My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
BAD LIER


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


.......


Setelah keluar dari kondominium milik Zen, Zoya segera masuk ke dalam mobilnya dan pergi begitu saja. Ia tak bisa lebih lama lagi menahan air mata yang sejak tadi hampir tak bisa ia bendung. Zen adalah seorang Bad Lier bagi Zoya. Meskipun Zen tak berniat demikian, tetap saja itu menyakiti Zoya.


Tak bisakah Zen mengerti bagaimana perasaan Zoya, tak bisa kah Zen memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi pada Zoya, pada hubungan mereka, tak bisakah Zen merasakan semua kegelisahan yang Zoya rasakan, atau tak bisakah Zen mempertimbangkan barang sedikit apa yang sudah Zoya korbankan untuk hubungan mereka? Jadi, kenapa Zen melakukan ini padanya, dimana salah nya Zoya mengira 'cinta' mereka? apakah ada hal lain yang Zoya salah artikan..?


Kenapa harus Zen? Kenapa harus Zen yang kembali membuatnya terluka? Tak cukupkah dulu Zen sudah membuatnya kecewa hingga membuat lubang menganga didasar hatinya yang memakan waktu hampir setengah hidupnya untuk menutupnya perlahan, sekarang kenapa lagi-lagi harus Zen..? Semenyakitkan inikah yang nama nya 'cinta?


Setelah puas menangis dalam diam selama perjalanan, Zoya mencoba menenangkan dirinya setenang mungkin, menormalkan kembali suaranya, meskipun lagi-lagi air matanya harus mengalir tampa bisa ia hentikan.


"Dad,..?" suaranya bergetar saat Zoya menelpon Dady nya. "Dad, bisakah kali ini kau menolongku Dad, ku rasa aku tak akan bisa bertahan selama yang kupikirkan." katanya dengan terbata-bata.


"Angel, dengarkan Dad, tarik nafas mu kemudian hembuskan perlahan,--- Lakukan sekali lagi sampai kau merasa lebih baik sayang." Rehan menuntun putrinya. "Sekarang katakan dimana kau? Dad akan datang padamu secepat yang Dad bisa. hem..?"


Setelah Zoya mengatakan dimana dirinya berada, Rehan bergegas menyambar kunci mobilnya, dan berlari menuruni tangga.


"Boo,, ada apa..?" tanya Julie yang saat ini sedang berada diruang keluarga, menghentikan laju Rehan.


"Moo, aku harus pergi. Putriku,-- Huh. Rehan menghembuskan nafas sama cemasnya dengan saat pertama ia menerima panggilan Zoya.


"Putriku sedang membutuhkan ku sekarang Moo, aku harus pergi. Aku akan mengabari mu secepatnya." ucap Rehan, mengecup kening Julie dan kembali berlari menuju mobil yang sudah terparkir di depan pintu. "Boo...?"


Ada apa dengan putrinya..?


Julie segera mengambil ponsel, yang pertama kali ia pikirkan adalah Zen. Apapun yang terjadi pada Zoya saat ini, hanya Zen lah jawaban dari semuanya.


"Sayang, dimana kau sekarang? apa Zoya bersamamu?" tanya Julie lembut mengabaikan ketegangan yang baru saja terjadi. "Aku sedang di jalan Mollie, aku menyusul Zoya ke butik tempat fitting baju pengantin kami, ada apa?" tanya Zen masih terfokus pada jalanan yang ia lalui.

__ADS_1


"Mollie kira Zoya pergi ketempat mu. Tidak apa-apa sayang. Semoga fitting nya berjalan lancar." tutup Julie. Berharap semuanya memang baik-baik saja.


Sementara itu Julie hanya bisa menunggu kabar dari suaminya. Kini hanya Rehab lah yang akan menjelaskan apa yang terjadi, dan mengapa ia bersikap seperti barusan.


Zen bukannya sengaja tak memberi tahu Mollie alasan dirinya tak bersama-sama dengan Zoya saat ini, Zen hanya tak ingin membuat mereka cemas. Tak lebih.


Rehan mencoba yang terbaik saat mengendarai mobilnya, menyelip dan menembus kepadatan lalu lintas agar bisa sesegera mungkin datang pada putrinya.


Dua puluh menit kemudian Rehan memarkirkan mobilnya dengan sempurna, setengah berlari dengan segala tanya dan kecemasan yang semakin berlipat meliputi dirinya.


Rehan mencari Zoya di tengah-tengah keramaian para calon penumpang. Ya, Rehan sedang berada di airport sekarang. Sebelumnya Zoya mengatakan pada Rehan bahwa ia sudah membeli tiket, dan akan pergi dalam satu jam, karena itulah Rehan melesat sempurna bagaikan anak panah mengarah pada sasaran, yaitu, Zoya.


Rehan kembali menghubungi Zoya saat tak menemukan keberadaan putrinya. Ya Tuhan, apa yang sebenarnya putri ku alami? Saat Zoya menerima panggilannya, saat itu juga Rehan menemukan keberadaan Zoya berdiri di tengah-tengah pengecekan boarding pass. Hampir saja Rehan terlambat.


"Angel..?" seru Rehan sambil berlari untuk mendapati Zoya. Gadis kecilnya tak lagi menangis, namun matanya menunjukan jejak yang tak bisa di sangkal.


"Dad...?" Zoya mendengar suara Dady nya menggema, ia keluar dari antrian, berlari pada pelukan Rehan. Pelukan yang ia butuhkan, saat ini, detik ini, atau ia akan melebur bersama dengan rasa sakit yang sejak tadi terus menghantam uluh hatinya.


Lagi, air mata yang tadinya telah reda kembali meluncur dengan mulus melewati pipi Zoya.


