
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
Zoya sudah tampil begitu cantik. Ia berdiri tak jauh dari tempat yang seharusnya. Ia sudah bersiap-siap sejak tadi untuk menyambut calon mertuanya.
Jika biasa nya ia bisa bersikap biasa saja pada Uncle Al, dan juga Aunty Margaret, maka situasi sekarang berbeda.
Selain sudah lama tidak bertemu dengan mereka, kali ini Zoya harus bertemu kembali dengan status yang berbeda, yaitu sebagai kekasih Zen dan juga Calon tunangan nya.
Ini merupakan suatu yang baru bagi Zoya. ia tidak berpikir untuk bersikap biasa saja atau menimbulkan kesan yang biasa saja, karena mulai saat ini, ia akan menjadi bagian dari keluarga Zen.
"Angel, kemarilah." Rehan memanggil Zoya yang sejak tadi berusaha menenangkan dirinya agar tidak terlihat gugup. Sambil tersenyum wanita muda itu berjalan perlahan menghampiri Dady dan juga calon mertua nya kelak.
"Inikah Zoya kita? Zoya Yang dulu masih sangat kecil..? Wow. Kau terlihat sangat cantik sayang." Puji Aldi sambil memeluk keponakan kesayangannya itu.
"Terima kasih Uncle,.." Apakah aku harus memanggilnya papa..? "Aunty,, selamat malam." Zoya beralih pada Margaret.
"Selamat malam juga sayang, your so beautiful.." Puji Margaret juga. "Thanks Aunty.. " Perasaan nervous Zoya sedikit berkurang karena sambutan hangat dari
orang tua kekasihnya.
"Zoya, kenalkan ini Maria, teman Zen saat di U.K, kami membawa nya kemari untuk menemui Zen. Dimana anak itu,..?" Aldi mencari sosok Zen di tengah-tengah para tamu.
"Seperti nya kak Zen sedikit terlambat, Uncle."
"Hai Maria, Aku Zoya senang bertemu dengan mu." Zoya beralih pada wanita di depan nya dan mengulurkan tangan. "Senang bertemu dengan mu juga Zoya."
Keduanya kini saling berjabat tangan. Zoya mengambil tempat duduk yang sudah di siapkan untuk nya, tepat bersebelahan dengan Zen.. Jika saja lelaki itu tidak terlambat datang. Menyebalkan.
"Seperti nya, bintang utama kita terlambat malam ini." Rehan berdiri untuk menyampaikan sambutan nya.
" Terima kasih untuk kehadiran kita semua malam ini, saya pribadi sangat bahagia sekaligus merasa terharu.
"Malam ini, malam yang tidak pernah saya bayangkan akan datang secepat ini, yaitu malam untuk membicarakan pertunangan putra dan putri kami." Jeda Rehan.
"What,, Pertunangan..? sungguh.. Zoya kah..?" Aldi bersuara cukup nyaring, membuat orang-orang yang berada di sana mengalihkan perhatian pada dirinya.
"Oh, maafkan aku, aku terlalu bahagia dan sedikit tidak percaya dengan kabar ini.." jelasnya.
O,..O.. Sepertinya ada yang tidak..
"Apa Zen belum menyampaikan pada mu Al, tentang malam ini..?" tanya Julie yang sudah menduga-duga akan hal ini.
"Mengatakan apa..?" Aldi dan istrinya saling berpandangan, mereka benar-benar tidak tau untuk apa acara malam ini di adakan.
Ketidaktahuan Aldi dan keluarga nya membuat para tamu undangan yang lain cukup cemas. "Seperti nya jagoan kita ingin membuat kejutan untuk mu malam ini," Julie tersenyum menenangkan semua orang.
"Uncle..'
"Tidak, angel.. Biarkan Dady." Rehan menghentikan Putrinya.
__ADS_1
"Maaf atas keterlambatan ku." Zen berdiri tidak jauh dari para tamu undangan. Ahh, akhirnya.. Zoya bernafas lega.
Zen membawa sebuket bunga yang cukup besar di tangan nya. "Hai Mom." Zen menghampiri Margaret dan mencium ibu nya itu. "Kesayang ku..." katanya beralih pada Elizabet.
