
...ENJOY...
.......
.......
.......
...Hotel. Pukul 10 Am ...
''Sayang, kau sudah siap?"
Zen mengepak semua barang-barang yang mungkin akan Zoya perlukan selama dirumah sakit. Karena hotel tempat keduanya menginap dengan rumah sakit yang akan mereka tuju tidaklah jauh, jadi Zen hanya membawa beberapa barang, serta beberapa berkas yang sudah ia siapkan sebelumnya.
''Sudah kak. Bagaimana, apa semuanya sudah beres, ada yang perlu ku bantu?" tawar Zoya melihat suaminya yang sejak pagi sudah sibuk mengurus beberapa tas yang akan mereka bawa.
'Tidak perlu sayang, kau tidak boleh lelah,- Zen tersenyum. ''Untuk ini, aku bisa mengurusnya.
Bisa kita pergi sekarang?'' Zen mengulurkan tangannya, dan disambut Zoya dengan senang hati.
Jarak antara hotel tempat mereka menginap ke rumah sakit hanyalah berkisar sekitar 500 meter, karena itu keduanya tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di sana. Jarak yang dekat juga memudahkan Zen untuk mengurus keperluan mereka di hotel jika perlukan.
Sesampainya dirumah sakit, Zen hanya perlu mendaftarkan nama Zoya, setelahnya mereka langsung di antar kan keruang tunggu untuk bertemu dengan dokter Lerix. Dokter spesialis yang akan menangani semua pemeriksaan Zoya.
''Permisi pak, silahkan langsung keruangan dokter Lerix, anda sudah di tunggu di dalam.'' ujar seorang perawat yang menghampiri keduanya.
''Terima kasih sus,-
''Selamat pagi dokter,- Sapa Zen setelah masuk ke dalam ruangan. Dokter Lerix pun menyambut hangat kedatangan kedua nya,- ''Ini nyonya Zoya yang kan melakukan pemeriksaan? mari silahkan duduk.'' ujar laki-laki berusia kurang lebih 50 tahun itu.
Setelah berbincang-bincang, dokter Lerix memerintahkan agar selama pemeriksaan Zoya harus di rawat inap, agar dokter candra dapat memantau kesehatan Zoya secara langsung selama tes berlangsung. ''Saya akan atur ruangan nya, silahkan kalian persiapkan apa yang mungkin akan dibutuhkan. Kita akan mulai tes pertama 1 jam lagi.'' ujar dokter Lerix.
'Terima kasih dok,-
Setelah keluar dari ruangan dokter candra, Zoya diantarkan menuju ke ruang rawat inapnya. Sebuah kamar VVIP yang difasilitasi dengan baik. Zen memilihkan semua yang terbaik baik Zoya, karena ia ingin Zoya merasa nyaman selama menjalani semua pemeriksaannya.
''Kau butuh sesuatu sayang?''
Sementara Zen menyusun semua barang-barang kedalam lemari, Zoya sudah mengganti bajunya dengan baju pasien. ''Aku sungguh merasa seperti seorang yang sedang sekarat kak,- ujar Zoya melihat pantulan gambarnya di cermin.
Berada di dalam rumah sakit, dan tinggal di sana dengan menggunakan pakaian pasien, benar-benar membuat Zoya frustasi. Meskipun begitu, ia sudah berjanji pada suaminya agar menjalani semua pemeriksaan tanpa protes sedikitpun. Dan jujur saja, Zoya sangat takut jika ternyata, hasil pemeriksaan tidak seperti yang mereka harapkan.
__ADS_1
''Kau akan baik-baik saja sayang. Aku akan selalu bersama mu.''
Sementara menunggu jam pemeriksaan pertama, Zen keluar untuk membelikan makan siang untuk istrinya.
...Tok.. Tok.....
Seorang perawat mendatangi Zoya ke dalam kamar, dengan membawa kursi roda.
''Nyonya Zoya, sudah siap? kita akan melakukan tes yang pertama.'' ujarnya, sambil mendorong kursi roda ke dekat ranjang Zoya.
''Sus, tunggu sebentar, suami saya sedang keluar- bisa kita menunggunya?" pinta Zoya.
Perawat itu tersenyum, ia juga memberikan waktu sesuai permintaan Zoya. ''Sementara kita menunggu, saya akan memeriksa anda terlebih dahulu.''
menunggu dengan perasaan itu.Zoya juga mencoba menghubungi Zen, namun tak ada jawaban.Setelah beberapa saat, semua pemeriksaan yang dibutuhkan pun sudah selesai dilakukan; ''Bisa kita berangkat sekarang, saya akan meminta informasi untuk menyampaikan pada suami anda jika ia datang nanti.'' Kata perawat itu lagi.
Zoya hanya menganggukkan kepala sambil menunggu kedatangan Zen dengan perasaan was-was, pasalnya ia tak ingin menjalani semua pemeriksaan seorang diri. Zoya pun tak ingin membuat perawat itu menunggu lagi; meskipun begitu Zoya berharap agar Zen segera datang.
'Bisa kita pergi sekarang? saya akan minta bagian informasi menyampaikan pada suami anda untuk segera menyusul jika sudah datang nanti.''
''Baiklah sus, kita bisa pergi sekarang.'' ujar Zoya dengan wajah tak bersemangat.
''Ayolah Zoya, kau sudah berjanji pada kak Zen, kau pasti bisa, lagi pula ini hanya pemeriksaan biasa.'' batin Zoya.
