
...ENJOY...
.......
.......
.......
Tidak ada satupun kata yang keluar dari bibir mulut keduanya. Hanya saling berpandangan, meneliti jauh ke dalam manik masing-masing.
Apakah Zen sedang menggoda nya..? itulah yang terlintas dalam pikiran Zoya saat mendengar pengakuan Zen.
Ataukah ia hanya ingin pertunangan ini berhasil, sehingga ia berusaha meyakinkan Zoya dengan kata-kata dan kebohongan nya..?
Tapi Tidak.
Mata itu. Zoya mengenali tatapan yang seperti itu.
Mata yang mengatakan kebenaran, mata yang memancarkan ketulusan dan juga,, Tidak ada kebohongan di sana. Hanya saja,.. Apakah Zen memang terlatih melakukan ini..?
"Kak, Jangan lakukan ini. Jangan membohongi-
"Siapa yang membohongi siapa Zo'e..?" Zen menarik tangan gadis itu dan meletakan tangan Zoya tepat di dadanya.
"Tidak kah kau merasakan nya..? Setiap detak, dan debaran Jantung ini..Untuk siapa ini..? Apa kau benar-benar tidak mengetahuinya..?"
"Tapi wanita,-
"Itu kau Zo'e. Itu kau! Haruskah aku mengatakan nya pada semua orang saat ini agar kau percaya..?"
Zoya tidak tau apa yang baru saja ia dengarkan. Pengakuan seperti ini.. Ini pertama kali dalam hidup Zoya.
Bukan karena ia tidak pernah mendapat pengakuan sebelumnya. Hanya saja, pengakuan yang membuat jantung nya ingin melonjak keluar, hanya saat ini.
Karena laki-laki yang duduk di hadapan nya ini.
Bahagia sekaligus terharu. Itulah yang Zoya rasakan sekarang. Tapi bukan kah..?
"Kak,,
"Hem..?
"Bukan kah kau mengatakan sebelumnya, kalau kau mencintai wanita itu." Zoya masih ingat jelas dengan apa yang di katakan Zen sebelumnya.
"Wanita itu kau Zo'e.!"
"Ya, maksudku, kau mengatakan kalau kau sudah mencintaiku sejak lama..?" Zoya menatap menilik dalam manik Zen. "Ya. Itu benar.
"Sejak kapan kakak..?"
"Entahlah.." Zen memotong bicara Zoya. Aku selalu mencintaimu, dan aku tidak tau sejak kapan, karena kita memang selalu bersama sejak kecil. Perasaan itu tumbuh dan hadir begitu saja, dan yang perlu kau tau..-
"Jadi kakak tidak pernah punya kekasih selama ini..? maksud ku seseorang yang kakak sukai mungkin di Universitas..?"
"Tidak."
"Sama sekali..?
"Ya. Tentu."
"Jadi...?"
"Hanya kau satu-satunya yang aku sukai dan cintai sejak dulu, jika itu yang ingin kau ketahui." jawab Zen.
"Benarkah..?" Zoya merona. Merasa bahagia dan bangga sekaligus, itulah yang Zoya rasakan. Ia sudah menjadi satu-satunya bagi laki-laki ini, dan itu sudah berlangsung sejak lama.
__ADS_1
"Tapi kenapa kakak tidak mengatakan nya sejak lama..?" tanya Zoya lagi. "Apa kau sudah mengambil hadiah ulang tahun mu yang ke-19..?" Zen balik bertanya.
Zoya menggelengkan kepalanya.
"Tunggu disini!" Zen bangun dari duduknya menuju ke kamar. Beberapa saat kemudian kembali dengan kotak berpita merah di tangan nya.
"Kau tau Zo'e, Kotak ini berisikan pengakuan cintaku, seandainya kau sudah mengambil dan membuka nya."
Zen membolak-balik kadonya.
"Benarkah..? Berikan padaku..!" pinta Zoya. "Duduklah, aku akan membaca nya langsung untuk mu."
"Tapi kak,.." Zoya berusaha merebut kadonya, namun zen mengangkat tinggi kado itu. "Aku bilang duduk lah..!"
Zoya merasa malu jika harus mendengarkan Zen membaca pengakuan nya secara langsung. Namun mau tak mau ia harus menuruti permintaan laki-laki itu.
Zen membuka kotak kadonya, dan menyerahkan isinya pada Zoya, sementara ia mengambil suratnya, lalu membuka serta..
Ehem.. ehem..
Zen mengubah posisinya sehingga menjadi berlutut di depan Zoya. Mata Zen bertemu langsung dengan mata gadis itu.
Zoya Vidette. Aku mencintaimu..
Mau kah kau menjadi satu-satunya bagian dalam hidupku, dan mengisi satu-satu nya tahta dalam hatiku..?
Zoya tersipu malu mendengarkan bagian pertama dari surat itu.. Ia menantikan apa saja yang ingin Zen sampaikan pada nya.
"Jadi...?"
"Apa..?"
"Jawaban mu..?"
"Apakah isi suratnya sudah habis..? berikan..!"