"Aku merindukan mu Kak.." Elizabeth memeluk Zen singkat. "Aku juga merindukan mu gadis kecil." balas Zen.
"Zen." Maria berdiri menyatakan keberadaan nya. "Kau datang..? Bagus sekali." Zen tersenyum pada wanita itu.
Setelah ia melewati mereka semua, Zen berjalan ke arah Zoya. "Lama menunggu ku..?" Tanya nya sambil tersenyum.
"Kakak membuat ku cemas. Kau tau sejak tadi aku sangat gugup." jujurnya.
"Benarkah..? Aku membawakan ini untuk mu." Zen menyerahkan buket bunga yang di bawa nya, lalu mencium kening Zoya. Adegan itu tak lepas dari semua pasang mata yang saat ini tengah memandang pada keduanya.
Zen berdiri di samping Zoya sambil memegang tangan wanita itu. Tangan mungil yang saat ini terasa dingin.
Zen meremas pelan tangan Zoya, seolah hendak mengatakan kalau semua nya akan baik-baik saja.
"Maaf atas keterlambatan ku malam ini, tidak seharusnya aku membuat kalian semua menunggu. Aku minta maaf" Zen menundukkan kepala nya, hormat.
Para tamu undangan yang lain merasakan momen sweet dari pemandangan indah yang berdiri di hadapan mereka saat ini.
"Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih yang sangat dalam untuk acara malam ini yang disiapkan begitu indah, terima kasih Mollie, I love you so much." Zen memandang hangat pada wanita yang membesarkan nya dengan penuh cinta itu.
Julie hanya tersenyum, ia tak kuasa menahan rasa haru nya.
"Dan malam hari ini, aku berdiri di tempat ini menggenggam erat tangan wanita yang telah lama ku cintai." Zen mencium tangan Zoya yang saat ini berada di genggaman nya.
DEG..
"Dad, Mollie. Mom, and Didiie, dan kalian semua yang datang malam ini. Aku ingin menyatakan secara resmi bahwa Zoya Vidette Wijaya adalah tunangan ku secara resmi mulai dari malam ini dan seterusnya."
"Malam ini secara resmi, aku akan melamar Zoya di hadapan kalian semua, aku tak ingin membuang begitu banyak waktu untuk menunggu lebih lama lagi, karena itu, aku sudah memantapkan diri dan juga hatiku, di hadapan kalian semua." kata Zen dengan percaya diri.
"Zoya Vidette." Zen memandang dalam mata Zoya yang saat ini tengah berbinar di tengah remang-remang dan kerlap-kerlip cahaya lampu hias.
"Gadis kecil yang aku cintai, Zo'e ku yang begitu manis, wanita terindah dalam hidup ku.
Aku Zen Mahendra, secara resmi melamar mu di hadapan orang tua kita, terlebih lagi kepada mu."
"Dengan segala yang aku miliki, hati dan juga cinta ku, mulai hari ini bersediakah kamu menjadikan ku satu-satunya laki-laki dalam hidup mu, dan kau akan selalu menjadi satu-satu wanita dalam hidup ku, belahan jiwa ku. Bersediakah kau menjadi teman hidup ku?"
Suasana begitu hening. Ada rasa haru, Perasaan deg-degan dan juga. Semua emosi bercampur jadi satu.
"Aku bersedia."
Kata-kata yang begitu sederhana, namun begitu memiliki arti yang mendalam. Ya, Zoya dengan sepenuh hati akan menerima pria di hadapan nya ini.
"Aku bersedia kak, aku bersedia." jawab wanita itu, ia melonjak kegirangan bercampur haru. Hilang sudah keresahan Zoya, semua nya sudah berakhir bersama dengan kata "Ya" yang keluar dari mulut nya.
Meskipun ini lamaran ketiga Zen pada nya jika di hitung sejak di Kondominium saat itu, namun tetap saja membuat Zoya merasakan perasaan bahagia yang selalu meluap-luap.
Suara tepuk tangan dan juga sorakan terdengar begitu riuh malam itu. Semua yang hadir di sana merasa bahagia atas deklarasi cinta di antara dua anak manusia yang sedang di penuhi dengan atmosfir kebahagiaan.
