
...ENJOY...
.......
.......
.......
Sesuai dengan rencana Yang telah di jadwalkan, Ken harus terus melanjutkan perjalanan bisnis nya ke Jepang.
Meskipun ingin, tapi Ken tidak bisa mengirim orang lain sebagai pengganti diri nya. Ini adalah perjalanan Yang penting bagi perusahaan, terutama, sangat penting juga bagi karier Ken, karena itulah, setelah pembicaraan yang berakhir manis dan menggoda malam itu, Lova harus membiarkan Ken pergi.
Dengan kepergian Ken, Lova hanya bisa berfokus pada pekerjaan nya untuk mempersiapkan acara pembukaan toko nya nanti.
Lova harus menanti dengan sabar hingga nanti Ken kembali seperti apa yang telah di janjikan nya kepada Lova. Lagi pula ini bukan pertama kali nya mereka berjauhan, dan kali ini juga tidak akan selama sebelumnya, hanya beberapa hari, tapi entah kenapa bagi Lova terasa berbeda.
Mungkin kah karena sekarang hubungan mereka sudah bukan lagi sebatas hubungan 'pacar'- sehingga membuat Lova semakin enggan membiarkan Ken pergi jauh dari dirinya.
Ataukah karena..
Entahlah! Yang perlu Lova lakukan hanyalah fokus dan fokus. "Ayolah L, ini hanya beberapa hari. Toh, Ken juga pasti kembali." gumam nya menyemangati diri sendiri.
Semakin Lama Lova berdekatan dengan Ken, hubungan mereka seperti terikat sangat erat. Lova tak masalah jika Ken sibuk, asalkan setelah nya ia bisa melihat wajah Ken walau hanya untuk beberapa jam, sebelum mereka kembali disibukan dengan pekerjaan masing-masing.
Tapi untuk beberapa hari yang akan datang, Lova benar-benar akan sendiri di Villa. Sungguh menyedihkan.
Baru saja mereka berpisah, tapi Lova sudah ingin melihat Ken, di tambah ia juga ingin memeluk kekasihnya itu lagi. Apakah sekarang Lova sudah terlalu candu dengan keberadaan Ken?
Sungguh sulit di jelaskan. Kenyataan bahwa Ken tidak bersama nya hari ini dan beberapa hari yang akan datang, membuat ruang di hati nya tiba-tiba menjadi kosong dan juga perasaan hampa yang menyelimuti nya dengan begitu erat.
"Huh! Ken aku merindukan mu!" Lova tau bahwa saat ini otak nya sedang tidak beres. Ia harus mencari tahu bagaimana cara nya untuk mengisi kekosongan yang ia rasakan saat ini.
Lova merogoh saku nya saat ponselnya tiba-tiba saja berdering, mengembalikan kesadaran nya sejenak. Syukurlah.
"Ya hallo Sea?" sahut Lova, saat melihat nama yang tertera di ponsel nya, Shreya lah yang sedang menelpon nya. Dengan nada yang sama antusias nya, terdengar sahutan juga dari seberang sana, "Hai L, bagaimana kabar mu? aku sudah menerima undangan mu, selamat untuk mu L, aku turut senang." ucap sahabatnya itu.
Lova bisa membayangkan bagaimana ekspresi sahabatnya saat ini, Ia memang sengaja mengirimkan undangan kepada Shreya dan juga Leon, ia ingin kedua sahabatnya hadir di hari penting nya.
Jika Shreya memutuskan untuk datang, setidaknya sahabatnya itu bisa mempertimbangkan rencana awalnya yang ingin melihat sang ayah. Lova harap demikian.
"Kabarku baik Sea, bagaimana dengan mu? Apa kau akan datang, aku mengirimkan undangan juga kepada Leon." Lova benar-benar berharap Shreya bisa datang ke Indonesia.
"Ya L. Le sudah mengatakan nya pada ku, dan kami akan datang." jawab Shreya tanpa ragu. Tentu saja hal itu membuat Lova merasa sangat senang. "Benarkah? terima kasih Sea, aku sungguh mengharapkan kedatangan mu dan juga Le." ini sungguh kabar yang Lova harapkan.
"Baiklah L, sampai bertemu di Indonesia." Lova masih menyimpan senyum di wajahnya, "Baiklah Sea, sampai bertemu." tutup Lova, seraya mematikan ponselnya.
Setelah bicara sebentar dengan Sea, membuat semangat Lova sedikit bertambah. Setidaknya ada hal-hal lain yang bisa memotivasi dirinya selain eksistensi seorang Ken.
