Zen mengurus administrasi, Zoya pergi untuk mengganti pakaiannya.


"Zoya...?" seseorang baru masuk ke dalam ruangan dan Zoya kenal suara itu, Cassian.


"Tunggu, aku akan selesai sebentar lagi." kata Zoya dari dalam ruang gantinya.


"Hei, kau disini?" Sapa Zoya, saat melihat wajah Cassian. Laki-laki itu terlihat sedikit berantakan, dan panik.


"Kau baik-baik saja? apa yang terjadi? apa kau terluka? apa masih ada yang sakit?" Cassian mencecar Zoya dengan pertanyaan-pertanyaan nya. Ada ketegangan di sana, Laki-laki itu jelas khawatir.


"Aku baik-baik saja, Ya.. setidaknya lebih baik dari sebelumnya." jawab Zoya, sambil tersenyum.


Cassian pun menghela nafas, ia merasa lega mendengarnya, "Maafkan aku Zoya, seharusnya aku tidak meninggalkan mu, atau seharusnya aku datang lebih cepat..


"Aku sangat takut saat penjaga gedung mengatakan kau pingsan, dan aku bahkan tidak tau dimana keberadaan mu." ocehnya lagi.


"Maaf karena sudah membuatmu khawatir Cass, dan terima kasih." Zoya berujar lembut.


"Syukurlah kalau kau sudah baik-baik saja. Sekarang kau mau kemana dengan pakaian itu? apa kau sudah di perbolehkan pulang?"


"Aku harus pulang Cass, konser ku akan berlangsung besok, kalau kau lupa.." Zoya mengingatkan Cassian, ia merapikan barang-barang yang sudah Zen bawakan sebelumnya.

__ADS_1


"Jangan terlalu keras pada dirimu Zoya, kau bukan robot, kau harus istirahat." cegah Cassian.


"Aku sungguh baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir, aku tau sampai dimana batasan ku." Jawab Zoya.


"Akan ku bantu." kata Cassian merapikan beberapa barang bawaan lainnya.


Keduanya teralihkan saat pintu kamar kembali terbuka, Zen berdiri di sana dengan map di tangannya. "Kau sudah siap?" katanya berjalan melalui Cassian.


"Hem. Aku sudah siap." jawab Zoya. "Kak, kenalkan.. ini Cassian. Dia salah satu mahasiswa berbakat di RKH, dia juga membantuku untuk banyak hal,- Zoya memperkenalkan keduanya.


"Kau sudah bekerja keras." kata Zen mengulurkan tangannya.


"Lebih tepatnya di bayar untuk bekerja keras, Sir.." Cassian menyambut tangan Zen. "Cassian, kau bisa kembali. Siapkan juga dirimu, sampai bertemu besok pagi." kata Zoya.


"Baiklah Zoya, sampai bertemu besok." jawabnya mempertahankan kesopanan, sampai Zoya dan Zen berlalu keluar dari kamar.


"Aku suka kau yang seperti ini kak." bisik Zoya, melihat ketenangan Zen. "Aku tidak perlu khawatir padanya Zo'e."


"Karna dia seorang mahasiswa?"


Zen menggelengkan kepalanya, "Hmm. Bukan itu.- sebaliknya, kau yang perlu khawatir saat dia berada di antara kita." bisik Zen disertai senyuman penuh misteri.


"Aku? kenapa?"


"Kau akan tau sendiri."


Setelah melalui perjalanan yang cukup sulit, karena jalanan yang membeku dan perlu menunggu petugas kebersihan membersihkan jalanan akibat permukaan nya yang tertutup salju, akhirnya mobil Zen sampai di depan apartment Zoya.


"Kau tau aku tinggal disini kak?"


"Tidak sulit untuk menemukan alamatmu Zo'e." jawab Zen, bangga atas dirinya, sementara Zoya hanya tersenyum menyetujui hal itu. Zen memang bisa melakukan apa saja, bahkan yang tidak Zoya pikirkan.


"Masuklah, diluar terlalu dingin." Zen membimbing Zoya dan menyalakan perapian untuk menghangatkan ruangan. "Istirahatlah dulu, aku akan membuat makan malam." kata Zen seraya merapikan barang-barang yang ia bawa sebelumnya, dan Zoya menuruti Zen.


Zoya merindukan perhatian dan juga kasih sayang Zen seperti saat ini, karena itu, ia tak akan menolak saat Zen memanjakan nya.


Cukup lama Zoya merebahkan dirinya, sementara mengawasi Zen yang berlalu lalang dari dapur menuju meja makan. Meskipun sudah berusaha memejamkan mata, Zoya tidak bisa kembali tidur, mungkin karena ia sudah terlalu lama tidur sebelumnya.


Zoya berdiri tak jauh dari meja makan memperhatikan tubuh atletis yang sedang mengenakan *a*ppron sambil memainkan peralatan memasaknya, di dapurnya, oh God melihat Zen yang seperti ini sangatlah **** dan mempesona, "Ada yang bisa ku bantu?" tawar Zoya, menginterupsi Zen dari kegiatannya.


"Kenapa disini? kau harus istirahat sayang." Zen menghampiri Zoya sesaat dan mengecup keningnya. Tubuh Zen beraroma rempah bercampur wangi masakan.


"Aku ingin disini." jawab Zoya, tersenyum begitu manis. Membuat Zen tidak tahan untuk mencicipinya. "Jangan tersenyum seperti ini pada pria lain." Zen mengakhiri ciumannya lalu kembali ke kompor nya yang masih menyala. "Duduklah, sebentar lagi semuanya akan siap." perintah Zen.


"Siap bos." jawab Zoya cepat.


Setelah selesai makan malam, dan membersihkan diri, keduanya kini sudah berbaring di atas tempat tidur, saling berpelukan untuk menghangatkan satu sama lain, "Sayang, menikahlah denganku." ucap Zen lembut. "Hmm. Baiklah." jawab Zoya pelan, Zoya terbuai kenyamanan tangan Zen yang memainkan rambutnya dengan lembut.


"Kau sudah menyetujuinya, sebaiknya kau tepati." tambah Zen. "Berapa kali pun kakak minta, jawaban ku akan selalu sama."


"Aku mencintaimu,-


"Aku juga.."


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2