My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
Konspiration, Decision-Ken


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


Dalam perjalanan untuk menemui rekan-rekan kerja nya yang sebelumnya sudah membuat janji, Ken menyempatkan dirinya untuk menghubungi Leon.


Ken masih merasa resah karena tidak mendapatkan kabar apapun dari Lova, Ken ingin bertanya kepada Leon. Biasanya Leon lebih banyak mengetahui tentang keadaan disana, karena setiap hari pastilah Leon menghubungi Shreya; Ken sangat mengenal Leon.


Ken hanya ingin memastikan; mungkin saja Leon mengetahui sesuatu tentang L yang mulai mengabaikan dirinya;


''Hei, lo sibuk?" Sapa Ken saat panggilan nya terjawab. ''Gak, kenapa? tumben lo nelpon gue. udah gak sibuk lo?" Leon bersuara sarkas dari seberang sana,


Ken tidak menanggapi nada sarkas yang di lontarkan Leon padanya; ia menyadari jika sebelumnya ia memang melakukan kesalahan karena terlalu disibukan oleh pekerjaan.


''Gue mau nanyain L, dia ada hubungin Lo gak akhir-akhir ini? soalnya gue hubungin gak ada jawaban, pesan gue juga gak di balas?" tanya Ken langsung pada intinya.


''Sejak kapan?" tanya Leon memastikan; ''Udah beberapa hari ini L gak chat gue, hari ini gue hubungin juga gak di jawab.'' jelas Ken lagi.


Bukan nya jawaban yang ia dengar dari sahabatnya; Ken malah mendengar suara gelak tawa Leon.


''Kenapa lo?'' tanya Ken heran.


''Nyariin L, lo?- cepat banget karma lo dateng nya!'' ejek Leon, masih terus tertawa.


''Lo tau atau enggak?" tanya Ken lagi, menjadi tak sabaran. Entah kenapa ia merasa kesal saat mendengar tertawaan Leon.


''Lo pikir cuma lo doang yang sibuk? L, juga sibuk.'' sahut Leon.


''Sibuk apa? lo tau sesuatu?"


''Apa gue bilang, punya pacar itu di prioritaskan, capek kan lo dicuekin juga? wkwkwkkw'' balas Leon, seraya kembali memberikan ejekan kepada sahabatnya itu.


''Sial lo!- umpat Ken mendengar candaan Leon. ''Lo free? gue lagi di jalan ke cafe Z, ketemu di sana kalau lo gak sibuk.'' ujar Ken, seraya mengakhiri panggilan nya.


Ken tidak suka bicara terlalu lama melalui telpon,  Ken ingin tau lebih banyak tentang kekasihnya; karena itulah ia meminta Leon untuk datang ke Cafe menemuinya.


Sementara itu;


''Sial, malah di matiin! gak ada akhlak  emang nii bocah!'' Leon balas mengumpat.


Mengingat apa yang Ken katakan, menimbulkan rasa penasaran bagi Leon. Benarkah L melakukan itu pada Ken? tidak biasa nya L tidak mengangkat ponselnya. Setahu Leon, L selalu membawa ponselnya kemana pun ia pergi.


Tak ingin berspekulasi dengan pikiran nya yang tidak menentu; akhirnya Leon menghubungi Shreya, seraya bersiap-siap untuk menemui Ken di cafe.


Pada dering kedua, panggilan Leon langsung di jawab oleh kekasihnya. ''Hai, Sea, selamat malam sayang. Apa aku mengganggu mu?" tanya Leon.


Saat ini Leon sedang menggunakan mode speaker pada ponselnya;


''Selamat malam juga Le; kau tidak menganggu ku.'' jawab Shreya dari benua lainnya.


''Sea, apa kau tau sesuatu tentang L? baru saja Ken menghubungi ku, dia mencari L, sepertinya Ken merasa cemas karena L tidak menjawab ponselnya, kau tau sesuatu sayang- tentang L?" tanya Leon.


''Cepat juga pria itu,- sebelumnya Ken juga mengirimkan text pada ku menanyakan hal yang sama; dan yah, sebenarnya aku tau tentang L, hanya saja aku tidak ingin memberitahunya, biarkan saja! Sesekali Ken harus di berikan pelajaran.'' jawab Shreya dengan suara kesal.


