
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
Ini bukan perasaan bersalah, marah, atau pun perasaan tak suka. Lova tak merasakan apa-apa saat tangan nya melayangkan tamparan ke wajah wanita yang terlihat sepantaran dengan usia nya. Gill.
Saat gadis itu masuk ke dalam Villa dengan kelakuan yang aneh dan tiba-tiba saja memecahkan Vas, Lova benar-benar terkejut dibuat nya.
Bahkan saat wanita itu lagi-lagi membanting apa saja yang bisa di raih nya, wanita itu seperti tidak menyadari keberadaan Lova di sana.
Dan yang membuat Lova semakin keheranan, tak ada yang mencegah hal tersebut. Baik bibi atau pun supir yang berada di luar, mereka hanya mengamati dari jauh, padahal rumah majikan mereka lah yang sedang dikacaukan.
Karena itulah Lova menarik kesimpulan jika hal ini bukan yang pertama, dan melihat tingkah aneh wanita itu yang tiba-tiba saja tak terkendali, berbanding terbalik dengan penampilan nya, itulah yang membuat Lova tanpa sadar mengayunkan tangan nya begitu saja.
Ia hanya ingin agar wanita itu menghentikan apa Yang saat itu tengah di lakukan nya; dan benar saja semua tebakan Lova.
Dimulai dari kehadiran Ken yang berusaha mencegah dirinya,
Gadis itu meminum obat yang entah apa, lalu Ken yang berusaha menjelaskan semuanya, meskipun sedikit terlambat bagi Lova, namun semua insting Lova benar.
"L, bagaimana jika kau ikut bersama ku saja ke kantor, aku akan minta perawat untuk menjemput Gill di sini." pinta Ken, masih membujuk Lova.
Wanita nya terlihat sangat tenang, dan itu membuat Ken semakin tidak nyaman. Ia merasa cemas dengan sikap diam tunangannya.
Lalu tiba-tiba Lova tersenyum, sambil memandang nya dengan tatapan yang juga membuat perasaan Ken sedikit khawatir.
"Tidak Ken, kau pergi saja. Kau ada rapat penting bukan pagi ini? biar aku yang mengurus Gill. Aku akan menemani nya sampai perawat nya datang." ujar Lova.
"Tidak perlu sayang, aku akan-
"Apa kau takut aku menamparnya lagi? tenang saja, tidak akan, jika itu yang kau takutkan. Tadi itu hanya insiden tak terduga saja." sela Lova meyakinkan Ken.
"Aku tidak khawatir tentang Gill sayang. Tapi kau! Aku takut Gill membuat hal yang lebih buruk dan dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Aku hanya mencemaskan dirimu. Dan,-
"Sungguh, maafkan aku tentang kejadian pagi ini. Aku sungguh-sungguh sayang. Maafkan aku." lirih Ken.
Lova bisa melihat dengan jelas rasa menyesal yang tergurat di wajah Ken, dan ia tau jika kekasihnya tak berbohong sedikit pun tentang apa yang terjadi.
"Aku tau Ken, jangan khawatirkan tentang itu, yah meskipun awalnya aku sedikit kaget, namun aku bisa mengerti. Sekarang dengarkan aku. Pergilah, biar aku Yang mengurus Gill, aku bisa mengatasinya." Ulang Lova lagi.
Meskipun Ken benar-benar merasa cemas dengan keberadaan Gill bersama Lova, namun akhirnya Ken mengangguk juga;
"Baiklah sayang, aku percaya pada mu. Jika ada apa-apa langsung telpon aku, kau mengerti?- Ken mengusap pipi Lova yang saat ini tengah tersenyum pada nya. Entahlah apa arti senyuman ini, yang pasti Ken akan tetap mempercayai Lova.
"Aku akan menelpon perawat Gill dan minta mereka untuk menjemputnya, Kalau begitu aku pergi dulu sayang. Pastikan kau benar-benar menghubungi ku jika Gill melakukan hal Yang lainnya." pinta Ken masih dengan kecemasan.
