
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
Zen sedang dalam perjalanan saat ponselnya berdering, dan nama kekasihnya lah yang tertera di sana, Zoya menelponnya.
Sekembalinya Zen dari kunjungan sebelumnya, Zen sudah merencanakan bahwa hari ini ia akan menjemput Zoya dan kembali ke Jakarta bersama setelahnya.
Zen sekali lagi ingin memberikan kejutan untuk Zoya, karena itulah ia tidak memberitahukan kedatangannya. Zen sangat suka melihat wajah terkejut bercampur bahagia yang Zoya tunjukan saat melihat kehadiran dirinya. Zen sudah membayangkan rencananya.
Setelah kurang lebih dua jam dalam perjalanan, Zen pun tiba di Airport. Untuk kejutan kali ini, Zen minta Fredy merahasiakan kedatangan nya dan menjemputnya tampa sepengetahuan Zoya. Dalam angannya, Zen sudah tidak sabar ingin memeluk Zoya.
Dengan cekatan, sang pengawal menjemput Zen tepat waktu. Namun sesampai nya Zen, pengawal tersebut justru menyampaikan berita yang menghantam Zen cukup kuat, Zoya sedang pergi bersama Jordan-. ****. Rencana ingin memberi kejutan, malah Zen yang mendapatkan kejutan.
Zen mengepalkan tangan, seraya meredakan kekesalannya. Gadis kecil itu, Huh. Zen menghembuskan nafasnya gusar, sekaligus menetralkan perasaannya. Sepertinya Zoya memang tidak bisa di biarkan begitu saja tampa pengawasan Zen.
Zen tidak menyukai hal ini. Tampa sepengetahuannya para lelaki akan datang silih berganti untuk mengacaukan hubungan romantisme miliknya, dan hal seperti ini tidak bisa terus-terusan terulang.
"Sudah berapa lama mereka pergi ?" tanya Zen dengan suara sinis dan wajah datarnya. Ia tidak bisa menutupi kemarahannya. "sekitar satu jam yang lalu tuan, saya sendiri yang mengantarkan nona dan tuan Jordan." jelas Fredy. "Apa tuan ingin kita menyusul nona?" tambahnya lagi, mengerti bahwa saat ini tuannya sedang dalam situasi perasaan yang buruk.
"Tidak. Terus saja ke Villa, Zoya tidak suka terlalu lama berada di keramaian, aku yakin sebentar lagi mereka akan kembali." Zen memilih untuk membiarkan Zoya. Lagipula ini adalah hari terakhir mereka disini, tidak masalah jika kekasihnya itu ingin jalan-jalan sebentar. Hanya saja, mengetahui Zoya bersama dengan laki-laki yang sangat jelas menyimpan perasaan rahasia pada tunangannya, membuat Zen ingin menghajar Jordan sampai babak belur, saat ini.
Setibanya di Villa, Zen menaruh tas dikamar, kemudian ia turun lagi dan menyibukkan diri seraya menunggu kedatangan kekasihnya.
Waktu terus berlalu, menit berganti jam, hingga waktu yang tak pernah Zen pikirkan. Diluar perkiraan, pilihan Zen untuk menunggu ternyata salah besar. Ia mengeram sesaat menyesali keputusannya. Zen melihat keluar, dan matahari sudah mulai terbenam namun Zoya belum juga kembali.
Sekali lagi Zen hanya bisa mengeram sambil mengumpat, merutuki semua kebodohannya.
Zen mengecek ponselnya, berharap Zoya menghubungi dirinya, atau hanya sekedar mengirimkan pesan singkat, namun nihil.
Terakhir kali Zen menanyakan Zoya pada Fredy, katanya kekasihnya itu sedang melihat pertunjukan tari kecak.
Membuat Zen lagi-lagi hanya bisa merutuki dirinya sendiri, ia marah dan juga sangat-sangat merasa bodoh.
Bagaimana bisa Zen membiarkan Zoya menghabiskan begitu banyak waktu bersama dengan pria lain ? memikirkannya saja sudah membuat Zen seperti terbakar. Sialan.
__ADS_1
Pukul delapan malam, Zen masih terus menunggu Zoya diruang tamu ditemani segelas anggur ditangannya. Sejak tadi ia terus menghitung, berapa lama lagi waktu yang harus ia lewatkan tampa Zoya di sana.
Memikirkan Zoya yang tersenyum, tertawa dan bahagia, menyaksikan begitu banyak hal menarik, namun bukan bersama dirinya, melainkan bersama dengan pria lain, tersentak karena kenyataan itu membuat hati Zen terluka.
Bagaimana bisa wanita yang ia cintai, bahkan sebentar lagi akan menjadi istrinya bisa menghabiskan waktu seharian penuh bersama seorang teman?
Zen merutuki dirinya. Seandainya ia tidak merahasiakan kedatangannya, mungkin ia tak akan menjadi lelaki yang menyedihkan seperti sekarang. Sial. Sial.
