My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
MARIA


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


Saat Zoya memberitahukan kunjungan nya pada Zen, bahwa dirinya sudah hampir sampai, Zen sudah buru-buru menyelesaikan pekerjaan nya. Ia tidak ingin jika nanti kekasihnya tiba, waktu mereka harus berkurang karena masih ada pekerjaan yang belum diselesaikan.


Ring..Ring..


"Pak ada tamu untuk anda." laporan dari resepsionis di Lobi memberitahu Zen. "Wanita..?" tanya Zen. Ia yakin kalau itu adalah Zoya nya. "Ya pak,"


"Baik, suruh dia temui saya di ruangan."


Setelah Zen menutup telpon nya, sekali lagi ia membereskan semua pekerjaan nya secepat mungkin, setidaknya Zoe akan tiba di ruangan nya kurang lebih 5 menit lagi.


Jarang-jarang kekasihnya itu berinisiatif menemuinya, apalagi di kantor. Zen sedikit mengulas senyum memikirkan Zoya. Mungkin saja saat ini kekasihnya itu ingin menceritakan betapa kerasnya ia berusaha menahan diri dalam pertemuan tadi, yang setau Zen sangat tidak Zoe sukai.


Bahkan gadis kecilnya itu masih terlihat kesal tadi pagi, namun masih berbaik hati untuk menjalankan tugasnya. Kebaikan hati yang diturunkan dari Mollie, Zen rasa.


...Tok..Tok.....


...Ceklek....


Zen sedikit terpana melihat wanita yang berdiri di depan nya. Wanita yang saat ini berwajah sendu dan hampir menangis saat melihat dirinya.


"Maria?" Zen sedikit kaget dengan kehadiran wanita itu. "Ada apa? maksudku, kenapa kamu ada disini, bukan kah seharusnya kamu?.


"Kemari masuk, dan duduklah!" Zen bangun dari kursinya menghampiri maria yang saat ini terlihat begitu,.


"Aku boleh masuk dan bicara dengan mu kan Zen?" Kini air mata wanita itu sudah basah di pipinya.

__ADS_1


"Ada apa? apa ada masalah?"


GRAAB..


Maria memeluk Zen sambil menangis tersedu-sedu. Zen tidak tau apa yang sebenarnya wanita itu lakukan disini, dikantornya. Namun ia datang dalam kondisi seperti ini, Zen juga tidak bisa mengabaikan nya begitu saja. Apalagi Maria adalah teman yang baik saat Zen masih tinggal di U.K.


"Hei, ada apa? ceritakan padaku. Aku kira kamu sudah kembali ke U.K bersama mom and Didie. Kemana saja kamu selama ini?" Zen masih menepuk punggung maria, mencoba menenangkan wanita itu.


Zen juga mengambil sapu tangan dari sakunya, dan membiarkan maria membersihkan wajahnya yang saat basah karena air mata.


"Maafkan aku Zen. Maaf karena datang seperti ini padamu." Maria sudah lebih tenang saat ini, walaupun suaranya masih terdengar bergetar.


"Duduklah. Ceritakan padaku ada apa?" Zen menuntun Maria untuk duduk di sofa tamunya. Terlihat wanita itu sedang mempersiapkan dirinya untuk memulai ceritanya. Maria melirik Zen sesaat kemudian menunduk lagi, kemudian menangis lagi.


Ya Tuhan, ada apa ini?


"Kamu tau Papa kan Zen?" maria memulai ceritanya.- "Hmm." tentu saja Zen mengenal Lord Benjamin, salah satu bangsawan dari kalangan Militer, yang sekaligus ayah dari teman nya itu.


"Kamu juga taukan sebelumnya, papa ingin menjodohkan kita? jeda wanita itu. Zen hanya diam dan mendengarkan. "Aku tau kamu tidak setuju dengan rencana seperti itu."


Maria melanjutkan ceritanya.


"Saat orang tuamu mengatakan ingin mengunjungi mu, papa tau rencana itu, karena mereka sempat bertemu sebelumnya, dan ku rasa uncle dan aunty menyetujui rencana papa, aku yakin saat itu mereka belum tau tentang kau dan Zoya." Maria menjeda sebentar, kemudian membersihkan hidungnya yang basah karena cairan lengket setelah menangis tadi.


"Karena itulah aku ikut bersama mereka kesini, dan saat bertemu kami malah di kejutkan dengan acara mu itu," sambungnya, Maria merasa sedikit malu, wajah gadis itu bersemu.


"Ya aku tau, aku memang berencana memberikan kejutan saat itu." Zen membenarkan rasa terkejut maria.


"Tapi sungguh saat itu, aku benar-benar bahagia dan lega sekaligus karena pertunangan mu. Ku pikir aku tidak perlu membujuk mu, dan papa bisa mengerti setelah uncle mengatakan hal itu langsung setelah mereka kembali." Maria terlihat tulus dalam setiap perkataan nya, dan Zen tau wanita itu memang selalu seperti itu.


