My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
MORNING KISS


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


Pukul 7 tepat Zen sudah berada dirumah mollie. Hari ini sama dengan hari-hari biasa, Zen akan datang menemui orang tuanya, dan juga kekasihnya. Ia selalu menyempatkan dirinya jika ia tidak benar-benar sibuk atau memiliki jadwal pertemuan di pagi hari atau agenda luar kota nya.


Zen sudah rapi dengan setelan jas berwarna brown muda, yang terlihat sangat serasi dengan warna kulitnya, namun terlihat kontras dengan mata biru nya. Zen memang selalu seperti itu. Sangat tampan dalam balutan busana apapun.


"Pagi Mollie.'' Zen menyapa seperti biasa saat melihat Mollie nya selalu fokus dengan sarapan pagi keluarga ini, seakan semua itu sangatlah penting baginya.


"Selamat pagi Sayang.'' Julie menerima ciuman selamat pagi dari putra sulung nya. ''kamu tampan sekali memakai warna ini sayang.'' puji Julie dengan sebuah cengiran khasnya yang masih sangat-sangat terlihat cantik seperti dulu.


"Thanks Mollie. Kau tau, Aku adalah putra ayahku dan Dady. Aku tak akan membiarkan pesona mereka mengalahkan pesonaku.'' Zen mengedipkan matanya.


''Mollie, aku naik melihat Zo'e, dia masih tidurkan? atau sebaliknya?" Zen tidak mendengar jawaban mollie nya karena ia sudah melesat lebih dulu, tidak sabar melihat kekasihnya di pagi hari.


Tok..Tok...


Zen menyiarkan kedatangannya, namun tidak ada tanggapan, dan Zen sangat yakin gadis kecilnya masih terlelap di balik selimut. Namun bisa juga sebaliknya, karena itulah sebelumnya ia menyatakan kedatangan nya dengan sebuah ketukan.


Ceklek..

__ADS_1


Perlahan Zen membuka pintu kamar Zoya, dan ia mengedarkan pandangannya ke sekitar, dan benar saja, wajah kekasihnya masih setengah tertutup selimut tebal dan hangat miliknya.


Zen masuk sambil tersenyum. Ia selalu saja sangat menyukai saat melihat Zoya tertidur seperti ini. ia seperti melihat seorang malaikat yang sedang kelelahan.


Jantung nya berdegup cepat. Ia selalu saja harus menahan diri saat berdekatan dengan Zo'e nya, jika tidak, maka Zen yakin ia sudah menyimpan gadis itu dan membawanya untuk dirinya sendiri, menikmatinya dan,.. ahh.. semua yang Zen pikirkan tentang Zo'e nya, fantasi masa remaja dan juga keinginan naluriahnya sebagai seorang laki-laki, tapi ia tidak bisa.


Zoya terlalu berharga untuk di perlakukan seperti kebanyakan wanita pada umumnya, dan Zen tau, seandainya ia sedikit memaksakan kehendaknya maka ia bisa saja mendapatkan Zoe seutuhnya, namun Zen tidak akan sepicik itu, meskipun kini status mereka sudah bertunangan.


Zen berjalan kearah jendela, dan menyibak tirai nya membiarkan cahaya matahari pagi menyinari kamar Zoya. Zen juga mematikan pendingin udara di kamar itu, karena jelas kekasihnya sudah cukup kedinginan.


Zen duduk di sisi Zoya, sekali lagi tersenyum sambil memandang wajah kekasihnya. Sebesar keinginan nya ingin memiliki Zoya, begitu juga dorongan yang saat ini rasakan ketika ia tak kuasa menahan tangan nya untuk menyentuh dan membelai wajah polos Zo'e nya, untuk memberikan serentetan ciuman selamat pagi yang terlintas di benak Zen.


Namun akhirnya, Zen hanya mengecup pipi Zoya dengan sayang, dan mencium kening gadis itu. ''Selamat pagi sayang ku''- Zen membelai lembut pipi Zoya. ''Sudah saat nya bangun sayang'' sekali lagi Zen mencium kening Zoya, membuat bulu mata gadis itu mengerjap-ngerjap indah seakan menggoda Zen untuk mencium kedua kelopak tertutup cantik itu.