Sementara itu, Zen yang baru saja masuk keruangan Zoya mendapati kamar tersebut telah kosong. Zen pun segera menuju meja informasi untuk menanyakan dimana istrinya, kemudian segera menyusul setelahnya.
Sesampai nya Zen diruang yang dimaksud, yaitu ruang tempat istrinya melakukan pemeriksaan tahap 1. Zen hanya bisa melihat Zoya dari balik kaca. Istrinya itu tengah di dampingi oleh dokter Lerix dan juga dua orang perawat lainnya yang turut membantu.
Pemeriksaan itu berlangsung kurang lebih selama 1 jam, dan selama itu juga Zen terus memantau dari bali kaca. Setelah selesai, pintu pun di buka, dan para suster bersiap untuk membawa Zoya kembali keruangan. Zen merasa lega saat melihat wajah Zoya tengah duduk di atas kursi roda.
''Sayang..?-
''Kak Zen, kau disini?" Zoya kembali bersemangat saat melihat wajah suaminya.
''Aku menunggu mu disini, karena aku tak ingin mengganggu. Apakah sudah selesai? Kau melakukannya dengan baik sayang.'' Zen membelai wajah Zoya dan mencium kening nya sekilas.
''Biar saya yang dorong sus..'' tawar Zen yang langsung mengambil alih pegangan pada kursi roda Zoya.
'Kau lelah? apa dokter ada mengatakan sesuatu padamu?"
'Tidak ada kak, dokter Lerix hanya minta kita menunggu hasilnya besok pagi. Jika semua hasilnya baik-baik saja, maka aku tidak perlu melakukan pemeriksaan lanjutan.''
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu, semoga semuanya baik-baik saja sayang.''
Setelah sampai di kamarnya, Zoya dan Zen hanya menghabiskan waktu sepanjang hari di sana. Sesekali perawat datang untuk mengecek tekanan darah Zoya, lalu mereka kembali menghabiskan waktu untuk saling bertukar cerita.
Zoya menceritakan semua nya pada Zen. Apa saja yang ia inginkan, dan apa saja yang akan ia lakukan; ini kali pertama nya bagi Zen untuk mendengarkan langsung dari mulut istrinya. Mereka sama-sama jujur akan apa yang mereka harapkan dari hubungan yang mereka jalani.
Dari sini, Zen dapat mengerti semua mimpi-mimpi luar biasa yang istrinya itu miliki. Gadis kecilnya yang yang selama ini ia sayangi, adalah gadis kecil yang sama. Gadi kecil yang mempunyai begitu banyak rencana dalam hidupnya.
...Waktu berjalan tampa disadari, satu hari pun berlalu....
Dan hari yang menegangkan pun datang.
''Selamat pagi nyonya Zoya, saya akan memeriksa anda sebelum kita menemui dokter erix untuk mendengarkan hasil pemeriksaan anda sebelumnya.'' Ujar perawat mengeluarkan peralatan medisnya.
Setelah selesai, keduanya pun diantar keruangan dokter Lerix. Setelah seharian menunggu, dan sekarang mendengarkan langsung hasil pemeriksaan istrinya; Zen dan Zoya sama-sama dapat bernafas lega. Dari hasil pemeriksaan mengatakan bahwa Zoya dalam kondisi yang baik-baik saja, dan tak ada penyakit apapun yang mengkhawatirkan. Dengan kata lain, Zoya juga tidak mengidap sindrom seperti yang di miliki mommy nya.
''Kau senang kak?"
Zen tersenyum puas, ''Tentu saja sayang. Aku sangat senang dengan hasil pemeriksaan mu, setidaknya tidak akan ada masalah tentang kesehatan mu.''
Setelah yakin dengan hasil pemeriksaan istrinya, Zen mempersiapkan semua keperluan Zoya untuk kembali ke Hotel. ''Kau ingin kita jalan-jalan setelah ini? ku dengar di tempat ini banyak sekali tempat-tempat bagus yang bisa di kunjungi.''
'Benarkah? kalau begitu jangan di sia-siakan, setidaknya kita masih memiliki beberapa hari sebelum kembali..''
Setiba nya di hotel, Zen kembali meminta Zoya untuk istirahat, dan wanita itu menurut sepenuhnya.
''Sayang, apa dokter tadi sudah menyinggung tentang kandungan mu? Aku tidak mendengar dia menyebutkan tentang itu.'' tanya Zen, yang merasa jika ada yang ia lewatkan.
"Sepertinya kau hanya fokus dengan syndrom saja kak, sampai-sampai kau melupakan hal lainnya. Dokter bilang, rahim ku baik-baik saja, dan siap untuk hamil kapan saja. Hanya saja, selama ini aku sudah mengkonsumsi pil kontrasepsi, jadi aku masih belum siap hamil.'' jelas Zoya, ingin suaminya mengetahui apa yang sudah ia lakukan.
''Aku tidak keberatan menunggu sampai kau siap sayang, jadi jangan pikirkan hal itu. Kau hanya perlu menjaga dirimu dengan baik. Sekarang istirahat lah. Nanti malam aku ingin membawa mu ke suatu tempat.''
''Kemana?"
"Rahasia,- dan sepertinya kita juga harus pindah dari Hotel ini.'' ujar Zen, kembali bersikap misterius.
'Ya-Ya.. baiklah suami ku. Aku akan percayakan semua perjalanan kali ini kepadamu. Aku akan bahagia melihat mu bahagia.''
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...