
...ENJOY...
.......
.......
.......
Semua berjalan seperti seharusnya.
Hari demi hari berlalu, hubungan Lova dan Ken pun semakin menghangat.
Setiap memiliki kelas, mereka selalu pergi ke kampus bersama. Makan siang bersama. Menghabiskan waktu untuk saling bercerita, menertawai hal-hal yang mereka anggap lucu, bahkan terkadang mereka menghabiskan waktu hanya untuk merenung bersama.
Kadang mereka saling berpelukan, kadang mereka saling merindukan saat malam tiba, dan setiap bersama, mereka selalu memiliki hal-hal baik dan juga istimewa.
Ken selalu ingin menjadi kekasih yang baik. Begitu pun dengan Lova, setiap saat ia selalu belajar untuk memberikan hati dan juga perasaan yang tulus kepada Ken.
''Kau ingin melakukan ini?"
''Bisakah kita melakukan itu? aku rasa itu berlebihan, jangan mengganggunya!''
''Kenapa, ini sangat menyenangkan L.. coba saja.''
''Aku rasa ini bisa membuat ku terluka?''
''Aku akan menjaga mu.''
''Awas saja kalau dia menggigit..!''
''Tidak akan. Percaya saja padaku!''
Gelak tawa dan juga canda selalu mewarna hari-hari keduanya. Seakan dunia berputar dengan mereka berdua lah sebagai porosnya. Selalu saja begitu.
''Hei, kenapa kalian mengacuhkan ku? Aku ingin ikut bersama kalian.'' Leon memelas pada Ken dan Lova.
''Enak saja! Pergi sana, jangan menganggu kami.'' Tolak Ken, lalu membawa Lova pergi.
''L... jangan tinggalkan aku!'' Leon bersuara dramatis.
''Bye Leon.. '' Lova melambaikan tangan nya. Terkadang ia merasa kasihan pada Leon, tapi mau bagaimana lagi, kekasihnya terlalu posesif.
Sejak kedua nya selalu bersama, Leon merasa tersisihkan. Lova seperti satu-satunya yang Ken miliki, begitu juga sebalik nya.
Dimana pun Lova berada, Ken selalu berada di sana, dan pemuda itu selalu saja mencegah Leon untuk bicara dengan Lova barang sebentar. Leon merasa seperti orang asing.
''Sedih banget sih hidup gue! Temen gue pada kemana lagi? Ken ..Lova.. jahat banget lo pada!''
Tak ingin terlalu larut dengan sikap acuh teman-teman nya yang sedang kasmaran, Leon memilih untuk berkumpul dengan teman-teman lain nya. Setidaknya beberapa orang yang bisa di anggap sebagai orang yang ia kenal.
Cukup sudah Leon menjadi pria yang di abaikan. Ia tidak pantas untuk di abaikan.
''Disini saja, sebaiknya kau segera kembali ke kampus. Aku juga akan bersiap-siap untuk bekerja.'' pinta Lova pada kekasihnya.
Ken sangat enggan untuk melepaskan genggaman nya pada tangan Lova. Harusnya dulu ia menempati apartment yang lebih dekat dengan tempat Lova bekerja, dengan begitu ia bisa melihat Lova dalam jarak yang lebih dekat.
''Haruskah aku pergi? Aku bisa melewatkan kelas sore ini, aku masih ingin bersama mu L.. '' Ken lagi-lagi menunjukan wajah muram nya.
''Jangan lakukan itu Ken. Aku tidak suka kau melewatkan kelas mu hanya untuk bersama ku. Apa kau sadar betapa mahalnya biaya kuliah kita? memikirkan kan nya saja hampir membuatku berhenti bernafas, seandainya aku bukan seorang yang beruntung dengan uang beasiswa, ku rasa aku tidak akan berada disini, dan bertemu dengan mu.'' ujar Lova, yang tak ingin kekasihnya melewatkan kelasnya.
''Hmm. Baiklah.. kalau begitu aku akan segera kembali ke kampus dan belajar seperti yang kau katakan.'' turut Ken masih dengan wajah enggan.
''Itu baru pacar ku. Aku akan merindukan mu, Ken. Semangat!'' Lova bertingkah imut di depan Ken.
