
...ENJOY...
.......
.......
.......
Waktu sudah menunjukan pukul 4 pagi. Sementara Lova masih terus menunggu dengan perasaan bercampur aduk. Sepanjang malam Lova terus terjaga. Meskipun merasa sangat lelah, tapi tidak sedetik pun ia dapat memejamkan matanya. Lova terlalu takut untuk melakukan itu.
Lova takut sesuatu akan terjadi pada Ken sementara ia terlelap. Karena itulah ia memilih untuk terus berjaga. Lova hanya ingin terus menemani dan menunggu sampai Ken kembali tersadar.
''Ken, dengarkan aku, ku mohon,- Lova bicara sambil memejamkan matanya. ''Saat matahari terbit, bangunlah. Aku terlalu lelah. Ku mohon bicaralah pada ku- atau setidaknya kau harus mencoba untuk membuka matamu.'' Lova menggenggam tangan Ken yang masih terkulai.
Tangan yang biasa nya terasa begitu hangat saat membungkus tangan Lova, kini sedang tidak merespon sentuhan nya sama sekali.
''Aku ingin mengatakan apa yang ingin kau dengarkan. Aku ingin mengatakan nya padamu. Karena itu ku mohon bangunlah. Jangan membuat ku takut. Sekarang aku benar-benar merasa takut Ken.- Ku mohon..!''
Kamar itu terasa begitu hening. Hanya suara monitor dan sesekali suara helaan nafas Lova lah yang terdengar.
Sesekali Lova juga melihat ke pada Leon yang saat ini terlelap begitu pulas di atas sofa yang tidak jauh dari ranjang Ken. Lova bersyukur masih ada Leon bersama nya. Setidaknya keberadaan Leon menghilang kan sedikit rasa takut yang terus merundungi Lova.
Dan ketika detik mulai berganti menit, dan menit berganti jam. Semuanya masih sama. Lova masih saja hanya ditemani oleh keheningan.
''Tuhan.. Ku mohon bangun kan Ken. Aku mencintainya, aku hanya ingin mengatakan perasaan ku padanya. Ku mohon berikan aku kesempatan untuk melakukan itu.''
'''L.. kau tidak tidur?" Suara Leon mengagetkan Lova. Leon baru saja terbangun karena sebuah mimpi aneh yang ia alami.
''Kau sudah bangun, apa aku mengganggu tidur mu?"
Leon mengusap wajahnya yang masih terasa tebal. Bahkan sesekali ia masih menguap.
''Tidak L..- katakan padaku, apa kau tidak tidur L? kau berjaga semalaman?"
''Leon,- aku tidak bisa tidur. Aku tidak akan pernah bisa tidur selama Ken masih belum sadar.''
Lova, menatap nanar pada kekasihnya.
''Jangan lakukan itu L.. kau bisa sakit. Sebaiknya sekarang kau istirahat, aku yang akan menjaga Ken.'' pinta Leon.
''Tidak apa-apa. Aku juga ingin menjaga nya. Setidaknya sampai Ken sadarkan diri.''
Leon tidak bisa memaksa Lova. Gadis itu sungguh keras kepala, meskipun sebenarnya Lova sudah terlihat begitu lelah, bahkan matanya masih terlihat sembab dan juga...
''Baiklah, aku akan menemanimu. Aku cuci muka dulu.''
__ADS_1
Lova hanya menganggukkan kepala saat Leon melangkah ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka.
Beberapa menit kemudian, Leon keluar dengan wajah yang sudah lebih segar dari sebelumnya.
''L.. kau ingin secangkir kopi, atau mungkin minuman lainnya ? aku akan membelinya untuk mu.''
''Aku tidak perlu apa-apa. Kau bisa membeli untuk diri mu jika kau mau..'' tolak Lova.
Ia memang sedang tidak ingin memasukan apapun kedalam mulutnya. Setidaknya dengan begitu, Lova akan selalu tersadar. Lova selalu melakukan cara ini jika ia ingin terus terjaga.
''Aku akan keluar sebentar..'' ujar Leon.
Leon pergi untuk membelikan sarapan bagi mereka berdua. Setidaknya Lova harus mengisi perutnya. Leon tau Lova sangat mencemaskan Ken, tapi tidak berarti Lova mengabaikan kesehatannya. Leon tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi.
Setelah kurang lebih satu jam Leon meninggalkan Lova di dalam sana sendirian, Leon kembali dengan beberapa gelas minuman hangat, dan juga dua porsi kue wafel yang di hiasi dengan toping Strawberry dan white cream, Leon harap Lova akan menyukai makanan tersebut.
Saat Leon kembali, Lova masih duduk di tempat yang sama. Di samping Ken.
''L.. aku membelikan susu hangat dan juga kue wafel untuk mu. Ayo kita sarapan bersama.'' Ajak Leon, yang sudah menata sarapan di atas meja bundar tak jauh dari Lova.
''Kau saja Leon. Aku sedang tidak ingin,-
''Tidak L! Kau harus makan, sejak kemarin aku tidak melihatmu makan, atau minum apapun. Jangan seperti ini. Ken akan baik-baik saja, lagi pula kita masih disini bersamanya. Kemarilah.'' Leon menarik tangan Lova, dan menuntun gadis itu untuk duduk di sofa.
