My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
JEALOUS


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


Setelah memarkirkan mobilnya, dengan setengah berlari Zen memasuki rumah keluarga Wijaya.


Sekarang sudah pukul 6 sore, matahari pun mulai terbenam memasuki peraduannya. Ada Rehan dan Juga Julie yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Dad, Mollie. Selamat Malam." Zen memberikan salam sekaligus mencium Julie seperti biasa. ''Son, duduklah. Kita ngobrol sebentar.' Rehan meminta pada Zen.


"Ya Dad." Merasa Sungkan jika langsung pergi begitu saja, maka Zen pun duduk di sana di seberang tempat duduk Julie dan juga Rehan.


"Apa Zo'e ada dirumah Mollie,..?" tanya Zen sebelum Rehan memulai perbincangan mereka. "Zoya..? Sepertinya adik mu belum kembali sayang." Kata Julie, membuat Rehan juga mengerutkan kening nya.


"Bukan kah ini terlalu terlambat untuk pulang Moo..?" tanya Rehan. "Benar Mollie. Apa Zo'e sudah memberi kabar sebelumnya..?" tambah Zen.


"Kalian berdua ini. Mollie tau kalian khawatir pada Zoya. Mollie belum selesai bicara tadi sayang," Julie menatap pada Zen dan juga suaminya.


"Lalu..?" tuntut Rehan. "Zoya sudah menghubungi ku tadi." Jedanya, membuat Rehan dan Zen menunggu kalimat lanjutan dari Julie. "Dia sedang pergi bersama teman nya, bersama Ken juga."


"Apa..?.putra kita juga belum kembali..? bagaimana kamu membiarkan mereka pada jam seperti ini, Moo..? Ken masih anak-anak. Dan Zoya, siapa teman nya yang bersama mereka..? apakah bisa di percaya..?" Rehan menaikan nada suara nya, lalu memalingkan wajah dari Julie.


"Apa kau baru saja marah pada ku Boo..? Kau membentak ku..?" Julie melipat tangan dan menatap sinis pada Rehan Kemudian ikut membuang wajahnya. Kesal.


Merasa kurang suka dengan nada bicara suaminya, Julie juga menjalankan protesnya. Rehan menarik nafas sesaat, sebelum bicara lagi pada pada istrinya.


"Maafkan aku Moo, aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya mengkhawatirkan anak-anak kita." Rehan kembali melembutkan suaranya.


"Kau pikir aku tidak..? aku juga khawatir tadinya, tapi saat anak muda itu." Julie ragu sesaat untuk melanjutkan bicaranya. "Anak muda itu berjanji untuk mengantarkan mereka tepat pukul 7 Boo, karena itu..


"Pemuda..?" Rehan memotong bicara istrinya. "Siapa Moo..?" desak Rehan lagi.


Sebenarnya Julie enggan untuk membicarakan ini di depan Zen, terlebih lagi Julie tau bagaimana perasaan putra nya itu kepada Zoya putrinya.


Mau bagaimana lagi, Lagipula sudah terlanjur kenapa tidak sekalian saja ia katakan.


"Namanya Jordan, rekan kerja Zoya di kampus, dosen muda juga seperti Zoya, dan sepertinya Ken juga mengenalnya, anaknya juga baik Boo, aku percaya pada nya." Julie memasang wajah polosnya. Julie sengaja sedikit membuat api bagi Zen. Setidaknya dengan begini Zen bisa lebih menjaga Zoya.


"Anak ini, sejak kapan dia dekat dengan pemuda itu..? Dia tidak memberitahukan apa-apa padaku..!" Rehan memijit pangkal hidung nya.

__ADS_1


Sementara Zen diam saja, larut dalam pikiran nya. Ia memang tau jika Zo'e nya pergi bersama pria itu, hanya saja ia tidak tau jika akan semalam ini. Dia belum mendapatkan kabar apapun dari orang-orang nya. Menyebalkan!


"Zen, telpon adik mu! Sekarang sudah pukul tujuh !"


Rehan memperhatikan jam tangan nya. 'Baik Dad.." Zen segera mengambil ponselnya.


Baru saja ia ingin menelpon Zoya, sudah terdengar suara tawa dan cekikikan dari arah pintu masuk, orang yang di tunggu-tunggu, bahkan hampir membuat pertengkaran sengit akhirnya muncul dengan senyum mengambang di wajahnya.


'Mom, Dad..? Kak Zen..? Apa terjadi sesuatu..? kalian terlihat." Zoya ragu sesaat. "Apa kau sedang dalam posisi bertanya sekarang Sweet heart...?" Sela Rehan dengan suara bariton nya.


''Yes. And what happen Dad..?" tanya Zoya yang merasa aneh dengan suasana tersebut. "Mom, Dad.. aku naik ke atas." Pamit Ken. Ia tidak mengerti situasi yang saat ini sedang terjadi di ruangan itu. Ia tidak ingin terlibat.


