My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
WARM HUG


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


Tiga belas hari sudah berlalu setelah kata perpisahan yang Wiliam ucapkan pada Zoya.


Semuanya baik-baik saja.


Tidak ada sedikitpun yang berubah, kecuali keberadaan seseorang yang tiba-tiba muncul kemudian menghilang.


Zoya melakukan pekerjaan nya seperti biasa.


Setiap dijadwalkan pergi ke kontruksi, Zoya akan ada di sana tepat waktu. Begitu juga dengan pertemuan-pertemuan lainnya.


Sejauh ini, Dina menjadi rekan kerja yang cocok untuk Zoya. Wanita itu tidak banyak bertanya, namun melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.


Begitu juga dengan Fredy. Setelah kepergian William, Fredy menjadi lebih terlihat santai dalam melakukan pekerjaannya. Terkadang hal itu menjadi sebuah pertanyaan dalam benak Zoya, namun ia hanya bisa mengabaikan saja, toh ia tidak membutuhkan jawaban atas pertanyaan nya itu.


Selama berada di Bali, Zoya mendapatkan banyak hal berharga yang dapat ia pelajari.


Salah satunya, menjaga hubungan dan komunikasi agar tetap baik, saat jarak lah yang menjadi alasan dari semuanya.


Seperti ia menjaga hubungan dan komunikasinya dengan Mommy serta Daddy-nya. Terkadang, disaat Zoya benar-benar lelah dengan pekerjaan dan dirinya sendiri, salah satu yang dapat membuatnya bersemangat lagi adalah celotehan mommy dan Dady nya. Meskipun hanya via suara dan panggilan video, namun bagi Zoya, semua itu sangat berarti.


Hmmm.


Dan hal lain yang membuat Zoya selalu merasa ia akan baik-baik saja adalah Zen. Ya. Kekasihnya itu tak pernah melewatkan sehari pun tampa menghubungi Zoya.


Ada begitu banyak hal yang selalu Zoya ceritakan setiap harinya pada Zen, baik hal-hal sepele maupun hal penting lainnya.


Entahlah, apa itu karena ia merasa kesepian di sana sendirian tanpa orang-orang yang ia sayangi di sampingnya, memberinya pelukan disaat ia membutuhkan, ataukah.. Karena Zen memang membuat Zoya terbiasa menceritakan apa saja tentang dirinya, dan apa saja yang terjadi pada hari itu.


Saat Zoya merasa, Ahhh.. semuanya tampak asing dan melelahkan, Saat itu juga Zen memberinya alasan untuk tetap bertahan.

__ADS_1


Apakah karena ini semua wanita membutuhkan seorang kekasih dalam hidupnya? Entahlah. Apapun itu zoya merasa bersyukur memiliki Zen, mommy, dady bahkan Ken dalam hidupnya, mereka orang terhebat bagi Zoya.


Ah. Satu lagi yang belum diceritakan. Beberapa hari yang lalu, Zoya mendapatkan panggilan Video Call dari rekan kerja sekaligus temannya, Jordan.


Taukah kalian apa yang membuat Zoya sangat senang dengan panggilan telpon yang Jordan lakukan..?


Akhirnya Jordan mendapatkan wanita yang ingin ia kencani. Satu minggu setelah Zoya pergi, yang artinya kurang lebih 4 atau 5 hari yang lalu, mereka secara resmi berkencan, dan yang membuat Zoya cukup kaget adalah, mengetahui siapa wanita yang Jordan kencani, atau kata lainnya yang membuat Jordan jatuh hati.


Aku akan menceritakannya untuk kalian. Singkatnya, wanita itu, ya aku akan menyebutnya wanita, karena secara usia, berbeda 2 tahun di atas Zoya, yang juga adalah salah satu siswi tingkat akhir di universitas yang sama dengan tempat Zoya bekerja, atau lebih tepatnya, wanita itu adalah mahasiswi tingkat akhir dengan jurusan yang sama seperti yang Jordan ajarkan, hanya saja Jordan belum pernah satu kelas dengannya.


Yang artinya, mereka bertemu dengan cara yang lain, yang menurut Zoya sungguh sebuah waktu dan tempat yang tepat. Jordan adalah salah satu dosen pembimbing untuk skripsinya, lucu bukan? dan dari sanalah mereka memulai semuanya, hingga akhirnya beberapa hari yang lalu Jordan mengatakan wanita itu juga membalas perasaan Jordan.


Waw.. menurut Zoya itu sungguh menggemaskan. Dosen jatuh cinta pada mahasiswi yang ia bimbing.


Mendengar cerita Jordan, terkadang ada segelintir pertanyaan konyol dalam benak Zoya. Mungkinkah Jordan benar-benar membimbingnya untuk skripsi, ataukah mengajarkannya yang lain, contohnya.. ya Jordan adalah seorang perayu ulung yang sangat blak-blakan. Setau Zoya.


Baiklah-baiklah. Cukup disini cerita tentang keseharian yang Zoya lewati selama dua minggu terakhir di Bali. Masih banyak hal lain yang harus Zoya lakukan, dan pikirkan. Salah satunya seperti..


...Tok..Tok.....


suara ketukan dikamar Zoya menyadarkan gadis itu dari lamunannya. "Kenapa bi, apa sudah saatnya makan malam?'' tanya Zoya yang bisa tau, siapa lagi yang akan mengetuk pintu kamarnya kalau bukan bi Retno. Karena tidak ada orang lain di Villanya saat ini. Fredy sedang mengantarkan Dina ke bandara, untuk kembali lebih dulu ke jakarta. Semenjak perjalanan singkat malam itu, Zoya bisa melihat kalau Dina dan Fredy menjadi lebih dekat.


