My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
AFTER YOU GO, WE'LL BE OKE


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


Duka..


Sebuah kata Yang memiliki arti Yang mendalam.


Duka membuat seseorang terpuruk, terluka, dan juga tidak berdaya.


Apalagi jika Duka tersebut disebabkan karena kehilangan orang yang begitu di cintai untuk selamanya.


Ya, kehilangan. Sesuatu yang tidak bisa kembali lagi seperti semula.


Jika seseorang sudah pergi dari dunia ini, apapun Yang dilakukan, tidak akan bisa mengembalikan nya.


Hanya keabadian lah yang kelak akan kembali menyatukan semuanya.


Karena itulah, duka kehilangan bukanlah sesuatu Yang mudah untuk diterima oleh siapapun di dunia ini, terlebih jika seseorang Yang pergi, adalah seseorang Yang begitu kita cintai.


Tidak ada yang bisa mengatasi duka dalam waktu singkat..


Tak terkecuali Rehan..


Meskipun sudah satu minggu lamanya Julie pergi meninggalkan nya, rasa itu, sakit itu, kepedihan itu, rindu dan juga cintanya..


Semuanya masih sama.


"Moo.., selamat pagi sayang. Aku begitu merindukan mu pagi ini. - O, ya, maafkan aku, putra kita memaksakan dirinya untuk segera bekerja di perusahaan, dan aku tidak bisa menolaknya.- Aku ingin memberinya waktu seperti Yang kau minta, tapi kau tau sendiri bagaimana putra kita..


''Jadi maafkan aku, aku harus membawanya pergi ke kantor. Kau jangan khawatir sayang, aku akan menjaga putra kita dengan baik.-


"Hem. Kami akan baik-baik saja disini sayang, kami akan terbiasa.. meskipun ini akan sulit, tapi kami akan berusaha melakukan nya.- Kami mencintaimu sayang.."


Setiap hari, Rehan selalu menyempatkan dirinya untuk berbincang dengan photo Julie. Baik di malam hari saat ia tiba dirumah, atau di pagi hari seperti ini.


Bahkan Rehan membiarkan semuanya sama seperti sebelumnya..


Semua yang dimiliki istrinya, tidak berubah, masih utuh di tempatnya, seakan-akan wanita itu masih selalu berada di sana.


"Huhh.. Moo, sepertinya kita akan bicara lagi nanti, aku harus membuat sarapan untuk anak-anak kita. " ujar Rehan seraya bangun dari tempat tidurnya.


Meskipun raga istrinya sudah tidak lagi bersamanya, tapi bagi Rehan Julie nya selalu ada dan tidak pernah meninggalkan nya.


Saat tiba di lantai satu rumahnya, Rehan melihat putrinya sudah lebih dulu membuatkan sarapan.


Rehan pun menghampiri Zoya yang terlihat sedang sibuk dengan masakan nya. "Morning Angel.. " Rehan mencium kening putrinya. "Dad.. morning." Sahut Zoya. "Ingin kopi, atau yang lainnya..?"


"Dad bisa melakukan nya sendiri sayang. Ada Yang bisa Dad bantu? kau tidak boleh terlalu lelah, kasihan cucu Dady.. "


Zoya tertawa kecil mendengar perkataan Rehan. - "Aku baik-baik saja Dad, dan cucumu ini, dialah Yang membuatku tidak bisa beristirahat." ujar Zoya memelankan suaranya.


"Benarkah? Wah! cucu opa seperti oma nya kalau begitu, selalu bangun pagi." Canda Rehan.


"Hem. Dady juga berpikir yang sama? Little Cherry memang selalu membuat ku bangun pagi.." timbal Zoya.


Keduanya pun tertawa..


"Hem. I miss mom, Dad.. " lirih Zoya.


"I know, Angel. Dady juga selalu merindukan mom, tapi mom akan selalu bersama kita, disini- Rehan memegang dada nya. ''Dad benar, mom memang selalu berada disini, selamanya."


Semua orang berusaha sebaik mungkin untuk bersikap tegar. Meskipun rasa kehilangan masih terus melekat, namun mereka belajar untuk menerima keadaan.

__ADS_1


Mereka tidak ingin terlalu lama larut dalam rasa kesedihan. Toh, Semua orang pada akhirnya memang akan pergi meninggalkan dunia ini, hanya saja waktunya Yang berbeda-beda.


"Dimana Zen sayang, masih tidur?" tanya Rehan pada putrinya. "Kak Zen sedang olah raga Dad, mungkin akan kembali sebentar lagi. Dady siap-siap saja, aku akan mengerjakan semuanya."