"Bi, tolong jaga nona selama aku pergi. Dan jika Gill berulah lagi, tolong jauhkan dia dari nona, dan segera hubungi aku." perintah Ken.
"Baik tuan."
"Sayang, aku pergi sekarang. Jaga dirimu." pamitnya lagi.
"Hmm. Sampai jumpa lagi Ken."
Sebelum pergi, Ken sempat melihat keadaan Gill, gadis itu juga terlihat sudah lebih tenang. Meskipun Ken merasa cemas, namun saat ini pekerjaan nya juga tak bisa ia tinggalkan begitu saja, dengan berat hati Ken pun meninggalkan Villa.
"Hallo tuan.. "
"Segera jemput Nona Gill dari Villa ku." perintah Ken, lalu menutup telpon nya.
...❄️❄️...
Sementara itu...
Lova yang juga sudah merasa lebih tenang dengan perlahan menghampiri Gill yang masih duduk di kursi area pantry.
Lova ke pantry sambil melirik pada wanita yang saat ini juga tengah menatap nya dengan tatapan yang.. - Apa Gill takut pada nya?
"Kau bisa bicara dengan ku?" Lova memulai pembicaraan di antara mereka, ia juga menyerahkan segelas teh madu kepada Gill. "Minumlah, itu akan membuat mu merasa lebih baik." ujar Lova lebih lembut dari yang sebelumnya.
"Aku Lova, dan Aku tunangan Ken. Ku rasa kau harus tau itu, - Dan untuk kejadian barusan, aku tidak akan minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan, dan jika itu yang kau harapkan maka kau tidak akan mendapatkan nya." ujar Lova pelan namun tegas.
Gill masih diam sambil memegangi pipinya dengan kompresan. "Kau tidak mengerti apa yang aku katakan..?" ulang Lova lagi, namun Gill masih tetap diam.
Oke baiklah, Lova juga tidak akan memaksa jika memang wanita itu tak mau bicara pada nya. Lagi pula mereka tidak seakrab itu untuk melakukan sebuah perbincangan, apalagi setelah Lova melayangkan tamparan nya dua kali berturut-turut, sudah sangat jelas, Gill tidak akan mau bicara.
__ADS_1
"Maaf.. "
Cicit Gill namun masih bisa Lova dengarkan, dan itu membuat Lova sedikit merasa 'wah'.
"Aku Gill. Ken sudah pernah bercerita tentang mu, maafkan sikap ku. Aku seorang pasien Bipolar." tutur Gill, dan itu tentu saja sangat mengejutkan Lova.
Sungguh di luar dugaan nya jika gadis itu begitu terbuka pada nya, bahkan tentang apa yang di alaminya, setelah Lova bertindak sedikit keras sebelumnya.
"Aku tau, Ken sudah menceritakan pada ku tentang kondisi mu sebelum ini, tapi dengar, aku tidak akan mentoleransi apa yang kau lakukan. Kau mengerti..?" ujar Lova memperingati Gill, karena Lova memang sungguh-sungguh dengan apa yang di katakan nya.
Gill menganggukkan kepalanya dengan patuh. Entah itu karena gadis itu memang mengerti atau kah pengaruh obat nya, Lova tidak perduli, yang jelas ia sudah memperingati gadis itu.
"Kau akan tinggal Lama disini?" Tanya Gill dengan suara yang lebih lantang, ah seperti gadis itu sudah benar-benar normal sekarang.
"Kenapa? kau ingin aku cepat pergi dari sini, jadi kau bisa dengan sesuka mu menghancurkan semua vas yang ada Villa ini lagi?" sarkas Lova, tak bersikap lunak sedikit pun pada Gill.
Dengan wajah yang sedikit shock karena kata-kata yang di dengar nya, Gill dengan cepat menyilangkan tangan nya.. "Tidak, bukan itu.. aku tidak bermaksud seperti itu. Dan tentang Vas, jangan khawatir, aku akan menggantinya." sahut Gill cepat.
