My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
TAMU PAGI HARI


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


...Stockholm, Swedia....


Udara pagi semakin dingin menusuk sampai ke tulang, saat Zoya membuka matanya. Salju masih saja turun, namun sudah tidak selebat sebelumnya.


Zoya tersenyum saat melihat Zen yang masih tertidur pulas di samping nya, setengah meringkuk, pastilah lelaki itu juga merasa kedinginan yang sama seperti Zoya.


Dengan perlahan Zoya menutupi seluruh tubuh Zen sampai ke tepian leher dengan selimut hangat yang sebelumnya mereka gunakan bersama. Merasakan pergerakan di atasnya Zen mengerang pelan, kemudian mengeratkan selimut ke tubuhnya, sementara itu Zoya bergerak dengan perlahan agar tidak membangunkan Zen dari tidurnya.


Setelah puas memandangi Zen sejenak, Zoya langsung ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.


Setelah keluar dari kamar mandi, Zoya mencepolkan rambutnya, kemudian mengambil baju hangat yang tergantung di lemari untuk membungkus tubuhnya.


Meskipun waktu masih menunjukan pukul tujuh pagi, Zoya sudah siap memulai hari nya.


Mengulang kembali rutinitas di pagi hari, Zoya meraih cangkir, lalu menghidupkan mesin pembuat kopi, hingga bau harum khas dari biji-bijian tersebut menguar memenuhi ruangan, membuat Zoya semakin bersemangat.


Sebagai pelengkap, Zoya juga memanggang roti, membuat omlet di tambah beberapa sosis panggang sebagai menu sarapan pagi sederhana nya. Setelah kopi dan sepiring sarapan selesai di buat, Zoya membawanya keruang tamu, tempat ia biasa menyelesaikan semua pekerjaan yang menyita banyak waktu nya beberapa hari terakhir.


Apartment sederhana itu tidak seluas apartment lainnya, konsepnya pun sangat minimalis, karena itulah Zoya menyukai tempat tersebut, di tambah lagi di saat-saat seperti ini, di saat dirinya bekerja, Zoya masih bisa sesekali memandangi punggung Zen yang masih terlelap di atas ranjang nya. Hmm, pemandangan yang sangat menakjubkan di pagi harinya yang sibuk. Penyemangat pagi yang sempurna.


Sambil menyusun kembali beberapa partitur musik dan juga berkas-berkas yang berserakan di atas meja, sesekali Zoya menggigit roti dan juga menyeruput kopi panas miliknya.


Sementara Zoya masih bertaut dengan kertas-kertas di atas meja, suara ketukan di pintu apartment nya sekali lagi menyita perhatian Zoya.


Tak ingin membuat Zen terbangun, Zoya buru- buru berlari menuju pintu dan membuka nya. Saat pintu terbuka, Zoya sudah melihat Cassian berdiri di depan pintu dengan jaket tebal sambil memeluk tas di dada.


Wajah laki laki itu memerah, karena cuaca yang terbilang ekstrim. ''Ya tuhan, Cass, kau kerumah ku di saat saat seperti ini, kau bisa mati membeku.'' seru Zoya masih tak percaya. ''Masuklah, tapi jangan berisik.'' kata Zoya pelan sambil mempersilahkan Cassian untuk masuk kemudian menutup pintu.


Saat masuk ke ruang tamu, Cassian paham apa yang di maksudkan Zoya dengan jangan berisik, saat melihat ke atas ranjang ada punggung yang tertutupi.


''Maafkan aku Zoya, seperti nya aku datang di saat yang benar-benar tidak tepat.'' Cassian meringis setengah berbisik merasa tak enak pada Zoya.


''Tidak apa-apa, kak Zen hanya masih terlalu lelah. Biasa nya dia selalu bangun lebih pagi dari ku.'' jawab Zoya sambil tersenyum ke melirik sekilas pada Zen, dan Cassian tau arti tatapan itu. ''mauku buatkan kopi..?'' tawar Zoya lagi.

__ADS_1


''Aku sangat bersyukur jika kau mau membuatkan nya untuk ku.'' jawab Cassian menerima tawaran Zoya.


