
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
Sesampainya dirumah. Ken hanya mengurung diri di kamar. Sejak tadi ia sudah berusaha menghubungi Shreya. Ken mencoba menelpon sampai puluhan kali, namun panggilannya selalu saja di tolak. Ken juga mengirimkan chat, namun tak satupun yang dibaca oleh gadis itu.
Ken mencemaskan Shreya. Apakah gadis itu baik-baik saja setelah semua kehebohan yang terjadi. Terakhir Ken melihat Shreya, wajah gadis itu terlihat sangat pucat. Semacam ada ketakutan yang sangat yang tak bisa ia ceritakan.
"Apakah seburuk itu saat statusmu diketahui?"
Ken mengacak rambutnya frustasi. Tak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain menghela nafas berat berulang kali. Sebelumnya Ken juga sudah mencari informasi tentang keluarga Carera Brasca dari internet. Salah satu topik yang sangat diminati adalah tentang; Kecelakaan maut yang menimpa Laura Carera Brasca.
Kecelakaan tersebut mengakibatkan istri Darma C.Brasca yang tengah mail tua kehilangan nyawanya, begitu juga dengan bayi dalam kandungannya. Kecelakaan maut tersebut tidak hanya menewaskan Laura, namun juga pria lain yang berada di dalam mobil yang sama dengan nya, yaitu Antonio, rekan bisnis dan juga sahabat Darma, suami nya.
Kejadian itu juga menimbulkan spekulasi lain, yaitu adanya hubungan gelap diantara keduanya, karena menurut berita sebelumnya; Laura tengah melayangkan surat cerai kepada Darma.
Membaca semua artikel tersebut, membuat Ken semakin di landa kecemasan. Jika Shreya adalah bayi 15 tahun silam yang diberitakan meninggal dalam kandungan, lalu mengapa ada Shreya yang saat ini? bukankah itu artinya berita tersebut sengaja di palsukan?
lalu kenapa? apakah benar hubungan gelap tersebut? Apapun itu, bagaimanapun Ken menelusuri lebih lanjut, tak ada pembuktian dari semua skandal yang beredar. Semuanya hanya sebatas rumors yang sampai sekarang terus membuat aib dalam keluarga Brasca.
"Hei.. Jagoan.. kau kenapa?" Zen berdiri didepan pintu kamar Ken yang terbuka. Ia tak sengaja melihat adik iparnya itu terdiam dengan wajah murung, dan sesekali mengusap kasar wajahnya sendiri, membuat Zen tak tahan untuk bertanya.
"Eh.. kak..? kau disini..- Apa Zozo juga disini?" Tanya Ken yang baru menyadari kehadiran Zen.
"Ada yang ingin kau ceritakan jagoan? wajahmu terlihat muram!"
Ken mengangkat kedua bahunya, dengan senyuman yang mengatakan bahwa ia baik-baik saja-
"Gak ada yang penting kok. cuma tentang sekolah. Sebentar lagi akan ada tes pertama.'' elak Ken, yang tak ingin menyimpan semua keresahannya seorang diri.
"Baiklah kalau kau tak ingin cerita. Mungkin ain kali, kau tau nomor telpon ku bukan? Aku hanya mampir sebentar untuk mengambil beberapa barang Zo'e.'' ujar Zen.
"Ya, silahkan saja. Aku juga akan turun sebentar lagi.''
...Ke esokan harinya.....
Ken pergi lebih pagi dari biasanya.
Ia menunggu Shreya di tempat parkir di samping sekolah. Ken juga masih setia untuk mengecek ponselnya, namun hasilnya masih sama. Tak ada respon sama sekali dari Shreya. Gadis itu mengabaikannya.
Pukul 8 pagi, bell pertama pun berbunyi. Ken dan Leon sama-sama menunggu di dalam gelas, namun hingga pelajaran pertama berakhir, Shreya juga tak muncul di sekolah. Tak hanya Shreya, bahkan Mr. Damian pun tak ada di sana.
__ADS_1
"Miss.. permisi.." Ken dan Leon menemui Casandra diruangannya.
"Ya Ken, ada apa? apa ada hal yang ingin kalian sampaikan?" Casandra meletakan kedua tangan di atas meja.
"Maaf jika kami lancang miss, tapi bolehkan kami bertanya, apakah miss tau tentang,-
"Maksud kalian Shreya?" tebak Casandra.
Ken dan Leon sama-sama menganggukkan kepalanya.
Casandra menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan kedua muridnya itu. Bohong jika ia tak tau mengapa orang yang dicari tak datang ke sekolah, pasalnya Damian dan Shreya saat ini tengah berada di sebuah Hotel sebelum melakukan perjalanan keluar negeri.
"Shreya akan pindah sekolah, dan berkas-berkasnya sudah dikeluarkan siang ini" jelas Casandra. "Begitupun juga dengan Damian." tambahnya. ''Setelah semua kehebohan kemarin, kalian seharusnya bisa menebak jika akhirnya akan seperti ini.'' pungkasnya.
"Tapi kenapa?" tanya Ken tak habis pikir. Kenapa Shreya harus pergi, dan kenapa....?"