"Hmm.No. Dady akan disini menemanimu hingga selesai." tolak Rehan lalu duduk di bangku pantry.


"Tidak apa-apa Dad, aku yang akan menemani Zo'e.." sela Zen yang baru saja tiba dirumah.


"Olah raga son?" Sapa Rehan melihat putranya Yang sudah basah bermandikan keringat.


"Begitulah Dad, mungkin Dad mau olah raga bersama besok?" tawar Zen.


"Boleh juga, Dad akan senang memiliki teman."


"Air mu kak, minumlah." Zoya menyerahkan segelas air mineral kepada suaminya. "Thanks sayang."


"Baiklah, kalau begitu Dad akan siap-siap dulu, jaga Angel dengan baik." Rehan menepuk pelan pundak Zen.


"Baik Dad.. "


Pukul 8 pagi, semua orang sudah berkumpul di meja makan. "Aku akan memanggil Ken sebentar, - ujar Zoya bangun dari tempat duduknya.


"Aku disini Zozo." sela Ken yang baru muncul di hadapan mereka.


Pria muda itu terlihat sangat berbeda dengan setelan jas dan juga kemeja. Terlihat seperti Rehan dengan Versi yang jauh lebih muda.


"Dad...?" Zoya melirik kepada Rehan.


"Adik mu memaksa ingin segera menjalani pelatihan nya." ujar Rehan dengan suara menyamai berbisik, namun masih bisa di dengar semua orang.


"Oh- baiklah.." Zoya kembali duduk di kursinya.


Satu-satunya yang berubah dirumah itu hanya Ken. Pria itu semakin sedikit bicara dan juga menjadi semakin dingin setelah kepergian Julie.


Akan tetapi semua orang berusaha memahami Ken. Bagaimana pun, Ken adalah Yang paling dekat dengan mommy nya.


Wajar saja jika kepergian Julie membuatnya merasa sangat kehilangan.


Zen melirik pada istrinya lalu tersenyum, seolah-olah mengatakan jika Zoya harus memaklumi adik kecil mereka itu.


Setelah semua orang selesai dengan sarapan nya, Rehan dan juga Ken pergi dengan mobil masing-masing menuju kantor.


Sementara Zen dan Zoya pun pergi untuk mengunjungi rumah mereka.


...*m❄️❄️...


Di kantor...


Semua ketua Divisi diminta hadir ke ruang rapat, di sana Rehan akan memperkenalkan putra nya yang akan bergabung bersama mereka di perusahaan untuk satu bulan ke depan.


Setelah semua orang berkumpul, Rehan pun memulai perkenalan tersebut;


"Selamat pagi semuanya, pagi ini saya akan memperkenalkan putra saya, Ken Samudera Wijaya, yang akan bergabung bersama kita di perusahaan Z' Group ini.-


"Seperti yang kalian tau, Ken akan menggantikan saya suatu hari nanti, dan mulai hari ini, putra ku akan belajar dari kalian semua, jadi jangan sungkan untuk mengajarinya, dan berbagi pengalaman bersama nya." ujar Rehan.


"Ken, silahkan perkenalkan dirimu kepada semua orang penting di ruangan ini." pinta Rehan kepada putranya


Pria muda itu berdiri dengan gestur layaknya seorang pewaris, semua orang bahkan tidak meragukan pernyataan Ken adalah duplikat Rehan yang sesungguhnya.


"Saya akan berusaha sebaik mungkin, jangan sungkan kepada saya hanya karena saya anak dari pemilik perusahaan. Saya di ajarkan untuk meraih segala sesuatu dengan kemampuan saya sendiri, dan saya akan merasa tidak nyaman jika kalian berlaku baik terhadap saya hanya karena Dady." ujar Ken dengan sebenarnya, membuat semua orang yang hadir di ruangan itu merasa di peringati.


Rehan tersenyum mendengar kata-kata sarkas yang di ucapkan putranya, hanya saja.. Rehan benar-benar dibuat tidak percaya bahwa putranya itu akan benar-benar semirip itu dengan diri nya.


"Nah baiklah, karena perkenalannya sudah selesai, Dady rasa tempat yang cocok untuk memulai pembelajaran mu Son, kau bisa memulai dari ketua Divisi management terlebih dahulu.-


"Bergabunglah di sana untuk mempelajari dasarnya." perintah Rehan. "Baik pak, akan saya lakukan sesuai perintah anda." jawab Ken, menjadi formal.