Rehan tak dapat berkata apa-apa lagi. Ia hanya berharap agar putra dan putri nya bahagia, meskipun sedikit tidak rela, namun ia tetap bahagia untuk anak-anak yang ia cintai itu.
"Apa ini Julie, Rey..? Anak-anak ini benar-benar mengagetkan ku'' sela Aldi masih tak percaya dengan yang lihat.
__ADS_1
"Itulah yang kami rasakan sebelumnya Al," balas Julie sambil tersenyum. "Apa kau akan menentang nya..?" Tanya Julie lagi sambil memicingkan matanya pada Aldi.
"Aku..? Tentu saja tidak Julie." Elak Aldi cepat. "Aku malah sangat senang mendengar kabar ini, ya meskipun." Aldi melirik pada Maria, ia merasa sedikit bersalah pada wanita muda itu.
"Hanya saja apa, Al...?"
"Tidak apa-apa." Aldi tersenyum canggung. "Kita akan menjadi besan. Ini sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya Julie." Sekali lagi Aldi memeluk Julie di hadapan Rehan dan juga Margaret.
Ehem..
"Sobat, wanita ini istri ku. Jangan terlalu sering memeluknya." ucap Rehan setengah berbisik pada Aldi, namun masih bisa di dengar oleh Julie.
"Aww.. Moo,,- Rehan mendapatkan sikutan dari istri nya, Sementara Margaret hanya tersenyum, ia sangat memahami situasi itu.
"Selamat atas pertunangan kalian Zoya, Zen.." Maria mengulurkan tangan nya. Posisi mereka saat ini cukup jauh dari orang tua mereka.
"Terima kasih Maria,.." balas Zoya sambil tersenyum lebar. Ia bahagia tentu saja. "Kau tau Zoya, sebelum nya aku adalah calon tunangan Zen, benarkan Zen.? Maria tersenyum sambil melirik Zen.
DEG..
"Maria,.." Zen Mencoba menghentikan. "Tapi kau tenang saja Zoya, meskipun karena hal itu aku datang ke indonesia, tapi aku benar-benar merasa lega dan juga bahagia atas pertunangan kalian malam ini, itu sebuah bantuan yang sangat besar untuk ku." Wanita itu berkata begitu anggun dan juga percaya diri.
"Terima kasih juga untuk mu Zen, aku harap kalian bahagia, kalau begitu aku permisi."
Maria meninggalkan Zen dan Zoya yang saat ini saling berpandang-pandangan.
"Kamu tidak mengejarnya kak..?"
"Untuk apa..?"
"Apa kau tidak khawatir pada nya, mungkin saja ia akan menangis." kata Zoya. "Kamu tidak cemburu..?"
"Kenapa harus cemburu, bukan kah kakak sudah menjadi milik ku..?" Zoya menunjukan tangan nya yang sudah disematkan cincin oleh Zen.
"Setidaknya aku berharap kamu sedikit cemburu gadis kecil,." goda Zen. "Aku tidak akan cemburu kak, terlebih lagi sepertinya aku yang merebut mu dari nya."
"Itu tidak benar Zo'e. Jangan pernah berpikir seperti itu, aku hanya milik mu, bukan wanita manapun." tolak Zen pada perkataan Zoya.
"Ya..ya,, aku percaya pada mu kak." Zoya memeluk Zen, kehangatan tubuh Zen seketika juga menghangatkan hati Zoya.
"Uncle, Aunty..Bisakah kalian katakan pada My Father, kalau rencana pertunangan antara aku dan Zen di batalkan sepenuh nya..?" Pinta Maria pada Aldi dan juga Margaret.
"Sayang, maafkan kami jika membuat mu.."
"Tidak Aunty, aku baik-baik saja, semua nya akan lebih baik setelah ini. Tolong sampaikan itu pada ayah ku, dan aku pamit, aku akan kembali ke hotel lebih dulu."
Margaret dan Aldi merasa sedikit bersalah pada Maria, namun kenyataan nya sudah seperti ini, mereka juga tidak ingin merusak kebahagiaan anak-anak mereka.
Semoga semua nya menjadi lebih baik..
Cerita yang sesungguhnya baru saja di mulai.
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1