"Ah, itu lebih buruk lagi." sahut Lova. "Kau menghancurkan barang-barang, lalu kau menggantinya.- kemudian, kau akan menghancurkan nya lagi, dan menggantinya lagi. Aku rasa itulah yang kau lakukan selama ini, benar?" Gill menganggukkan kepalanya cepat.
"Pantas saja, tidak heran kalau kau akan tanpa ragu merusak barang-barang milik orang lain nona!" Lova menatap tajam pada Gill, lagi-lagi membuat Gill merasa terancam.
"Ingat ini baik-baik, jika kau menghancurkan Vas di Villa ini lagi, atau dimana pun itu, maka ingatlah... Kau tidak hanya akan menggantinya dengan yang baru, tapi aku juga akan membuatmu menyatukan semua Vas yang pecah dengan tangan mu sendiri, sampai semua Vas yang kau pecahkan kembali ke bentuk nya semula, dan akan ku pastikan kau melakukan itu!"
"Jadi, jika kau percaya diri bisa melakukan nya, maka pecahkan saja Vas nya, dan kau akan lihat apa yang bisa ku lakukan pada mu!" kecam Lova lagi. Lova tak peduli jika gadis itu merasa terancam dengan kata-kata nya.
Ia tidak berniat ingin menakuti Gill, tapi jika dilihat dari kondisi nya, wanita itu memang harus menerima perlakuan seperti ini. Setidaknya setelah ini ia akan mulai berpikir sebelum bertindak.
"Ak.. aku mengerti, maafkan aku." sahut Gill patuh.
Tak lama setelah mereka bicara, terlihat dua buah mobil mercy berhenti di depan Villa, lalu beberapa orang turun dari dalam nya.
Benar saja apa yang di katakan Gill, para pengawal nya memang membawakan Vas-vas baru yang benar-benar sama persis seperti yang telah wanita itu pecahkan. Sungguh luar biasa. Semua orang jelas sudah terbiasa dengan apa yang wanita itu lakukan. Benar-benar membuat Lova pusing.
"Seperti nya orang-orang mu sudah datang, kembali lah." ujar Lova, bersikap tak perduli.
"Boleh aku datang lagi?" Gill kembali bersuara sebelum meninggalkan kursinya, membuat Lova mengerutkan kening..
"Aku janji akan meminum obat ku sebelum datang kesini. Aku janji." tambah Gill layak nya seorang gadis belia, Yang sedang meminta ijin pada pengasuhnya.
"Jika kau ingin datang, sebaiknya kau ingat apa yang sudah ku katakan." peringat Lova.
Benar-benar di luar perkiraan nya, wanita itu sungguh berubah 90° dari sebelum nya. "Baik, akan ku ingat, Lova." sahutnya dengan wajah ceria.
"Bye L, aku akan datang lagi." seru Gill sebelum masuk ke dalam mobil.
"Maafkan kami atas apa yang nona kami perbuat nona." ujar Salah seorang perawat Gill.
Lova hanya menganggukkan kepalanya, penuh pemakluman.
Begitulah pagi mereka diawali dengan hal-hal yang luar biasa.
...❄️❄️...
Di kantor..
Setelah menyelesaikan rapat nya, Ken langsung meninggalkan kantor, ia ingin menemui Lova.
"Han, tolong Cancel rapat ku siang ini, pindahkan ke jadwal besok pagi." perintah Ken, saat melewati meja sekretarisnya.
"Baik tuan."
Sebelum nya Ken memang telah menerima pesan dari perawat Gill bahwa mereka telah membawa gadis itu kembali, dan mereka juga bahkan sudah memastikan bahwa Gill tidak melakukan hal lain di Villa.
Namun tetap saja, Ken masih merasa cemas jika belum melihat sendiri bahwa kekasihnya itu baik-baik saja.
