
...ENJOY...
.......
.......
.......
''Hei lo kenapa? kangen Shreya?''
Leon tersenyum sambil mengibas-ngibaskan handuk nya ke arah Ken. Setelah kepindahan Shreya, Ken dan Leon berteman lebih akrab. Tepatnya, Leon yang selalu menempel pada Ken. Meskipun Ken selalu bersikap dingin pada Leon, tapi entah kenapa Leon selalu merasa nyaman dengan sikap jujur Ken.
Baginya, Ken memang seperti itu. Tidak ada kepura-puraan dalam sikapnya. Ken bertindak sesuai dengan apa yang ia mau. Dan bagi Leon, sahabat yang tepat adalah seperti Ken.
Saat ini Leon semakin terkekeh saat melihat perubahan air muka Ken, ketika Leon menyinggung nama Shreya. ''Jangan terlalu mikirin Shreya, dia pasti baik-baik aja kok di sana sama pak Damian. Lagian, kita juga masih bisa ketemu ntar, kalau kita udah tau mereka tinggal di negara mana.'' ujar Leon.
Memang benar apa yang dikatakan Leon. Sebaiknya Ken lebih fokus dengan sekolahnya. Dengan begitu, setidaknya ia akan bisa mengesampingkan pikiran nya sejenak. Toh Shreya juga akan baik-baik saja di sana. Semoga saja. Semoga saja gadis itu bahagia.
'Pikirin aja urusan lo!'' Ken mendengus, memalingkan wajah nya dari Leon yang selalu memamerkan senyuman konyolnya.
''Ya udah yuk mending lo nemenin gue latihan basket! Atau lo ke perpus aja sana!''
Leon mengambil tas olah raganya, bersiap hendak pergi. Meskipun tak ingin, Ken tetap mengikuti Leon. Setidaknya dengan bersama teman nya yang tak lazim itu, membuat pikiran nya sedikit teralihkan.
Apakah kini Leon telah menjadi seseorang yang Ken pedulikan? Temannya? Ataukah Leon telah menjadi sahabat bagi Ken?
Berbicara tentang Sahabat, pernahkah kalian memikirkan, ketika kalian memiliki seorang sahabat;
bagaimana awal pertemanan kalian akan dimulai?dan apa yang membuat orang tersebut bisa bertahan dan menjadi salah satu sahabat kalian?atau mungkin malah satu-satunya sahabat yang kalian miliki?
Meskipun terkadang kalian bertengkar, berdebat, berselisih paham, tapi pada akhirnya tetap orang itulah yang akan kalian cari saat kalian merasa ingin berbagi cerita, atau hanya sekedar untuk merenung bersama.
Sahabat adalah orang yang akan berdiri disisi mu meskipun kau melakukan hal terkonyol dalam hidupmu.Dia akan tertawa bersama mu, dan dia juga mungkin akan sangat sering mengatakan hal-hal menyakitkan yang tak ingin kamu dengarkan.
Meskipun begitu, karena kepedulian.
Ia tak akan kecewa meskipun kau marah dan mencaci nya, karena bagi seorang sahabat, tidak apa-apa bagi nya sedikit terluka asalkan itu demi kebaikan mu.
Sebelum menyusul Leon ke lapangan basket, Ken terlebih dahulu membeli berbagai macam minuman dan juga camilan bagi tim dari temannya itu.
'Heii Yooo..!''
Lon melambaikan tangan saat melihat kedatangan Ken. Teman nya itu hanya berdiri disisi lapangan sambil meletakan beberapa kantong plastik yang ada ditangan nya.
''Gue istirahat bentar.'' ujar Leon pada tim nya, lalu menghampiri Ken.
'Bawa apaan lo,- Leon membuka-buka kantong plastik yang ada di tas bangku. ''Baik bener, thanks Ya..!''
'Hei, istirahat dulu, pada mau minum gak lo..?" seru Leon mengangkat botol minuman ditangan nya.
