
...ENJOY...
.......
.......
Pernahkah kalian mengalaminya? Disaat kalian harus melakukan sesuatu yang penting, tapi pikiran kalian tidak berada pada tempatnya?
Seharusnya kalian melakukan sesuatu yang sudah direncanakan, tapi entah kenapa semuanya tidak berjalan seperti yang kalian inginkan? disaat kalian menginginkan hal seperti ini, tapi yang kalian lakukan malah bertolak belakang. Pernah kah?
Jika pernah? Apa yang seharusnya kalian lakukan?
Apakah kalian akan berdiam diri sementara menemukan jawaban nya? Atau kalian akan pergi dan mendapatkan langsung jawaban yang kalian inginkan?
Semua terserah pada pilihan kalian..
sama seperti Damian. Disaat sesuatu mengalihkan pikirannya dari yang seharusnya, membuat harinya menjadi berantakan tidak sesuai rencana, maka yang ia lakukan adalah menemukan sumbernya. Sumber yang membuatnya menjadi teralihkan.
Dan untuk menemukannya, ia membutuhkan seseorang.
Seseorang yang benar-benar tepat.
Bagaimana menurutmu?
...❄️❄️...
Damian keluar dari dalam kamar dengan perasaan bercampur aduk. Ia menuruni tangga menuju lantai dasar sambil melihat ke kanan dan ke kiri setelah membuka kamar kosong yang seharusnya berpenghuni.
Ia mencari seseorang yang benar-benar harus ia tanyai. Shreya. Namun lama mencari tak juga ia mendapati keberadaan gadis muda itu.
"Pa, apa papa bertemu atau melihat Shreya?'' tanya nya pada Darma, ayahnya. Jangankan menjawab, Darma bahkan tak ingin repot-repot memikirkan pertanyaan Damian jika itu berhubungan dengan Shreya.
Dengan wajah yang tanpa ekspresi, Darma hanya kembali melangkahkan kakinya menuju keruang kerja pribadi yang terletak dilantai tiga. Begitulah keharmonisan keluarga Darma. Tak ada yang bisa meluluhkan kekerasan hati yang sudah membeku selama belasan tahun tersebut.
Damian yang memang sudah terbiasa dengan sikap ayahnya yang tak memiliki kehangatan, tak pernah ambil pusing jika sang ayah hanya mendengus tak suka saat ditanyakan tentang gadis kecilnya. Gadis yang selama ini ia jaga dengan penuh kasih sayang, meskipun orang tua nya sangat menentang hal tersebut, khususnya sang ayah.
"Ma, bisa kau lihat bagaimana papa selama ini? apakah ia tak punya perasaan sedikitpun? bahkan jika itu hanya untuk sekedar berbasa-basi?" gumam Damian, sambil terus mencari Shreya.
Diruang baca. Di dapur. Di kolam renang. Di taman..
Semuanya sudah Damian telusuri, namun Shreya masih juga tak terlihat.
Saat berpapasan dengan Hana, ART nya, Damian juga menanyakan hal yang sama.
"Apa kalian tau dimana nona?" Tanya nya yang sudah mulai lelah mengelilingi sekitar. Ini adalah rumahnya, tapi ia tak bisa menemukan gadis kecil itu. Sungguh mengherankan, bagaimana Shreya tak bisa ia temukan. Apa gadis itu bersembunyi? Tapi kenapa?
"Nona ada di roof top tuan muda.'' jawab Hana, sambil membungkukkan badan nya.
"Benarkah?"
__ADS_1
Kenapa Damian bisa lupa jika ia belum pergi ke lantai atas.
Tapi sedang apa gadisnya di sana? biasanya Shreya sangat membenci tempat-tempat yang tinggi. Jangankan di roof top, dari lantai dua kamarnya saja, Shreya bahkan tak pernah melihat ke luar jendela, karena takut akan ketinggian. Tapi mengapa sekarang?
"Ya tuan. Nona ada di sana, baru saja saya diminta untuk mengantarkan camilan malam nona.'' jelas Hana lagi.
Camilan? Hiss.. itu lebih aneh lagi. Apakah Shreya yang minta? tidak biasanya.
" Baiklah. Terima kasih.''
Damian pun bergegas masuk ke lift menuju roof top agar bisa secepatnya menemui Shreya. Setelah pintu lift terbuka, hembusan anginlah yang pertama kali menyapa Damian.
Ia melihat ke sekitar, dan di sanalah saat ini gadis kecilnya berada. Dengan gaun tidur berwarna putih satin yang menjuntai hingga ke mata kakinya, rambut tergerai indah, melihat pada satu titik yang bisa Damian tentukan apa. Apa yang sedang gadis kecilnya itu pikirkan? apakah hal yang sama yang setiap malam selalu ia pikirkan itu?
"Hei, cebol, kau disini?" Damian berdiri disebelah Shreya, mengikuti arah pandang gadis muda itu.
''Apa kau memikirkan sesuatu yang tak bisa kau katakan padaku, itu?"
Shreya yang paham kemana arah pembicaraan Damian hanya melirik sekilas, kemudian tersenyum. Meskipun ia tak mengatakan apapun, Damian memanglah sangat mengerti dirinya.
"Kau terlalu mengenalku Damdam. Haaahh.. bisa apa aku tanpa mu?" ujarnya, menghela nafas. ''Kau bisa melakukan apa saja jika kau mau Cebol, sungguh.'' Damian meyakinkan Shreya. Tapi entah kenapa, kata-kata itu terdengar seperti sebuah omong kosong belaka baginya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.''