"Bisa katakan dimana hotel mereka saat ini miss, kumohon..?" pinta Ken. Setelah pertimbangan sesaat, Casandra akhirnya memberikan nama Hotel tempat Shreya saat ini. Ia menulisnya dalam secarik kertas lalu memberikannya pada Ken.
"Itu nama hotelnya, carilah disana.''
"Terima kasih miss.." ucap Ken yang sudah menyambar cepat kertas tersebut, kemudian bergegas keluar.
"Heii.. naik mobil gue aja.'' Seru Leon yang juga ingin menemui Shreya.
"Hmm. Ayo."
Setelah melewati kepadatan lalu lintas ibu kota, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Ken yang sudah bertanya pada resepsionis, segera memasuki lift menuju ke kamar Shreya.
Tapi bagaimana jika saat ia menemukan jawabannya, gadis itu malah pergi meninggalkan Ken sendiri?
Bagaimana dengan perasaan Ken? Apakah harus ia pendam seorang diri?
Tidak. Setidaknya Ken harus jujur dengan mengatakan kebenaran tentang perasaannya, jika memang itu yang saat ini ia rasakan.
Apakah ini rasa suka? atau rasa yang lebih dari itu?
Ting.
Saat Lift terbuka, Ken bergegas berlari menuju kamar nomor 309, kamar tujuannya.
"Heii.. kenapa kalian disini?" Damian yang juga baru keluar dari lift yang lain berpapasan dengan Ken dan Leon. "Mister...? Aku ingin bertemu Shreya, dia dikamar nya?" tanya Ken cepat. Membuat Damian memutar matanya. "Bukan kami, tapi aku?" selanya.. "Apa kalian membolos?" tanya Demian lagi.
Leon hanya tersenyum kikuk saat pertanyaan tersebut dilontarkan. Tak perlu dijawab pun, jawabnya sudah sangat jelas. "Shreya ada di kamarnya, tunggu lah di restoran di sebalah timur, aku akan membawa Shreya kesana.'' perintah Damian pada keduanya.
Tok..Tok..
Damian mengetuk pelan sebelum membuka kamar Shreya.
__ADS_1
"Hei sayang.. coba tebak siapa yang datang mencarimu?" tegur Damian pada adiknya yang saat ini tengah duduk termenung menghadap keluar jendela.
"Aku tak ingin bertemu siapapun kak.'' tolak Shreya.
"Tapi ini penting, dan kau pasti akan menyukainya.'' bujuk Damian lagi. Ia sangat tau bagaimana perasaan adiknya, ia pun sama terlukanya, hanya saja tidak sedalam Shreya.
"Apa itu kedua manusia menyebalkan?" tebaknya, bersuara lemah.
"Hmm. Kau benar. Temui lah mereka sebelum kita pergi. Mereka teman-teman mu sayang. Jangan biarkan usaha membolos mereka jadi sia-sia.'' Damian tertawa konyol.
"Dimana...?"
Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, akhirnya Ken dan Leon melihat Shreya dan Damian.
"Heii.. Look at that..!" seru Leon.. "Lo baik-baik aja?" tanya nya lagi.
"Maaf, aku harus bicara berdua dengan nya mister, permisi.'' ijin Ken yang langsung menarik pelan tangan Shreya. Gadis itu sangat menurut, bahkan tak terdengar protes sedikitpun.
"Hei.. Lo bawa Shreya kemana? gue gimana?" Protes Leon.
"Kamu disini aja sama saya, liatin air kolam.'' ujar Damian, mendudukkan Leon pada salah satu kursi.
"Anda baik-baik saja mister?" Tanya Leon, yang saat ini dengan jujur memperlihatkan kepeduliannya.
"Well, kami baik-baik saja. Setidaknya untuk saat ini, dan kedepannya, kami pasti akan jauh lebih baik." yakin Damian.
"Anda yakin?- Leon tak bermaksud mempertanyakan keputusan yang sudah dibuat Damian, hanya saja, saat ini ia benar-benar. "Apa ini juga yang Shreya inginkan?" tambahnya.
Damian tertawa kecil. Ini bukan lagi percakapan antara guru dan murid, tepatnya, percakapan antar lelaki.
"Aku senang ternyata Shereya memiliki teman-teman seperti kalian.. dan terima kasih untuk itu. Sejujurnya aku tidak sepenuhnya yakin, hanya saja bagaimana kita akan tau jika tak mencoba. Benarkan? bukan kah ini yang dinamakan dengan kehidupan?"
...Sementara itu.....
"Lo beneran pergi?" Tanya Ken, yang masih memegang tangan Shreya, bahkan lebih erat dari sebelumnya.
"Hmm.. "Shreya menganggukkan kepalanya.
"Kemana?"
"Gue gak tau Ken, Damdam yang..-
Ken tak bisa menahan dirinya untuk tidak memeluk Shreya. Jika ini benar perpisahan, setidaknya ini perpisahan yang layak. Shreya juga tak menolaknya.
'' Jaga diri lo! Lo harus bahagia, jangan terlalu sering nangis. Jangan pergi terlalu jauh juga. Suatu hari nanti gue akan nemuin lo lagi.Sampai saat itu, lo harus janji kalau lo bakal nungguin gue Shre.- Gak. Lo gak usah janji, Tapi lo emang harus nungguin gue, karena gue suka sama lo!"
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...