Cassian duduk di salah satu sofa, sambil mengamati sekitar. Setelah Zoya menghilang beberapa saat, gadis itu kembali dengan secangkir latte untuk dirinya.


''Terima kasih Zoya.'' Cassian menerima gelas yang di sodorkan padanya, menyesapnya dengan perlahan sambil menghangatkan tangannya yang hampir membeku.


''Aku membawakan ini untuk mu.'' Cassian mengeluarkan map dari dalam tas, dan menyerahkan nya pada Zoya. ''Aku ingin mengantarnya kemarin, tapi mengingat kau sedang tidak sehat, aku memutuskan untuk mengantarnya pagi ini.'' sekali lagi Cassian meringis, menyadari bahwa ia juga tidak memperhitungkan keberadaan kekasih Zoya.


Map tersebut berisikan surat persetujuan kerja sama untuk membangun yayasan yang di sepakati Zoya dengan pihak RKH melalui profesor Hugo. Zoya sangat senang saat profesor menghubunginya dan memberitahukan kabar baik tersebut, karena tak ingin menganggu persiapan konser yang cukup menyita waktunya, pihak RKH memutuskan untuk menandatangani kontrak dua hari setelah pertunjukan di gelar.


''Terima kasih untuk bantuan mu Cass..'' ucap Zoya tulus, sambil membaca isi suratnya.


''Sama-sama Zoya. Aku juga sangat berterima kasih pada mu, karena bantuan mu aku bisa melalui masa sulitku.'' balas Cassian.


''O'ya bagaimana untuk nanti sore, kau sudah siap..?" tanya Cassian, merujuk pada konser yang juga melibatkan dirinya.


''Tak pernah sesiap ini.'' jawab Zoya dengan yakin. ''Dan kau..?'' Zoya bertanya balik, dan mendapatkan senyuman penuh keyakinan dari Cassian.


''Lebih dari siap miss.'' Cassian adalah seorang pianis, dan akan berkolaborasi dengan Zoya pada salah satu penampilannya.


''Baguslah kalau begitu, aku percayakan semuanya padamu.''


...Sementara itu,...


Samar-samar Zen mendengar suara percakapan dari arah ruang tamu, kemudian ia menajamkan pendengaran nya.


Tak salah lagi, salah satu dari suara yang ia dengar adalah suara Zoya, dan yang satunya...


Zen bangun lalu memperluas pandangannya jauh keruang tamu. Ia melihat wajah segar Zoya di pagi hari dengan rambut di cepol tinggi. Kekasihnya itu sedang melipat tangan di depan dada, sambil sesekali mengetukkan pulpen di hidung nya, saat mendengarkan lawan bicara nya, yang saat ini tengah memunggungi Zen.


Tampa berusaha menebak-nebak Zen sudah tau siapa pemuda tersebut. Zen turut mencuri dengar percakapan kekasihnya sekilas, dan mengambil kesimpulan bahwa hal yang di bahas adalah tentang persiapan konser yang akan di adakan kurang lebih 9 jam dari sekarang.


Setelah cukup sadar, Zen berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci muka, kemudian sudah keluar dengan wajah yang segar mekipun dengan mata yang memerah karena baru bangun tidur.


''Selamat pagi sayang.'' Sapa Zen menginterupsi keduanya. Zen menghampiri Zoya untuk memberikan kecupan di kening gadis itu, kemudian beralih pada Cassian. ''Teruskan saja, aku hanya melakukan rutinitas di pagi hari.'' kata Zen dengan santainya, membuat wajah Zoya bersemu merah karna Zen menciumnya di hadapan Cassian. Tak ada jawaban ataupun bantahan dari Cassian, laki-laki itu juga hanya tersenyum memaklumi.


''Kekasihmu sangat posesif.'' kata Cassian pelan, setelah Zen melangkah ke arah dapur. ''Maafkan aku, aku tidak bermaksud,-'' Cassian sedikit memelankan suaranya bahkan hampir berbisik.


''Ya, aku tau, Zen tipe yang romantis.'' jawab Zoya dengan artian yang sebenarnya.


Saat tiba di dapur, Zen membuat kopi dan juga sarapan untuk diri nya sendiri. Mengingat sebelumnya Zen sudah melihat sarapan Zoya di atas meja, dan sekarang hanya perlu membuat untuk dirinya.