Ken mengambil ponselnya untuk menghubungi Lova, dan dari apa yang gadis itu katakan, saat ini ia tengah berada di Salah satu restoran yang ada di pinggir pantai,
"Pak, tolong antarkan saya ke Restoran X secepatnya." perintah Ken.
"Baik tuan."
Sementara itu,..
Setelah kepergian Gill, Lova ingin menyegarkan pikiran nya dengan keluar dari Villa. Seperti yang di katakan Ken, saat keluar, Lova membawa serta Bibi yang ada di Villa untuk menemaninya.
Untuk memudahkan memahami apa yang di maksudkan oleh Lova, bibi penjaga Villa juga mengajak putri nya yang fasih berbahasa asing untuk menemani mereka pergi.
Selama beberapa jam perjalanan yang mereka tempuh, Lova sudah mengunjungi beberapa toko souvernir yang ada di Bali yang bisa mereka temui. Ia melihat-lihat dan mempelajari apa saja yang dijual orang di sana.
Setelah itu, mereka juga berjalan-jalan di sekitar pantai dan berhenti di salah satu restoran untuk makan siang.
__ADS_1
"Nona, ada yang nona ingin kan lagi setelah ini?" tanya wanita yang di kenal dengan nama Ayu itu.
"Tidak ada, setelah ini kita akan pulang saja, aku sedikit lelah." sahut Lova. "Baik nona."
"Ken sedang dalam perjalanan untuk bergabung bersama kita." tambah Lova agar bibi dan putri nya tau.
Tak Lama setelah pesanan mereka di sajikan, Ken pun tiba di sana. Ken langsung merangkul Lova tak peduli saat itu mereka sedang berada di depan umum, "Sayang, kau baik-baik saja?" Tanya nya dengan nada cemas.
"Hmmm. Aku baik-baik saja. Kenapa kau begitu cemas?" sahut Lova dengan suara pelan.
"Sudah ku katakan, aku memang tidak akan tenang meninggalkan mu seperti tadi pagi, syukurlah jika kau baik-baik saja." balas Ken lagi.
"Yah, baiklah. Tapi sekarang kau sudah lihat bukan kalau aku baik-baik saja, jadi tenang lah."
Setelah memastikan bahwa Lova memang baik-baik saja, barulah Ken benar-benar merasa tenang. Setidak nya mulai hari ini ia akan mempekerjakan tim keamanan di Villa nya agar kejadian seperti tadi pagi tidak terulang lagi.
"Sudah makan siang?" Tanya Lova saat Ken sudah melepaskan pelukan nya. Disaat itu juga Ken baru menyadari jika di meja itu bukan hanya ada mereka berdua, tapi ada dua wanita lain yang saat ini tengah berwajah canggung.
"Kami akan pindah ke meja lain tuan." ujar bibi yang menyadari keterkejutan Ken meskipun tidak kentara.
"Tidak perlu Bi, duduk lah disini. Kita makan bersama saja." sahut Ken cepat, membuat bibi dan Ayu tetap duduk di tempatnya.
"Terima kasih tuan."
Setelah selesai makan siang, Lova kembali ke Villa bersama Ken, kekasihnya itu memaksa untuk mengantarnya, sementara bibi dan ayu kembali kerumah mereka diantarkan mobil lainnya.
"Bagaimana rapat mu, apakah berjalan dengan lancar?"
"Hmm. Semua nya baik-baik saja sayang. Terima kasih sudah bertanya." jawab Ken.
"Setelah ini kau akan langsung kembali lagi ke kantor?" Tanya Lova lagi.
"Begitulah, Kenapa, apa kau ingin ikut bersama ku, anggap saja kau sedang jalan-jalan sekaligus menemani calon suami mu, hem?" tawar Ken, membuat wajah Lova bersemu.
Mereka masih muda dan Ken bahkan sudah terlihat begitu percaya diri menyebut dirinya seorang calon suami? apakah Ken sudah sangat siap untuk menikah?