Setiba nya di toko, Lova melihat perkembangan dari dekorasi nya, hari ini adalah hari finishing bagi tim dekorasi untuk menyelesaikan design mereka, dan Lova sungguh menyukai konsep yang di pilihnya. Semua nya terlihat jelas menginterpretasi kan diri Lova yang sebenarnya, dan ia suka itu.
"Bagaimana perkembangan nya, apakah hari ini benar-benar bisa selesai? karena besok semua barang akan di kirimkan." Lova sedang bersama dengan ketua tim dekorasi yang menangani toko nya.
"Kami pastikan hari ini selesai dengan sempurna Miss, dan juga semua persiapan yang nona minta untuk lantai dua juga sudah selesai." jelasnya lagi, membuat Lova ingin segera melihatnya.
"Baiklah. Terima kasih untuk kerja keras kalian, kalau begitu akan ku lihat sekarang. Mau menemaniku?" ajak Lova. "Mari.. "
Begitulah waktu Lova di habiskan. Ia benar-benar fokus pada persiapan pembukaan toko nya. Dan untuk peresmian nanti, Lova juga sudah membuat souvernir yang khusus di design nya bagi masing-masing penerima, dan sesuai dengan permintaan nya. Semua souvernir itu akan di kirim lusa. Karena itulah mereka harus bergegas.
Gill yang sejak tadi memperhatikan Lova yang terlalu fokus dengan pekerjaan, merasa tak tahan untuk tidak mengganggu Lova.
Ia berjalan dengan mengendap-endap agar tak menimbulkan suara sedikit pun. dan..
DAR!
Gill mengejutkan Lova, namun usahanya gagal saat tiba-tiba saja Lova melihat ke arah nya.
"Jantung ku tidak akan kaget semudah itu nona." tegur Lova, tanpa ekspresi, seraya kembali melanjutkan apa yang ada di dalam pikiran nya.
Gill yang menerima kegagalan nya hanya bisa memberengut, namun kembali berniat menganggu Lova. "Hei L, apa kau sudah menyiapkan gaun untuk pesta nanti?" Gill memainkan alis nya sambil tersenyum penasaran.
"Gaun..? kita harus mengenakan gaun?" Lova mengerutkan kening seraya kembali berpikir. Lova tak menyiapkan seperti Yang Gill katakan.
Menurutnya ia hanya akan mengenakan pakaian kasual Yang menurut nya nyaman saja, lagi pula pembukaan itu bukan lah acara yang besar, hanya acara sederhana saja, tapi jika sudah Gill yang menjadi party planner nya, seperti nya Lova tidak bisa berpikir seperti itu sekarang.
__ADS_1
"Berapa tamu yang kau undang Gill?" tanya Lova serius. Tidak mungkin kan jika Gill membuat pesta pembukaan nya menjadi sebuah pesta yang..
"Tidak banyak L, di luar daftar milik mu hanya sekitar 100 orang saja, itupun di luar para pekerja kita." sahut Gill dengan santai nya.
"Apa..?"
Kini Lova benar-benar tak bisa menganggap acara nya nanti adalah acara yang sederhana. "sebanyak itu Gill? siapa saja yang kau undang? bukan kah sudah ku katakan jika aku ingin pesta nanti hanya seperti private party?"
Gill benar-benar mengubah rencana Lova sepenuhnya, gadis itu sungguh melakukan apa yang dia mau. "Aku hanya mengundang teman-teman palsu ku, dan teman-teman palsu mereka lainnya. Aku ingin mereka melihat jika saat ini aku sudah memiliki teman lain yang jauh lebih baik."
Lagi-lagi Lova menggelengkan kepalanya. Jika sudah menyangkut kehidupan pribadi Gill, maka Lova tak punya pilihan lain selain hanya mengikuti rencana yang telah di buat.
"Jadi..?" Gill menatap Lova dengan wajah yang berbinar. Entah apa lagi yang di inginkan gadis ini dari dirinya. "Apa?" Lova memberikan isyarat dengan mimik wajahnya.
"Gaun mu? Kita pergi sekarang?" ajak Gill lebih antusias. "Apa kita akan pergi jauh? masih ada beberapa pekerjaan yang harus kita selesaikan." elak Lova.
Gill beralih ke sisi Lova lalu menarik tangan nya hingga Lova bangkit dari tempat duduknya, "Itu bisa menunggu bos. Tapi dress cantik? mereka akan direbut orang lain jika kita terlambat."
Lova yang sudah di seret paksa pun mau tak mau harus mengikuti Gill. Lagi pula ada benar nya apa yang di katakan gadis itu, Lova tak punya banyak waktu lagi untuk menyiapkan hal seperti itu setelah ini.