''Waw, apa ini pembelaan atas dasar persamaan gender sayang?"


''Aku memang merasa kesal atas perlakuan Ken sebelumnya Le, karena itulah kali ini, biarkan Ken menunggu.'' sahut Shreya.


''Hmmm. kekasihku sangat menggemaskan.- apa ini semacam misi pembalasan?"


''Ya, kurang lebih seperti itu. L baik-baik saja, bahkan tadi kami sempat makan malam bersama, mungkin saat ini L sudah tidur, pesanan gelang buatan nya terlalu banyak akhir-akhir ini, dan kau tau Le, L mengerjakan semuanya sendiri; aku ingin membantunya tapi aku tidak memiliki jiwa seni seperti yang L miliki, jadi aku hanya bisa membantunya mengumpulkan kerang.'' keluh Shreya.


''Itu sudah cukup sayang. Kau hanya perlu menemani L; setidaknya itu yang bisa kau lakukan untuk nya, aku rasa gadis itu bahkan tidak memikirkan untuk memiliki teman karena yang dipikirkan nya hanyalah tentang pekerjaan nya; dan kau Sea, aku rasa L hanya memiliki dirimu saat ini sebagai teman nya..'' hibur Leon.


''Kau benar Le, setiap hari yang L lakukan hanya pergi ke pantai dan membuat gelang, aku tidak pernah melihatnya bersosialisasi dengan anak-anak lain selain para pemilik toko tempatnya menitipkan semua gelang-gelang yang akan dijual nya.'' tambah Shreya.


''Gadis itu memang tidak berubah, kau tau Sea, bahkan di london pun L hanya sibuk bekerja. Apa aku sudah menceritakan padamu bagaimana pertemuan pertama kami dengan L?''

__ADS_1


''Belum Le, kau belum mengatakan nya.''


''Aku merasa kasihan sekaligus kagum pada L, jika mengingat kembali kejadian saat itu. Aku serius sayang, Kau harus menjadi teman nya, L tidak memiliki orang lain di sisinya selain dirimu.'' tambah Leon.


''Aku tau sayang, aku dan L memang sudah berteman dan kami cukup akrab, gadis itu manis sekali, aku seperti memiliki seorang saudari perempuan.'' aku Shreya, yang memang merasa cocok dengan Lova.


''Baiklah, senang mendengar nya sayang. Ku rasa aku karus mengakhiri panggilan ini, kita akan bicara lagi besok, aku sedang bersiap-siap ingin menemui Ken di cafe, sampai besok Sea, mimpi indah,  aku selalu  merindukan mu.'' tutup Leon.


''Aku juga merindukan mu Le, sampai besok.''


Setelah menutup telpon nya, Leon langsung mengambil kunci mobil. Ia mengendarai mobil pribadi nya untuk pergi menemui Ken yang mungkin saat ini sudah menunggu dirinya sambil memikirkan Lova.


Untung saja rumah Leon tidak terlalu jauh dari Cafe yang Ken sebutkan; jadi, dalam waktu kurang dari tiga puluh menit , Leon sudah tiba di sana; dan benar saja, Ken sudah menunggu nya di dalam.


Leon melihat lambaian tangan Ken saat memasuki dalam cafe; sahabatnya itu terlihat sangat tampan saat mengenakan pakaian formal seperti saat ini;


''Sudah lama?" tanya Leon, yang kemudian menduduki salah satu sofa.


''Gak kok, gue juga baru nyampe. Gue juga lagi nunggu mas Dava sama mbak Dinda, mereka mau gabung katanya, Lo gak masalahkan?'' tanya Ken.


''Hmm. Oke, gak masalah kok.- Lo udah pesan? gue laper mau ngemil, lo mau apa?'' ujar Leon seraya memanggil pelayan cafe.


''Gue udah, pesen aja yang lo mau.'' sahut Ken.


Selagi Leon memesan makanan nya, lagi-lagi yang Ken lakukan adalah kembali memeriksa ponselnya. Mungkin saja L sudah membalas pesan nya; tapi ternyata itu hanya keinginan nya belaka. Ponselnya tidak mendapatkan notifikasi apapun.


Menyadari apa yang di lakukan sahabatnya; Leon kembali berniat ingin menggoda Ken;


''Tadi gue nelpon Sea, kata nya L lagi keluar kota gitu.'' kata Leon tiba-tiba.