"Kalian bisa kembali bekerja,- Pak Rendrawan..- Rehan memanggil kepala Divisi management.

__ADS_1


"Iya pak..?"


"Tolong didik putra saya dengan baik- Jika dia melakukan kesalahan, mohon tegur dia dengan benar, jangan merasa sungkan." pinta Rehan lagi.


"Baik pak." jawab Rendrawan.


"Nah, Son. Ikutlah bersama pak Rendrawan."


Setelah semua orang keluar dari ruang rapat, Rehan kembali keruangan nya di lantai 15, sementara Ken mengikuti kepala Divisi Management ke lantai 8.


Setibanya di divisi Management Rendrawan memperkenal kan Ken kepada semua staf nya, hanya saja Ken meminta agar di perkenalkan sebagai anak magang, bukan sebagai seorang calon pemilik perusahaan.


"Ken, kau bisa duduk disana,- Laura, kemarilah!" panggil Rendrawan kepada salah seorang staf nya.


Seorang wanita muda berumur 25 tahun, asisten di divisi management. Pintar, cantik, dan juga tegas. Seorang pendamping yang cocok untuk memandu Ken.


"Ya pak..?"


"Tolong kau berikan tugas-tugas yang harus di selesaikan oleh Ken.- Ken, Laura akan membantumu disini. Jika ada yang perlu kau tanyakan, silahkan bertanya pada Laura atau staf lainnya."


"Baik pak, terima kasih." sahut Ken.


"Silahkan kembali bekerja." Setelah duduk di meja nya, Laura kembali menghampiri Ken.


"Baiklah, sebagai anak magang, kurasa kau bisa memulai dengan membereskan semua dokumen ini." ujar wanita itu memberikan beberapa tumpuk berkas di hadapan Ken.


"Semua ini harus selesai hari ini, Kau bisa kan?" Laura tersenyum pada Ken.


Tapi dasarnya Ken, pria itu tidak mudah bersahabat dengan sembarang orang, dan juga tidak akan bersikap ramah pada siapapun.


"Akan ku selesaikan tepat waktu." jawab Ken singkat, lalu mengabaikan Laura. Ken akan melakukan yang terbaik dengan kemampuan yang ia miliki. Ken akan membuat Dady dan mommy nya bangga.


Seperti yang selalu mom nya katakan; tugas dan tanggung jawabnya tidak lah mudah, dan Ken akan membuktikan bahwa dirinya mampu.


"Mom.. doakan aku agar aku bisa memberikan yang terbaik dari diriku. Aku tidak akan mengecewakan mom."


Hari pertama Ken bekerja sebagai anak magang pun berjalan dengan lancar. Dengan otak Genius dan juga darah seorang pebisnis Yang mengalir kental dalam dirinya, membuat Ken tidak merasa kesulitan dengan pekerjaan nya.


"Mau makan siang bersama? kami akan makan diruang makan khusu Divisi?" tawar Laura.


"Aku akan bergabung di lain waktu, ada yang harus ke kerjakan." tolak Ken, kemudian meninggalkan mejanya.


Setelahnya salah seorang staf lainnya menghampiri Laura.


"Pemuda itu terlalu arogan, padahal hanya anak magang." celetuknya berdiri di samping Laura.


"Kita lihat saja. Sampai kapan dia akan bersikap seperti itu- Aku Laura, akan memastikan dia akan bertekuk lutut di hadapan ku."


"Jangan terlalu percaya diri, kau memang yang tercantik di Divisi ini, tapi kelihatan nya tidak akan semudah itu. Kau lihat saja, pemuda itu akan sulit di taklukan."


"Kau ingin bertaruh?" tantang Laura.


"Ah, ada yang merasa panas ternyata- sela Dava, salah satu staf di divisi yang sama. "Aku akan ikut bertaruh. Kau akan kalah!" tambah Dava.


"Baiklah, yang kalah dalam taruhan ini harus menyelesaikan semua pekerjaan pemenangnya selama satu minggu. Bagaimana? kalian setuju?"


"Baiklah. Kami akan bertaruh jika kau akan kalah."


"Kita lihat saja, aku akan menaklukan pemuda itu hanya dalam waktu dua minggu, akan ku buat kalian menyesal karena meragukan ku." ujar Laura kemudian pergi menyusul Ken.


"Jangan lupa taruhan nya! Kalian akan menyesal karena meragukan ku."


"Ya.. ya.. selamat berjuang wanita penggoda!" seru Dava tersenyum senang.


"Ada-ada saja!"


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2