Apa yang dinantikan Zen selama beberapa jam sebelumnya, akhirnya tiba juga. Saat mobil sudah memasuki pekarangan Villa, Zen bangkit dari duduk nya. Sejak tadi ia sudah menahan diri, jadi tidak masalah jika ia menahan nya sedikit lagi, yang penting Zoya sudah kembali pada nya. Kekasihnya.
Saat Zoya keluar dari mobil, wajah Zen sudah berbinar bahagia, namun secepat kebahagiaan itu muncul, secepat itu pula direnggut darinya. Sekali lagi Zen harus diam-diam menahan kemarahan saat melihat Jordan juga keluar dari mobil yang sama. Kemarahan dan kecemburuan Zen sudah bercampur jadi satu, jika bukan karena Zoya, Zen pasti sudah menerjang dan menghajar Jordan habis-habisan saat ini.
"Kak Zen..?" Senyum manis Zoya langsung mekar saat melihat Zen ada di sana menunggu dirinya. Zoya memeluk Zen dan begitu pun sebaliknya. Zen memeluk Zoya dengan erat, memanfaatkan situasi tersebut untuk menunjukan kepemilikannya atas Zoya.
"Aku merindukanmu sayang. Aku sudah sangat lama menunggumu disini. Aku sangat khawatir." Zen menunjukan wajah cemas sekaligus tak sukanya saat melihat Zoya bersama Jordan. "Hmm. Maafkan aku kak, aku tidak tau kalau kakak akan datang. Jadi aku pergi bersama Jordan, kebetulan sekali kalian datang di saat yang sama-- Zoya tersenyum dengan polosnya, tak menyadari kemarahan Zen. "Jordan juga akan menginap disini." ucapnya lagi melihat pada Zen dan Jordan.
"Apa seorang lelaki tak punya cukup uang untuk menyewa sebuah kamar hotel?" ucap Zen dengan tatapan sinis pada Jordan. Sementara Jordan hanya menampilkan senyuman malas meladeni miliknya. Ia sudah tau kalau Zen akan selalu bersikap seperti ini padanya, dan ia tak akan ambil pusing untuk itu. "Kak Zen, bukan begitu.. aku yang memaksanya." jelas Zoya dengan sebenarnya. Zen semakin kesal saat Zoya memberikan pembelaan pada Jordan, Zen merasa bodoh dan bersikap kekanakan. Ia mendengus kesal.
"Jangan membela pria lain Zo'e. Aku tak suka." Zen memelototi Zoya, namun entah kenapa itu malah terlihat menggemaskan bagi Zoya, membuatnya sangat ingin mencubit gemas pipi Zen, dan sungguh, Zoya melakukan hal itu. "Baiklah tuan pencemburu, aku tak akan melakukannya lagi. Sebaiknya kita masuk." ajak Zoya pada keduanya.
Jordan hanya mengikuti ajakan Zoya dengan menahan senyuman geli, meskipun begitu masih ada perasaan yang sangat mengganjal di hati Jordan, yang sangat ingin Jordan bebaskan saat ini juga, namun ia memilih untuk bersabar.
"Jordan, kurasa kamu bisa menggunakan kamar tamu di sana." tunjuk Zoya pada Jordan. "Thanks Vidette. Aku akan memanfaatkan penginapan gratis ini dengan sangat baik." sindir Jordan, sambil menunjukan senyuman terima kasih. "kalau begitu aku akan istirahat lebih dulu." pamitnya lagi, sambil mengedipkan mata, membuat Zen mengeram kesal. Zen tak ingin mengakui bahwa Jordan memiliki pesonanya sendiri.
"Selamat beristirahat, semoga malam mu menyenangkan." seru Zoya saat Jordan melambaikan tangannya. Jelas sekali bahwa Zoya sudah melewatkan waktu yang menyenangkan bersama Jordan.
Melihat itu, Zen langsung bersikap posesif dan memeluk Zoya, mengalihkan perhatian Zoya padanya. "Sekarang, giliran mu sayang. Kemana saja kau seharian? hem? sepertinya aku harus menghukum mu karena sudah berani pergi bersama pria lain dibelakang ku, bisakah aku menganggap ini sebuah penghianatan?" ucap Zen mengintimidasi menunjukan kecemburuannya, membuat darah Zoya berdesir dan wajahnya bersemu saat bibir Zen hampir menempel sempurna di bibirnya,
Ehhmm.
"Maafkan saya tuan, nona." Fredy bersuara canggung. Ia tak sengaja merusak momen diantara Zen dan Zoya.
Zen langsung memalingkan wajahnya namun tak melepaskan pelukan tangannya. "Saya hanya ingin bertanya, barang-barang ini ingin di letakan dimana nona?" Fredy mengacu pada barang belanjaan Zoya sebelumnya. Ada cukup banyak paper bag yang tergantung di tangan Fredy.
"Apakah berat? aku akan membawa sebagian." kata Zoya namun Zen menghentikannya. "Biar ku bawakan, letakan saja disitu." perintah Zen lalu Fredy melakukan sesuai perkataan Zen. "Saya permisi tuan. Nona." pamit Fredy mengakhiri kecanggungan di sana.