''Jangan lakukan itu L, Kau membuat ku semakin tidak ingin pergi. Aku akan lebih merindukan mu setelah ini.-- Aku akan pergi sekarang, bye.''
__ADS_1
''Bye Ken.. hati-hati dijalan.'' Lova melambaikan tangannya.
Setelah Ken berjalan kembali ke kampus, Lova pun segera masuk ke dalam kedai.
Mateo pun menghampiri dan berdiri di samping Lova. ''Bocah itu kekasihmu, Mosley?"
''Ah.. ? Ken..?hmm, kekasihku.'' Aku Lova dengan wajah bersemu, malu.
''Dia tampan. Dan kau sangat cantik. Kalian terlihat serasi Mosley.'' Mateo tersenyum, sambil menganggukkan kepalanya.
''Terima kasih bos. Aku akan bersiap-siap sekarang.''
Di kampus...
Ken sudah kembali fokus dengan pelajaran nya. Untuk sesaat, ia akan menyimpan semua pikiran tentang Lova di tempat tersendiri dalam memori nya. Kali ini, Ken harus fokus untuk menyelesaikan kewajibannya.
''Baiklah semuanya,- lihat, di depan kalian sudah ada sebuah stick yang bertuliskan angka-angka yang akan menentukan kelompok untuk tugas selanjutnya, silahkan kalian ambil masing-masing dan temukan kelompok kalian. Untuk tugas ini, bisa kalian kumpulkan dua minggu lagi.''
''Yes, Prof..'' jawab semuanya serentak, kemudian melakukan apa yang diperintahkan secara teratur.
Untuk Kali ini Ken mendapatkan bagian untuk satu kelompok dengan Smith, Gretha, dan juga Luwina.
''Hi, Aku Luwina..''
''Gretha.''
''Ken..''
''Aku Smith.. sepertinya kita semua harus mengerjakan semua tugas untuk dua minggu kedepan. Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik.'' Sapa Smith, membalas semua sapaan tim nya.
''Kalian ingin mengerjakan sekarang? keberatan jika kita melakukan nya mulai besok saja?" pinta Ken, pada ketiganya.
''Tidak apa-apa.. sebaiknya memang kita mulai besok saja.'' Lanjut Luwina.
''Baiklah. Ini nomor ponsel ku. Kalian bisa membuat grup untuk tugas ini. Aku akan berusaha melakukan sebaik mungkin. Aku harus pergi sekarang, sampai besok.'' pamit Ken yang terasa sedikit canggung bagi ketiganya.
''Wah.. beruntung nya kita berada di kelompok yang sama dengan orang Genius.'' ujar Gretha, yang merasa senang bisa satu kelompok dengan Ken.
''Sepertinya kita akan dapat nilai tinggi kali ini.'' sela Gretha, yang disetujui Smith.
Sementara itu, di tempat lainnya..
''Kau yakin tidak ingin ikut dengan bos mu Shreya? kau bisa bertemu dengan bocah tampan itu lagi. Kau tidak merindukan teman-teman mu?" Goda Damian pada adiknya.
''Damdam, hentikan itu! Aku tidak ingin merepotkan kak Zoya, lagi pula mereka akan menghadiri acara di sana, aku tidak mungkin mengganggu mereka.'' Jelas Shreya.
''Kenapa harus mengganggu? Kau hanya akan pergi bersama-sama dengan mereka, tapi aku yang akan membiayai perjalanan mu.'' ujar Damian.
''Jangan membuang-buang uang untuk itu Damdam.''
''Kakak mu benar sayang,-'' Lea menghampiri Shreya. ''Kau tau, seorang teman adalah bagian dari diri kita. Kau tidak bisa mengabaikan mereka begitu saja disaat kau tau tentang mereka. Bukan kah seharusnya begitu? Pergilah.'' tambah Lea.
''Tapi kak..-
''Em..em.. Tidak ada tapi-tapi!'' Damian menggerakkan telunjuknya. ''Pergilah, dan sapa teman-teman mu. Setidaknya mereka akan tau jika selama ini kau akan baik-baik saja. Kau tumbuh dengan sangat baik dan juga cantik. Kau akan bahagia saat bertemu mereka. Percayalah. And be brave Shreya.'' Lea memberikan semangat untuk adik iparnya itu.