"Dad.. " hanya itu yang Zoya ucapkan seraya mengeratkan pelukannya. "Angel, apa yang kau lakukan? mau kemana kau pergi seperti ini? tak bisakah kau katakan semuanya pada Dad seperti yang seharusnya kita lakukan?"


"Dad, please.. biarkan aku sekali ini. Hanya sekali ini, hem? aku tak akan melarikan diri lagi, hanya kali ini, ku mohon." pintanya sambil terisak.


Zen. Itulah yang terlintas di kepala Rehan saat mendengar putrinya memohon. Rehan berulang kali mengecup puncak kepala putrinya, mengusap punggung Zoya, menenangkan nya seperti yang selalu Rehan lakukan selama ini, saat putri kecilnya mencoba untuk meninggalkan bagian dirinya ditempat tersembunyi di dasar terdalam hatinya.


"Angel, husstt.. dengarkan Dad. Tidak apa-apa jika hatimu merasakan sakit yang teramat sangat, tidak apa-apa jika kau harus kehilangan rasa percaya pada hatimu, dan tidak apa-apa jika kau ingin pergi. Hanya berjanjilah pada Dad, kalau kau akan segera pulih dan kembali menjadi dirimu. Berjanjilah kalau kau akan baik-baik saja. Dad akan mendukungmu apapun itu pilihan mu, asalkan kau tetap menjadi putri Dad yang bahagia. Putri Dad, yang selalu tersenyum dengan menawan. Dad akan merindukan dirimu yang itu." bisik Rehan.


"Sekarang katakan apa yang harus Dad lakukan untukmu?" Rehan merenggangkan pelukannya agar bisa melihat wajah Zoya, dan mengusap jejak air mata di pipinya yang lembab.


"Bicaralah pada mom, Dad.. katakan aku akan baik-baik saja. Jangan mencari ku, hanya itu, aku tak bisa bicara langsung pada mom." pinta Zoya sesenggukan.


Rehan sangat mengerti perasaan putrinya. Ini adalah kali kedua dalam hidup Rehan menyaksikan putrinya seperti ini, setelah kejadian bertahun-tahun lalu, dan sejak itu Rehan berjanji pada dirinya tak akan membiarkan Zoya mengalami hal yang sama, namun ternyata, lagi-lagi penjagaan Rehan pada Zoya teralihkan karena mempercayakan Zen yang menggantikan tugasnya.


"Baiklah. Akan Dad lakukan!" jawab Rehan tersenyum penuh pengertian. "Thanks Dad, i love you so much."


"Love you more angel." Rehan memeluk Zoya untuk membuktikan dukungannya.

__ADS_1


"sekarang katakan pada Dad, kemana kau akan pergi?" tanya Rehan, tak akan membiarkan Zoya pergi tampa memberitahu tujuannya. Setidaknya Rehan akan mudah untuk melacak keberadaan Zoya jika ia tau kemana putrinya akan pergi, dan bersiap untuk berbagai kemungkinan, meskipun Rehan merasa berat melepas Zoya.


Zoya tersenyum samar melihat guratan kekhawatiran di wajah Dady nya, senyum samar itu berdampak luar biasa, menimbulkan kelegaan yang membanjiri hati Rehan. "Dad yang paling tau kemana aku akan pergi." kata Zoya, dan terpikirlah satu tempat dalam benak Rehan.


"Baiklah sayang, semoga jalan-jalan mu menyenangkan. Miliki hari-hari yang akan membuatmu bisa bernafas dengan lega." kata Rehan membelai pelan rambut halus putrinya.


"Bye dad.. i will miss you and mom." pamit Zoya.


"Ya, see you soon angel." Rehan memeluk dan mencium Zoya untuk yang terakhir sebelum melepas kepergian putrinya.


Tepat sebelum Zoya memasuki antrian, ponselnya bergetar, sebuah notifikasi baru. Dady nya baru saja mentransferkan uang sebesar US$ 3.000.000 dollar ke rekeningnya.


"Your the best Dad." kata Zoya tampa suara sambil melambai pada Rehan.


...From : Dad...


...Katakan saja berapa yang kau perlukan. Akan Dad, lakukan apa saja untukmu sweetheart....


...I love you more than anything....


...❄️❄️❄️...


Rehan berada di butik yang tertera di kartu nama yang Zoya berikan sebelumnya. Ia bertemu langsung dengan sang designer sesuai janji yang sudah di buat namun Zoya masih juga belum sampai di sana.


Zen menunggu Zoya dengan gelisah. Kali ini sepertinya Zoya benar-benar marah padanya, apa yang Zen harus lakukan?


"Permisi sebentar, aku akan menghubungi tunangan ku." kata Zen setelah menunggu cukup lama, kemudian meraih ponselnya menekan "my Zo'e" nama yang tertera di sana, namun panggilan Zoya tak tersedia, dan dialihkan ke kotak suara.


Kali ini Zen menelpon Mollie, bisa saja Zoya berubah pikiran dan kembali kerumah akibat dari pertengkaran kecil mereka.


"Hallo Mollie, apa Zo'e sudah tiba dirumah?" tanya Zen dengan suara tenang. "Zoya tidak bersama mu sayang? Mollie belum melihat mobil kembali kerumah." jelas Julie dengan sebenarnya. "Baiklah Mollie, akan ku hubungi lagi." tutup Zen.


Zen kembali menyimpan ponsel di sakunya, ia membatalkan janji temu hari ini karena keberadaan Zoya yang tak juga di ketahui sementara sang designer memiliki cukup banyak klien lain yang menanti setelah mereka.


Zen mengusap wajahnya yang terasa tebal. Ia harus menemui Zoya secepat yang ia bisa, tapi kemana Zoya? tak mungkin ia kembali kerumah, jika ya, maka Mollie pasti akan menghubungi dirinya.


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2