'Temen gue, Ken. Dia yang beliin ini semua, say thanks lo pada! '' ujarnya pada anggota tim lainnya.
__ADS_1
''Thanks bro!,- Thanks.. '' ucap para pemuda itu bergantian.
Leon menyeringai pada Ken. Sementara Ken, hanya menganggukkan kepalanya. Meskipun Ken bukanlah orang yang terbuka dalam menunjukan ekspresinya, namun Leon tau, jika Ken mulai menerimanya secara perlahan.Suka tidak suka, Leon akan menjadikan Ken teman nya. Memiliki satu teman sedingin gunung es akan membuat hidup lebih berwarna.
Saat Leon dan tim nya kembali ke tengah lapangan, Ken memilih untuk duduk di area kursi penonton, membuka buku-buku yang mungkin akan manambah wawasan nya;
'Ken..? boleh aku duduk disini?"
Viona berdiri tak jauh dari Ken. Gadis itu menatap nya dengan senyuman yang terlihat lebih tulus dari sebelumnya. ''duduk aja!'' Ken bergeser memberikan tempat bagi Viona.
''Ken- gue mau minta maaf.- Keheningan sejenak terjadi diantara keduanya.
Ken diam mendengarkan,- ia juga tak memahami arti kata maaf yang diucapkan Viona padanya.
''Gue tau kalau lo sama Leon deket sama Shreya, dan gue minta maaf buat kejadian waktu itu.''
Ahhh... Ternyata untuk ini permintaan maaf itu.
''Maksud lo apa, lo yang nyuruh Dinda buat ngelakuin itu, -
'Bukan gue Ken. Sumpah! Gue beneran gak tau kalau Dinda yang ngelakuin itu. Gue cuma ngerasa bersalah aja, karena Dinda temen gue. Seandainya dia gak ngelakuin itu, mungkin Shreya masih ada disini, dan kejadian itu gak akan.."
'Gak usah ngerasa bersalah. Bersikap aja kaya biasa. Lagian bukan lo yang salah, meskipun seandainya lo terlibat, gue gak berhak terima permintaan maaf lo. Lo harus minta maaf sama orang yang tepat, bukan gue.''
Leon yang tak sengaja melihat Viona saat akan mengoper bola, menghentikan permainan nya sejenak. Ia menimbang-nimbang akan pergi kesana atau tetap bermain. Leon cukup penasaran apa yang dilakukan Viona bersama Ken, tepatnya tentang apa yang sedang mereka bicarakan saat ini.
'Lo bener Ken, seharusnya gue minta maaf sama Shreya.- Tapi tetep aja gue juga mau minta maaf sama lo,- sama Leon juga.. - Kalau gitu, gue pergi, maaf udah ganggu lo'' Viona beranjak dari kursinya, meninggalkan Ken yang diam membisu. Ini kali pertama Ken merasakan Viona mengatakan sesuatu yang benar-benar dari dirinya. Tak ada kepura-puraan di sana.
Semua yang sudah terjadi tidak akan bisa di ulang kembali. Bagi Ken, permintaan maaf Viona tak akan merubah kenyataan bahwa Shreya sudah tak bersama mereka lagi.
''Viona ngapain barusan?"
Leon berdiri dengan nafas tersengal-sengal di samping Ken. Ia juga mendaratkan bokong nya di bangku yang sama dengan Ken sambil menyeka peluh di wajahnya.
''Minta maaf sama lo,- di bilang gitu. Gue cabut.'' Ken melompat berdiri di depan Leon, memperlihatkan punggung nya, sementara tangannya bersembunyi di balik kedua saku celana. ''Satu lagi, mulai hari ini Jangan bahas Shreya lagi di depan gue.''
Leon yang mendapati peringatan tersebut, tak bisa menebak apa yang sebenarnya telah terjadi, dan Viona? mengapa gadis itu harus minta maaf, terlebih lagi permintaan maaf itu ditujukan pada dirinya.