Shreya menatap kedua kakaknya dengan mata berbinar. Bukanlah uang yang Shreya permasalahkan, mereka memiliki uang yang cukup sekarang. Hanya saja, ia merasa bersalah karena telah mengabaikan teman-temannya sampai hari ini.
Shreya bisa saja mengirimkan Email pada Leon atau pun Ken, tapi ia tidak melakukannya. Shreya bisa saja menghubungi mereka saat ia tiba di Afrika lima tahun lalu, tapi ia tidak melakukannya. Shreya memutuskan untuk tidak melakukan itu.
Sekarang..?
Haruskah Shreya kembali menyapa seolah-olah ia baru saja pergi kemarin? dan bersikap seolah-olah ia tidak mengabaikan teman-teman yang peduli pada nya? Tidak kah ia terlalu egois jika ia melakukan itu?
''Shreya dengar! Kau bisa melakukan apa saja yang kau inginkan. Kami tidak akan memaksa mu jika kau tidak ingin pergi. Jadi pikirkan lah. Apapun keputusan mu, kau pergi atau tidak, setidaknya kau tidak akan menyesal setelahnya. Kau mengerti..?" tambah Damian, menegaskan pendapatnya.
__ADS_1
Shreya berpikir sejenak. Apakah ia benar-benar akan menyesal jika tidak melakukan nya, menyapa teman-teman nya? Apakah ia memiliki keberanian untuk melakukan itu?
''Baiklah kak. Aku akan memikirkan nya lagi.''
''Good Girl.- Sebaiknya kau segera tidur, dan berikan jawabanmu secepatnya. Waktu mu tidak banyak sayang.'' Damian mencium dan memeluk sayang adik satu-satu nya yang saat ini ia miliki.
''Hmm. Baiklah Damdam. Good night. Selamat malam Lea.. selamat malam juga keponakan ku.''
...❄️❄️❄️...
Pukul tujuh malam, saat Leon kembali ke apartemen. Tidak biasanya Ken berada dirumah.
''Tumben lo dirumah, gak ngecengin gebetan.'' tegur Leon sepintas lalu.
''Bentar lagi.'' jawab Ken acuh.
''Weess. Sohib gue. Kapan nih rencana nembak Lova? cinta lo?''
''Bukan urusan lo!'' jawab Ken sambil terus memainkan ponselnya.
''Udah jangan di ganggu Lova, lagi kerjakan?''
''Zozo.''
''Hah..?''
''Kakak gue, bukan Lova.''
''Oh.. kak Zoya? Kenapa? tumben banget.''
''Mom sama Dad lagi ada di sana. Mereka bilang mau kesini dua hari lagi, sekalian ke acara pernikahan kenalan kakak gue gitu.''
''Bunda juga? wah.. keren. Gue ikutan ya?.'' seru Leon merasa senang. Leon memang menyukai Julie, dan baginya Julie adalah bunda ke duanya.
''Hmm. Boleh kok.''
''Behh,, tumben banget lo baik sob? biasanya lo bakal nyuruh gue pergi jauh-jauh!''
''Ya udah pergi aja!''
''Wuih! Ngeri! Becanda gue sob, serius banget lo!''
''Gue juga.''
''Apa nya? yang mana?"
''Udah ah.. gue mau pergi. Lo diem dirumah, makan sana. Nety udah bikinin makanan favorite lo.''
''Yah, lo mau kemana? datangin Lova?''
''Kepo banget sih lo! Ada yang mau gue beli. O-Ya bilangin Nety, gak usah siapin makanan buat gue. Gue mau makan di luar.''
''Gak ngajak gue?''
''Lo bareng Nety aja sana. Kasian, kan bunda lo juga.''
''Wah bener-bener tega Lu sob!''
Setelah meninggalkan apartemen, tujuan Ken adalah butik yang berada sekitar tujuh block dari apartemen nya. Ia ingin membelikan sebuah gaun untuk Lova, dan mengajak kekasihnya untuk di perkenalkan dengan Mom dan Dady nya saat mereka tiba nanti.
Ken sudah tidak sabar ingin segera bertemu Lova. Ken ingin terus memegang tangan Lova, dan menjaga gadis itu selamanya. Ken sangat ingin membuat Lova bahagia dan juga merasa terlindungi saat bersama nya.
Meskipun mereka masih begitu sangat muda, tapi Ken tau jika Lova adalah takdirnya.
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...