
...ENJOY...
.......
.......
.......
Matahari pagi sudah memancarkan sinarnya, saat Zen baru membuka mata. Ini pertama kalinya bagi Zen bangun pukul 9 pagi. Biasanya ia tak pernah selambat ini.
Entahlah, semalam Zen terlalu bersemangat untuk menyelesaikan semua pekerjaannya, sampai-sampai ia juga lupa untuk menghubungi kekasihnya.
Zen sempat berpikir untuk menghubungi Zoya saat pekerjaannya sudah selesai, tapi setelah melihat jam yang sudah menunjukan pukul 2 dini hari, Zen mengurungkan niatnya. Ia sempat merutuki dirinya sendiri, yang terlalu fokus pada pekerjaannya, padahal ia sudah berjanji untuk menghubungi Zoya semalam. Semoga saja kekasihnya itu tidak merajuk seperti sebelumnya.
Dengan kepala yang masih terasa berat, Zen mengambil ponselnya dari atas nakas, ia memeriksa ponselnya dan terdapat notifikasi pesan dari Zoya, Zen langsung membuka pesan tersebut dan membaca isinya.
...From: Z ❤...
...*M*orning sayang.. 🤗...
...Kiss and hug for you....
...i love you Zen....
Pesan singkat dari Zoya cukup membuat mata Zen menjadi segar. Ia merasa bahagia sekaligus bersalah karena melupakan janjinya. Karena itulah Zen langsung menekan dial panggil pada ponselnya, ia ingin mendengarkan suara kekasihnya itu pagi ini.
Setelah mencoba beberapa kali, Zen masih belum berhasil mengubungi Zoya. Karena itulah ia langsung menghubungi Fredy, pengawal yang Rehan dan Zen siapkan untuk mengawasi Zoya selama di Bali.
"Hallo tuan Zen..?" suara di seberang sana mengkonfirmasi panggilan Zen.
"Dimana nona mu, aku menghubungi ponselnya tapi tidak di angkat, apa saat ini dia sedang bersamamu?" tanya Zen.
"Benar tuan, nona Zoya sepertinya belum bisa mengangkat telpon tuan, saat ini kami masih dalam perjalanan." jelas Fredy.
Zen mengerutkan keningnya mencermati penjelasan Fredy. ''Kenapa tidak bisa?" tanya Zen penasaran. "Nona Zoya sedang dalam perjalanan menuju lokasi proyek tuan." kata Fredy lagi.
Kenapa tidak bisa mengangkat panggilannya, itulah yang Zen tanyakan. Sedangkan saat ini Zoya masih dalam perjalanan, bukankah tidak ada larangan untuk menerima panggilan saat bepergian menggunakan mobil, toh Zoya juga menggunakan jasa driver, tapi sekarang malah kata pengawalnya Zoya tidak bisa menerima panggilan, apa sebenarnya kekasihnya itu sedang marah padanya? itulah yang saat ini Zen pikirkan. Toh tidak alasan lain yang membuat Zoya tidak bisa mengangkat panggilan di ponselnya.
"Katakan pada nona mu untuk mengangkat ponselnya setelah ini!" perintah Zen lalu menutup panggilannya, lalu beralih kembali pada nomor Zoya. Namun sekali lagi, panggilan Zen tidak mendapatkan respon.
"Apa Zo'e memang sedang marah? kenapa gak di angkat sih..?" gumam Zen pada dirinya sendiri, sekali lagi berusaha menghubungi Zoya, namun hasilnya sama. Zen melempar ponselnya, dan langsung menyambar jubahnya lalu menghilang di balik pintu kamar mandi.
...❄️❄️❄️...
Motor Skuter yang William dan Zoya kendarai sudah memasuki kawasan pembangunan proyek baru Zoya's Group. Tanah seukuran 3 hektar kuadrat itu saat ini sudah mulai terlihat di bangun pondasi, yang artinya proyek tersebut sudah mulai berjalan.
__ADS_1
Kenapa ada skuter..? jawabannya, Pagi ini Zoya terpaksa menerima ajakan William yang mengajak Zoya untuk pergi bersama. Saat meminta pada Zoya,William sudah membawa motor skuternya ke depan Villanya sudah siap dengan helmnya pelindungnya dan lainnya. Entah dari mana skuter itu, Zoya malas memikirkannya.
Awalnya Zoya menolak tawaran William, mengingat dirinya tak pernah menaiki kendaraan itu, tapi William bersikeras agar Zoya mencobanya untuk pertama kali, karena itulah Zoya terpaksa mengikuti William.
Sementara Dina pergi bersama Fredy yang mengikuti kendaraan William dan Zoya. Permintaan konyol dari orangnya terlihat konyol pula.. 😆
Setelah memarkirkan skuter nya, William melepaskan helmnya, juga menyimpannya dengan aman. "Kemarikan milikmu." tunjuk William pada helm Zoya. Zoya pun mengembalikan helmnya pada William.
"Bagaimana, menyenangkan bukan?" Zoya mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum.
"Tidak buruk." ujar Zoya sambil merapikan pakaiannya. Sementara itu, mobil pengawal Zoya juga sudah terparkir dengan rapi tak jauh dari tempat keduanya saat ini.
