
...ENJOY...
.......
.......
.......
Setelah semua kehebohan yang terjadi disekolah sepanjang hari ini. Miss Anonim yang dipertanyakan banyak orang pun akhirnya mengakui siapa dirinya, dan ia tidak lain adalah Dinda Kanya Dwima, sahabat Viona sang gadis populer yang berada dikelas yang sama dengan Shreya.
Gadis itulah yang menyebarkan isu dan foto-foto tersebut dengan mengatakan kalau ia punya alasan sendiri untuk melakukannya. Gadis itu juga menolak untuk berkata jujur, maka dengan sangat jelas, gadis itu harus diberikan sangsi tegas yaitu dikeluarkan dari sekolah.
Karena kehebohan tersebut, banyak pula murid-murid yang mengunggah berita tentang Shreya di media sosial mereka masing-masing, hingga yang ditakutkan pun akhirnya terjadi. Berita tentang keluarga Darma Carera Brasca sudah terlanjur menjadi konsumsi publik, dan dengan senang hati pula seluruh awak media mulai merilis berita terbaru tentang skandal dibalik kelurga Darma C.Brasca
Dan tentu saja, jika itu dari pihak media yang berbicara, maka mereka tak akan keberatan menggali awal, yaitu dari asal usul kelahiran Shreya.
Mengapa ia tidak terdaftar dalam silsilah keturunan keluarga Carera?
Mengapa sampai saat ini ia belum juga mendapat pengakuan dari sang Ayah, yang adalah seorang terpandang? Apakah ada yang disembunyikan keluarga tersebut?Atau adakah skandal lain yang berkaitan dengan kematian nyonya Carera Brasca beberapa belas tahun silam?
PLAK!! PLAK!!
Tamparan keras dan juga memengkakan diterima Damian begitu saja. Ia hanya bisa menahan saat kepalanya terasa berputar dengan telinga berdengung akibat tamparan beruntun yang baru saja dilayangkan oleh sang ayah, Darma Carera Brasca.
"Pa!! Kak Damian gak salah pah! Ini salah Shreya.. jangan salahin kak Damian, Shreya yang salah pah, Shreya!"
Gadis itu memohon dengan wajah berurai air mata, berlutut dihadapan sang ayah dengan kedua tangan yang disatukan. Shreya begitu ketakutan dan juga tak berdaya saat tatapan kebencian kini dilayangkan padanya, Tapi apa yang harus ia lakukan, Shreya tak mungkin tinggal diam saat Damian di perlakukan seperti tadi oleh sang ayah.
Darma mengangkat tangannya, dengan kilatan kemarahan hendak menampar Shreya, namun masih ditahan, alhasil ia menggenggam tangannya dengan kegetiran dan juga kemarahan serta kebencian 15 tahun silam yang masih terus menghantuinya sampai saat ini.
"Berani sekali mulutmu menyebutku seperti itu!'' ucapnya dengan segenap kebencian yang ia miliki.
__ADS_1
"Kau putri si ****** dengan laki-laki brengsek itu! ayah mu,- kau bukan putri ku! bukan darah gading ku! tutup mulut mu itu!" ucapnya dengan bicara yang sengaja di lambat-lambatkan, menambah kengerian dalam ancamannya.
"Pa, ma-a-af.. Shre..yaa.. -
Mendengar sekali lagi gadis itu menyebutnya Papa, kemarahan Darma kembali memuncak. Sekali lagi ia mengangkat tangan nya hendak melayangkan tamparan pada Shreya, membuat Shreya buru-buru memejamkan matanya, namun tak menghindar.
Hampir saja tangan itu menyentuh wajah Shreya.Namun Damian mencegahnya. Damian memegang kuat pergelangan tangan Darma, dengan kemarahan yang sama. Habis sudah kesabarannya selama ini, Ia tak bisa lagi menerima semua perlakuan buruk sang ayah kepada adiknya.
"Pa! Cukup! Damian bilang cukup pa, Shreya putri papa! Adik Damian, putri mama!" ujar Damian, dengan mata berkilat, memperingati Darma.
"Suka tidak suka, kenyataan nya akan tetap seperti itu! Dan kebencian papa selama ini, sebaiknya disimpan untuk papa sendiri, tapi jangan pernah papa berpikir untuk menyentuh Shreya sedikitpun."
"Shreya adik ku pa, adik yang ku sayangi dengan segenap jiwa dan raga ku.. mulai hari ini dan sampai kapanpun, Shreya adalah tanggung jawabku. Kalau papa tak bisa menerima Shreya, maka aku akan membawanya pergi, kami akan pergi meninggalkan keluarga ini."
"Damdam, jangan begitu.." Cegah Shreya masih memohon. Shreya menangis sesenggukan, dengan kata yang terbata-bata ia meminta pada Damian untuk tidak melanjutkan kemarahannya.
Melihat air mata yang berurai di wajah Sharenya, Damian menghempaskan tangan Darma dan beralih pada Shreya. Damian membantu gadis itu untuk bangkit dari lantai tempatnya berlutut.
"Papa lihat..- Lihat pah!" Teriak Damian menunjuk pada Shreya.
pernahkah kah papa bertanya bagaimana , saat tak ada rasa kebencian yang selalu menghantui disetiap tidurnya? Pernah kah papa bertanya, apakah gadis kecil ini pernah merindukan papa walau hanya sebentar, atau menginginkan senyuman hangat dari satu-satunya ayah yang ia miliki?"