"Pelan-pelan Gill, lagi pula kita tidak berjalan kaki bukan?" protes Lova.
"Ya.. Ya.. kita memang tidak jalan. Tapi dress cantiknya yang mungkin akan berjalan meninggalkan toko jika bertemu dengan pemilik lain lebih dulu. Jadi sekarang diam lah Bos."
...❄️❄️...
Hari ini adalah hari kedua Ken berada di jepang, setelah melihat lokasi proyek yang akan di bangun dan juga menanda tangani kerja sama di antara kedua perusahaan, maka Ken akan segera bergegas pulang ke indonesia. Yang perlu di lakukan nya hanyalah meninjau dan membuat kesepakatan, setelah itu dia akan selesai. Tentang hal lainnya, Ken akan menyerahkan pada Dava.
Ken sudah berjanji pada Lova dan kekasihnya juga pasti menunggu dirinya.
"Pak, kita akan pergi meninjau lahan yang nanti akan di bangun, yang lain sudah menunggu anda." tegur Dava formal, saat ini mereka sudah bersama dengan pihak perusahaan lain yang juga akan menemani dalam peninjauan tersebut.
Ken menganggukkan kepala nya, lalu memimpin di depan. "Apa semua kontrak nya sudah di siapkan?"
"Sudah pak, sesuai dengan permintaan anda."
Sesampai nya di lokasi peninjauan, mereka melihat lokasi nya secara keseluruhan. Setelah mempertimbangkan beberapa aspek, dan juga melihat kestrategisan tempat, kedua pihak pun setuju dengan lokasi yang di tetapkan.
"Tuan Ken, mari kita kembali ke perusahaan untuk menanda tangani kontrak kerja sama kita." ajak Mr. Tamagoya selaku direktur di perusahaan Jepang.
"Kemana kita selanjutnya?" Ken melirik pada Dava dan juga penerjemah bahasa yang bersama-sama juga dengan mereka.
"Seperti nya perjalanan kita kali ini berjalan sangat lancar. Kita akan kembali ke perusahaan." sahut Dava.
Ken turut senang dan juga lega. Tak ada kendala yang terjadi sehingga menghambat perjalanan nya. Dengan begini, Ken bisa menepati janji nya kepada Lova.
"Kau sudah siapkan tiket kepulangan ku Mas?"
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil untuk kembali ke perusahaan.
"Sudah Ken, penerbangan hari ini, pukul sembilan malam. Aku sudah menyiapkan semua yang kau butuhkan di dalam sini. Setelah menanda tangani kontrak, kau bisa kembali sesuai rencana mu." sahut Dava seraya menyerahkan amplop berisikan tiket dan juga pasport milik Ken.
"Terima kasih mas, Setelah ini aku percayakan semua nya pada mu."
...❄️❄️...
Satu hari sebelum pesta pembukaan toko perhiasan dan juga souvernir milik Lova, Semua tamu yang di undang nya secara pribadi sudah tiba di Bali.
Sebenarnya tamu undangan miliknya bisa di hitung dengan jarinya; semua nya adalah keluarga dekat dan juga sahabatnya, seperti;
Megan dan Cassian, serta keponakan manis nya sudah tiba di Bali pagi tadi, Lova sendiri yang menjemput mereka secara pribadi, dan juga mengantarkan mereka ke hotel untuk beristirahat di sana.
Begitu pula dengan Zen dan keluarga kecilnya, ketiga nya juga baru saja tiba di bali. Mereka juga memilih untuk menginap di hotel di bandingkan tinggal di Villa bersama Ken dan Lova.
Sementara Dady Rey, dia akan tiba pada hari berikutnya, karena masih ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.
Sedangkan Leon dan Shreya; mereka akan tiba sebentar lagi. Dan Lova juga datang secara pribadi untuk menjemput kedua sahabatnya itu.
Hmmm. Apakah Ken benar-benar bisa datang tepat waktu? Lova harap begitu, meskipun saat ini ia sedikit ragu.
"Kita menunggu siapa sih?" tanya Gill yang sejak tadi sudah mulai gelisah. Lova tak berniat mengajak Gill untuk ikut bersama nya, hanya saja, gadis inilah yang selalu mengekorinya. "Orang-orang yang berharga dalam hidup ku." sahut Lova sambil menyunggingkan senyum.
Jawaban Lova tak cukup untuk memuaskan rasa penasaran Gill, "Siapa?" ulang nya lagi. "Sahabat ku." Lova tersenyum untuk kesekian kali nya.
__ADS_1
Saat Lova melirik kepada Gill, ia sempat melihat bias raut wajah gadis itu yang berubah seketika, namun dengan cepat di samarkan nya, "Perempuan? kalian sangat dekat? apa dia baik? kau menyukai nya? bagaimana dengan ku?"