Ken langsung menghentikan kegiatan mengscroll layar ponselnya; ia melihat pada Leon dengan tatapan menyelidik; inilah reaksi yang Leon harapkan;


''Keluar kota? kemana? sama siapa?" tanya Ken sekaligus.


''Bareng temen nya, katanya sih sekitar seminggu di sana. Sea sempet bicara sama Cassian.'' sahut Leon.


'Teman? siapa, apa Cassian bilang yang lainnya?'' Ken mulai serius dengan menanggapi perkataan Leon, dan memang inilah yang Leon inginkan.


Leon menyilangkan tangan di depan dada, menyenderkan tubuhnya ke sandaran sofa dengan raut wajah serius. ''Jeremi.'' ujarnya singkat.


''I don't have idea, begitu juga dengan Sea. Mungkin teman nya; buktinya Cassian tidak khawatir saat L pergi berdua untuk waktu yang lama.'' jawab Leon bersikap masa bodoh.


''Gila! Cassian serius bilang gitu?''


''Ya, mana gue tau, (gue kan kentang! uppss gak deng! wkwkwkkw) gue juga denger dari Sea.'' sahut Leon lagi.


Tidak merasa puas dengan jawaban Leon, Ken kembali mengambil ponsel yang tadi sudah ia letakan. Ken akan menghubungi Lova sampai gadis itu mengangkat  panggilan dari nya.


Ken harus tau, kemana dan bersama siapa Lova pergi. Gadis itu bahkan tidak memberitahunya; bahkan mengabaikan pesan nya;


Melihat wajah muram Ken, Leon hampir saja tertawa; ia merasa sedikit puas setelah menggoda sahabatnya itu; kapan lagi Leon bisa melakukan hal seperti ini, tapi sebaiknya Leon harus segera mengakhiri candaan nya; atau Ken akan terlanjur memikirkan hal lainnya.


''Lo ngapain?" tanya Leon, masih berpura-pura penasaran. ''Mau nanya L, Jeremi siapa!'' sahut Ken ketus.


Tak lama setelah nya; Ken kembali tercengang dengan tawa Leon yang pecah, setelah beberapa saat, barulah Ken menyadari sesuatu; ia di permainkan. Sial!


Bruk!


Ken melemparkan ponselnya begitu saja ke atas meja, kemudian kembali memasang wajah kesal pada Leon;


''Lo lucu banget! Haha-haha, seharusnya gue videoin tadi.'' ucap Leon, masih terpingkal-pingkal.


''Gak ada akhlak lo jadi temen!'' kesal Ken. ''Nah, Lo jadi pacar juga gak ada akhlak, sama dong kita?'' sahut Leon. Ha-Ha


Setelah merasa puas mentertawakan Ken, Leon mengusap pelan wajahnya yang terasa lelah karena terus tertawa;


''Lo tenang aja. di sana L baik-baik aja kok.-


Cuma akhir-akhir ini, L lagi sibuk bikin gelang. Lo kan tau gimana cwe lo?" ujar Leon lagi.


"Sea cerita ke gue, selama beberapa hari  ini Sea yang selalu nemenin L ke pantai, jadi gak usah pasang muka kaku gitu!'' Leon melemparkan tisu yang sudah dibulat-bulatkan nya ke arah Ken.

__ADS_1


''Rese Lo!'' kesal Ken.


"O, ya. Gue bakal pergi ke stockholm minggu depan sebelum balik ke London, gue mau nemuin Sea, kangen pacar. Kalau Lo gimana?" tanya Leon.


Ken kembali berwajah serius; ini adalah hal yang harus segera ia putuskan dalam waktu dekat.


''Gue masih belum tau. Gue masih sibuk disini, rencana nya gue mau stay dulu, tapi Dad masih nyuruh gue mikir lagi.'' jelas Ken.


''Stay. maksud lo?" ulang Leon.


''Gue mau terjun ke perusahaan lebih awal, gue mau bantu Dad.- Setidaknya kalau gue kerja di perusahaan, gue bisa nemenin Dad disini.- Kasian Dad sendiri, sedang Zozo sama kak Zen gak tau balik kapan,-


''Trus kuliah lo gimana?"