"Pah,- Selama 15 tahun ini, apa papa pernah melihat betapa cantiknya Shreya saat tersenyum..? mata siapa yang ia miliki? wajah siapa yang ia miliki? darah siapa yang mengalir didalam nadinya. Apa papah pernah ingin mencari tahu semua itu selain hanya memikirkan semua kebencian yang menggerogoti hati papa, pernahkah?" Teriak Damian penuh kegetiran.
Heh!
Damian tertawa sinis.
"Well, oke. Karena papa tak pernah menginginkan Shreya, maka aku akan membawanya pergi jauh. Jauh sampai papa tak akan pernah menemukannya meskipun papa ingin. Begitupun aku. Aku tak akan sudi hidup bersama laki-laki yang tak pernah mengakui darah daging nya sendiri, laki-laki yang dibutakan oleh kebencian. Kami akan pergi pa, semoga papa akan bahagia setelah kami tidak ada.'' tutup Damian lalu menarik tangan Shreya untuk keluar dari ruang kerja ayahnya.
"Damdam.. jangan seperti ini Damdam.. bagaimana dengan papa kalau kita pergi? Damdam aku gak apa-apa tapi jangan tinggalin papa sendiri Damdam.. please..!" Shreya jatuh tersungkur memohon papa kakaknya.
__ADS_1
Semarah-marahnya ayah mereka, itu tetaplah Papanya. Bagaimana mungkin Shreya berpikir untuk pergi dan menggoreskan luka yang lain, luka yang akan membuat ayahnya semakin membenci dirinya. Setidaknya dnegan adanya Shreya, Darma bisa menjadikannya orang yang ia benci dari pada menahan semuanya sendiri.
Shreya ingin berbagi semua luka, semua kesedihan dan semua yang tak bisa papanya katakan selama ini, Shreya ingin melakukan itu. Shreya juga yakin, dengan terus berada disisi ayahnya, suatu saat nanti hati papanya perlahan akan terbuka untuknya.
Meskipun sekali, hanya sekali saja. Shreya berharap ia mendapatkan kesempatan untuk memegang tangan ayahnya, dan mendengarkan sang ayah menyebutnya- putriku!
"Shreya.. jangan begini!- tolak Damian. '' Laki-laki tua itu tak memiliki hati. Jangan buang-buang waktumu untuk mendapatkan pengakuan darinya, ia tak akan pernah melakukan itu Shre. Kau hanya punya aku sekarang. Kita akan pergi. Pergi jauh.'' Bujuk Damian lagi, membuat Shreya semakin terisak saat mendapati bahwa kenyataannya semakin tak mungkin terjadi.
"Kenapa Damdam..? Kenapa mama harus lahirin aku kalau akhirnya aku hanya akan menyakiti hati papa. Kenapa Damdam, kenapa?" tangis Shreya semakin pecah menggema diluar ruangan tersebut.
Ia lebih hancur dari berkeping-keping, mungkin sudah tak berbentuk. Ia terluka. Ia tersakiti, ia benar-benar merasa tak memiliki arti. Hatinya kini sudah di luluh lantahkan.
Apakah seperti ini takdirnya? Jika bisa memilih, maka Shreya akan memilih tak pernah hadir ke dalam ke dunia. Tidak, ia akan memilih untuk tidak memiliki takdir apa pun. Dengan begitu ia tidak akan terluka, dan tak akan ada yang terluka karena dirinya.
"Bukan salahmu sayang.. kamu tak melakukan apapun. Ini bukan salahmu, kau lahir untuk ku, untuk menemani hidupku. Bukan untuk orang lain, mama meninggalkan mu untuk ku, agar aku mampu bertahan dengan semua kebahagiaan yang kamu bawa dalam hidupku. Bukan untuk orang lain, tapi untuk ku, untuk ku.''
Damian memeluk Shreya dengan erat. Keduanya kini sama-sama berurai air mata. Damian sudah melepaskan semua ikatan kelam yang selama ini mengekang perasaannya. Mulai hari ini, detik ini, ia bukan lagi Damian yang sama.
Hidup mereka tak akan lagi sama. Mulai saat ini, hidup mereka akan dmulai dari titik awal. Titik dimana semuanya akan kembali ditulis pada lembaran putih yang benar-benar kosong.
"Ayo kita pergi!" ajak Damian pada adiknya.
...Sementara itu.....
Didalam ruang kerja nya, Darma duduk terkulai di atas kursinya sambil melihat pada bingkai photo yang berisikan gambar almarhum istrinya.
"Kau lihat perbuatan mu? kau lihat apa yang terjadi pada gadis itu? hah? Harusnya kau tetap hidup untuk menebus semuanya, tapi apa yang kau lakukan, kau pergi meninggalkan semua dosa yang harus gadis itu tanggung seorang diri? apa ku pikir dengan kematian mu aku akan memaafkan semua yang sudah kau lakukan, dan menerima gadis itu? Kau salah Laura! Kau salah! Aku hanya akan membalaskan apa yang seharusnya kau terima kepadanya, kepada putri yang kau tinggalkan!"
Aku akan membuat kau dan laki-laki brengsek itu membusuk di neraka dengan semua luka dan juga kebencian yang akan diterima putri kalian! Membusuk lah dengan nya Laura! Membusuk lah!"
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...