"Son, Sebaiknya kau duduk di sana!" perintah Rehan pada putra nya Ken. Zen dan juga Ken kemudian duduk di tempat yang sama. ''Sayang, Daddy mu..-


"Siapa pemuda itu Angel..?" tanya Rehan. "Pemuda..?" Zoya mengerutkan kening nya, sambil melihat kepada mommy nya. Melihat ekspresi Mommy nya, Zoya dapat mengerti apa yang membuat Daddy nya seperti seorang yang baru saja kebakaran jenggot.


"His name, Jordan Dad. Hanya teman. Kami hanya keluar untuk makan malam, dan kebetulan ia mengajarkan Ken menggambar karakter." Jelas Zoya singkat.


"Just a friend, sweet heart..?"


"Yes. Of course. Sudahlah Dad, aku capek aku akan ke kamar ku... " Zoya berlalu begitu saja.


"Aku juga." susul Ken. "Ak..Aku ingin bicara pada Zo'e Dad, Mollie.." Kata Zen lagi.


"Mereka bertumbuh setiap hari dan setiap saat, Boo. Tanpa kita sadari, anak-anak kita akan pergi meninggalkan kita satu persatu bersama dengan pasangan hidup mereka, kelak..!"


"Apakah ini yang dirasakan ayah dan Bunda..? menjadi orang tua ternyata ada bagian yang seperti ini." desah Rehan lagi. "Tentu saja sayang. Inilah bagian kita sebagai orang tua." Julie masih memeluk Rehan dalam dekapan nya,


"Moo, aku tidak ingin anak-anak kita meninggalkan kita begitu cepat. Bagaimana agar membuat mereka tetap bersama kita selama nya? Ah.. setidaknya sampai kita menutup mata." harap Rehan.


"Apa yang kau bicarakan Boo..? anak-anak kita akan selalu di sini." tepis Julie.


"Bagaimana kalau kita membuat mini Julie atau mini Rehan lagi, Moo, kau mau..?" usul Rehan sambil menggoda istrinya.


"Lagi katamu...? Oh.. my Boo, kau tau berapa usia kita sekarang..? tidak kah kita lebih cocok menjadi seorang grandfa dan grandma di bandingkan menjadi orang tua lagi..?" balas Julie.


"Kenapa tidak Moo..? kau masih muda dan cantik, begitu pun dengan ku yang masih gagah ini. Jika kita punya 2 atau 3 lagi, itupun masih sangat cocok bagi kita berdua." Rehan tidak setuju pada istrinya.


"Dasar kau ini.."


...❄️❄️...


Tok Tok..Zen masuk ke kamar Zoya setelah mengetuk pintu. Meskipun tidak mendapat persetujuan Zoya, Zen tidak peduli.

__ADS_1


"Kakak ada apa..?" tanya Zoya yang saat itu sudah melepas blazer nya. "Kau dari mana saja Zo'e..?"


Zen menutup pintu namun tidak terkunci.


Haaaahh...! Zoya menghembuskan nafas nya. Ada apa dengan orang-orang hari ini..? "Bukankah sudah ku katakan di bawah..? bahkan kita juga bertemu di sana, sebelumnya. Apa kakak lupa..?"


"Tidak cukup kah hanya sebatas makan siang, kenapa harus berlanjut dengan makan malam...? "Apakah itu dia Zo'e..? Laki-laki yang kau sukai itu..?" tanya Zen bertubi-tubi pada Zoya.


"Kak, bukan seperti itu. Aku dan Jordan hanya."


Tunggu. Kenapa aku harus menjelaskan nya pada kak Zen..?


"Sudahlah kak, aku lelah." Zoya malas melanjutkan bicaranya.


"Apa saja yang kalian lakukan sampai membuat mu lelah..? kalian berkencan..? kau menghabiskan begitu banyak waktu dengan nya..? begitu kah...?" Zen merendahkan suaranya. Ia tidak suka di abaikan seperti sekarang.


"Ada apa sih dengan kakak..?" Zoya meninggikan suaranya. "Kenapa aku harus menjelaskan ini pada kakak..? ini tidak ada."


Uuummm..


Zen membungkam mulut Zoya dengan bibirnya. Membuat gadis itu tak tau harus bereaksi seperti apa. Ini ciuman kedua nya dengan Zen setelah sembilan tahun.


Begitupun dengan Zen, ini adalah ciuman keduanya bersama Zoya. Ia tidak melakukan nya dengan wanita manapun selain gadis di hadapan nya.


Perlahan Zen mengakhiri ciuman lembutnya. "Bukan kah sudah ku katakan kalau kau adalah milik ku, Zo'e. Dan aku tidak suka kalau kau bersama dengan orang lain."


Wajah Zoya memerah, ia tak tau lagi harus seperti apa, jantung nya berdebar dengan begitu cepat. Serasa ingin keluar dan melompat dari dalam sana.


Wajah Zen begitu dekat. Manik laki-laki itu menatap lurus tepat pada matanya. Nafas Zoya seperti tercekat.


"Sekarang terima lah hukuman mu..!"


Zen mencium lembut Bibir Zoya sekali lagi.


Zoya hanya menggenggam erat jas yang di kenakan Zen, ia ingin memeluk laki-laki itu, tapi ia takut.


"Kalian...! Apa yang kalian lakukan?"


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2