''Susu saja. Thanks Leon, maaf sudah merepotkan mu.'' ucap Lova. Sesekali ia masih menghela nafas yang terasa semakin sesak. Pikiran nya lagi-lagi melayang entah kemana. Bercampur dengan rasa khawatir dan juga ketakutan akan sesuatu yang mungkin mendatangi nya.
''Jangan katakan itu L. Kau teman ku, dan kau orang yang penting bagi Ken. Jika dia bangun nanti, Ken bisa saja membunuhku hanya karena aku membiarkan mu tidak makan apapun.'' ujar Leon mencoba mencairkan suasana.
Namun Lova tetap tidak merespon sesuai harapan Leon. Gadis itu masih saja fokus pada Ken yang terbaring di atas ranjang seraya menggigit beberapa suap wafelnya.
''L.. sebaiknya setelah ini kau pulang dan istirahat. Setidaknya kau harus membersihkan dirimu, atau nanti kau akan sakit.'' saran Leon. Ia hanya ingin agar Lova memiliki waktu untuk bisa istirahat barang sejenak.
''Aku tidak ingin meninggalkan,-
''Aku akan mengabari mu setiap menit, jika perlu aku akan melakukan video call selama kau pergi, jadi kau bisa melihat Ken sambil kembali kerumah. Bagaimana?''
Meskipun enggan dengan saran Leon, namun perkataan nya ada benar nya. Lova harus membersihkan diri. Ia sendiri pun memang sudah merasa tidak nyaman.
''Hmm. Aku akan pulang setelah dokter memeriksa Ken.'' turut Lova.
''Sebaiknya lakukan itu, dan jika bisa, istirahatlah sejenak, Ken akan baik-baik saja. Jangan terlalu cemas.''
Pukul 11 siang, Lova akhirnya kembali ke apartemen nya. Ia buru-buru mandi dan juga membersihkan diri, kemudian dia akan kembali lagi kerumah sakit. Lova tidak ingin meninggalkan Ken terlalu lama, mungkin saja Ken akan mencarinya jika ia sudah sadar.
Di dalam ruangan..
__ADS_1
Leon sangat terkejut saat mendengar suara ponsel berdering. Ia mencari-cari arah sumber suara, ternyata itu berasal dari dalam lemari pakaian dimana barang-barang milik Ken di simpan. Pastilah Lova yang meletakan semuanya di sana.
Setelah di lihatnya, ternyata nama Mom yang tertera di layar. Leon berpikir sejenak sebelum mengangkat panggilan tersebut, ia harus memilih kata-kata yang tepat untuk mengatakan bagaimana kondisi Ken saat ini.
Leon baru menjawab setelah ponsel Ken berdering untuk kedua kali nya;
''Ya Bund, Leon disini.- Jawab Leon setenang mungkin. ''Kabar Ku baik Bund..''
''Ken..?- Ya Tuhan, bagaimana ini?
''Begini Bund, sebenarnya ada sedikit accident semalam, dan saat ini Ken sedang dirawat dirumah sakit. Tapi dokter mengatakan kalau kondisi Ken baik-baik saja.''
''Ah, baik bun, akan segera ku kirimkan alamat rumah sakitnya.- Baik Bund, sampai jumpa. safe flight Bund..''
Leon menghembuskan nafas lega saat panggilan tersebut sudah terputus.
''Sob, mau sampai kapan lo tidur? capek banget lo? Bunda udah panik banget itu.. bangun dong! Lo gak kasian sama Lova? sama gue? Bangun dong sob, kalau lo gak bangun gue bawa kabur ntar Lova lo!'' gumam Leon, asal. Ia hanya ingin menghilangkan perasaan cemas yang lagi-lagi datang tanpa permisi.
Padahal sebelumnya Dokter mengatakan jika Ken akan segera bangun, tapi sampai sekarang tidak ada tanda-tanda jika temannya itu akan segera sadarkan diri. Apa yang harus Leon katakan pada keluarga Ken nanti?
''Sob gue seriusan, kalau lo gak bangun gue bakal jadiin Lova pacar gue. Liat aja!'' gumam Leon lagi merasa frustasi.
...❄️❄️❄️...
Di dalam penerbangan, Julie tidak mengatakan apa-apa pada anak-anak nya.
Sebelumnya, saat Julie menghubungi Ken, hanya ada Rehan yang berdiri di samping nya.
Julie benar-benar merasa cemas saat mengetahui apa yang menimpa putra nya, hanya saja ia tidak ingin membuat yang lain begitu cemas.
''Moo, tenang saja.- Rehan meremas pelan tangan Julie. ''Aku tau kau cemas, aku pun begitu. Sebaiknya kita berdoa agar Putra kita baik-baik saja.''
''Hmm. Aku tau, Boo. Aku harap putra kita baik-baik saja. Aku tidak mengerti kenapa hal ini bisa terjadi.'' Julie tak bisa menghentikan air mata yang mengalir begitu saja dari pelupuk matanya.
Sebagai seorang ibu, Julie tidak bisa benar-benar bersikap baik-baik saja. Hati seorang ibu pastilah akan begitu terluka saat mengetahui anak nya dalam kondisi yang tidak baik.
''Jangan menangis sayang. Semua akan baik-baik saja. Kita akan segera melihatnya. Tuhan ada bersamanya, Ken pasti akan baik-baik saja.'' Rehan mencium tangan Julie, mencoba menenangkan istrinya.
''Jagalah putra ku Tuhan, ku mohon.. jangan biarkan hal buruk terjadi padanya.''
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1