
...Enjoy...
.......
.......
.......
Sepekan sudah berlalu. Ken sudah menyelesaikan permasalahan nya dengan Lova, dan hubungan mereka sudah semakin baik dari sebelumnya.
Bahkan saat ini, Ken sudah melamar Lova untuk menjadi satu-satu nya wanita dalam hidup Ken. Satu-satu nya wanita Yang akan ia cintai melebihi hidupnya sendiri.
Dan berita baiknya, Lova bersedia. Kekasihnya mengatakan -Ya- atas proposal nya. Ken juga sudah menemani Lova untuk melewati salah satu hari penting dalam hidup kekasihnya itu.
Maka kini, sesuai dengan janji nya, Ken harus segera kembali ke Indonesia. Ken harus kembali kepada tanggung jawab nya Yang lain, sementara ia juga menunggu untuk kekasihnya itu menyelesaikan pekerjaan nya di London.
"Kau sudah siap Ken? barang-barang mu, semua nya sudah siap?" Lova berdiri di depan kamar Ken. Ia sudah siap untuk mengantarkan kekasihnya itu pergi ke Airport.
"Sudah sayang. Kemarilah." Ken melambaikan tangan nya meminta Lova untuk semakin dekat pada nya.
Lova pun melakukan seperti yang Ken minta. Lova berdiri tepat di hadapan kekasihnya itu, sementara Ken masih duduk di atas ranjang. Ia mendongak menatap pada wajah Lova, kemudian memeluk pinggang Lova dan menyenderkan kepalanya di perut rata milik gadis nya.
"Hmmm." Ken menarik nafas dan menghembuskan nya secara perlahan. "Aku akan merindukan mu L. Jaga dirimu. Aku akan menjemputmu nanti. Jaga kesehatan mu, dan jangan terlalu memporsir dirimu dalam bekerja. Berjanji lah kau juga tidak akan terlalu dekat dengan pria itu, memikirkan kedekatan kalian membuatku merasa tak nyaman." Yang di maksud Ken adalah William. Entah kenapa, ia merasa cemburu kepada pria itu.
"Jika aku tak sempat membalas telpon atau pesan mu, kirimkan aku email, mengerti? Aku akan membalasnya di sana. Jangan berpikir bahwa aku melupakan atau meninggalkan mu. Tidak sama sekali. Kau mengerti?" ulang Ken mendongakkan kepalanya melihat tepat ke mata Lova.
Sementara kekasihnya itu hanya diam saja sambil memalingkan wajahnya. "L..? Kau dengar aku kan?" Ken mendesak Lova, hingga menyadari bahwa kekasihnya itu sedang menangis dalam diam.
Melihat itu, Ken langsung berdiri menjulang di depan Lova, "Hei, jangan menangis sayang. Hem.. Jangan menangis." Ken menenangkan Lova dengan memeluk kekasihnya itu dengan erat.
"Bagaimana aku akan pergi dengan tenang jika kau menangis seperti ini? Jangan menangis." Kata Ken lagi lebih lembut, membuat Lova semakin terisak.
Cukup Lama keduanya saling berpelukan sampai Lova menjadi lebih tenang. "Berhati-hatilah saat kembali. Berjanjilah kau tidak akan menghilang lagi. Meskipun tidak bisa mengabari ku setiap saat, setidaknya kau tidak mengabaikan ku sama sekali."
"Jika kau menjadi seperti hantu lagi, maka percayalah, kau tidak akan pernah melihat ku lagi." Lova mengatakan isi hati nya dengan terbata-bata, namun kalimatnya terselesaikan.
"Aku berjanji pada mu sayang, dan akan ku buktikan itu, karena aku sangat mencintaimu dan aku tidak ingin kehilangan mu. Kau tau itu, aku tidak bisa mencintai wanita lain selain dirimu." Ken semakin mengeratkan pelukan tangan nya.
Perpisahan seperti ini memang tak pernah mereka ingin kan. Tapi harus bagaimana lagi, baik Ken mau pun Lova, semuanya memiliki tanggung jawab masing-masing. Sebelum mereka menyelesaikan semua itu, mereka memang harus menjalani hubungan seperti ini.
Ken membelai lembut wajah Lova dengan kedua tangan nya, untuk menghapuskan jejak air mata Yang mengalir di wajah kekasihnya itu.