Damian melirik sekilas, namun siluet nya tertangkap hingga pandangan keduanya bertemu.
"Apa?" Shreya mencoba fokus dan mengalihkan perhaian untuk mendengarkan Damian.
"Aku jatuh cinta.'' jujur Damian. Ia sangat menantikan bagaimana Shreya berekspresi saat mendengarnya. Dan tentu saja, Damian selalu menyukai mimik wajah gadis kecilnya.
"Kau?,- Shreya hampir berteriak namun buru-buru membungkam mulutnya.
"Hmm. Aku.''
"Damdam kau sungguh-sungguh?"- Tanya nya lagi masih merasa tak percaya.
Dengan keyakinan yang mantap, Damian menganggukkan kepalanya. Membenarkan apa yang sudah ia ucapkan. Itu adalah perasaan nya. Dan bagi Damian, mengatakan nya adalah hal yang terbaik.
"Hmm. Aku sungguh-sungguh. Aku benar-benar jatuh cinta. Saat ini. Aku harus bagaimana? aku baru menyadarinya setelah sekian lama, dan semakin aku memikirkannya, aku merasa akan gila. Aku sungguh-sungguh, cebol.'' ujarnya, lagi.
Shreya yang mendengar pernyataan itu, tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.
Sudah lama ia menunggu datangnya hari ini.
Shreya yang bahagia pun langsung memeluk Damian dengan erat. Sekian lama bersama Damian, laki-laki itu tak pernah sekalipun mengatakan tentang perasaannya.
Waktunya hanya dihabiskan untuk belajar, bekerja, dan mengurus Shreya. Seluruh kehidupan Damian hanya berpusat ditempat yang sama selama bertahun-tahun. Dan sekarang...?
"Aku tau hari ini akan tiba Damdam.- Akhirnya kau juga merasakannya. Aku sungguh bahagia.''
__ADS_1
"benarkah? kau sungguh bahagia?"
Mata Shreya berkaca-kaca, wajahnya tersenyum penuh cinta. "Hmmm. Aku sungguh bahagia. Haruskah aku menari untuk mu saat ini Damdam?" ujarnya, memegang pinggiran baju Damian.
"Kau mau melakukan nya untukku?"
"Tentu saja. Haruskah?"
"Hmm. Aku hanya ingin memelukmu cebol.''
Damian sekali lagi merengkuh tubuh mungil Shreya, gadis itu adalah gadis kesayangan nya.
''Apa aku pernah mengatakan padamu betapa bahagianya aku saat kau hadir dalam hidupku?- Damian semakin mengeratkan pelukannya.
"kau membuat semuanya terasa semakin sempurna. Karena kau jugalah aku kembali merasakan sebuah keinginan untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Lebih hebat. Lebih dalam segala hal. Aku ingin menunjukan pada semua orang, bahwa aku sangat bangga memilikimu dalam hidupku. Aku ingin mereka tau, jika memilikimu dalam hidupku adalah sebuah anugerah. Kau bukan penghalang masa depan ku. Tapi kau adalah cahaya di hidupku. Aku sungguh menyayangimu cebol.'' ujar Damian, mengutarakan semua perasaannya.
"Kapan ini akan meresmikannya? apa papa tau?" cemas Shreya.
"Aku belum mengatakannya pada pak tua itu. Kau tau sendiri bagaimana sikapnya selama ini. Aku ingin dia menjadi orang terakhir yang tau, dan akan ku pastikan itu.'' janji Damian lagi.
"Kau tidak harus melakukannya karena aku Damdam! Jangan membuat papa lebih marah dari ini, aku tak ingin papa semakin membenciku.''
''Meskipun papa membencimu, kau tak akan rugi apapun cebol! Justru sebaliknya, Papa lah yang akan rugi karena tak menyayangi gadis semanis dirimu. Ingat itu." tegur Damian.
"Aku harap aku bisa mengatakan hal yang sama pada diriku sendiri Damdam! Tapi sungguh, aku benar-benar mengharapkan Papa dalam hidupku. Aku ingin sekali saja papa menyebut nama ku, tersenyum padaku, ataupun memeluk ku. Aku sungguh menginginkan itu Damdam.'' ujarnya terisak.
"Jangan menangis cebol! Kau adalah milikku. Dan kau memiliki ku, Aku akan menjadi apa yang kau inginkan, aku akan memberikan semua yang kau inginkan melebihi apa yang bisa papa lakukan untukmu. Jangan pernah lagi bersedih karena ini. Aku akan menjadi sumber kebahagiaanmu, selamanya.
Sampai-sampai bintang malam pun akan iri jika melihat kita saling memilki, saling menyayangi. Kau mengerti? berjanjilah?"
Pinta Damian.
"Akan ku lakukan seperti yang kau minta Damdam.'' Jawab Shreya memeluk Damian lebih erat.
"Tidak akan ada yang berubah, cebol. Kini dan nanti, aku akan selalu ada untukmu. Bahkan, mungkin saat kau menghadapi hal-hal tersulit dalam hidupmu,- Aku akan berdiri di sisimu. Memelukmu seperti saat ini.
Hingga suatu hari nanti, kau bisa berdiri dengan bangga di atas kakimu sendiri, dan berkata, bahwa kau bahagia."
"Aku sayang padamu Damdam."
"Aku lebih menyayangimu, cebol."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
...DAMIAN...
__ADS_1
...(credit By: Jacob elordi)...