''Gue bisa kuliah online, sambil kerja.''


''Lo udah ngomongin ini sama L?"


''Belum. Gue masih mikir dulu,-


Leon diam sejenak, ia tidak ingin langsung berkomentar. Bagaimana pun ini adalah kehidupan Ken, sedang Leon pun tau apa yang sudah menimpa keluarga sahabatnya itu; jika itu adalah Leon, mungkin ia pun akan memikirkan hal yang sama.


''Uncle bener Ken, Lo harus pikirin dulu, apapun keputusan Lo nanti, gue tetap dukung Lo,- Tapi ingat, Lo juga harus bicarain ini sama L, gue gak setuju kalau lo gak bicarain ini sama L, meskipun hubungan kalian masih pacaran, setidaknya Lo hargain kebersamaan kalian selama ini.'' ujar Leon menasehati sahabatnya.


Leon hanya tidak ingin Ken mengabaikan L seperti sebelumnya; di abaikan bukanlah hal yang baik, dan tidak ada yang menyukai perlakuan semacam itu.


L adalah gadis yang baik menurut Leon, jika memang Ken ingin tetap stay di Indonesia, setidaknya L mengetahui semua rencana Ken, seperti itulah yang Leon pikirkan.


''Hmm. Gue pasti ngomong kok sama L kalau gue udah nentuin keputusan gue, ada banyak pertimbangan Yang Dad suruh gue pikirin, makanya gue gak bisa buru-buru.-


"Tapi kalau nanti keputusan gue sudah 100%, gue pasti bilang ke Lo, dan juga L." tambah Ken.


Leon tidak berkomentar lagi, keduanya pun harus menghentikan sejenak pembicaraan mereka saat pelayan mengantarkan pesanan ke atas meja.


''Silahkan di nikmati.'' ujar pelayan itu kepada keduanya. Tak lama setelah itu, Dava dan Dinda pun turut bergabung dengan keduanya;


''Mas, mbak. disini..!'' Ken kembali melambaikan tangan nya.


Hari itu Ken menghabiskan waktunya bersama dengan teman-teman yang ia miliki. Ken pun menjadi lebih tenang saat mengetahui bahwa kekasihnya baik-baik saja.


Dan tugas Ken setelah ini adalah memikirkan dengan baik rencana nya mendatang; jika sudah yakin, maka ia akan segera membicarakan nya dengan semua orang yang di sayangin nya.


Terutama L, Ken sangat menyayangi Lova. Jika saja gadis nya itu mau, mungkin Ken akan mengajak Lova untuk melanjutkan pendidikan di indonesia bersama dirinya;


Meskipun ia akan sibuk bekerja; setidaknya Ken masih bisa bertemu L setelah jam kerja nya berakhir, jika saja mereka berada di tempat yang sama;


Ken memikirkan hal seperti itu; tapi ia hanya memikirkan nya, Ken yakin bahwa L akan menolak permintaan nya; kekasihnya itu terlalu mandiri untuk menjadi seorang wanita; Bahkan terkadang membuat Ken merasa tidak berdaya menjadi kekasihnya.


"Sob, gue balik duluan ya, ada yang harus gue lakuin lagi.- pamit Leon setelah merasa cukup lama bergabung bersama ketiganya.


"Hmm. Take care!"


"Mas Dava, mbak Dinda, gue duluan ya." pamit Leon juga pada keduanya. "Oke sip, hati-hati Lo!" sahut Dava.


Setelah meninggalkan Cafe, Leon mengendarai mobilnya menuju toko bunga.


"Permisi, saya mau ambil pesanan saya, sebelumnya sudah di konfirmasi kalau bunga nya sudah jadi, atas nama Leon." ujarnya pada pemilik toko.


"Sudah, sebentar saya ambilkan." sahut pemilik toko.


Tak Lama kemudian, buket bunga Lili putih di berikan kepada Leon.


"Ini pesanan anda."


"Terima kasih."


Selain mendatangi Ken, Leon juga ingin mengunjungi Bunda, sudah satu minggu Leon tidak mengunjungi Bunda kesayangan nya; Ya, Leon akan berziarah ke makam Julie.


"Bunga nya cantik, secantik bunda. Leon harap bunda suka." gumam Leon sebelum kembali mengendarai mobil sport merah miliknya.


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2