"Percayalah pada ku L, kali ini aku tidak akan mengecewakan mu." Ken mendekatkan wajah mereka dan menempelkan bibirnya, sementara Lova masih sesekali sesenggukan namun tetap membalas ciuman Ken.
"Kita harus pergi sekarang L, atau aku akan ketinggalan pesawat." Ken tersenyum sambil menghapus bersih air mata Lova.
Huh! Melihat kekasihnya menangis, membuat Ken tidak ingin pergi meninggalkan Lova. Tapi harus bagaimana lagi. Keduanya harus kembali berpisah sampai Lova menyelesaikan kontrak kerja nya bersama William.
Sampai hari itu tiba, mereka harus saling menahan rindu sekali lagi. Seolah takdir sedang mempermainkan keduanya.
Setelah memasukan kopernya ke dalam bagasi, Ken membuka pintu mobil untuk Lova, sebelum ia menyusul ke kursi kemudi setelahnya.
Kali ini Ken yang membawa mobil Lova, dan mereka juga harus menjemput Leon, karena Ken masih belum mengijinkan Lova membawa mobilnya sendiri saat kembali nanti.
Kurang dari sepuluh menit, mobil sudah terparkir di bawah apartment milik Ken, mereka sedang menunggu Leon.
Tok.. Tok..
Leon mengetuk kaca mobil, meminta untuk di bukakan pintu; "Maafkan aku, tadi aku bicara dengan Sea, jadi sedikit terlambat." Leon meringis, tak Lama setelahnya mobil kembali dilajukan menuju airport.
"Bagaimana kabar Sea, Le? beberapa hari ini aku belum bicara padanya." Lova melirik sekilas ke bagian kursi penumpang.
"Sea baik-baik saja L. Dan tadi juga ada Cassian di sana, kami bicara sebentar, katanya keponakan mu akan masuk sekolah minggu ini, dan Cassian mengatakan bahwa mereka merindukan mu. Kau tidak menghubungi mereka?" Leon bersuara, sedikit penasaran.
"Benar kah? Cassian mengatakan itu? Ahhkk tanpa terasa, keponakan kecil sudah semakin besar ternyata. Aku memang tidak menghubungi keluarga ku setelah hari kelulusan. Kau tau bagaimana perbedaan waktunya, bukan? Lagi pula aku juga akan kembali dalam waktu dekat." Lova berdeham sebelum menutup rapat mulutnya.
"Hmm. Baiklah."
Saat mobil sudah memasuki parkiran airport, ketiganya pun sama-sama terdiam.
Sepanjang jalan menuju tempat batas pengantaran penumpang, Lova terus memegang erat tangan Ken. Ia sungguh merasa enggan untuk berpisah dengan kekasihnya itu. Lova masih ingin bersama Ken lebih Lama.
"L, aku harus pergi sekarang, kau harus ingat apa Yang ku katakan, hem? Kemarilah." Ken merengkuh Lova dalam pelukan nya. Ia menghirup dalam aroma manis dari gadis nya sebelum pergi, seakan menjadikan itu sebagai kenangan untuknya. "Aku mencintaimu." Sebuah ciuman mendarat di pucuk kepala Lova.
"Aku juga mencintaimu mu, Safe flight Ken. Sampai bertemu lagi." Lova masih memegang erat jaket Ken. "Hmm. Sampai bertemu lagi sayang. Aku mencintaimu." kali ini sebuah ciuman yang cukup Lama.
"Hmmm. Jangan lupa aku bersama kalian." Leon bersuara menginterupsi keduanya. "Kau tidak ingin memberiku pelukan perpisahan juga Bung?" Leon merentangkan tangannya.
Tidak seperti biasanya, Ken membalas pelukan Leon tanpa ragu. Membuat Leon sedikit merasa keheranan.
__ADS_1
"Terima kasih sudah menemani L ku selama ini, kau sungguh sahabat terbaik yang ku miliki." Ken bersuara, sambil tersenyum.
"Akhirnya kau mengakuinya juga, dan waw.. sobat. Butuh waktu 6 tahun hingga aku bisa mendengarnya dari mulut mu sendiri." sahut Leon.