"Tapi, besoknya, saat aku ingin kembali ke U.K papa menelpon ku lagi,- Maria sekali lagi menjeda ceritanya, dan Zen yakin inilah permasalahannya.--- "dan mengatakan bahwa setelah kembali, aku akan langsung menikah dengan Lord James Quertesneque, dan aku gak mau Zen, kamu tau bagaimana reputasi Lord James, aku tidak ingin menikahi laki-laki itu." Cerita Maria sedikit menggebu, sekali lagi maria meneteskan air matanya.


Zen sekali lagi menenangkan maria. Ia sedikit memahami bagaimana perasaan maria saat ini. Setau Zen memang Lord James tidaklah pantas dijadikan seorang suami, tidak hanya seorang playboy parah, ia juga sangat kasar dan suka main tangan terhadap perempuan, satu-satunya yang baik dari laki-laki itu hanyalah kedudukannya sebagai seorang bangsawan brengsek. Tidak ada yang lain. Dan aneh nya bagaimana Lord Benjamin menginginkan pernikahan putrinya dengan laki-laki seperti itu.

__ADS_1


"Jadi karena itukah kamu membatalkan kepulangan mu? Lalu dimana kamu tinggal saat ini? bagaimana dengan keuangan mu?" Zen mengkhawatirkan wanita itu. Walau bagaimanapun, Maria adalah seorang wanita asing dan ia sendirian di negara yang sama sekali tidak ia kenal.


"Jangan khawatirkan itu Zen. Kamu tau aku punya banyak tabungan pribadi selama aku kita kuliah, bahkan sampai beberapa saat sebelum aku datang ke negara ini.- Maria menghapus air matanya lalu tersenyum seakan sudah menemukan solusi dari masalah yang ia hadapi.


"Aku berencana tinggal disini. Aku baru saja mengurus Visa ku, dan itu akan siap minggu depan. Aku juga sudah menyewa sebuah apartemen tidak jauh tempat kerjaku." Wanita itu berbinar menceritakan semua rencananya, dan apa saja yg sudah ia lakukan selama kurang lebih 2 minggu ini. ~Wanita mandiri.


"Kerja? kamu melamar pekerjaan?"


"Tidak, bukan melamar. Tapi aku membangun kantorku sendiri, seperti di U.K, meskipun Ya.. tidak sehebat di sana. Nanya sebuah kantor kecil, aku mengontrak tempatnya untuk 1 tahun kedepan." sekali lagi secercah harapan dan juga semangat terlihat di wajah maria.


Zen memang mengenal Maria, keduanya juga termasuk teman saat di universitas, dan Zen tau betapa baik nya reputasi wanita itu, kariernya selalu saja mengagumkan bahkan setelah mereka lulus.


Saat Zen memutuskan membangun perusahaanya sendiri, Maria juga mendirikan kantor Design nya sendiri. Setau Zen maria sangat mencintai design, dan kalian harus tau betapa hebatnya wanita itu dalam hal design.


"Aku harap kamu melakukan keputusan yang benar Maria. _ jadi sekarang, apa yang bisa ku lakukan untukmu?"


"Aku hanya minta tolong padamu, bisakah kamu melindungi ku di tempat ini Zen? Kamu tau sendiri bagaimana papa, aku yakin dalam waktu dekat akan datang entah siapa yang papa perintahkan untuk menyeret ku pulang lalu menikah dengan laki-laki itu." Terlihat ketakutan dan kecemasan di wajah maria, dan Zen tau artinya itu. Hanya Zen lah satu-satunya harapan maria.Hanya Zen lah yang bisa melindungi maria.


"Baiklah, akan ku coba. Walau pun sebenarnya Kekuasaan ku saat ini masih belum mampu untuk melakukan itu, tapi ku rasa jika Opa yang melakukannya pasti bisa. Aku akan menemui Opa secepatnya, dan sebaiknya kamu ikut bersamaku nanti." Zen tersenyum seolah mengatakan pada Maria, bahwa wanita itu tidak perlu khawatir. Terlihat senyum kelegaan di wajah maria. Setidaknya ia datang pada orang yang tepat.


"Dimana kamu tinggal saat ini, aku akan mengantarmu pulang." Zen berdiri dari duduknya langsung menyambar jas dan juga kunci mobilnya. Maria juga mengiyakan tawaran Zen, kemudian keduanya keluar bersamaan dari ruangan Zen. Tentu sebelumnya Maria sudah membersihkan makeup tipis yang sempat terhapus karena air mata nya.


Zen membukakan pintu mobil untuk maria, sehingga wanita itu juga masuk dengan patuh, kemudian Zen menyusul setelah ia menutup pintu mobil di bagian penumpang, tak lama mobil itupun meninggalkan kantor.


Zoya mengenali Zen dan juga Maria, meskipun dari jarak mobilnya berhenti saat ini. Saat Zen keluar dari pintu Lobi Zoya pikir Zen akan menyambut kedatangannya, namun setelah melihat siapa yang mengikuti Zen, Zoya mengurungkan niatnya.


Bahkan saat ini, saat Zen meninggalkan kantor, kekasihnya itu bahkan tidak menghubungi Zoya.


"Ikuti mobil yang di depan pak." perintah Zoya pada supirnya, yang tampa menunggu lama langsung menyusul mobil Zen.


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2