My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
KECEMBURUAN YANG MENYENANGKAN


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


"Hallo sayang.. Haii,, aku merindukanmu.''


"Aku juga merindukanmu.''


Zen dan Zoya masing-masing sedang berbaring di atas ranjang mereka. Saat ini keduanya sedang melakukan video call.


"Bagaimana pekerjaan mu hari ini sayang?"


"Semuanya baik-baik saja. Aku bertemu banyak orang, melakukan banyak hal, dan yah.. sejauh ini semuanya baik-baik saja dan cukup menyenangkan disini." jelas Zoya.


"Apa kau segembira itu?" balas Zen.


"Tentu saja aku senang, karena pekerjaan ku semuanya lancar. Kalau kakak bagaimana, apa saja yang kakak kerjakan hari ini. Kelihatannya kakak begitu sibuk." balas Zoya.


"Tentu saja aku sibuk, aku adalah bos yang bertanggung jawab, dan bos yang baik haruslah sibuk seperti anak buahnya." Jelas Zen. "Hari ini aku bertemu maria, kami makan siang bersama". tambah Zen.


''Hmm. Sepertinya wanita itu memang selalu suka di dekatmu kak.'' sela Zoya. "Yah.. sepertinya begitu.'' jawabnya Zen dengan santainya.


''Heii..!"


"Apa sayang.. kau cemburu?''


"Tentu saja aku cemburu. 😒 Memangnya tidak boleh, Jangan terlalu baik pada wanita itu, jangan membuatnya patah hati dua kali!" Nasehat Zoya.


"Siap nyonya muda. Aku akan melakukan itu.'' jawab Zen dengan cengiran lebar di wajahnya. ''Apa kau sudah makan malam sayang?''


"Belum. Bagaimana dengan mu kak?''


''Aku juga belum. Setelah ini sepertinya aku akan kerumah Dady dan Mollie. Terlalu membosankan ditempat ini tanpa dirimu.'' kata Zen, yang langsung membuat Zoya tersipu malu.


''Hmm. Tapi entah kenapa, disini baik-baik saja tanpa dirimu kak.'' balas Zoya.


''Heii, apa-apaan itu. Apakah sudah ada yang menggantikan diriku'' tanya Zen mulai menunjukan kecemburuannya.


"Apakah semudah itu menggantikan posisi seseorang? jangan bercanda. Aku juga sangat berharap kakak ada disini.'' tambah Zoya lagi.


''Benarkah, bagaimana dengan bocah itu, apa kalian tinggal bersama?'' tanya Zen mengacu pada William.


''Jangan pura-pura bertanya kalau kakak sudah tau.'' jawab Zoya. Gadis itu terlalu pintar untuk menyadari penempatan Fredy sebagai pengawalnya, apalagi jika Dady yang memerintahkannya.


''Aku hanya ingin tau darimu sayang.'' jawab Zen. Yang memang sebenarnya ia sudah mendapatkan laporan detailnya dari Fredy. Tentang apa saja yang Zoya lakukan dan bersama siapa saja. Sebenarnya Zen sudah bisa menebak tentang keberadaan William, karena itulah ia dan Dady Rehan menempatkan Fredy sebagai pengawal Zoya. Selain itu, Fredy juga berguna sebagi informan bagi mereka.


"Yah seperti yang kakak tau, Villa kami bersebelahan. Secara tidak langsung kami tinggal bersama sebagai tetangga. Kami makan bersama, dan pergi bekerja bersama. Lebih tepatnya William mengajakku pergi bersama, Oh tentunya.. pengawal yang kakak tempatkan di sisiku juga selalu mengikuti kami, jadi kakak tenang saja, aku tidak akan melakukan hal yang tidak pernah aku perhitungkan, kecuali menaiki sekuter itu.'' jelas Zoya. "Tapi itu pengalaman yang menyenangkan." tambahnya.


''Apa bocah itu tau kalau kau sudah punya seorang tunangan yang tampan sepertiku?" tanya Zen lagi,


Ha-Ha-Ha

__ADS_1


''Lebih dari tau sayang.'' kata Zoya sambil tergelak. ''Aku menceritakan semuanya pada William, bahwa dalam waktu dekat kita akan menikah, dan aku akan menjadi istrimu.'' tambah Zoya. Kali ini Zen lah yang merasa bahagia mendengar kata-kata Zoya.


''Benarkah, kau mengatakan nya sayang?''


''Tentu saja. Apa kau berharap aku merahasiakannya, sebagai seorang yang sudah bertunangan?"


''Tentu saja tidak. Aku sangat senang karena kau mau mengakui hubungan kita. Aku mencintaimu.''


''Aku juga mencintaimu kak, sangat mencintaimu. Hahh.. aku ingin memelukmu sekarang.'' Zoya menghembuskan nafasnya lelah.


''Kau ingin aku kesana sekarang, kalau ya aku akan pergi saat ini juga.'' kata Zen yang langsung bangun dari posisi sebelumnya.