"Maaf jika itu membuat mu tidak nyaman, sobat. Tapi sungguh, aku berterima kasih untuk kehadiran mu selama ini." Lagi-lagi Ken bicara dengan nada yang serius. Sungguh pengakuan yang membuat Leon sedikit terharu.
"Berhati-hatilah sobat. Kami akan menyusul mu dalam waktu dekat." tutup Leon.
"Aku pergi."
"Sayang, jaga dirimu. Dan tetaplah dalam pengawasan Leon." Ken berpesan dengan sungguh-sungguh. "Tenang saja, aku akan jadi baby sitter yang baik, kekasihmu aman dalam pengawasan ku." Sela Leon sambil tersenyum.
"Aku percaya pada mu, terima kasih sekali lagi."
Setelah Ken pergi, Leon dan Lova juga pergi meninggalkan airport.
...❄️❄️...
Pukul 10 pagi, Lova sudah berada di studio photo untuk menyelesaikan shooting nya untuk hari ini.
"Nona Mosley, perkenalkan ini Erick, fotografer mu untuk brand kali ini. ilahkan kalian berbincang untuk konsepnya." Jane meninggalkan keduanya, agar dapat berbincang dengan nyaman.
"Hai nona, aku Erick. Semoga kerja sama kita berjalan baik." Erick mengulur kan tangannya. Namun Lova merasa ada yang aneh dengan fotografer baru nya itu.
"Aku pun berharap yang sama." Lova menjawab ramah, membalas uluran tangan Erick.
Dan benar saja firasatnya. Lova sedikit di buat terkejut saat Erick tiba-tiba mencium dan sedikit menjilati tangan nya. Membuat Lova meremang.
Apa-apaan ini? Bukan kah ini termasuk tindakan pelecehan? Lova tiba-tiba menjadi dongkol.
Melihat keterkejutan Lova, Erick hanya tersenyum sambil mengedipkan matanya. "Hanya sopan santun ku nona, maaf jika membuat mu terkejut, aku tidak akan mengulanginya lagi." jelasnya bertingkah normal.
Lova yang tidak biasa dengan hal itu, hanya bisa meringis, sambil berusaha memperbaiki raut wajahnya.
"Bisa kita bicarakan konsepnya sekarang?" Lagi-lagi Erick mengedipkan matanya.
Huh!
Lova sungguh tak suka seorang fotografer penggoda seperti Erick. Membuat Lova tidak bisa bekerja dengan nyaman.
...Beberapa menit kemudian.....
Thank God! Akhirnya William datang juga.
Sejak tadi, Lova memang selalu merasa risih dengan nada bicara dan pandangan nakal Erick pada dirinya. Lova benar-benar merasa terganggu.
William dapat menangkap binar kelegaan di mata Lova saat ia berdiri di sana.
'Tuan William, apa kabar?" Erick mengulurkan tangan nya. "Senang melihatmu lagi Er, semoga kali ini kau tidak bermain-main dengan gadis ku." Sahut William memperingati Erick dengan sebuah candaan, sesekali melirik kepada Lova.
"Aku?" Erick tertawa canggung. "Hah! tenang saja tuan, kami hanya membahas konsep." sahut Erick cepat.
"Baguslah kalau begitu. Apakah sudah selesai? karena aku harus bicara pada model ku." William kembali bersuara.
"Kami sudah selesai, Will. Aku akan ikut dengan mu." Sela Lova cepat. lalu bangun dari kursinya.
"Bagus, kalau begitu kami permisi." Ujar William, lalu menggandeng tangan Lova agar ikut bersama nya.
Saat keduanya menjauh, William dapat menangkap Lova menghembuskan nafasnya, lega.
"Apa Erick mengganggumu L..?" Pria itu setengah berbisik.
"Aku tidak suka caranya menggoda Will, dan syukurlah kau berada di sana tepat waktu, atau aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mencolok kedua matanya Yang seolah ingin menelanjangi ku." Lova bersuara gemas.
"Aku buru-buru mencarimu saat tau jika fotografer untuk brand ini adalah Erick. Reputasinya memang tak sebaik tampang nya." William berbisik lagi saat keduanya melewati kerumunan.
"Nah, bersiaplah. Aku akan mengawasi mu dan memastikan Erick tak akan berani melakukan apapun." Janji William, membuat Lova merasa lebih baik.