"Apa kau yakin Ken?" Lova menyipitkan matanya. "Dengar, aku hanya khawatir jika yang kau lakukan justru terus menganggu ku di bandingkan melanjutkan pekerjaan mu." lanjut Lova, berniat menggoda Ken, namun pria itu sudah menangkap maksud nya.
Hingga terdengar suara gelak tawa Ken, "Kau sangat mengenalku sayang. Hmm. Tapi aku berjanji jika aku akan tetap melanjutkan pekerjaan aku. Aku janji." Ken mengacungkan dua telunjuk nya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan ikut dengan mu. Tapi bisa kah kita mengambil buku sketsa ku terlebih dahulu, aku ingin mengisi waktu ku dengan membuat sesuatu." pinta Lova sambil menyenderkan kepalanya di bahu Ken.
"Baiklah. Seperti yang kau minta Mrs. Wijaya."
Setiba nya di kantor, tanpa ragu Ken menggandeng tangan Lova dan memamerkan tunangan nya itu dengan terang-terangan. Jika biasanya Ken selalu melalui lift khusus, maka siang ini, Ken sengaja melewati Lobi saat membawa Lova. Ia memang ingin menunjukan tunangannya.
Karena itu juga lah keduanya langsung menjadi topik utama di kantor, khusus nya di kalangan para wanita.
"Apa tidak masalah kita melakukan ini? bukan kah ini di kantor, kau harus menjaga wibawa mu." tegur Lova memelankan suaranya, saat semua mata terus mengarah pada mereka.
"Jangan khawatir sayang, cepat atau lambat kau akan menjadi nyonya pemilik perusahaan, semua orang nanti juga akan mengenalmu. Bukan kah berkenalan lebih cepat juga lebih baik?" sahut Ken, sebelum keduanya masuk ke dalam lift.
Meskipun semua orang memperbincangkan keduanya, namun tidak ada yang berani secara terang-terangan. Di depan Ken dan Lova semua orang hanya menunduk hormat.
"Selamat siang Tuan, dan Nona." sambut Hana saat keduanya tiba di lantai atas, tempat dimana ruangan Ken berada.
"Nah sayang, kau bisa duduk dimana pun kau mau, sementara aku juga melanjutkan pekerjaan ku." ujar Ken, seraya menempati kursi singgasana nya.
"Buatlah dirimu senyaman mungkin." tambah Ken lagi.
"Hmm Baiklah." sahut Lova yang langsung mengambil tempat di sofa.
Benar saja perkataan Lova sebelum nya, konsentrasi Ken tidak bertahan lama ketika Lova berada di ruangan yang sama dengannya.
Dari tempatnya duduk, Ken hanya bisa memperhatikan Lova. Cara gadis itu duduk, caranya tersenyum, cara nya memikirkan sesuatu. Semua itu sungguh menarik perhatian Ken.
Lova sungguh seperti magnet, gravitasinya selalu menarik Ken untuk ingin selalu berada di dekat gadis itu, dan tentu saja, gaya tarik nya begitu kuat, hingga Ken tidak bisa menahan dirinya untuk tetap berada di tempat.
Karena saat ini, Ken bahkan sudah meletakan kepalanya di atas pangkuan Lova.
"Hem, kau sudah selesai?" Tanya Lova yang saat ini juga menghentikan coretan di atas kertasnya.
"Aku lelah, dan aku ingin istirahat disini." sahut Ken, tiba-tiba saja bertingkah manja. Dan tentu saja, melihat itu membuat Lova menahan senyum nya.
Dimana lelah nya? padahal belum sampai 30 menit mereka berada di ruangan itu. Dan setahu Lova, Ken bahkan tak melakukan. apapun sejak awal..
"Ah, benar kah? hmm. Kalau begitu tutup mata mu dan rilex lah." Lova membelai pelan rambut Ken. Ia membiarkan Ken untuk bersikap manja pada nya, namun tiba-tiba saja Ken memajukan Kepala nya sementara tangan nya menarik pelan tengkuk Lova, hingga membuat gadis itu terkesiap..
"Beri aku ciuman.. "
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...