"Hanya ini pengakuan kakak..?" tanya Zoya lagi sedikit menuntut. "Ya."
"Tidak ada yang ingin kakak katakan lagi..?"
"Apakah ada yang ingin kau dengar lagi..?, kalau Ya, aku bisa mengulang nya. Aku sudah hafal isinya.." kata Zen lagi tanpa ragu. Zoya menggelengkan kepalanya, lalu menghembuskan nafasnya.
Ia sudah terlalu deg-degan tadi ingin mendengarkan lebih banyak apa yang ingin Zen nyatakan, tapi..LOL.
Ya sudahlah. "Apa ada yang salah Zo'e..?"
"Tidak kak, tidak ada." katanya memaksakan senyum.
"Bukan kah aku sudah mengatakan intinya..? itu yang ingin aku katakan padamu selama ini. Atau,, apa kau ingin mendengar aku merayu mu..? disurat ku..?"
Oh.. My Laki-laki ini..!! Setidaknya jika kau tidak peka, maka romantis lah sedikit..
"Tidak usah kak!" Tolak Zoya tegas. "Baik. Kalau begitu apa jawaban mu..?"
"Sekarang...?"
"Tentu saja. Aku sudah menunggu untuk waktu yang lama. Apa kau masih harus memintaku menunggu lagi..?"
Zoya menggigit pelan bibirnya, Jawaban apa yang harus ia berikan. Ia memang menyukai kakaknya itu, dan itu adalah perasaan yang tidak bisa Zoya pungkiri, tapi perasaan cinta..? Zoya tidak yakin dengan itu.
"Zo'e...? Semakin lama kau menjawab, maka semakin lama juga aku menunggu mu seperti ini, dan itu akan membuat kaki ku semakin keram." tutup Zen.
"Apa, kaki..?" Zoya melihat pada Zen. Astaga. Untuk sesaat ia lupa jika laki-laki di depan nya ini tengah berlutut sejak tadi di depan nya.
"Siapa yang meminta kakak melakukan ini..?" Zoya menarik Zen agar kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
"Kenapa kau selalu memanggilku kakak..? Apa kau ingin aku hanya menjadi kakak mu..?"
"Aku sudah terbiasa melakukan itu, dan aku nyaman melakukan nya." Gadis itu lagi-lagi tersenyum begitu manis di hadapan Zen.
"Lakukan saja sesuka mu, tapi berikan jawaban mu sekarang." pinta Zen lagi.
"Aku. Sebenarnya aku masih bingung dengan perasaan ku kak. Aku tidak tau apakah ini cinta, atau.."
"Apakah ragu..? Katakan pada ku, apa kau ingin aku bersama dengan wanita lain..?" Dengan ragu Zoya menggelengkan kepalanya. "Tidak"
"Apa kau ingin bersama ku..?" Gadis itu menganggukkan kepalanya. "Ya.."
"Selamanya..?" pertanyaan lain yang membuat Zoya kembali meragu. Bukan ragu dengan perasaan Zen. Tapi pada dirinya sendiri.
"Entahlah kak.."
"Kau masih ragu..?"
"Kalau begitu dengarkan dan rasakan, apakah jantung mu memiliki detak yang sama seperti yang aku miliki." Zen menyentuh pelan wajah Zoya.
"Caranya kak...?"
Tanpa aba-aba Zen kembali mencium bibir Zoya. Ia melakukan nya dengan sangat lembut dan juga..
Deg..
Deg..
Jantung Zoya kembali berdetak dengan cepat. Ia seperti mendengarkan lonceng berdenting di telinga nya.
Apa ia benar-benar jatuh cinta sekarang...? Apa kah ini perasaan yang sesungguhnya pada Zen. Ia mencintai laki-laki itu..? Haruskah ia.. Zoya membalas ciuman Zen dengan tidak kalah lembut.
"Kau mahir melakukan ini..?" Kata Zen setelah melepas ciuman nya. "Sepertinya aku berbakat." Zoya manepis perasaan malunya saat ini.
Lagi-lagi keduanya kembali berciuman.
Hah..
Hah..
Hah..
"Jadi jawaban mu Zo'e..? Maukah kau menjadi satu-satunya wanita yang mengisi relung hatiku..?"
Gadis itu masih mengatur nafasnya yang sedikit tercekat..
"Apa ini proposal mu kak..?"
"Ya, tentu. Untuk saat ini."
"Lalu..?"
"Aku akan melakukan nya secara resmi, nanti.."
"Sungguh..?"
"Tentu saja. Apa kau ingin aku melakukan nya secara resmi sekarang..? sekali lagi..?" Tanya Zen dengan suara lembutnya. Zoya menggelengkan kepalanya. Ia menghambur kedalam pelukan Zen.
"Yes. Jawaban ku YES." kata Zoya dengan wajah berbinar. "Aku mencintaimu Zo'e.. "
"Aku juga mencintai mu Kak.." Keduanya saling berpelukan. Kapal keduanya kini berlayar dengan tujuan yang sama. Semoga saja, cinta mereka dapat berlabuh di dermaga bahagia.
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...