"Hmm. Terima kasih Will. Aku akan bersiap sekarang."
...❄️❄️...
Setelah tiba di Indonesia, Ken bertahan di Jakarta untuk beberapa hari sebelum kembali ke kantor cabang di Bali.
Ken harus bicara empat mata kepada Dady nya. Ia sudah menjanjikan itu beberapa hari sebelumnya.
Sesampainya dirumah, Ken hanya mampir untuk membersihkan dirinya sebentar, lalu bersiap kembali untuk pergi menemui Dadu nya di Zoya's Group.
"Kita kembali ke perusahaan." perintah Ken kepada supirnya. "Baik tuan muda."
__ADS_1
Kurang dari satu jam, Ken pun sudah tiba di perusahaan. Tapi ia tidak bisa langsung bertemu Dady nya, karena Rehan harus menghadiri sebuah meeting.
Cukup Lama Ken menunggu di ruangan Dady nya. Hingga tak lama kemudian, pintu itu terbuka dengan sedikit dramatis. Wajah Rehan terlihat lelah, dan juga..
"Dad..?" Sapa Ken, agar Rehan menyadari keberadaan nya.
"Son..? Kau disini? Kapan kau tiba di Indonesia?" Sungguh luar biasa. Raut wajah Dady nya berubah dengan cepat hanya karena melihat Ken.
"Aku baru tiba beberapa jam yang lalu Dad, dan aku akan tinggal disini hari ini. Dad sibuk?" Ken bertanya karena tidak ingin menganggu Dady nya. Bagaimana pun, Ken sangat tau bagaimana rasanya berada di posisi sang Dady. Ia sudah mengalaminya saat menangani kantor cabang.
"Tidak Son. Dad akan selalu sibuk, kau tidak bisa menunggu waktu luang Dad. Jadi katakan, apa yang ingin kau bicarakan? tentang pekerjaan?" tebak Rehan, namun Ken menggelengkan kepala nya cepat.
"Bukan tentang itu Dad. Ini tentang Aku dan kekasihku, Dad tau kan Lova." Ken mengedikkan bahunya seraya mempertimbangkan apa yang ingin ia sampaikan kepada sang Dady.
"Ya, Dad masih ingat gadis muda itu, Son. Gadis yang baik." sahut Rehan kembali meraba-raba ingatan nya. "Jadi katakan, ada apa dengan kau dan nona muda itu?" Rehan menanggapi pembicaraan putra nya.
Sikap Ken saat ini sangat familiar bagi Rehan. Mengingatkan dirinya saat pertama Ken memutuskan untuk bergabung di dalam perusahaan. Sama persis. Putra nya terlihat begitu serius.
"Dad, kau juga tau bahwa kekasihku itu sudah menamatkan studi nya, dan saat ini ia juga berprofesi sebagai seorang model yang cukup terkenal London. L, seorang gadis yang mandiri dan juga pekerja keras, selain itu.. aku juga mencintainya."
Mendengar apa yang dikatakan putranya, Rehan menangkap bahwa Ken terdengar seperti sedang mempromosikan seorang calon menantu untuk nya.
"Dad, Aku sudah melamar Lova beberapa hari yang lalu." Ken diam sejenak untuk melihat reaksi Dady nya, namun Rehan masih tak memberikan respon apapun.
"Aku ingin Dad, menemaniku melamar L secara resmi kepada keluarganya. Mendengar permintaan putranya, Rehan mengerutkan kening sesaat, lalu menatap curiga kepada Ken..
"Son.. -
"Tidak Dad. Aku tidak melakukan apapun terhadap L jika itu Yang Dad khawatirkan." Ken menangkap maksud Dedy nya dengan cepat. Ia tak ingin Dady nya berpikir negatif tentang hubungan nya dan Lova.
Karena bagaimana pun Ken akan tetap bersikap layaknya seorang pria sejati. "Oh, baiklah. Dad percaya padamu.- Lalu ada apa dengan lamaran ini? bukan kah kalian masih sangat muda, Son? Tidak kah seharusnya kalian menjalani hubungan seperti pasangan muda lainnya? lalu kenapa kau ingin Dad melamar gadis mu itu secepatnya?" Rehan mendesah pelan, seolah tak mengerti dengan jalan pikiran putranya.