Apa ada hal yang tak ia ketahui di antara mereka? atau mungkinkah, bahwa Ken lah yang menjadi alasan Viona menolak cintanya? jika memang ya, kenapa harus minta maaf? bukan kah mereka bisa saja bersikap seolah semuanya tak pernah terjadi? bukan kah itu lebih mudah, dari pada harus melakukan hal-hal yang akan membuat semua orang merasa canggung.
'Gak bisa, gue harus tanya langsung sama Vio..'' Leon mengambil tas nya dan bergegas menyusul Viona.
Leon harus tau apa maksud gadis itu.
''Permisi, lo pada liat Vio gak? Viona anak tahun pertama kelas A..?" tanya Leon diruang ekstrakulikuler tempat dimana biasanya Viona berada. ''Tadi sih disini, terus ijin keluar, mungkin lagi ke kantin.'' ujar salah seorang gadis di club yang sama.
Mendengar itu, Leon langsung bergegas mencari Viona. Ia berlari ke arah kantin, tapi Viona gak ada di sana. Di kelas,- gadis itu juga tak ada disana. ''Liat Viona gak, anak tahun pertama kelas A?" tanya nya lagi pada anak-anak lain. ''Vio? barusan gue liat sih kearah taman.. coba aja kesana.''
Di taman, Leon melihat sesosok gadis muda yang sedang duduk di bawah pohon rindang seorang diri. Merenung..? entahlah. Leon berjalan menghampiri Viona dan duduk di sebelah gadis itu tampa permisi.
'Gue udah denger dari Ken,- ujar Leon melirik sekilas pada Viona. ''Gue gak masalah kok tentang waktu itu, lagian gue juga gak mau maksain perasaan gue sama lo."
__ADS_1
"Jadi lo gak usah ngerasa canggung gitu, apalagi karena gue temenan sama Ken, dan karena lo juga suka sama Ken, makanya lo nolak gue, benerkan?,- Ujar Leon bersikap santai." Leon merasa lebih baik ia berterus terang. Meskipun saat itu ia merasa kecewa, tapi sekarang, baginya sudah tak begitu penting lagi.
''Gue cuma mau temanan sama lo, sama Ken juga. Kaya lo temenan sama Shreya.'' Sela Viona, bicara sambil menundukkan wajahnya. "Gue ngerasa bersalah sama lo semua karena ulah temen gue, Shreya juga sampai harus pindah sekolah. Karena itu juga, mungkin lo sama Ken jadi benci sama gue. Gue juga tau banyak anak-anak yang mikir negatif tentang gue, tapi gue beneran gak punya niat apapun, gue cuma mau berteman baik sama kalian, tapi gue gak tau kalau akhirnya bakal kaya gini." sesal Viona, lagi-lagi memalingkan wajahnya.
'Hei,- Lo nangis Vie..?- Leon mendekatkan wajahnya pada Viona, membuat gadis itu memalingkan wajahnya lagi. Merasa malu atas sikapnya.
'' Siapa yang nangis?'' Elaknya, padahal sudah jelas-jelas wajahnya terlihat memerah.
''Vie, dengerin gue." Leon berpindah dari kursi dan berjongkok di depan Viona. ''Gue atau pun Ken, gak pernah nyalahin lo atas kejadian Shreya. Mungkin ini emang jalan nya Shreya untuk hidup lebih bahagia diluar sana, lagipula kita juga gak bisa menebak bagaimana dibalik kehidupan keluarga orang lain, yang bisa kita lakukan sebagai teman adalah menjadi diri kita sendiri, dan menjadi teman yang baik bagi orang-orang yang kita peduliin."
"Yah emang sih, gue sama Ken menyayangkan kepindahan Shreya, apalagi akhir-akhir ini kita semua udah ngerasa deket sebagai teman, tapi mau gimana lagi, itu hidup Shreya, dan Keputusan yang diambil juga untuk kebaikan Shreya. Meskipun saat itu gue sama Ken sedikit protes, dan kita kurang setuju, balik lagi; sebagai teman yang baik, bukan nya udah seharusnya kita mendukung Shreya, dari pada cuma nyalahin diri kita kaya gini benerkan?"