''Benarkah, kau bisa? Kalau begitu datanglah.'' kata Zoya. Zen memang satu-satunya yang dapat membuat Zoya merasa lebih baik meskipun ia sangat lelah. Seperti saat ini.


''Baiklah aku akan pergi sekarang.'' kata Zen lagi.


''Heiii,, aku bercanda kak.. '' Zoya tersenyum melihat wajah serius Zen. Kalau ia gadis biasa, mungkin saat ini ia akan sangat berbunga-bunga dan melompat kegirangan mendengar perkataan Zen barusan.


''Ya, aku juga bercanda.'' tambah Zen, sambil tersenyum.


Sementara Zoya dan Zen masih berbincang, terdengar suara ketukan di pintu kamar Zoya.


''Sebentar kak, sepertinya bi Retno.'' kata Zoya, langsung bangkit dari posisi rebahan nya untuk membuka pintu. Zoya melepaskan earphone nya,..


"Ya..?"


Ternyata Fredy lah yang saat ini berdiri di depan pintu kamar Zoya.


"Nona, makan malam sudah siap. Yang lain sudah menunggu nona.'' kata Fredy sambil menundukkan kepala.


''Kami akan menunggu nona. Permisi.'' kata Fredy lagi.


''Kak, kau masih disana..?'' tanya Zoya melihat Zen menghilang dari depan layarnya.


''Ya.. aku masih disini, hanya sedang berganti pakaian.'' Zen mengeraskan suaranya.


''Kak, sepertinya aku harus menutup panggilan, mereka sedang menungguku untuk makan malam.'' kata Zoya.


''Benarkah, tunggu sebentar...''


Zoya melihat pada layarnya, menunggu Zen yang katanya sedang mengganti pakaian, yang kemudian tiba-tiba muncul di depan layar dengan pakaian yang berbeda.


''Sayang, aku juga harus menutup panggilan ini sekarang, sepertinya ada yang datang.'' jelas Zen yang mendengar bel nya berbunyi.


"Hmm. aku yakin itu pasti Maria.'' sela Zoya,


''Entahlah, aku belum melihatnya.'' jawab Zen dengan sebenarnya. ''Aku mencintaimu sayang.''


''Hmm. Aku juga mencintaimu kak.''


Setelah menutup panggilan dari Zen, Zoya segera mengambil sweater dan mengenakannya kemudian turun untuk makan malam bersama yang lain.


Zen juga mengambil jaket dan tasnya, lalu pergi untuk melihat siapa yang bertamu pada jam seperti ini.


''Hai Zen..'' sapa maria.

__ADS_1


Ternyata tebakan tunangannya benar. Wanita inilah yang sejak tadi menekan bel nya.


''Kau ingin pergi'' tanya maria lagi.


''Oh..Haii.. Ya, aku ingin pergi. Ada apa?'' tanya Zen sambil keluar dari kondominiumnya lalu menutup pintu.


''Tidak ada, hanya ingin mengajakmu makan malam bersama, tadinya..'' kata maria pelan.


''Maafkan aku, sepertinya tidak bisa.'' Zen menunjukan wajah menyesalnya, agar wanita itu merasa lebih baik.


''Mau kemana..?'' cegah maria lagi.


''Aku ada urusan sebentar, aku pergi.'' kata Zen yang langsung meninggalkan maria yang masih mematung di depan pintunya.


''Hati-hati..'' tambah Maria dengan suara pelan, yang hanya dapat ia dengar sendiri.


''Padahal aku ingin mengatakan sesuatu padamu.''


...❄️❄️...


''Kenapa, apa kau lelah'' tanya William pada Zoya yang terlihat tak bersemangat seperti sebelumnya. Gadis itu lebih banyak diam saat makan malam.


''Tidak apa apa, hanya sedikit lelah.'' kata Zoya lagi.


Sebenarnya saat ini Zoya sedang memikirkan Zen. Zoya tau yang berkunjung ketempat Zen pastilah wanita itu, dan itu sangat menggangu pikiran Zoya.


Zoya mengambil ponselnya, lalu mengirimkan pesan pada Zen.


...TO: Z ❤...


..."Aku sedang makan malam dengan william. Hanya ingin kau tau.''...


...send....


Huh.


Sebenarnya apa yang Zoya harapkan dari pesan tersebut, pastilah ia terlihat konyol dan kekanak-kanakan saat ini.


"Apa kau sedang memikirkan tunangan mu?" tanya William lagi. Sementara yang lain makan yang tenang dan hanya diam mendengarkan percakapan Zoya dan William.


''Tidak. Makanlah.'' balas Zoya malas.


''Ingin melakukan hal yang menyenangkan?'' ajak William.


''Apa....?'' Zoya menatap William sedikit penasaran.


''Ikutlah bersama ku setelah ini.'' kata William bersikap misterius.


''Hmm.''


Zen semakin melajukan mobilnya setelah membaca pesan dari Zoya. Ia mengendarai mobilnya sambil tersenyum lebar. Zo'e nya sedang cemburu saat ini, dan itu adalah hal yang membahagiakan bagi Zen.


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2