"Kami sudah menjalani hubungan seperti pasangan lainnya Dad, dan itu sudah berlangsung selama kurang lebih tiga tahun. Dan sekarang, aku ingin memberikan kepastian kepada kekasihku bahwa aku hanya ingin menjadikan dirinya satu-satunya wanita yang aku cintai."
Penjelasan Ken memang terdengar masuk akal bagi Rehan. Putranya itu mengingatkan nya tentang masa muda nya dulu.
Ken Persis seperti dirinya, namun mungkin tak sebrengsek Rehan saat menaklukan hati seorang wanita. Ken memiliki sisi romantisnya sendiri.
"Baiklah. Kalau memang seperti itu keputusan mu Son. Dad hanya mendoakan yang terbaik untuk mu dan calon menantu Dad. -
"Jadi, kapan kita akan melamar nona muda itu secara resmi?" Rehan tak ingin membuat putranya ragu dengan pilihan nya. Jadi Ia akan mengikuti apa yang di inginkan Ken.
"Aku ingin melamar L tepat setelah ia menyelesaikan kontrak kerja nya di London Dad. Setelah itu, L akan kembali ke Stockholm, menurutku itulah saat yang tepat."
"Baiklah, Son. Lakukan seperti rencana mu. Dad akan mendukung mu. Senang melihat mu telah menjadi seorang pria Son. Jagalah kekasihmu dengan baik." Nasehat Rehan, sambil tersenyum.
Setelah menyelesaikan pembicaraan dengan Dady nya, Ken pun kembali ke rumah. Ia kembali mempersiapkan diri untuk secepatnya kembali ke Bali.
Sesampainya di kamar, Ken merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Ia mengambil ponselnya untuk sesaat, lalu mencari nama kekasihnya;
"Hallo..?" Suara lembut khas milik Lova menyapa pendengaran Ken dengan begitu merdu. Membuat Ken tersenyum sebelum membalas sapaan Lova.
"Selamat pagi untuk mu, tunangan ku. Apa yang kau lakukan saat ini? aku harap kau merindukan ku, karena aku sudah merindukan mu." Lagi-lagi Ken tersenyum menantikan balasan kekasihnya.
"Aku sedang bersiap-siap untuk pergi ke luar kota Ken, ada pemotretan musim panas selama tiga hari. Mungkin aku akan jarang memberi kabar selama di sana, tidak apa-apa kan? Aku hanya ingin Kau tau." Ken menangkap nada kegelisahan dalam suara Lova.
"Tidak apa-apa L. Aku bisa mengerti. Aku juga akan kembali ke Bali besok. Aku juga akan sangat sibuk. Aku harap kau juga bisa mengerti. Walaupun begitu, aku harap kita akan tetap memikirkan satu sama lain, dan saling merindukan."
"Kau akan tetap jadi Yang pertama dalam hati dan pikiran ku, Ken." terdengar suara desisan dari seberang sana.
"Baiklah kalau begitu, lanjutkan pekerjaan mu sayang, berhati-hatilah saat pergi. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu mu Ken. bye."
Setelah menutup panggilan telpon nya, Ken hanya menatap pada langit-langit kamarnya. Ia membayangkan bagaimana kelak jika ia dan Lova sudah menjadi pasangan yang resmi seperti Zozo dan juga Zen, bukan kah akan sangat membahagiakan?
Ia berharap hari itu akan segera datang padanya.
Ia sungguh ingin secepatnya menjadikan lova istrinya. Ken tidak suka saat mereka harus berpisah Lama seperti saat ini.
Membuat nya merasa hampa, dan juga membosankan menjalani hari-hari tanpa melihat senyuman dari orang yang di cintai.
"L, tunggu aku sampai hari itu tiba. Aku benar-benar akan membuatmu menjadi pengantin tercantik dan juga wanita yang berbahagia. Aku sangat tak sabar untuk menanti semua itu terjadi."
"Akan ku buktikan bahwa kau tidak Salah mencintaimu, karena akan ku pastikan, hidupmu akan selalu bahagia. Meskipun kau menangis, aku hanya akan mengijinkan mu menangis karena bahagia."
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...