''Hei, bung, mau sarapan bersama..?'' tawar Zen pada Cassian. Membuat laki-laki itu menjawab dengan suara yang cukup lantang. ''Ahh, tidak terima kasih. Aku akan sarapan nanti, bersama kekasihku.'' balas Cassian, bersikap ramah.

__ADS_1


''Oh.. kau punya kekasih, ternyata.'' sela Zoya.


Cassain terlihat kikuk di depan Zoya karena mengakui statusnya, namun begitulah kebenarannya. "Sebenarnya, aku sudah menikahi kekasihku, salah satu mahasiswi di jurusan yang sama dengan ku, dan kami baru saja memiliki seorang bayi.'' aku Cassian dengan sebenarnya, sambil tersenyum bahagia menyampaikan kabar tersebut pada Zoya.


''Waw.. benarkah..?'' Zoya sedikit terkejut mendengar kabar tersebut, menurutnya Cassian masih sangat muda, bahkan terlalu muda untuk menjadi seorang suami, dan ayah sekaligus, hanya saja orang memiliki kisahnya sendiri.


''selamat untukmu, aku turut senang mendengarnya.'' tambah Zoya benar- benar tulus pada Cassian.


Seketika rasa kagum pada laki-laki itu memenuhi perasaan Zoya. Ia bangga pada sosok di depannya tersebut, di usia muda, Cassian sudah berani bertanggung jawab, tidak hanya pada dirinya sendiri, tapi juga keluarga kecilnya.


''Terima kasih Zoya. Kami bisa melalui nya berkat dirimu.'' balas Cassian dengan tulus.


''Bolehkan aku mengunjungi bayi mu, setelah pekerjaan kita selesai..?" tanya Zoya, terlihat antusias.


''Aku sangat bersyukur jika kau bersedia miss, istriku juga sangat ingin bertemu dengan mu.'' balas Cassian, dengan rona wajah bahagia.


Zen hanya mendengarkan percakapan keduanya dari meja makan. Zen sudah mengetahui tentang Cassian sebelum ini, karna itulah ia tidak pernah khawatir saat Zoya sedang bersama Cassian.


''Zoya, sebaiknya aku kembali, sampai bertemu di konser, dan maaf sudah menggangu mu di pagi hari seperti ini.'' pamit Cassian.


''Hem, sampai bertemu di konser. Sampaikan salam ku untuk istri dan juga bayi kecil mu, aku tidak sabar ingin bertemu mereka.'' balas Zoya seraya mengantar Cassian sampai di depan pintu.


Setelah menutup pintu, Zoya kembali keruang tamu, dan Zen sudah duduk disana untuk mengamati dirinya. ''Cepat sekali kakak berpindah!" celetuk Zoya, saat melihat Zen, kemudian mengambil tempat jauh dari Zen.


''Kemarilah, aku ingin memelukmu Tidak kah kau merasa cuaca sangat dingin?" kata Zen menarik tangan Zoya, hingga gadis itu menempel di sisinya.


''Begini lebih baik, lebih hangat, dan memudahkan aku untuk menyelesaikan ciuman pagi ku.'' kata Zen tersenyum lalu mencium Zoya dengan lembut.


"Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama mu seperti ini sayang." Zen mengeratkan pelukan nya.


"Terdengar sangat menyenangkan.." sela Zoya, membalas pelukan Zen. Keduanya diam sesaat, menikmati kehangatan yang di timbulkan dari tubuh masing-masing. Zoya akui, bahwa Zen sosok yang sangat ia butuhkan saat ini.


"Tugas ku sekarang adalah menjaga mu sayang, jika ada yang kau butuhkan, aku akan menyediakan semuanya untukmu, jadi katakan saja." ucap Zen lembut.


Mengingat hari sebelumnya Zen sudah mengatakan pada Dady bahwa ia sudah menemui Zoya, dan menceritakan semua yang terjadi pada kekasihnya itu. Zen sudah di percayakan untuk menjaga dan memastikan keselamatan Zoya, selama gadis itu berada di Swedia, dan itulah yang saat ini Zen lakukan.


"Apa saja..?"


"Hmm. Apa saja."


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2