Pertanyaan beruntun yang tiba-tiba datang pada Lova, membuat nya hampir tergelak. Apa Gill sedang merasa gelisah..?
Tapi belum lagi Lova sempat menjawab pertanyaan itu, nama nya sudah di panggil dengan Doble Voice.. "L...?" panggil Leon dan Shreya secara bersamaan.
"Le, Sea..!"
Lova memeluk keduanya secara bergantian. "Senang melihat kalian disini." Lova mengeratkan pelukan nya dengan Shreya.
"O, ya kami juga tadi datang bersama-sama dengan,-
Leon mengedarkan pandangan nya, "Ah, di sana!" tunjuk nya mengarah pada seseorang.
"Will, kami disini." seru Leon sambil melambaikan tangan nya. Lova merasa semakin senang saat melihat semua orang yang di harapkan ada bersama nya saat ini.
"Will..?"
"Hallo gadis kecil, long time no see. Bagaimana kabar mu?" William memeluk Lova sejenak.
"Kabar ku baik Will. Terima kasih sudah datang." Lova tak bisa mengartikan senyuman william saat ini, tapi itu tak mengubah kenyataan bahwa ia sungguh bahagia.
"Tidak masalah, aku juga merindukan indonesia. Sudah lama aku tidak datang kesini."
Dan, Waw. Itu sesuatu yang baru bagi Lova. Ia kira Ini adalah pertama kali bagi William, namun ternyata, semua yang pertama disini hanya untuk dirinya. Sungguh tidak adil.
Dari pada mengasihani dirinya, Lova justru di buat meremang karena atmosfir yang tiba-tiba saja berubah di sekitarnya..
Ah. Celaka!
"O, ya, semuanya.. kenalkan." Lova menarik tangan Gill yang sejak tadi sudah memberengut dan bersembunyi di belakang Lova, meskipun Lova tak bisa menjamin jika teman-teman tak menyadari keberadaan Gill sebelumnya.
"Gill, kemarilah, akan ku perkenalkan sahabat ku pada mu." ajak Lova.
"Gill, kenalkan, ini orang-orang yang ku maksudkan tadi. ini Leon, Shreya dan juga William." Lova menunjuk pada mereka masing-masing. "Semua nya adalah sahabat ku di sana." tambah Lova.
Gill tersenyum hambar, sangat kentara jika gadis itu tak menyukai keberadaan ketiga nya. "Nah teman-teman, ini Gill, manager di toko ku dan dia juga sahabat ku." ujar Lova.
Gill mengulurkan tangan nya, sebelum menyadari sesuatu..
"Tunggu, kau bilang apa tadi L?" ulang Gill dengan wajah serius. Apa Lova telah mengatakan hal yang salah? jangan sampai gadis ini kembali mengamuk disini.
"Aku bilang, kau manager dan juga sahabatku." ulang Lova lambat-lambat. Ia kira telah melakukan kesalahan, namun tiba-tiba Gill merekah kan senyuman yang begitu manis, dengan begitu percaya diri.
"Hai.. Aku Gill." Ucap nya mengulurkan tangan.
Sungguh sebuah perubahan yang drastis.
"Ayo, sebaiknya kalian tinggal di Villa saja, karena aku sendirian di sana, malam ini kita harus makan malam bersama. Bagaimana?" ajak Lova.
"Aku akan kembali ke Villa ku saja." Sela William. Membuat kening Lova berkerut, "Kau juga punya Villa disini Will?" tanya Lova bernada ragu.
"Kau pikir tidak?" sahut William arogan. "Kita akan bertemu nanti malam, bye." pamitnya melaju lebih dulu.
"Dasar menyebalkan.- Bagaimana dengan kalian berdua, apa kalian juga punya Villa disini?" Lova menatap menyelidik pada Leon dan Shreya. Namun keduanya kompak menggelengkan kepala.
"Aku.. L.. aku punya." Gill bercicit.
"Diam lah Gill. Kalau kau aku tak perlu bertanya, ayah mu adalah sultan nya." sahut Lova cepat.
"Ayo."
Entah kenapa Lova harus merasa kesal. Apakah ia waras. Sungguh aneh. Kenapa ia harus marah? apakah karena Ken lagi..?
"Apa tadi aku salah bicara?" bisik Gill pada Shreya. "Tidak Gill. Nona muda kita hanya sedang jet leg." sahut Shreya sambil tersenyum.
"Tapi kan..-
"Yah, kami tau, simpan saja apa yang kau pikirkan." sela Leon. ckckck
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...