...Tok..Tok.....


Zoya terpana dengan apa yang dilihatnya di depan pintu. Sosok yang sangat ia rindukan. Lelaki yang sudah lama tak ia temui, dan yang selalu menemani dalam kesehariannya via suara.


"Kak.. Kak Zen, ap, apa,


Zoya tak bisa menahan dirinya lagi. Gadis itu menghambur dalam pelukan Zen. Ia bahagia. Wajahnya memanas, ia ingin menangis. Dadanya berdegup cepat, perasaanya menghangat, Sedikit mual namun ia sangat-sangat bahagia.


''Aku merindukanmu sayang.'' lirih Zen membalas erat pelukan Zoya. Mendorong agar keduanya masuk ke dalam kamar dan menutupnya dengan kaki Zen.


''Aku juga merindukanmu kak.'' Zoya melepaskan semua kerinduan yang selama ini membuncah dalam dadanya. ia ingin menangis dan meluapkan semua perasaanya, namun ia tak bisa berkata apa-apa, hanya tubuhnya yang beraksi akan kehangatan pelukan Zen.


Zen melepaskan pelukannya, kedua tangannya memegang wajah Zoya, menatapnya sayang dengan binar kerinduan yang tak kalah membuncah seperti yang Zoya rasakan.


''Biar ku lihat sebentar.'' ucapnya mengamati wajah Zoya sambil tersenyum bahagia. ''Aku benar-benar merindukanmu sayang, selama ini aku sudah menahan nya.'' ucap Zen lalu menyatukan bibir keduanya.


Ini adalah waktu yang tepat untuk melepaskan semua yang ia tahan selama ini.

__ADS_1


Taukah kalian betapa tersiksanya merindukan seseorang yang kalian cintai, hanya karena adanya jarak.


Zen selalu merasakan itu setiap hari, setiap jam, menit, dan detik. Semuanya nya ia simpan rapat-rapat hingga tak dapat ia tahan lagi. Karena itulah ia berada disini saat ini, tanpa seorangpun yang tau. Ia berlari dan pergi menuju airport untuk menjumpai kekasih hatinya. Wanita yang sangat ia cintai.


Zen tak bisa menahan nya lagi, cukup sudah ia menyimpan semuanya sendiri, ia harus melepaskan semua kerinduan yang meluap-luap dalam dirinya, hanya untuk gadis yang ada di hadapannya saat ini.


Semakin lama, ciuman Zen semakin lembut namun menuntut. Zoya merasakan hal yang sama untuk laki-laki itu. Perasaannya memang benar adanya, hanya untuk Zen nya seorang. Namun saat Zen ingin melewati garis yang sudah Zoya tetapkan, gadis itu belum bisa mengijinkannya.


''Kak,, tunggu,-


Zoya mendorong pelan Zen membuat jarak yang sebenarnya tak berarti apa-apa bagi keduanya.


Zoya mengatur nafasnya, sama juga dengan Zen. Ciuman itu, adalah ciuman yang luar biasa yang pernah Zoya rasakan, dan Zoya akui tidak hanya menggetarkan hatinya, tapi lututnya pun ikut bergetar saat ini.


''Aku rasa kita tidak bisa lebih dari ini kak.'' mata Zoya menatap tegas pada Zen. Sesaat Zoya melihat kekecewaan terbersit di wajah Zen, namun seperdetik kemudian senyuman konyol terbit dari wajah kekasihnya itu.


''Maafkan aku sayang. Aku terlalu terbawa suasana.'' katanya lagi kembali membawa Zoya dalam pelukannya.


''Apa yang, Emmhh maksudku kenapa kakak ada disini? inikah alasan kakak mengabaikan semua panggilan ku, karena kakak datang kesini tampa memberitahuku..?" Zoya melipat tangan di depan dadanya. Membuat Zen terkekeh, gemas.


''Hmm. Aku tak bisa menahan diriku untuk datang padamu. Aku sangat-sangat merindukan mu.'' Zen mencubit pelan hidung Zoya.


''Aku juga merindukan mu kak, sangat, dan aku sangat senang kamu ada disini sekarang. sungguh.'' Zoya kembali memeluk Zen, lelaki itu membalasnya dengan cara yang sama.


"sudah makan malam..?" tanya Zen lagi. Saat ia masuk kedalam Villa itu, setahunya hanya ada perempuan paruh baya yang menyambutnya, yang ia tau wanita itu sedang sibuk di dapur memasak sesuatu.


''Belum.'' ucap Zoya sambil menggelengkan kepalanya.


''Bagus. Kalau begitu kita harus makan malam. Jujur saja, selain sangat merindukan mu sayang, aku juga sangat lapar, aku melewatkan makan siang ku hari ini lalu datang padamu, jadi aku butuh asupan gizi sekarang.'' kata Zen dengan wajah memelas nan sangat sangat rupawan menurut Zoya.


''Baiklah. Ayo kita isi ulang staminamu kak.'' ajak Zoya sambil tersenyum lalu mengandeng tangan Zen, menjalin nya erat dengan jari-jari kecil miliknya.


Perasaan bahagia ini, dapatkah ia menjelaskannya..??


Tentu saja tidak.


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2