Dengan langkah terburu-buru, Fredy menghampiri Zoya untuk menyampaikan pesan Zen sebelumnya. "Nona, ada pesan untuk anda.--- Ferdy bersuara tenang, meskipun sebenarnya ia merasa gelisah.
"Tuan muda, menyampaikan bahwa,,
"Zen? maksudnya tuan Zen mahendra?" tanya Zoya lebih antusias dari sebelumnya, Fredy menganggukkan kepalanya cepat. Zoya pun langsung merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya.
Setelah di periksa, ada 7 panggilan tak terjawab di sana, dan semuanya dari Zen. Zoya tersenyum, melihat nama Zen di sana.
"Will, Kalian duluan aja.. aku ada urusan sebentar." kata Zoya sambil melangkah agak jauh dari yang lain. Setelah dirasa cukup, Zoya menelpon balik ponsel Zen.
Panggilan pertama, tidak ada jawaban. Zoya mencoba lagi, beruntunglah pada dering kedua, Zen menerima panggilannya..
"Kamu dimana Zo'e? kenapa tidak mengangkat telpon ku, Ferdy bilang kalian di jalan, apa terjadi sesuatu?"
"Gak kak, jangan khawatir. Kami baik-baik saja. Tadi kami memang di jalan, dan aku gak tau kalau ponselnya berdering. maaf."
"Ya udah, aku cuma khawatir. Maaf juga karena semalam aku lupa untuk menelpon mu,.." suara Zen terdengar menyesal.
"Hmm. aku bisa mengerti, Kakak dimana?"
"Aku di jalan menuju kantor." jelas Zen dengan sebenarnya.
"Hmm. kalau gitu hati-hati menyetirnya. O, ya kak, sudah dulu ya.. aku ada rapat pagi ini. Kalau tidak sibuk aku akan menghubungimu saat makan siang." tambah Zoya.
"Baiklah. Jaga dirimu dan pastikan untuk selalu mengaktifkan ponselmu." perintah Zen.
"Hmm. Baiklah. sampai nanti kak, aku merindukanmu."
"Aku juga, aku sangat merindukanmu sayang."
"Bye.
"Bye.
__ADS_1
Setelah selesai dengan panggilannya Zoya kembali pada orang-orang yang ternyata masih menunggu nya di sana.
"Bukankah sudah ku katakan agar kalian duluan saja." kata Zoya pada William, Dina dan yang lainnya. "Menunggumu juga tidak masalah." sanggah William cepat. "Ya sudah, ayo."
Setelah memasuki lokasi pembangunan, Zoya dan William di sambut oleh manager yang bertanggung jawab pada pembangunan tersebut. "selamat datang nona, tuan." katanya ramah sambil menyalami Zoya dan juga William. Keduanya berbincang sebentar, sambil melihat-lihat bagaimana kinerja dan juga proses pembangunan tersebut.
Saat berada di lapangan, Zoya sangat terfokus pada pekerjaannya, sementara William juga ikut berpartisipasi dan mengikuti jejak Zoya. Bagaimana gadis muda itu bisa bersikap begitu professional saat bekerja, seakan ia menjadi orang yang berbeda, satu sikap yang sangat William sukai.
Setelah selesai melihat-lihat, sesuai dengan agenda, mereka akan melakukan pertemuan dengan kontraktor dan manager lainnya. Hari yang cukup sibuk, sepertinya.
Setelah pertemuan dengan pihak kontraktor selesai, Zoya dan William kembali harus melakukan beberapa pertemuan dengan mitra bisnis lainnya yang juga turut memiliki saham dalam proyek tersebut.
William enggan membiarkan Zoya pergi sendiri, dengan alasan ia adalah investor terbesar dalam proyek tersebut, akhirnya ia bisa membuat Zoya menyetujui kehadirannya.
Yaah meskipun William sendiri tau kalau Zoya sudah di temani sekretaris dan juga pengawalnya, namun William tetap ingin pergi bersama Zoya. Bersama gadis itu, jelas lebih baik dari pada hanya kembali ke Villa ataupun jalan-jalan seorang diri. Itulah yang William pikirkan.
"Heii, kamu gak lapar..? sudah saatnya makan siang." kata William sedikit berteriak. Saat ini keduanya tengah dalam perjalanan dengan skuter yang tadi mereka gunakan.
"Lapar sih. Tau tempat makan yang enak disini?"tanya Zoya dengan suara sedikit nyaring--- "mau makan seafood?"tanya william lagi. "Kau tau tempatnya..?" Oh ayolah, pertanyaan di balas pertanyaan, seperti inilah keduanya.
Tampa bicara lagi, William langsung membelokan motornya ke persimpangan lain, setahunya ada beberapa restoran enak yang mungkin akan Zoya sukai, dan semoga saja pilihannya tepat.
...❄️❄️...
Tok..Tok..
"Zen, apa kamu sibuk..?" Maria berdiri di depan pintu ruangan Zen.
'Heii Mar, masuklah. Pekerjaan ku juga baru selesai. Ada apa..?" tanya Zen sambil membereskan berkas-berkasnya.
"Pas sekali kalau begitu, mau makan siang bersama..? wanita itu tersenyum sambil mengangkat tas bawaannya yang ternyata adalah bekal makan siang.
Zen tersenyum melihat Maria yang sedikit kepayahan dengan bawaannya.
"Baiklah. Ayo makan bersama."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
...WILLIAM ANGGARA...
__ADS_1