"Sayang, bangunlah, ini sudah pagi.'' suara Zen terdengar samar-samar di pendengaran Zoya, sampai akhirnya ia merasakan sebuah kecupan yang terasa hangat di pipinya. Meskipun masih sangat mengantuk namun Zoya memaksakan dirinya untuk membuka mata. Yang pertama Zoya saksikan adalah kamarnya yang biasanya temaram kini terlihat sangat terang dengan sinar matahari yang mulai masuk ke kamarnya, dan satu lagi.. aahh Vitamin nya.


"Kamu disini kak? pagi sekali.'' gadis itu meregangkan tubuhnya. O, ya Tuhan, satu lagi godaan. Tubuh gadis itu yang hanya menggunakan piyama bertali tipis menggeliat manja di hadapan Zen. Membuat Zen mengalihkan pandanganya ke sembarang arah. Zen juga tidak sengaja melihatnya. Ia tidak tau apa yang kekasihnya gunakan di balik selimutnya, namun kini Zen tau setelah wanitanya menyibakkan selimut itu dari tubuhnya.


''Kakak membangunkan ku untuk sarapan?'' gadis itu bertanya santai tampa memperdulikan bagaimana perasaan Zen yang saat ini sedang ia tahan, saat melihat sesuatu yang sangat lezat di pagi hari, tanpa merasakan adanya sebuah ancaman yang dapat datang kapan saja pada dirinya. Hah. Gadis kecilnya memang terlalu polos.


Zen berdehem sebentar menstabilkan perasaan nya yang seakan diobrak-abrikan oleh kekasihnya sendiri.


''Tidak. Aku kesini karena tau, kekasih ku ini pasti belum bangun, dan akan sangat malas untuk bangun.'' terdengar nada jail dalam suara Zen, namun Zoya mengabaikan itu.


"O, ya sebelum aku lupa,- Zoya berbalik pada Zen lalu mengecup singkat bibir Zen. ''Itu ciuman selamat pagiku.'' katanya dengan begitu polos dan juga sangat cantik Zen rasa.

__ADS_1


"Jangan menggodaku gadis kecil, karena kau tau aku tidak akan sebaik itu.'' Zen kembali menggamit tangan Zoya hingga gadis itu jatuh terduduk di pangkuan Zen dengan rambut coklat keemasan nya yang tampak sangat berkilau terkena cahaya matahari pagi.


Zen melingkarkan tangan nya pada pinggang ramping Zoya, hingga tubuh keduanya terampuk dengan sempurna, dan sekali lagi membuat Zen sekuat tenaga untuk melawan gejolak dalam dirinya.


"Apa?" Zoya bertanya dengan polosnya.


"Ciuman pagi ku masih kurang.'' suara Zen terdengar sangat menggoda di pendengaran Zoya dan tersirat akan makna terselubung. Namun sekai lagi, mungkin karena gadis itu baru bangun sehingga belum bisa mencernanya dengan sempurna.


Cup.. cup.. cup..


Zoya mencium kedua pipi Zen, kemudian terakhir kening laki-laki itu. ''Bukankah seharusnya ini cukup?"


o, ya Tuhan, sekali lagi Zen mengerang tertahan, gadisnya sungguh-sungguh bisa membuatnya gila.


Zen membalas ciuman Zoya, dengan mencium singkat bibir gadis itu. ''Cepatlah mandi, dan sarapan. Aku yakin yang lain sudah menunggu di meja makan.'' Zen sekali lagi menyadarkan dirinya bahwa masih belum waktunya untuk merasakan gadis itu lebih dalam, meskipun Zo'e nya semanis madu yang sangat menggoda Zen setiap saat.


"Baiklah, aku akan segera menyusul." Zoya bangun dari pangkuan Zen langsung menuju kamar mandinya. Terdengar suara air di nyalakan, dan Zen memutuskan untuk turun.


Ia tak ingin mengambil resiko, dan kemudian kehilangan kendali atas dirinya. Inilah yang terbaik saat ini. Bagi dirinya dan bagi Zo'e nya. Meskipun Zen sedikit kesal dengan kenaifan yang ia berikan pada dirinya sendiri. Namun seperti katanya, ia sangat menghargai Zoya, meskipun terkadang ia sangat suka menggoda gadis kecilnya itu.


Tapi Zen masih bisa bertahan, setidaknya sebentar lagi mereka akan menikah, seperti rencana sebelumnya, dan ia akan sabar menunggu hari itu datang.


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2