"Well, well.. sepertinya kau menghabiskan sebagian besar waktumu untuk melakukan ini,-- Zen bersedekap. "Ternyata kau juga suka belanja sayang, apa setelah ini aku harus membawamu pergi belanja setiap hari?" Zen bertingkah konyol. "Hentikan itu kak, aku hanya melakukan ini sesekali." bela Zoya.
"O, ya apa kakak sudah makan malam? mau ku buatkan sesuatu?" Zoya baru menyadari hal itu, namun ia berharap Zen tidak benar-benar melupakan makan malam karena menunggu dirinya. "hmm. Aku memang sedikit lapar. Apa kekasih ku ini sungguh-sungguh bisa membuat makan malam..?" Zen kembali meraih pinggul Zoya dan melingkarkan tangan di sana.
"Untuk makan malam sederhana, aku rasa bisa, itupun jika kakak ingin memakannya." tawar Zoya. "Ok. Setuju!" Zen menganggukkan kepala. "Baiklah, kalau begitu, bisa tolong bawakan semua tas ini ke kamar, dan aku akan memasak makan malam untuk tuan pencemburu ini." Zoya menekan pelan dada bidang Zen lalu melepaskan diri.
__ADS_1
"Hmm. serahkan padaku, akan ku bereskan semua ini." Zen mengambil semua belanjaan Zoya, sementara kekasihnya itu menuju ke dapur untuk memeriksa isi kulkas, dan mencari bahan makanan apa yang bisa di masak.
Hanya dalam waktu kurang lebih dua puluh menit, Zoya sudah menghidangkan sepiring pasta lengkap dengan sayur dan irisan lembut daging sapi pilihan di atas meja.
"Heemm. Wangi sekali, kamu masak apa sayang..?" Zen menghampiri Zoya yang baru saja melepas appron dari lehernya. "Hanya sepiring pasta, masakan yang mudah." ucapnya seraya memberikan sendok di tangan Zen. "Makanlah." katanya lagi sambil mengisi kursi di sisi Zen. Bagi Zen mau bagaimanapun rasa masakan dihadapannya yang terpenting adalah wanita yang membuatnya.
"Hemm. Ini enak sayang, sungguh." Zen menguyah pasta yang ada di mulutnya. "Benarkah..? kalau begitu habiskan..!" Zoya senang karena masakan nya cocok di lidah Zen, padahal ia baru saja melihat resep dan Zoya hanya memasak sesuai tutorial, dan ternyata berhasil. Zen menghabiskan sepiring penuh pasta buatan Zoya. "Terima kasih untuk makan malamnya sayang." ciuman singkat di meja makan, sempurna untuk mengakhiri malam ini.
...--Pagi hari--...
Jordan sudah lebih dulu bangun. Bi Retno bahkan sudah menyeduh segelas kopi hitam sesuai permintaan Jordan.
Sambil menikmati secangkir kopi, Jordan duduk di salah satu bangku tak jauh dari pantry sambil melihat sosial media miliknya.
Zen yang sudah bangun dan ingin mengambil minuman, melihat keberadaan Jordan di sana, perjumpaan yang sebenarnya tidak Zen harapkan. Tidak sepagi ini.
"Aku harap tidurmu nyenyak." ucap Zen sambil mendengus pada Jordan.
"Ahh..tentu saja. Semua karena fasilitas super mewah dalam Villa ini." balas Jordan, melirik sekilas pada Zen, tuan pemilik sepertinya tak akan membiarkan Jordan bersantai barang sebentar.
"Jangan pernah mendekati Zoya dengan alasan apapun!" peringat Zen tampa basa-basi. Jordan menutup ponselnya lalu menoleh pada Zen. Ia memandang sekilas untuk menilai kesungguhan dari kata-kata itu, jelas akan terjadi pertarungan sengit setelah ini, jika Jordan meneruskan kebiasaan jahilnya. ''Hmm. sepertinya kau cemburu, Zen." balas Jordan informal. Zen mengeratkan kepalan tangannya namun tak membalas kata-kata Jordan.
"Tenang saja, aku tidak akan merebut milik orang lain." Jordan memalingkan wajahnya. "Hanya saja, kau benar jika berpikir aku memiliki perasaan pada Zoya, dan bagi ku Zoya adalah teman sekaligus wanita yang berharga. Namun kali ini, aku akan melepasnya untukmu, tapi aku tidak akan tinggal diam, jika,-" Jordan menatap sengit pada Zen. "di belakang Zoya, kau menyakitinya!"
Jordan serius dengan kata-katanya. Ia akan diam saja sekarang, karena ia tak ingin merusak kebahagiaan Zoya. Hanya saja, ia tak akan tinggal diam jika Zen berani mengkhianati Zoya, itu janji Jordan.
"Selamat pagi semuanya.." Zoya berdiri di ujung tangga.
"Selamat pagi sayang, mau bergabung bersama kami?"
...❄️...
...❄️...
...❄️...
...JORDAN...
...Tokoh Figuran pertama yang sebentar lagi akan dihilangkan, untuk sesaat atau.. Entahlah. Jangan lupa dukung terus karya Author.. 🙏😉...
__ADS_1