Leon menghembuskan nafasnya, menyunggingkan sedikit senyuman untuk Viona. ''Gue tetap akan jadi temen lo kok Vie, dan gue juga gak pernah benci sama lo. Jadi lo gak usah nangis gini, gak usah ngerasa beban juga sama sikap Ken, anak itu emang sedikit beda, tapi dia baik kok, nanti lo juga bakal biasa sama sikap pangeran es nya dia. Gimana, kita teman?"
Leon berdiri di depan Viona mengulurkan tangan,-
Viona mendongakkan kepala melihat pada Leon yang saat ini lagi-lagi memamerkan senyuman konyolnya..
'Hmmm. Kita teman.'' Viona menyambut tangan Leon, ia juga membalas senyuman laki-laki itu.
''Ya udah yuk balik ke kelas,- Untuk Ken, lo bisa mulai pelan-pelan. Ken baik kok.''
''Hmmm. Gue tau kok. Gue bisa liat dari cara di Care sama Shreya. Sama lo juga.''
''Mau makan siang bareng? gue yang traktir. Makan siang pertama kita sebagai teman?"
Viona menganggukkan kepala nya setuju dengan ajakan Leon. Setidaknya saat ini ia sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Ia juga bukanlah manusia yang sempurna. Meskipun ia seorang gadis yang populer karena pekerjaan nya, Viona juga tetap menginginkan orang-orang yang benar-benar mendukung nya. Seorang teman. Bukan karena ia seorang superstar. Tapi karna ia seorang Viona.
''Mau makan apa? di kantin, di luar atau dimana?,-
''Dimana aja, di kantin juga boleh kok.-
Memulai sebuah pertemanan bisa dari kejadian apa saja. Terkadang ada yang hanya mengatakan kata seadanya, lalu menjadi teman. Ada juga juga yang berusaha menarik perhatian, membuat dirinya disukai, lalu menjadi teman.
Tak sedikit juga yang membuat pertemanan dari ketidak cocokkan. Tapi apapun itu, membuat pertemanan jauh lebih baik dari pada melewati semuanya seorang diri.
Setidaknya, dengan memiliki satu orang sahabat, kita memiliki tempat untuk saling berbagi perasaan. Berbagi cerita sedih ataupun bahagia. Berbagi masa-masa tersulit dalam hidup kita. Entah seperti apa sahabat yang kita miliki? hargailah hubungan itu.
Sahabat lebih erat dari sekedar pertemanan. Semua orang bisa menjadi teman, tapi teman belum tentu bisa menjadi seorang sahabat. Karena untuk menjadi seorang sahabat, setidaknya kita harus mendedikasikan setengah hidup kita bagi orang tersebut. Waktu kita, kebahagiaan kita, keegoisan kita, marah kita, duka kita, empati dan simpati, semuanya.
Bisakah kita menjadi seorang sahabat? Bukan sahabat yang ada saat seseorang berada di atas.
Tapi sahabat yang terus bersama dalam situasi apapun. Roda kehidupan terus berputar, waktu terus berlalu, dan orang-orang akan datang dan pergi silih berganti. Tapi seorang sahabat? ia akan ada sampai nanti.
Sampai kita mungkin tak lagi saling mengenal karena termakan usia. Atau mungkin sampai kita tak lagi bernyawa, dan seorang sahabat, dialah orang yang akan berduka lebih lama sambil mengenang semua yang pernah kita alami bersama.
Jadilah sahabat setidaknya bagi satu orang saja..
Dengan begitu, kita akan tau alasan mengapa Tuhan menciptakan kita sebagai seorang manusia. Bukan sebagai benda, atau yang lainnya, tapi sebagai MANUSIA.
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...